
Tuan Smith tampak sangat depresi karena belum juga menemukan dimana keberadaan Kasih meski ia telah mengerahkan seluruh pasukannya yang dimilikinya, ia belum juga berhasil menemukan dimana keberadaan gadis itu. Ruang kerjanya yang tampak berantakan banyak barang yang berhamburan dan tak memiliki bentuk yang utuh lagi, semua itu dikarenakan ia melampiaskan kekesalannya dan juga kemarahannya yang tak kunjung dapat menemukan di mana istrinya berada. Berhari-hari dirinya tidak tidur dan terus mengerahkan seluruh pasukannya untuk terus mencari dimana Kasih, hal itu semakin membuat lingkaran hitam di matanya terlihat sangat jelas. Tidak dipedulikannya Tuan Adam dan juga John yang selalu menyuruhnya untuk beristirahat. Tidak hanya itu saja bahkan bawahannya juga ia pukuli hingga babak belur untuk meluapkan kemarahan dihatinya. Tak jarang di kesunyian malam Tuan Smith duduk sendirian di dalam ruangan kerjanya menatap potret wajah Kasih yang berbalut gaun pernikahan sembari meneteskan air mata.
“Kasih, dimanakah dirimu berada? kumohon jangan menghukumku seperti ini aku tidak sanggup kehilangan dirimu.”
Suara ketukan pintu ruang kerjanya terdengar tampak Tuan Adam masuk ke dalam ruangan. Ini adalah yang kesekian kalinya ia datang dengan membawa makanan untuk membujuk sang Kakak yang selalu menolak setiap makanan yang dibawakan untuknya. Namun kali ini, ia masih terus saja berusaha berharap sang Kakak akan luluh dan mau mendengarkannya.
“Hei, Kakak! Aku membawakanmu .... “ Ucapan Tuan Adam terhenti saat melihat keadaan menyedihkan sang kakak yang kian hari kian menjadi. Rambut acak-acakan, wajah kusam yang tampak sangat pucat. Setelan jas yang selalu rapi kini terlihat tidak beraturan dengan kancingnya yang sebagian telah terbuka. ‘Ck!ck! Aku tidak pernah menyangka akan datang saat ini di mana kau terlihat sangat menyedihkan, Kakak. Hanya karena seorang gadis kecil bisa membuatmu sampai seperti ini sungguh diluar dugaan.’ Tuan Adam kemudian melanjutkan langkahnya berjalan ke arah Tuan Smith di meja kerjanya sambil membawa nampan di tangannya meletakkannya di hadapan pria yang tengah diliputi perasaan campur aduk itu membukakan tirai yang sudah lama tertutup sehingga sinar matahari yang cerah dapat masuk menyinari ruangan yang gelap dan berantakan.
“Kau tidak perlu menghukum dirimu seperti ini. Walaupun kau seperti ini, kau mati pun kau tidak akan menemukan istrimu itu, Kakak. Jadi, kumohon kuatlah dan segera temukan dimana keberadaannya!” ujar Tuan Adam dengan nada sarkas, sengaja untuk menyadarkan kakaknya itu. ia lelah berbicara apapun namun seolah terpental begitu saja pada pria yang selama ini terlihat begitu hebat dimatanya. Tak pernah ia sangka sang kakak yang bengis akhirnya bisa takluk hanya pada seorang gadis bernama Kasih.
Sang kakak tidak menggubris hanya diam dan terus menatap potret sang istri.
“Kakak! Apa kau dengar apa yang aku katakan?! Aku bilang kuatkan dirimu dan bawa istrimu kembali!!!” bentak Tuan Adam dengan nada suara tinggi. Kemudian tangannya mendorong nampan yang tadi ia bawah mendekat ke arah Tuan Smith. “Ayolah, Kak! aku mungkin tidak mengerti perasaanmu saat ini, tapi Kasih membutuhkanmu, Kasih masih hidup dan ia menunggumu datang untuk menjemputnya.”
Tuan Smith sedikit terhenyak mendengar perkataan dari sang adik yang sejak kecil tidak pernah ia perhatikan itu karena kebenciannya terhadap sang ibu tiri yang ia anggap telah merebut sang ayah dan menghancurkan kehidupannya. Setetes air bening lolos dari pelupuk mata Tuan Smith seketika pria yang terkenal sangat kejam itu kini terlihat sangat lemah dan menyedihkan. Semenjak kasih dibawa pergi oleh Max Julian Sejak saat itu Tuan Smith berubah menjadi sangat lemah. Tak terhitung berapa kali ia menangis menyesali semua perbuatannya selama ini pada sang istri.
“Kakak, kumohon sadarlah jika kau terus seperti ini kita akan semakin susah untuk menemukan Kasih. Max Julian si keparat itu masih berkeliaran di luaran sana dengan membawa istrimu dan kau disini dengan keadaan menyedihkan malah hanya meratapi nasibmu. Bangkitlah, Kak! Kau harus kuat. Apa kau tidak kasihan kepada anakmu?” Mendengar anaknya disebut Tuan Smith kemudian tersadar. “Bayi Ed, telah kehilangan sosok ibunya, dan kini, apakah ia juga harus kehilangan sosok ayahnya? Kau sungguh egois jika membiarkan hal itu terjadi,” Imbuhnya bernada lemah dengan wajah tertunduk sedih.
Sesaat kemudian terdengar bunyi sendok dan garpu saling bergesekan Tuan Adam mengangkat wajahnya dan terkejut melihat sang kakak yang akhirnya mulai menyentuh makanannya. Ada perasaan bahagia dan bersyukur mengalir di dalam hati Tuan Adam.
“Apa yang kau lihat?” tanya Tuan Smith menyadarkan Tuan Adam dari keterkejutannya. “Cepat tuangkan segelas anggur untukku,” perintahnya kemudian. Dengan cepat Tuan Adam bergegas mengambil sebotol anggur lalu kemudian menuangkannya kedalam gelas Tuan Smith.
Cairan berwarna merah itu berputar-putar di dalam gelas disebabkan Tuan Smith yang sedang menggoyangkan gelasnya lalu kemudian meminum anggurnya.
“Terima kasih,” ucap Tuhan Smith setelah selesai meminum anggur. Ucapannya terdengar datar namun sangat berharga di pendengaran Tuan Adam. ‘Kakak? Apakah aku saat ini sedang bermimpi? Baru kali ini aku melihatnya mengucapkan kata-kata keramat itu. Kasih, sebenarnya mantra apa yang telah kau berikan pada kakakku ini.’
__ADS_1
***
5 Tahun Kemudian....
Berkat ucapan dari Tuan Adam akhirnya Tuan Smith bangkit dari keterpurukannya. Dirinya kemudian kembali semangat untuk melanjutkan pencarian Kasih. Meskipun Setelah 5 tahun kemudian tidak kunjung juga mendapatkan hasil namun dirinya tidak berputus asa ia yakin suatu saat ia akan dapat menemukan Kasih kembali. Selama 5 tahun ini ia terus berusaha untuk menjadi sosok ayah yang baik bagi anak satu-satunya Ed Alexander yang kini telah genap berusia 6 Tahun. Ed tumbuh dengan sangat baik di bawah pengasuhan serta bimbingan Tuan Smith. Anak itu sangat mirip dengan Tuan Smith wajahnya tampan dan juga sangat cerdas. Walau usianya masih terbilang anak-anak namun dikarenakan Tuan Smith yang mendidik langsung, sang anak akhirnya tumbuh menjadi seorang anak yang hebat. Di usianya yang masih sangat muda itu ia bahkan telah mampu memecahkan soal pelajaran untuk anak dewasa. Ia sangat mahir dalam pelajaran. Tidak hanya sampai di situ, bahkan ia juga sangat mahir menembak seperti sang ayah.
“Anak ayah yang manis, apakah sudah lama menunggu?” suara sang Ayah terdengar di telinga Ed Alexander yang sedari tadi menunggu dirinya. Wajah imut itu tampak merengut kesal dikarenakan sang Ayah yang terlambat menjemputnya. Begitulah sosok Ed Alexander anak dari Tuan Smith dengan Kasih. Sangat jenius namun juga sangat manja.
“Ayah mengaku Ayah salah, Ayah minta maaf. Apakah Ayah mendapatkan maaf dari anak ayah yang tampan ini?” kata Tuan Smith tersenyum jenaka ke arah sang anak, Ed Alexander.
“Belikan aku sesendok es krim maka aku akan memaafkan Ayah,” ucap Ed Alexander yang akhirnya luluh.
“Baik. Ayah akan menyuruh Paman John untuk membelikanmu es krim sebanyak yang kau mau.”
“Tidak mau!” Tuan Smith mengernyit heran. “Aku ingin Ayah yang membelikan es krim untukku,” imbuhnya kemudian.
Menghela nafas pasrah akhirnya Tuan Smith menyetujui permintaan dari anaknya untuk membeli es krim. Kedua ayah dan anak itu pun pergi menuju supermarket untuk mendapatkan es krim yang diinginkan oleh Ed Alexander. Anak itu sangat senang sekali bisa mendapatkan waktu berharga bersama sang ayah yang biasanya sangat sibuk dengan pekerjaannya. Dengan girangnya Ed Alexander berlari kesana dan kemari tanpa memedulikan orang-orang yang berada di sekitarnya.
__ADS_1
“Ayah! Aku juga ingin yang itu dan yang ini, bolehkah, Ayah? Kumohon.” Alexander memasang wajah memohonnya sembari tangannya menunjuk apa yang ia inginkan.
“Oh, bukankah kita kemari hanya untuk mendapatkan es krimmu? Lalu sekarang, kenapa tiba-tiba kau jadi memeras Ayah begini?” sindir Tuan Smith pada sang anak yang kemudian mengerucutkan bibirnya kesal. “Ah, Ayahku ternyata sangat pelit.” Ed melipat kedua tangannya di depan dada membuat Tuan Smith tersenyum senang.
“Baiklah. Baiklah. Ayah akan membelikanmu. Tapi, kau harus berjanji untuk mendengarkan Ayah baik-baik mengerti?” kata Tuan Smith pada sang anak yang memang sering sekali membantahnya.
“Ya, Ayah.” Ed Alexander mengangguk patuh sambil tersenyum manis kepada sang ayah sungguh sangat menggemaskan.
Selesai mengambil semua yang diinginkan oleh Ed Alexander, Tuan Smith dan sang anak berjalan keluar dari supermarket menuju mobil mereka sambil menentang barang bawaan. Banyak hal telah berubah pada diri Tuan Smith seperti salah satunya saat ini Tuan Smith telah sangat jarang membawa Bodyguard dan ditemani oleh John, sang sekertaris. Sejak 5 tahun yang lalu Tuan Smith memutuskan untuk merubah segala sesuatunya menjadi lebih baik ia benar-benar memberikan seluruh hidupnya untuk sang anak seorang. Tuan Smith tidak pernah enggan untuk menemani kemanapun sang anak ingin pergi dan ia juga selalu menemani anaknya untuk bermain.
Saat sedang sibuk memasukkan barang ke dalam bagasi mobil. Tuan Smith tiba-tiba dikejutkan oleh suara tangisan Ed Alexander yang berada tak jauh darinya. Buru-buru Tuan Smith menutup pintu mobilnya lalu bergegas menghampiri Ed Alexander.
“Apa yang terjadi?” tanya Tuan Smith yang sudah berdiri di hadapan Ed Alexander dan seorang wanita yang tampak membelakangi dirinya sedang sedikit membungkuk menghadap pada Ed Alexander.
Menyadari kehadiran Tuan Smith, wanita itu menegakkan tubuhnya lalu memalingkan wajahnya menatap Tuan Smith Alexander.
Tuan Smith Alexander tak dapat berkata apa-apa tubuhnya seketika mematung dengan pupilnya yang melebar menatap wanita yang berada di hadapannya.
Bersambung...
__ADS_1