Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 101 Tuan Smith Bertingkah Aneh


__ADS_3

“John, apa yang terjadi dengan hidangan makan malam kali ini? Apa kau sudah tidak sayang dengan pekerjaanmu kau berani menghidangkan makanan tidak layak untuk dimakan!” tutur Tuan Smith memarahi John saat melihat hidangan makan malam yang tersaji diatas meja.


John seketika membungkuk sopan. “Maafkan saya, Tuan. Semua ini adalah masakan nona Kasih saya hanya membantu membawa kesini saja.”


Mendengar penjelasan dari John sontak membuat Tuan Smith menyadari bahwa dirinya telah salah memarahi orang. “Benarkah?” katanya merasa canggung. “Maafkan aku sepertinya aku salah menilai makanan ini ….”


“Ada apa dengan makanan ini?” tanya Kasih tiba-tiba muncul.


Tuan Smith terlonjak kaget. “Bukan apa-apa. Sepertinya aku melupakan sesuatu di tendaku aku pergi lihat dulu,” ujarnya bergegas pergi dengan terburu-buru.


“Paman John? Apa yang terjadi dengannya? Dia tampak aneh.”


“Entahlah, Nona. Saya tidak tahu.”


Kasih kemudian mengangkat kedua bahunya acuh sambil melenggang pergi.


Sesampainya Tuan Smith di tendanya buru-buru ia masuk kedalam dan menutup rapat tenda itu dari dalam. “Aku tidak ingin memakan makanan buatan wanita itu lagi, perutku bisa rusak jika terus menerus memakan makanan aneh itu. Lebih baik aku bersembunyi disini saja.”


Menyadari ketidakhadiran tuan Smith saat akan memulai makan malam, Kasih hendak mencari pria itu untuk memanggilnya kesini.


“Kau mau kemana?” tanya Melinda menghentikan Kasih yang hendak pergi menemui tuan Smith ditendanya.


“Aku ingin memanggil tuan Smith, tadi ia bilang ingin mengambil sesuatu dari tendanya tapi sampai sekarang ia belum juga kembali.”


“Tidak perlu biar aku saja yang melakukannya,” ucap Melinda menawarkan diri.


“Baiklah,” balas Kasih singkat lalu kembali duduk menghadap meja makan dan Melindalah yang berjalan pergi menghampiri tenda milik Tuan Smith.


“Tuan, apa anda di dalam? Saya datang memanggil anda untuk makan malam,” tutur Melinda di depan tenda Tuan Smith.


“Apa itu suara Melinda? Aish! Untuk apa dia datang kemari kemana perginya Kasih. Wanita itu sungguh tidak memedulikan diriku. Apa aku keluar saja?” Tuan Smith merasa bimbang dengan dirinya sendiri ia juga merasa sedikit kesal dikarenakan bukan Kasih yang datang memintanya bergabung makan malam.


“Kenapa tidak ada jawaban dari Tuan Smith? Apa dia tidak ada di dalam?” Melinda terlihat penasaran dan mulai melangkah lebih dekat kearah pintu tenda bermaksud mengintip kedalam namun sedetik kemudian mendadak Tuan Smith tiba-tiba saja menerobos keluar mengagetkan Melinda yang kemudian jatuh terduduk seketika.


“Apa yang sedang kau lakukan disitu?” tanya Tuan Smith melihat Melinda sedang merintih kesakitan terduduk ditanah.


“Saya kemari untuk mengajak Anda makan malam, Tuan.”


“Oh, baiklah. Tapi apa yang kau lakukan duduk diatas tanah? Kau akan mengotori pakaianmu jika duduk seperti itu.”


“Itu ....”


Tuan Smith melenggang pergi begitu saja tanpa membantu Melinda berdiri dari jatuhnya membuat wanita itu menggeram kesal.


“Dan satu lagi,” ucap Tuan Smith menghentikan langkah kakinya lalu menoleh kearah Melinda. “Berhati-hatilah pada cacing tanah jika kau cacingan kau akan menyebarkan penyakit itu pada yang lain.” Setelah mengatakan hal itu Tuan Smith melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti meninggalkan Melinda yang semakin kesal dibuatnya.


“Arggghhh!!! Bukannya membantuku berdiri tapi dia malah pergi begitu saja!” gerutu Melinda marah.


“Apa kau menyiapkan semua ini sendiri? Ternyata kau sangat pandai memasak,” puji Rey pada Kasih yang tersipu malu dibuatnya.


Dikejauhan Tuan Smith mengawasi dengan tatapan kesal. “Apa-apaan dia itu tersenyum manis di depan pria lain sedang di depanku selalu memasang wajah masam. Tidak bisa dibiarkan!”


Tuan Smith datang menghampiri lalu segera mengambil tempat di antara Kasih dan Rey sehingga membuat  jarak keduanya dengan tubuhnya sendiri.


“Apa yang kau lakukan?! Disini sudah begitu sempit mengapa tidak duduk di tempatmu seperti biasa?” ujar Kasih pada Tuan Smith dengan nada kesal.


“Biarkan saja. Aku mau duduk dimanapun terserah padaku,” balas Tuan Smith acuh membuat Kasih memutar bola matanya bosan sambil menghela nafas kesal.


Tuan Smith tiba-tiba menyodorkan piringnya pada Kasih saat melihat wanita itu sibuk mengambilkan lauk untuk Rey.


“Ck! Apa kau tidak bisa menyuruh John atau Wendy? Dasar menyebalkan!” gerutu Kasih kesal namun tetap meraih piring dari tangan Tuan Smith lalu mulai mengambil lauk untuk pria itu.


“Kenapa? Kau lebih suka melakukan itu untuknya daripadaku?”


‘Dia benar-benar kekanak-kanakan sekali sungguh membuatku repot apa dia pikir dia itu bayi atau apa?!’


Tuan Smith melirik Rey disampingnya sambil tersenyum jahat. ‘Nikmatilah makananmu sialan! Rasanya pasti sungguh ....’


“Ini enak sekali” kata Rey memuji masakan Kasih.


“Seseorang harus berkata dengan jujur dalam menilai sesuatu, jangan katakan makanan yang sebenarnya sangat ....” Tuan Smith tercengang seketika saat rasa makanan itu beradu dimulutnya. ‘Apa ini? Kenapa mendadak rasa makannya jadi enak. Kemana perginya rasa makanan mengerikan itu?!’


“Apa kau sungguh yang memasak semua ini?” tanya Tuan Smith memastikan.


“Tidak sepenuhnya ....”


FLASHBACK ON


Prang!


Prang!


“Nona, hati-hati dengan jari Anda. Pisau itu sangat tajam Anda akan terluka jika menggunakannya seperti itu,” tutur Wendy cemas melihat Kasih yang memang pada dasarnya tidak biasa berada di dapur itu sedang memotong sayuran secara brutal.

__ADS_1


“Tenanglah Nona Wendy aku bisa melakukannya.”


“Nona ....”


“Biarkan aku membantumu, Nak!” Sebuah suara tiba-tiba menginterupsi lalu kemudian keduanya menoleh secara bersamaan kearah sumber suara.


“Nenek?” seru Kasih tercengang melihat wanita paruh baya itu kini telah berdiri disana seraya tersenyum lembut padanya.


Kasih dibuat takjub dengan kemampuan memasak  Nenek Ed. Dalam waktu sebentar saja wanita itu telah menyelesaikan beberapa macam jenis masakan dan hal itu sungguh membuat Kasih terkesan padanya.


“Anda sangat mahir menggunakan pisau dan semua alat yang berada di dapur ini,” puji Kasih pada Nenek Ed sambil terkagum menatap hidangan yang dibuat wanita itu.


“Kau hanya perlu belajar sedikit, suatu hari kau pasti juga akan mahir dalam memasak seperti ini.”


“Itu sangat mustahil bisa membuat hidangan lezat seperti yang Anda buat Nenek.”


“Jangan berkecil hati sayang jika kau mau aku bisa mengajarimu.”


Mata Kasih berbinar senang seperti seorang anak kecil yang baru saja diberi permen manis. “Terima kasih atas tawaran Anda saya sangat menghargainya.”


FLASHBACK END


‘Ibunya Kasih?’ batin Tuan Smith dalam hati. Tuan Smith menyadari bahwa mungkin saja ibu Kasih telah menyadari bahwa wanita yang berada di mansion itu adalah Kasih, putri sulung keluarga Avisha. Maka, untuk memastikan hal tersebut Tuan Smith kemudian memutuskan menghubungi sang mertua.


“Maaf menganggu Anda, Ibu mertua.” Tuan Smith memulai percakapan ditelepon.


“Ya, tidak perlu sungkan begitu dan aku juga tau apa maksud panggilanmu ini Tuan Smith Alexander.” Ibu Kasih menekankan saat menyebut nama Tuan Smith.


Benar saja dugaan Tuan Smith mengenai Ibu Kasih yang mengetahui perihal Kasih yang telah kembali dan bersama-sama dengan mereka di dalam keluarga Alexander meskipun Kasih sendiri tidak menyadari hal tersebut.


“Maafkan saya, Ibu mertua. Anda pasti sangat tidak nyaman akan hal ini. Tapi, saya tidak punya pilihan lain saya harap Anda dapat mengerti keputusan yang saya buat,” tutur Tuan Smith setelah dirinya menjelaskan mengenai alasan mengapa ia menyembunyikan fakta siapa Kasih sebenarnya pada orang lain.


“Tidak, tidak, Tuan Smith. Saya sangat berterima kasih pada Anda dan saya bersyukur Anda melakukan hal itu untuk melindungi anakku. Saya hanya berharap anak itu boleh hidup bahagia setelah semua hal yang telah dilaluinya.”


“Saya akan memastikan hal itu, Anda tidak perlu khawatir.”


Diam sejenak.


“Tuan Smith,” kata Ibu Kasih kemudian.


“Ya, Ibu mertua.”


“Tolong jagakan Kasih pastikan ia hidup bahagia.” Setelepas mengatakannya sambungan telepon lalu berakhir.


Tuan Smith tertegun dengan permintaan ibu mertuanya. Lidahnya terasa kelu untuk berkata bahwa ia bersedia ataukah menolak hatinya bimbang tak dapat memutuskan didasar hatinya yang paling dalam ia ingin berjanji dan pasti akan berusaha dengan segenap hatinya untuk menggenapi janji tersebut hanya saja, disisi lain ia tau ia tak pantas untuk hal itu. Entah berapa banyak luka yang telah ia toreh dihati Kasih selama ini terlebih ia secara tidak langsung telah membunuh anak yang berada didalam kandungan Kasih saat itu. Meskipun sebenarnya hal itu merupakan sebuah keputusan yang cukup sulit baginya akan tetapi ia tidak sanggup jika harus kehilangan Kasih maka dengan berat hati ia terpaksa mengambil keputusan untuk melepaskan janin yang bahkan belum sempat berkembang itu.


“Cincin yang cantik!” ujar Rey mengomentari cincin dijari manis Kasih.


Perlahan Kasih mengangkat tangannya lebih tinggi sehingga menampilkan cincin yang tersemat dijarinya itu pada Rey. “Cincin ini... Yah cincin ini memang sangat cantik,” ucapnya sambil meraba cincin itu dengan jemarinya perasaan sedih seketika muncul dari dalam hatinya membuat raut wajah Kasih berubah sendu.


“Apa ada yang mau Marshmallow panggang?” seru John menawarkan.


Kasih tersentak dari pikirannya. “Marshmallow panggang!” katanya senang seiring dengan raut wajahnya yang kembali berubah cerah seketika.


Mereka tampak sangat menikmati acara memanggang sambil bercengkrama ria dan tertawa bahagia sungguh sangat menyenangkan.


“Cicipilah ini sangat lezat.” Rey menyodorkan tusukan marshmallow yang telah dipanggangnya pada Kasih yang kemudian segera mencicipinya. “Hati-hati ini sangat panas.”


“Ini sangat lezat dan panas!”


“Sudah kukatakan.”


Keduanyapun tertawa bersama sambil menikmati makanan mereka tanpa mereka sadari sejak tadi Tuan Smith memperhatikan mereka dari kejauhan.


“Tuan, apakah Anda tidak ingin bergabung?” tanya Melinda mendadak muncul mengagetkan Tuan Smith.


“Kau membuatku kaget. Kenapa kau selalu muncul dimana-mana.”


“Tuan Smith!” panggil Kasih sambil melambai-lambaikan tangannya. “Cobalah! Ini sangat menyenangkan.” Kasih menyodorkan marshmallow yang sudah ditusuk dengan tusukan sate yang terbuat dari besi pada Melinda.


“Aku tidak mau. Duduk didepan api akan membuat tubuhku kepanasan,” ucap Melinda menolak.


“Baiklah jika kau tidak mau ....”


“Berikan padaku!” tukas Tuan Smith merebut tusukan itu dari tangan Kasih.


“Kau tidak perlu berebut denganku John bisa mengambilkan sebanyak yang kau mau disana! Lagipula aku memberikan itu pada nona Melinda bukan padamu,” sewot Kasih marah.


“Tidak usah marah begitu aku akan memanggangnya untukmu.”


“Tidak perlu Rey sudah memberikan miliknya padaku.”


“Hasil pangganganku pasti jauh lebih baik darinya, kau akan rugi jika menolak.”

__ADS_1


“Tidak. Aku sudah kenyang.”


“Tidak, tidak. Setidaknya cobalah dulu baru berikan komentarmu,” ucap Tuan Smith bersikukuh.


“T-tapi ....”


“Tidak ada kata tapi aku tidak ingin mendengarnya. Sekarang duduklah dengan tenang disini.”


“Ck! Pemaksa sekali kau ini. Aku bilang aku sudah kenyang bagaimana jika aku muntah setelah makan berlebihan begitu.”


Sementara keduanya mulai saling berdebat Rey dan Melinda saling melempar pandangan satu sama lain seolah memberi isyarat yang hanya dimengerti oleh keduanya saja.


“Sudah jangan berdebat lagi,” celetuk Melinda menghentikan perdebatan sengit kedua manusia yang saling tidak mau mengalah itu. “Jika Kasih tidak ingin memakannya berikan saja padaku.”


“Tidak, dia tetap harus memakannya,” ujar Tuan Smith tegas.


Melinda mendengus kesal dalam hati. ‘Sialan. Kenapa juga Tuan Smith begitu mementingkan wanita bodoh ini dibanding aku, hanya akulah wanita paling sempurna yang pantas mendampingimu, Tuan. Bukan wanita bodoh yang menyia-nyiakan kesempatan emas didepan matanya seperti ini, sungguh wanita bodoh!’


“Benar,” sahut Kasih menyetujui perkataan Melinda. “Berikan saja pada Nona Melinda bukankah kalian berdua belum mencobanya sedikitpun.” Kasih bangkit berdiri dari duduknya.


“Apa yang kau lakukan? Mau kemana kau?” tanya Tuan Smith sedikit panik melihat Kasih hendak beranjak pergi.


“Aku dan Rey akan pergi mengambil minuman untuk kita,” jawab Kasih.


“Aku ikut, kau tidak boleh pergi hanya berdua saja dengan pria palsu itu. Lagipula kau bisa saja meminta John atau Wendy.” Tuan Smith bersiap bangkit berdiri meletakkan marshmallow yang hendak dipanggangnya untuk Kasih tadi begitu saja.


“Sedang apa kau ini? Kau ingin memanggang ya panggang saja untuk apa membuntutiku seperti itu. Aku bisa pergi berdua saja dengan Rey.”


“Tidak bisa. Aku akan pergi bersamamu. Kau begitu bersemangatnya berduaan dengan pria palsu itu benar-benar menyebalkan sekali.”


“Apa! Memangnya kenapa? Apa salahnya dua orang lajang pergi berdua tidak akan ada yang terganggu dengan hal itu.”


‘Dasar wanita bodoh ini! Apa dia sungguh menganggap dirinya seorang wanita lajang? Heh! Benar-benar menyebalkan!’


“Sudahlah! Berdebat denganmu bisa mengurangi umurku di dunia ini. Benar-benar sial bagiku!” omel Kasih sambil melangkah pergi dengan kekesalannya.


“Hey! Kau mau kemana? Tunggu aku, Kasih!” teriak Tuan Smith berlari mengejar Kasih yang berjalan lebih dulu lalu setelahnya Rey ikut menyusul dari belakang meninggalkan Melinda yang kini duduk sendirian didepan api unggun.


“Kasih! Berani sekali kau berebut Tuan Smith denganku. Awas saja kau akan merasakan akibat yang lebih buruk dari sebelumnya. Huh!” ujar Melinda dengan pandangan membara penuh emosi tanpa ia sadari marshmallow yang dipegangnya saat ini telah hangus terbakar di makan api.


“Berikan padaku!” ujar Tuan Smith merebut kotak dus minuman yang hendak Rey angkat.


Kasih mendengus sambil memutar matanya bosan. “Kau ini kenapa sih? Berhentilah bertingkah menyebalkan. Jika kau ingin membantu pilihlah yang lain tidak perlu berebut, seperti anak kecil saja.”


“Aku yang akan membantu, pria palsu itu tidak dibutuhkan disini.”


Kasih menghela nafas panjang berharap emosinya yang sudah hampir meledak akibat tingkah Tuan Smith yang sangat menyebalkan dapat sedikit tertahan. “Sungguh?! Apa kau akan terus bersikap seperti ini?! Kau sungguh membuat aku muak jika kau tidak segera berhenti aku benar-benar akan pergi dari sini!”


Setelah mengancam seperti itu akhirnya Tuan Smith yang sejak tadi terus-terusan mencari masalah dengan Rey tidak berani lagi berani berulah. Hanya dengan lirikan tajam dari Kasih seketika Tuan Smith akan segera mengurungkan niatnya mengganggu Rey.


Minuman kaleng yang mereka bawa tadi sangat nikmat dinikmati dengan panggangan daging yang sejak tadi disiapkan oleh John dan Wendy.


“Daging ini sungguh lezat! Aku sangat menikmatinya! Terima kasih kalian berdua.” Kasih melempar senyumannya pada dua orang yang telah sangat sibuk sejak tadi menyiapkan daging panggang untuk mereka.


“Terima kasih sudah mengundangku kesini. Ini benar-benar sangat menyenangkan,” ucap Rey pada Kasih.


Kasih tersenyum malu melihat hal itu Tuan Smith hanya bisa berdecih kesal sedetik kemudian dirinya segera mendapat lirikan tajam dari Kasih.


“Tidak perlu sungkan begitu anggap saja kita melakukan kemah ini untuk mengakrabkan diri sebagai seorang teman,” balas Kasih tersenyum manis pada Rey.


“Benar. Kita adalah teman.” Rey mengangkat gelasnya tinggi lalu melakukan cheers dengan ketiganya meski sebelumnya Tuan Smith harus mendapat lirikan tajam dari Kasih terlebih dulu baru ia mau melakukan hal itu.


“Ngomong-ngomong, aku punya sebuah cerita,” ujar Rey sembari menikmati minuman ditangannya. Kasih menyimak dengan seksama. “Cerita ini sangat sedih ada seorang gadis kecil yang dijebak sebagai alat balas dendam seseorang kepada seorang pria bernama tuan S. Awalnya Tuan S mengira gadis kecil ini sebagai salah satu komplotan dari musuh-musuhnya akan tetapi pada akhirnya ia mengetahui bahwa gadis kecil ini tidak bersalah tanpa sengaja ia telah melakukan kesalahan besar dengan membuat gadis kecil ini....”


“Hentikan omong kosongmu!” seru Tuan Smith tiba-tiba membuat semua orang tercengang.


“Ada apa, Tuan Smith?” tanya Kasih menatap bingung Tuan Smith yang terlihat begitu emosi.


“Maafkan aku, sepertinya ceritaku membuat Tuan Smith merasa tidak nyaman.”


“Itu benar sekali bahkan aku tidak nyaman dengan kehadiranmu disini,” ucap Tuan Smith to the point. “Jadi sebaiknya kau segera pergi!”


Kasih mendelik menatap Tuan Smith tidak percaya bibirnya kelu tak sanggup mengeluarkan suara sepatah kata pun. Saat sebelum Tuan Smith beranjak meninggalkan tempat itu ia berhenti sejenak tepat di samping Kasih kemudian melanjutkan langkah kakinya lagi tanpa berkata sepatah kata pun.


“Aku akan menyusulnya.” Melinda pamit pergi mengekori Tuan Smith.


“Haish! Entah apa yang sudah merasuki pria gila itu. Dia benar-benar sangat aneh hari ini,” gerutu Kasih kesal lalu kemudian memandang Rey dengan khawatir. “Maafkan aku kurasa kau pasti sangat terkejut tadi. Apa kau tidak apa-apa?”


Rey tersenyum dalam hatinya ia merasa sangat gembira karena rencananya telah berhasil. “Tidak apa-apa.”


“Syukurlah. Aku merasa sangat tidak enak hati semuanya kacau karena pria gila itu tiba-tiba mengamuk. Aku penasaran apa dia juga mengalami PMS seperti seorang wanita atau apa benar-benar membuat orang bingung.”


“Sudahlah. Aku sungguh tidak masalah.”

__ADS_1


Tanpa disadari oleh Kasih samar-samar Rey menampilkan sebuah seringai jahat diwajahnya. ‘Misiku sudah semakin mendekati berhasil.’


Bersambung...


__ADS_2