Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 104 Dansa


__ADS_3

“Ada Apa? Kenapa menatapku seperti itu?” tanya Kasih bernada sarkas pada Tuan Smith.


Tuan Smith mengulurkan tangannya pada Kasih membantu wanita itu berjalan turun menuruni anak tangga tempatnya berdiri.


“Sebenarnya apa maksudmu melakukan ini padaku, sepatu ditambah gaun ini membuatku susah berjalan asal kau tahu. Seharusnya ...” ucapan Kasih terhenti saat dirinya menatap dirinya sendiri dipantulan cermin besar dihadapannya. Tanpa sadar mulutnya terbuka bersamaan dengan kedua matanya yang terbuka lebar seolah tak percaya dengan apa yang sedang dilihatnya kini.


“Apa... Ini aku?” tanyanya entah pada siapa perkataannya mengambang diudara dan hilang begitu saja sampai Tuan Smith melangkah dan berdiri tepat dibelakang dirinya seraya memegang kedua bahu Kasih.


“Ya, tentu saja itu kau.”


Kedua mata Kasih berkedip cepat lalu menatap sosok Tuan Smith dicermin. “Aku tidak bisa percaya ini, bagaimana kau melakukannya? Ini sungguh tidak tampak seperti diriku.”


Sebuah kalung tiba-tiba dipasangkan keleher Kasih membuat wanita itu menyentuhnya lalu berbalik menatap penuh tanya pada Tuan Smith.


“Pakailah ini akan membuatmu semakin bersinar,” ucapnya menatap puas pada kalung berlian yang telah berhasil dipasangnya pada leher Kasih.


Tangan Kasih bergerak menyentuh kalung dilehernya seraya menatap Tuan Smith dengan tatapan bingung. “Kalung ini sangat cantik dan aku yakin harganya tidak murah. Apa kau akan memasukkan tagihannya padaku? Aku tidak punya uang banyak dan hutangku juga belum lunas jadi ambil saja kembali ...” Tangan Kasih yang hendak melepaskan kalung itu darinya seketika dihentikan oleh Tuan Smith.


“Aku memberikannya sebagai hadiah.”


“Eh?”


Kasih menatap wajah Tuan Smith dengan perasaan aneh yang tiba-tiba saja muncul didalam hatinya. Merasa tidak nyaman dengan perasaannya itu ia kemudian melepaskan tangan Tuan Smith dari kedua bahunya.


“Kau tidak perlu melakukan semua ini aku tidak berhak,” ujar Kasih seraya berlalu pergi meninggalkan Tuan Smith yang menatap punggung Kasih dari belakang dengan perasaan sedih.


‘Kalau saja kau mengingat semuanya kau jauh lebih berhak dari siapapun atas segalanya, Kasih. Tapi, jika hal itu terjadi kau akan sangat membenci diriku.’


Didalam mobil keduanya tidak berbicara sedikitpun. Kasih menatap langit malam dari jendela mobil sedangkan Tuan Smith menatap lurus kedepan. Suasana canggung menyelimuti keduanya hingga mereka akhirnya sampai ditempat tujuan.


“Oh? Kenapa ada banyak sekali orang?” gumam Kasih melihat begitu banyak orang dan wartawan yang ada di tempat itu. Kasih keluar dengan sedikit kikuk setelah Tuan Smith membukakan pintu mobil untuknya lalu memberikan lengannya untuk digandeng oleh Kasih.


“Tenanglah aku disisimu,” ucap Tuan Smith pada Kasih yang terlihat gusar.


Menarik nafas dalam Kasih menautkan lengannya pada lengan Tuan Smith lalu keduanya berjalan masuk kedalam gedung. Kilatan blitz kamera tiada henti mengambil gambar mereka terlebih Tuan Smith yang sangat terkenal tiba-tiba membawa seorang wanita didepan umum mengakibatkan semua orang sangat penasaran dibuatnya.


“Uwah! Tempat macam apa ini? Kenapa sangat mewah sekali!” ujar Kasih dengan mulut setengah terbuka takjub. Gelas kaca disusun tinggi menjulang keatas serta berbagai jenis makanan enak yang tertata rapi disekitarnya membuat siapa saja yang melihat pasti akan sangat tergiur untuk mencicipi. Gedung mewah itu dihadiri oleh orang-orang yang tidak dikenal oleh Kasih mereka semua tampak memakai pakaian dan perhiasan mewah menunjukkan status sosial mereka yang tinggi.


Kasih merasa tidak nyaman dengan semua tatapan yang tertuju pada dirinya membuat ia tidak berani mengangkat wajahnya. Menyadari hal itu, Tuan Smith berhenti sejenak lalu membungkuk mensejajarkan tingginya dengan Kasih yang lebih pendek darinya. “Tenanglah, kau terlihat luar biasa cantik!” ucap Tuan Smith dengan lembut. Sontak pipi Kasih berubah merah merona dan terasa sangat panas.

__ADS_1


“Apa yang kau katakan? Aku tidak akan termakan gombalan recehmu itu,” balas Kasih sarkas berusaha menutupi perasaan malu yang sedang ia rasakan.


Mendengar perkataan Kasih itu membuat Tuan Smith tersenyum.


“Siapa gadis cantik ini, Tuan?” tanya seorang tamu pada Tuan Smith.


“Tuan dan Nyonya perkenalkan wanita disampingku ini adalah pasangan dansaku malam ini, namanya Kasih.”


Kasih mendelik sembari mematung seketika semua mata tertuju padanya ia merasa tubuhnya menjadi sangat dingin bukan karena gaun yang sedang ia kenakan melainkan karena perasaan takut yang tiba-tiba menyusup kedalam hatinya. ‘Yang benar saja! Bagaimana bisa aku jadi pasangan dansa pria gila ini lagipula aku tidak bisa berdansa, bodoh!’


Semua orang tampak tidak percaya dengan pernyataan tiba-tiba Tuan Smith karena selama bertahun-tahun sejak kehilangan istrinya dulu Tuan Smith tidak pernah sekalipun membawa seseorang disisinya. Seluruh dunia tahu betapa berartinya sang istri dihidup seorang Tuan Smith Alexander. Mungkin karena telah bertahun-tahun berlalu tidak ada satupun yang menyadari bahwa Kasih yang kini ada dihadapan mereka semua adalah Kasih yang sama yang adalah istri Tuan Smith.


Kasih semakin panik karena tiba-tiba alunan musik mulai dimainkan dan tangan Tuan Smith terulur kepadanya. ‘A-apa ini? Aku tidak mau berdansa menjauh dariku!’


Tuan Smith masih menunggu Kasih yang hanya diam sambil memberikan pelototan tajam padanya. ‘Pergi sana atau kuhajar kau pria gila sialan!’


“Ada apa, tampaknya kau masih malu.” Tuan Smith berkata dengan sengaja untuk memancing respons Kasih.


Kasih tersenyum kikuk lalu dengan ragu-ragu menyambut uluran tangan Tuan Smith. ‘Harusnya aku sudah curiga sejak awal kau tiba-tiba menyuruhku mengenakan semua ini. Awas saja aku pasti akan membalasmu, pria gila!’


“Letakkan tanganmu disini, dan letakkan tangan yang satunya lagi disini,” ujar Tuan Smith mengarahkan.


“Kau siap?”


Tuan Smith kemudian mulai bergerak mengikuti alunan musik piano yang bermain sangat indah. Awalnya Kasih hanya mengikuti gerakan dari Tuan Smith lalu tanpa sadar ia telah berdansa dengan sangat baik Kasih sendiri bahkan menjadi bingung mengapa ia bisa berdansa padahal ia merasa ia tidak pernah berdansa samasekali sebelumnya.


“Oh? Aku ternyata bisa berdansa?! Apa ini nyata? Tapi sejak kapan?”


FLASHBACK ON


“Oh, tidak. Aku paling benci les menari. Apa hebatnya jika bisa menari?” ucap Alysa dengan nada malas.


Kasih berjalan menghampiri adik keduanya itu sembari berkacak pinggang dihadapan sang adik yang berbaring santai ditempat tidurnya.


“Tentu saja hebat kau bisa menari dengan orang yang kau sukai nanti. Siapa tau kau akan menemukan pangeranmu suatu saat?”


“Ck! Kakak, aku akan menemukannya setelah dirimu. Mana mungkin ada pria yang akan melirikku jika kau masih belum juga laku,” ujar Alysa bercanda.


“Laku?!” Kasih mendelik kearah Alysa sambil memasang wajah sangar. “Apa kau sedang mengejekku? Kakakmu ini? Berani sekali kau.... Hey! Mau kemana kau dasar anak nakal!” Kasih berlari mengejar Alysa sang adik dan terjadilah kejar-kejaran antara kakak beradik itu.

__ADS_1


FLASHBACK OFF


Musik berhenti begitu pula dengan tarian keduanya yang kemudian diiringi tepuk tangan dari orang-orang yang menyaksikan tarian romantis Tuan Smith dan Kasih.


“Lihat? Kau melakukannya dengan sangat baik.”


“Aku... Aku tidak menyangka aku bisa berdansa.” Kasih menatap lantai marmer putih dibawahnya dengan pamdangan kosong. Ia tidak mengingat masa lalunya sedikitpun hal itu membuat hatinya merasa sedih memikirkan entah seperti apa dirinya dimasa lalu.


“Kasih...” Panggil Tuan smith pada Kasih. Tanpa menjawab Kasih berbalik pergi meninggalkan Tuan Smith yang mencoba menggapai dirinya.


Dengan sedikit berlari kecil Kasih menerobos kerumunan orang-orang yang menatapnya dengan tatapan aneh. Kasih tidak peduli ia hanya terus melangkahkan kakinya hingga kebagian belakang dari gedung tersebut dimana tempat itu terlihat sunyi karena semua orang berada di dalam gedung.


Terdapat sebuah bangku taman dan Kasih memilih duduk disana sambil menangis. Ia bingung dengan dirinya mengapa ia merasa sangat sedih dan akhirnya menangis sendirian disini. “Ada apa denganku ini? Menangis sendirian seperti orang bodoh disini. Padahal aku mengenakan riasan mahal dan gaun mewah aku bahkan datang ketempat yang luar biasa seperti ini tapi kenapa aku malah berlari kemari dengan menangis. Benar-benar bodoh! Kasih, kau sungguh bodoh. Lihatlah riasanmu menjadi kacau karena airmatamu, aku harusnya tidak menangis aku harusnya senang karena ternyata meski ingatanku hilang tapi tubuhku bisa mengingatnya. Aku... Aku sungguh merasa rindu dan kesepian. Hiks! Hiks! Sebenarnya apa yang telah terjadi padaku dimasa lalu kenapa aku bisa kehilangan ingatanku. Aku tidak mengingat siapapun.” Kasih menangis terisak sendirian menumpahkan seluruh isi hatinya. Sementara dari kejauhan Tuan Smith yang menyusul Kasih berhenti dibalik tembok dan memperhatikan Kasih dari jauh. Melihat wanitanya itu menangis hati Tuan Smith serasa teriris ia benci dirinya sendiri karena telah menyebabkan semua kemalangan di dalam hidup wanita yang dicintainya itu. Andai saja ia dapat memutar kembali waktu ia berharap dapat mengubah segalanya. Hilangnya ingatan Kasih seperti sebuah kartu kesempatan baginya untuk memulai kembali dengan wanita itu. Berusaha melakukan yang terbaik untuk membahagiakannya dan menulis cerita baru antara dirinya dan Kasih.


Kasih menatap cincin dijemari tangannya mengusap cincin itu sambil berharap ia dapat mengingat sedikit saja tentang masa lalunya. “Sebenarnya siapa aku? Kenapa aku bisa lupa ingatan dan kenapa tidak ada satupun orang yang mengenali diriku apa aku ini seorang alien yang tiba-tiba muncul begitu saja di muka bumi ini? Yang benar saja! Seseorang pasti mengenaliku, atau paling tidak mengingat tentang diriku.” Kasih bergumam sendirian merasa hidupnya begitu aneh. “Entah kapan aku bisa bertemu keluargaku, aku sangat merindukan mereka aku tidak tahu apa mereka masih ada atau tidak. Dan... Apa aku akan selamanya tinggal dirumah pria gila itu?”


Suasana semakin larut Kasih tidak berniat untuk kembali masuk kedalam gedung terlebih dengan kondisi riasannya yang sudah berantakan. Tubuhnya juga terasa sangat lelah dan udara dingin malam mulai menusuk sampai ketulang tapi ia tetap bersikeras tidak mau kembali. “Harusnya aku menolak ketika pria gila itu menyuruhku menggunakan gaun bodoh ini. Sekarang aku hampir mati membeku karenanya. Benar-benar menyebalkan! Aku juga sangat lapar dan haus.” Kasih mulai meringkuk kedinginan dipeluknya tubuhnya sendiri sembari menggosokkan kedua tangannya pada lengannya berharap dapat membuat tubuhnya sedikit merasa hangat akan tetapi udara malam yang dingin tetap membuat ia menggigil kedinginan.


Sepasang sepatu tiba-tiba berada dihadapan Kasih membuat ia seketika mendongak melihat siapa orang yang menghampiri dirinya.


“Tuan Smith?”


“Apa kau bodoh?”


“Keterlaluan sekali, kau bahkan tidak punya rasa empati sedikitpun benar-benar pria berhati dingin! Hiks!”


“Salah sendiri memangnya aku yang menyuruhmu berlari kemari hingga kedinginan seperti ini?” ujar Tuan Smith bernada marah.


“Ada apa denganmu kenapa memarahiku seperti itu ...” Suara Kasih terdengar lemah dan sedikit serak. Tanpa aba-aba Tuan Smith seketika mengangkat tubuh Kasih membawanya kedalam dekapan tubuhnya setelah sebelumnya melepaskan jasnya lalu memakaikannya pada tubuh Kasih. Wanita itu tidak melawan tubuhnya sedang tak berdaya sekarang apapun yang dilakukan atau katakan pria gila itu ia akan membiarkannya yang ingin sekali dilakukannya saat ini hanyalah menutup matanya dan beristirahat.


“Aku merasa sangat lelah, biarkan aku tidur sebentar saja ...” Kasih bergumam dengan suara yang hampir tak terdengar lalu jatuh tertidur.


Tuan Smith berjalan membelah kerumunan orang sambil membawa Kasih. Orang-orang tidak ada yang berani berkomentar hanya bisa saling berbisik dengan suara sangat pelan.


Saat akan sampai dimobil dengan cekatan John datang menghampiri membukakan pintu mobil untuk tuannya lalu setelah itu mobilpun melaju pergi.


“Suruh dokter keluarga ke mansion sekarang!”


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2