Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 72 Hukuman


__ADS_3

Berjalan mondar-mandir dengan gelisah Kasih berusaha mencari sebuah cara untuk keluar dari kamar yang memisahkan dirinya dari dunia luar.


“Pria gila sialan! Entah apa salah dan dosaku bertemu dengan pria labil sepertinya dirinya. Bukan hanya kejam dan suka seenaknya tapi dia juga sangat menjengkelkan! Aku tidak boleh terus berada disini. Tidak. Tidak boleh. Aku harus segera menemukan cara keluar dari sini.”


Tepat saat itu juga Wendy mengetuk pintu kamarnya. “Nyonya, saya membawa makanan untuk anda.” Wendy membuka pintu kamar dan masuk dengan membawakan satu nampan penuh berisi makanan. Wendy sangat paham jika Nyonyanya itu begitu menyukai cemilan. Maka ia membawanya sedikit lebih banyak.


“Ini makanan anda, Nyonya. Saya membawakan kesukaan anda.” Nampan makanan itu terlihat sangat menggugah selera akan tetapi Kasih sama sekali sedang tidak berselera untuk makan. Kepalanya penuh dengan rencana untuk kabur.


“Anda harus makan sesuatu, Nyonya. Anda akan sakit jika perut anda kosong. Makanlah. Ini sangat enak.”


“Aku tidak ingin makan. Kau bawa saja itu pergi.”


“Kumohon jangan begini, Nyonya. Kasihanilah kami. Anda tentu tau seperti apa Tuan jika ia sudah murka, Nyonya. Kami tidak mau hal itu sampai terjadi,” tutur Wendy menjelaskan.


Kasih menatap wajah Wendy kemudian beralih menatap kearah yang lain dengan tatapan kosong air mukanya tampak menyimpan kesedihan yang amat mendalam. Wendy sempat tertegun melihat perubahan Nyonya mudanya yang malang, ia turut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Kasih namun ia sendiri tidak dapat berbuat apa-apa untuk membantu.


“Sungguh tragis, bukan?” ucap Kasih tiba-tiba masih dengan tatapan kosongnya.


“Eh?” Wendy menatap Nyonya muda dengan pandangan bingung tidak mengerti dengan apa yang sedang dikatakan oleh sang Nyonya.


“Setiap hari aku selalu membayangkan diriku suatu hari akan berbahagia seperti cerita romantis yang kubaca tanpa bosan. Aku sungguh bodoh kupikir aku berhak untuk mendapat kebahagian yang kuimpikan dan aku terus saja mengharapkan hal itu di dalam hidupku. Akan tetapi, lihatlah diriku yang sekarang ini. Semua sudah direnggut dariku. Cintaku yang bahkan belum sempat kuutarakan sudah diambil secara paksa tanpa sempat mengatakan perasaan satu sama lain. Aku memang bodoh dan tidak beruntung. Mungkin jika ada kehidupan selanjutnya aku akan sedikit lebih beruntung .... “


“Nyonya, anda ... anda jangan berpikir yang tidak-tidak. Saya yakin Tuan Smith hanya sedang marah sebentar saja, hal itu tidak akan berlangsung lama. Mohon anda untuk bersabar,” ujar Wendy menatap iba. Ia sungguh mengerti perasaan Kasih saat ini. Pernikahannya dengan Tuan Smith memanglah hanya suatu ketidaksengajaan belaka dan hal itu membuat Kasih harus merelakan segalanya dihidupnya. Tidak jarang ia memergoki Nyonya muda itu menangis dalam diam sendirian. Nyonya muda itu sangat ahli menyembunyikan perasaan sesungguhnya. Dari luar Kasih terlihat kuat dan seakan baik-baik saja. Namun tidak ada yang mengetahui Kasih selalu menangis sendirian.


Wendy tampak baru saja keluar dari dalam kamar Kasih, ia menutup kembali pintu lalu tidak lupa menguncinya. Pada saat yang sama Tuan Smith datang mendekat.


“Tuan,” sapa Wendy membungkuk hormat saat menyadari bahwa yang didepannya saat ini adalah majikannya.


“Apa dia sudah makan?”  tanya Tuan Smith dengan nada datar sorot mata tajamnya menatap nampan yang dibawa oleh Wendy ditangannya.


“Sudah, Tuan.” Jawab Wendy sopan.


Tangan Tuan Smith mengibas diudara memberi isyarat pada Wendy untuk pergi.


“Saya permisi, Tuan.” Wendy berjalan pergi meninggalkan Tuan Smith yang masih berdiri di depan pintu kamar Kasih sendirian.


Saat Wendy telah sepenuhnya meninggalkan dirinya sendiri, Tuan Smith dengan ragu-ragu menggerakkan tangannya menyentuh gagang pintu hendak membuka pintu tersebut. Akan tetapi, belum lagi pintu itu terbuka Tuan Smith menarik kembali tangannya lalu berjalan pergi.


Sementara Kasih yang berada di dalam kamar sedang merenungi nasibnya tidak bisa kemana-mana dan berbuat apapun untuk menyelamatkan harga dirinya jika aib yang berusaha ia tutup-tutupi selama ini terbongkar.


“Aku tidak tau harus bagaimana jika sampai Brandon membuka mulutnya dan menyebarkan semuanya, maka tamatlah riwayatku. Aku akan sangat malu, aku tidak berani lagi menampakkan diriku pada siapapun. Ya Tuhan apa yang harus kulakukan?” Kasih menatap sedih pada layar ponselnya yang menyala menampilkan potret dirinya sendiri yang sedang tersenyum pada halaman utama ponsel. Senyum Kasih di situ terlihat sangat cantik memancarkan kebahagiaan diraut mukanya. Sangat berbeda halnya dengan sekarang, Kasih sudah sangat jarang tersenyum seperti itu yang ada hanyalah senyum palsu dengan hati Kasih yang sangat sakit menahan perasaannya sendiri.


 


 


***


 


 


Tuan Adam berlari datang menghampiri Karina yang sedang bersantai diatas sofa empuk. Suara kencangnya memenuhi ruangan villa milik Tuan Adam yang selalu mereka berdua gunakan untuk saling bertemu secara sembunyi-sembunyi.


“Sayang!”


“Ada apa denganmu, sayang? Kenapa berteriak seperti itu?” tanya Karina yang ternyata sedang membaca sebuah majalah. Diletakkannya majalah yang tadi dibaca keatas meja lalu memandang wajah kekasihnya.

__ADS_1


“Ap, apa kau sudah tau?” katanya susah payah beradu dengan napasnya yang tersengal dikarenakan habis berlari. Karina mengernyitkan alisnya bingung.


“Apa yang sedang kau bicarakan, sih?”


“Kau tau? Aku baru saja menerima kabar dari rumah keluarga Alexander, temanmu itu. Nyonya Alexander ketahuan melakukan sesuatu hal yang membuat kakakku marah besar. Aku yakin temanmu itu akan menerima hukuman berat seperti kedua pengasuh yang membantunya,” tutur Tuan Adam menjelaskan.


“Apa?!” Karina terperanjat kaget dengan mata melotot. Segera ia mencari-cari ponselnya yang entah disimpannya dimana. “Duh! Kemana ponselku?! Cepat bantu aku mencari!” seru Karina kelabakan mencari keberadaan alat komunikasinya itu.


“Tenanglah sedikit, sayang.” Tuan Adam menenangkan kekasihnya lalu mengambilkan ponsel yang terselip diantara bantal sofa. Dengan cepat Karina mengambil ponselnya dan bergegas menghubungi sahabatnya Kasih.


“Kasih!!! Apa yang terjadi denganmu?!” cecar Karina saat ponselnya sudah terhubung.


“Ceritanya panjang, Rin. Aku akan menceritakan padamu lain kali.”


“Baiklah. Apa yang dilakukannya padamu? Apa dia menyakitimu? Kau tidak terluka, kan?”


“Tenanglah aku baik-baik saja. Hanya, aku ingin kau membantuku mengecek keadaan kedua pengasuh bayiku.”


“Maksudmu Namira dan juga Dita?” tanya Karina memastikan.


“Ya.”


“Mereka baik-baik saja, kau tidak perlu mencemaskan yang lain. Cemaskan saja dirimu sendiri. Aku akan ke mansion bertemu dengan pria gila itu untuk membuat perhitungan dengannya jika ia sampai berani melukaimu. Kau harus ingat untuk melaporkan padaku jika dia berbuat kasar padamu, apa kau mengerti?!”


“Baik. Aku akan mengingatnya, Rin. Aku tidak ingin  membuatmu ikut terlibat dan menerima hukuman seperti kedua pengasuhku. Jadi jangan bertindak gegabah.”


“Aku tidak peduli. Pria gila itu sungguh keterlaluan sekali mengurungmu di kamar. Beruntung kau masih bisa menggunakan ponselmu.”


“Aku menyembunyikannya darinya. Tentu saa jika ia tau pasti ia akan menyita ponselku juga,” ucap Kasih mengerucutkan bibirnya. “Sudah dulu ya, sepertinya seseorang akan masuk. Aku tututp dulu.” Kasih berucap dengan suara setengah berbisik dan buru-buru lalu menutup panggilannya.


Tepat saat Kasih sudah menyembunyikan ponselnya dibalik bantalnya dengan buru-buru, Tuan Smith membuka pintu dan memasuki kamar. Kasih menahan nafas tegang saat melihat yang masuk ternyata adalah pria yang paling ingin dihindarinya saat ini.


“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Tuan Smith datar.


Kasih diam saja tidak ingin menjawab memasang wajah masam lalu menghindari tatapan Tuan Smith.


“Baiklah jika kau ingin terus membisu. Aku akan terus menyiksa kedua pengasuh itu ... ”


“Kau!” hardik Kasih menatap marah pada Tuan Smith. “Apa sih yang kau inginkan? Aku tidak membuatmu rugi atau apapun. Aku hanya berbohong sekali padamu dan kau sudah sangat marah begitu padaku, bahkan menghukumku dan juga orang yang tidak bersalah. Aku ingin kemana dan berbuat apa bukankah itu adalah urusanku? Kau pernah berkata padaku aku boleh kemanapun asalkan membawa pengawalku, bukan? Lalu sekarang mengapa ... “


“Kenapa kau tidak pernah mengatakannya padaku?” potong Tuan Smith aura dingin menyelimuti dirinya.


“Apa maksudmu?” tanya Kasih dengan tatapan bingung.


Tuan Smith melemparkan selembar potret diri seorang pemuda dihadapan Kasih yang membuat pemilik mata indah itu sangat terkejut dan matanya membulat seketika. Nafasnya tercekat menatap potret Brandon terpampang jelas dihadapannya. Keringat dingin sudah menetes dipelipis Ibu dari anak Tuan Smith.


“Kau kenal pemuda itu?” tanya Tuan Smith datar.


Sontak kasih tergagu kata-katanya seolah tertahan ditenggorokannya. Tangannya yang gemetaran diremasnya dengan kuat.


“Masih tidak ingin bicara?!”


Ketakutan dan perasaan malu menguasai seluruh diri Kasih membuatnya tidak dapat berkata apapun. Kepalanya berputar-putar dan terasa pusing. Kenangan buruk tentang pemuda bernama Brandon yang adalah senior dan juga orang yang telah membuatnya dalam trauma yang hebat seketika berseliweran dikepala Kasih. Tanpa aba-aba Kasih yang merasa sangat lemas dan pusing tidak mampu lagi untuk menopang bobot tubuhnya hingga pada akhirnya gadis berambut pendek itu pingsan. Tepat sebelum tubuhnya jatuh menyentuh lantai Tuan Smith segera menopang dirinya.


 


 

__ADS_1


***


 


 


Dokter Leo baru saja selesai memeriksa keadaan Kasih yang pingsan. Melepaskan stetoskop dan mengalungkannya dilehernya kemudian berbalik menghadap Tuan Smith yang sedang duduk manis disofa.


“Saya sudah memeriksa keadaan Nyonya muda, Tuan.”


“Hn.”


“Nyonya mengalami tekanan yang sangat besar dari kejadian yang pernah membuatnya trauma. Ada baiknya untuk tidak mengungkit kejadian itu dan lebih memfokuskan untuk membuat suasana hati Nyonya muda lebih tenang hal itu baik untuk kesehatan mental dan juga jiwanya,” jelas Dokter Leo menuturkan hasil pemeriksaan.


Pandangan Tuan Smith tertuju pada wajah Kasih yang sedang tertidur damai. ‘Gadis bodoh ini sungguh bodoh. Bisa-bisanya ia membiarkan dirinya dianiaya oleh orang serendah itu. Aku adalah Tuan Smith Alexander dan kau adalah istriku, wanita milikku. Tidak ada satupun yang punya hak memprovokasi dirimu.’


“Saya pamit dulu, Tuan. Obat dan vitamin untuk Nyonya sudah saya berikan pada kapala pelayan John,” kata Dokter Leo.


“Hn. Kau boleh pergi.” Mata Tuan Smith masih tertuju pada Kasih.


Saat John dan Dokter Leo berjalan keluar dari kamar tempat Kasih sedang berada, Karina dan Tuan Adam berjalan masuk berpapasan dengan mereka. Karina berjalan cepat dan menerobos masuk mencari keberadaan Tuan Smith.


“Kasih?!” panggilnya dengan nada gusar. John berusaha menghalanginya namun Tuan Smith memberi isyarat tangan untuk membiarkan.


“Kau?!” tunjukmya marah. “Sudah kubilang untuk menjaganya kenapa kau malah membuatnya sampai pingsan?!”


John, Wendy dan Tuan Adam sudah memasang wajah gusarnya melihat aksi yang dilakukan sahabat Kasih itu mereka semua menunduk takut menunggu apa yang akan terjadi. Mereka menduga Tuan Smith pasti akan marah besar dan mungkin saja akan memukul Karina. Dan sebelum hal itu terjadi, Kasih tersadar dari pingsannya.


“Ikut denganku sebentar.” Tuan Smith berkata datar sembari melangkah pergi. Karina yang bengong menatap tidak percaya dialihkannya padangan matanya pada sang kekasih dan yang lain namun mereka juga tidak jauh berbeda dengan dirinya, bingung.


 


 


***


 


 


“Apa maksudmu dengan pergi berlibur?!” pekik Karina tidak percaya saat Tuan Smith memintanya untuk membujuk Kasih agar mau pergi berlibur. ‘Ada apa dengan pria gila ini kenapa tiba-tiba mengajak pergi libur? Apa dia sedang merencanakan sesuatu?’ Karina menatap wajah tampan milik suami sahabat baiknya itu dengan pandangan menelisik.


“Lakukan dengan baik. Jika kau berhasil membujuknya, aku akan mengabulkan apapun permintaanmu,” tawar Tuan Smith membuat Karina sedikit tergoda. ‘Apapun permintaanku? Bukankah kau sekarang terlihat seperti jin botol pengabul permintaan, wahai pria gila?’


“Tidak mau?” tanya Tuan Smith menyadarkan lamunan Karina. “Kau harus menerima tawaranku jika masih ingin kuijinkan datang menemui sahabat bodohmu itu,” lanjut Tuan Smith dengan nada sedikit mengancam.


“Baiklah. Tapi kau harus berjanji untuk tidak menyakiti sahabatku lagi. Jika kau berani melakukan hal itu aku jamin kau akan menerima akibatnya. Hanya membujuknya pergi berlibur, kan? Itu bukanlah masalah besar,” tandas Karina menyetujui tawaran Tuan Smith.


 


 


BERSAMBUNG...


 


 

__ADS_1


__ADS_2