
Sebuah kapal pesiar yang begitu besar sudah
disiapkan untuk membawa Kasih pergi entah kemana. Dermaga itu dipenuhi oleh anak
buah pria itu. Dari arah rumah besar yang ternyata berada disebuah pulau entah
dimana tampak Kasih dan pria itu melangkah keluar menuju kapal.
“bagaimana dengan sahabatku?” tanya Kasih
pada orang itu
“kau tenang saja, aku hanya membutuhkan
bayi yang ada diperutmu aku tidak akan menyakiti siapapun selagi kau
bekerjasama dengan baik” jawab pria itu meyakinkan Kasih. Namun Kasih masih
belum sepenuhnya tenang, ditatapnya pria itu lekat seakan meminta untuk diberi
penjelasan lebih
“kau benar-benar, Hais! kau tidak usah
khawatir. Tenang saja, temanmu yang sangat cerewet itu aku sudah memulangkannya
dengan selamat” lanjut pria itu dengan nada kesal. Mendengar itu Kasih baru merasa
tenang.
“yang harus kau lakukan hanya menurut, agar
orang-orang yang kau sayangi tidak terluka, mengerti?!” ancam pria itu membuat
Kasih mengangguk pelan. Kasih tidak akan bisa berbuat apa-apa jika sudah
diancam tentang keluarganya. Ia sangat menyayangi keluarganya.
Di perusahaan milik tuan Smith tampak John setengah
berlari menghampiri ruangan milik tuannya.
Tok! Tok! Tok!
“tuan ini saya” ucap John dibalik pintu
“masuk” kata tuan Smith tanpa mengalihkan
pandangannya pada dokumen yang sedang dibacanya.
John segera masuk dan berjalan mendekati
tuan Smith. “tuan saya punya sesuatu yang harus saya tunjukkan pada anda”
Tuan Smith mengeryit bingug
“hal penting apa yang membuatmu sampai
begitu tergesa-gesa, datang ke ruanganku tanpa menelpon dulu. Aku harap itu
benar-benar penting John” Kata tuan Smith dengan nada sinis
Jhon sang kepala pelayan sekaligus tangan
kanan tuan Smith lalu menyerahkan sebuah dokumen beramplop coklat ketangan
tuannya.
Tuan Smith membukanya dan terkejut dengan
isinya. Ada foto Kasih yang terjatuh dari dalam amplop. Tuan Smith lalu membaca
secarik kertas yang menjelaskan bahwa Kasih saat ini sedang mengandung seorang
bayi. Dan tuan Smith sangat yakin bahwa bayi itu adalah bayi miliknya karena
pada malam itu ia membuktikan sendiri bahwa Kasih masih perawan.
“saya mendapatkan dokumen itu tadi pagi
tuan, itu dari tuan Adam” ujar John menjelaskan “tuan Adam menculik nona Kasih
dengan memanipulasi nona Kasih untuk menemuinya dengan alasan akan diberi bukti
ketidakterkaitan nona Kasih atas kejadian di bar waktu itu.
“lalu dengan bodohnya ia percaya begitu
saja?!” tanya tuan Smith dengan nada tinggi. John tidak berani berkata-kata
lagi ia yakin tuannya sedang sangat marah sekarang lebih baik diam saja
daripada kena amukannya.
“dasar gadis bodoh itu. Otaknya sangat
pintar di sekolah dan tempramennya juga sangat buruk, tapi aku tidak bisa
mengerti dengan kepolosan yang gadis bodoh itu miliki, benar-benar tidak masuk
akal” gumam tuan Smith kesal dengan kepolosan Kasih yang dengan begitu mudahnya
tertipu. Tuan Smith sudah memeriksa berkas milik Kasih, ia tau segala hal
tentang Kasih dari berkas yang diberikan John padanya. Entah darimana dan
bagaimana cara John untuk mendapatkan berkas yang sangat lengkap itu, tidak
perlu kita pikirkan karena itu adalah memang tugas seorang kepala pelayan sekaligus tangan kanan dari seorang tuan Smith Alexander. Kasih memanglah seorang
siswi yang cerdas namun karena sangat minim pergaulan, membuat kepribadiannya
sangat polos dan lugu. Hal itu yang membuat Kasih hanya berani menjadi pengagum
rahasia pangeran impiannya selama bertahun-tahun tanpa pernah berani
mengutarakan perasaannya. Ketika mengalami pembullyanpun, meski Kasih dapat
dengan mudah melawan karena pada saat itu keluarga Kasih masih sangat kaya.
Tentu hanya untuk membungkam mulut-mulut para pembullynya bukan hal yang sulit
bagi Kasih. Namun Kasih bertekad untuk menyelesaikan masalahnya sendiri tanpa
membebani kedua orangtuanya. Alhasil, walau seringkali menerima tindak
pelecehan oleh murid pria disekolahnya Kasih tetap diam walau memendam
kemarahan dihatinya.
Di kapal pesiar yang hanya dikhususkan
untuk membawa Kasih, tuan Adam dan para pengawalnya. Jadi tidak akan ada
penumpang lain selain mereka, Kapal pribadi itu berlayar dengan tenang. Angin
laut menerpa wajah cantik Kasih yang masih sangat muda. Walau matanya masih
bengkak dan merah bahkan wajahnya tampak sangat pucat, hal itu tidak mengurangi
sedikitpun aura kecantikan alami yang dimiliki oleh gadis kelahiran bulan juni
ini. Rambut pendeknya yang halus seakan menari-nari diterpa kencangnya angin
laut. Ditatapnya perutnya yang masih rata, perlahan tetesan air bening mulai
__ADS_1
berjatuhan membasahi kedua pipi Kasih bersamaan dengan itu wajahnya semakin terlihat muram. Ia kembali terisak membayangkan
bagaimana nanti ia membesarkan seorang anak. “aku bahkan baru belajar mengurus
diriku sendiri, bagaimana caranya aku membesarkan anak ini?” gumam Kasih disela
tangisnya. “Ayah..Ibu… bagaimana kabar kalian?” Kasih menutup matanya menikmati
hembusan angin dan panas dari sinar matahari yang menerpa tubuhnya. Air matanya
masih terus mengalir tanpa henti.
“hei! Gadis bodoh!” terdengar suara dari
arah belakang Kasih sontak membuat Kasih yang sedang termenung terkejut dan
segera berbalik. Saat melihat siapa yang tengah ada dihadapannya kini, sontak membuat
Kasih tercengang mulut dan kedua matanya secara tidak sadar perlahan terbuka
lebar.
“apa aku sedang berhalusinasi?”Kata Kasih
memegang kedua pipinya “aku seperti melihat pria gila itu sedang ada didepanku
sekarang” mata Kasih tidak berkedip menatap sosok pria yang selalu dipanggilnya
dengan sebutan pria gila sedang menatap balik dirinya. Sosok yang terhalang
oleh sinar matahari yang bersinar terik dari arah belakangnya membuat Kasih
tidak bisa melihat secara jelas siapa sosok pria yang ia yakini adalah sosok
tuan Smith.
“kenapa aku bisa berpikir dia bisa datang
kemari? Sekarang aku sedang berada diatas kapal ditegah lautan. Tidak mungkin…”
Kasih tidak melanjutkan kalimatnya setelah pria yang memanggilnya barusan
melangkah mendekat. Kasih diam mematung.
Sosok itu berjalan semakin dekat “dasar
gadis bodoh! Sedang apa kau di luar sini?” menarik tubuh Kasih masuk kedalam
dekapannya dengan sekali tarikan tubuh Kasih yang mungil tenggelam dalam
dekapan tuan Smith yang terasa hangat bagi Kasih. tidak ada kata yang terlontar dari mulutnya ia hanya diam mematung ”kau ingin bunuh diri?” tanya
sosok yang ternyata benar adalah tuan Smith. Kasih yang tersadar dari
pikirannya melepas paksa dekapan tuan Smith yang lalu menatap Kasih
dengan alis tertaut.
“apa aku sedang bermimpi?” gumam Kasih pada
dirinya sendiri “oh! Kenapa mimpi ini terasa…”
“kau memang tidak sedang bermimpi, dasar
gadis bodoh!” celetuk tuan Smith sembari berkacak pinggang menatap Kasih kesal
“apa yang anda lakukan disini?” tanya Kasih
terheran
“harusnya aku yang bertanya, gadis bodoh.”
Kata tuan Smtih menyentil dahi Kasih hingga meninggalkan bekas merah seperti
“Aduh! Sakit sekali!!!” erang Kasih
menyentuh jidatnya yang mulai memerah”apa anda sudah gila?! Kenapa bertingkah
kekanak-kanakan begitu? Lihat jidatku sakit sekali tau!”
“kau memang pantas mendapatkan itu.” ledek
tuan Smith sembari memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana membuat Kasih
memelotkan mata padanya, marah.
Kapal pesiar super mewah milik pria yang
menculik Kasih ternyata pria itu bernama tuan Adam yang merupakan adik tiri
tuan Smith yang tidak pernah diketahui keberadaannya. Tuan Adam sengaja
bersembunyi dari dunia karena ia tidak ingin berebut harta atau apapun dari
Kakaknya. Yang diketahui oleh dunia selama ini adalah bahwa yang tersisa dari
keluarga Alexander hanyalah tuan Smith Alexander seorang. Media tidak pernah
bisa meliput kehidupan pribadi Tuan Smith setelah kematian anggota keluarganya.
Media juga tidak pernah tau jika tuan Adam masih hidup dan merupakan saudara tiri
dari tuan Smith. Tuan Adam sudah cukup merasa bersalah dengan kelahirannya dari
istri simpanan sang Ayah. Sebagai salah satu tuan muda dari keluarga Alexander
tentunya meski ia hanya anak dari seoarang istri simpanan, tetap saja ia
memiliki hak berupa harta warisan setelah orangtuanya meninggal. Dan bagian warisan
itu tidaklah sedikit, meski akan terbilang sedikit jumlahnya jika dibandingkan
dengan apa yang diterima oleh tuan Smith sebagai putra dari istri sah.
Dengan warisan yang diterimanya ia pergi
keluar negri untuk memulai hal baru dihidupnya. Pilihan itu dipilihnya karena
ia tidak ingin sang Kakak merasa terbebani dengan kehadiran dirinya yang
notabene anak dari hasil hubungan gelap sang Ayah. Karena ibu tuan Smith hamil
dengan terpaksa tuan besar Alexander menikahi ibu dari tuan Smith dan
menjadikannya sebagai istri simpanan. hal itu membuat keretakan diantara tuan
besar Alexander dan sang istri yang mengakibatkan ibu dari tuan Smith menderita
karena tidak terima sang suami memiliki istri lain bahkan akan segera memiliki
anak dari wanita lain tersebut. Hingga suatu hari ibu dari tuan Smith memilih
jalan bunuh diri untuk mengakhiri penderitaannya.
Flashback On
Malam itu keheningan mansion utama keluarga
Alexander terusik dengan pertengkaran yang terjadi antara tuan besar Alexander
dan sang istri. Tampak tuan besar Alexander hanya bisa pasrah menerima luapan
kemarahan dari sang istri setelah hubungan gelapnya diketahui sang istri.
Sebenarnya ia tidak bermaksud untuk berselingkuh hanya saja saat itu ia sedang
__ADS_1
mabuk dan tidak sengaja meniduri seorang wanita, hingga wanita itu
mendatanginya dan mengatakan bahwa ia sedang megandung bayi dari tuan besar.
Mau tidak mau tuan besar terpaksa menikahi wanita itu. Rencananya tuan besar
tidak ingin istrinya mengetahui perihal masalah ini. Ia tidak ingin menyakiti
sang istri. Benar saja, setelah mengetahuinya, hatinya sangat hancur tidak
kuasa menerima kenyataan bahwa sang suami kini sudah memiliki istri lain dan bahkan
seorang bocah laki-laki.
Prang!!!
Sebuah Vas besar dilempar begitu saja dan
hancur berkeping-keping oleh nyonya Alexander. Ia sangat murka saat ini. Baru
saja ia mengetahui sesuatu hal yang membuat hatinya hancur seketika.
“katakan!” ujar Nyonya Alexander pada tuan
besar “katakan padaku bahwa semua itu salah, suamiku. Katakan! Kau harus
menyangkalnya demi aku dan putramu” tangis Nyonya Alexander pecah seketika. Tuan
besar hanya terdiam tidak tau harus berbuat apa. Ada penyesalan dalam hatinya melihat
istri yang dicintainya sedang menangis histeris. Namun ia tak dapat berbuat
apa-apa sekarang ia hanya bisa pasrah menerima kemarahan sang istri dan
berusaha menenangkannya.
“apa yang kurang dariku?” tanya Nyonya
Alexander marah tangisnya kembali pecah tatkala mengingat keharmonisan rumah
tangganya salama ini. “katakan apa yang kurang dariku! Aku akan mengubahnya
untukmu, aku mohon aku akan berusaha menjadi istri yang kau inginkan. Jangan lakukan
ini padaku suamiku…Hiks!”Nyonya Alexander perlahan jatuh terduduk tak kuasa
menahan kepedihan dihatinya. Bayangan keharmonisan bersama sang suami selama
ini seketika kembali terlintas membuat hatinya makin teriris pilu. “apakah
kebahagiaan yang kau berikan padaku, rasa cinta, juga kasih sayang dan semuanya itu
palsu?! Apa itu hanya sandiwaramu untuk menutupi kebohonganmu selama ini?!” dari
posisi terduduk dilantai Nyonya Alexander menatap tuan besar yang sedang
berdiri dihadapannya.
Tuan besar berjalan mendekat lalu memegang
kedua bahu sang istri.
“apa yang kau bicarakan, aku sangat
mencintaimu, istriku.” Kata tuan besar tulus namun Nyonya membuang wajahnya
sembari mendecih ia sudah tidak ingin mempercayai sang suami lagi. Hatinya sudah
terlanjur sakit. “semua ini terjadi murni karena ketidaksengajaan saja, aku
yang ceroboh. Maafkan aku” lanjut tuan besar mencoba menjelaskan pada sang
istri.
Dengan kasar Nyonya Alexander melepaskan
kedua tangan tuan besar dari pundaknya “kau sudah menghancurkan perasaanku. Aku
begitu berbahagia berpikir hanya aku sebagai satu-satunya Nyonya di rumah ini
dan dengan betapa bodohnya, aku meyakini bahwa selamanya aku akan menjadi satu-satunya
wanita yang memilikimu. Tapi kau sudah menghancurkan semuanya! Kau menipuku!!!”
ujar Nyonya Alexander berurai airmata. Tuan besar hanya bisa tertunduk sedih
dan menyesali perbuatannya yang begitu menyakitakn bagi sang istri. Bagaimana tidak,
ia sudah merahasiakan hal ini begitu lama."kau sungguh tega berbuat ini padaku, suamiku Huhuuu.."
“aku mohon maafkan aku. Tolong beri aku
kesempatan. Aku hanya merasa bersalah pada anak yang dilahirkan wanita itu,
anak itu tidak bersalah” ujar tuan besar berusaha membuat istrinya mengerti
“apa katamu?” tanya Nyonya Alexander
mendelik kecewa “anak itu tidak bersalah? Lalu bagaimana dengan anak kita.
Smith masih sangat muda, apa kau tidak memikirkan perasaannya dan malah hanya
memikirkan perasaan anak hasil selingkuhanmu?! Apa kau sadar dengan apa yang
sedang kau katakan?!” teriak Nyonya diakhir kalimatnya seiring dengan itu
tangisnyapun pecah.
Bersamaan dengan itu Smith yang mendengar
suara pertengkaran kedua orangtuanya berlari datang menghampiri
”ibu?” gumam Smith muda. Ibunya hanya
menangis tertunduk sedih. “apa yang terjadi?”tanya Smith muda heran baru kali
ini ia melihat orangtuanya yang selama ini terlihat amat sangat harmonis bertengkar
bahkan bertengkar dengan begitu hebatnya.Hal itu terlihat jelas dari sang ibu
yang menagis terisak dan banyaknya perabotan guci dan vas yang berceceran
dilantai.
“kami hanya sedang berbicara Nak,”ujar tuan
besar memberi alasan untuk menutupi yang sebenarnya tidak ingin membuat sang
anak menjadi cemas“kau tidak usah khawatir, Ayah dan ibu hanya perlu waktu
untuk berbicara, sekarang kau pergilah ke kamarmu” tuan besar lalu memberi
isyarat pada John yang sedang berdiri disitu untuk segera membawa Smith ke kamarnya. Smith
muda berjalan pergi meninggalkan kedua orangtuanya dengan ditemani John
disisinya. Ia samasekali tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi, pikiran
mudanya belum sanggup berpikir terlalu jauh.
Tuan besar menatap sang anak yang pergi
berlalu dengan tatapan sedih
BERSAMBUNG…
__ADS_1