Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 109 Terobati


__ADS_3

Kain kasa yang telah dibaluri cairan obat itu perlahan menyentuh bibir Kasih yang ternyata tidak hanya berdarah namun juga menyisakan sedikit luka diujung bibirnya bisa dibayangkan betapa kerasnya Nirmala menampar wajah Kasih saat itu. Dengan sangat hati-hati dan penuh perhatian Tuan Smith membersihkan kemudian mengolesi obat kebagian tubuh Kasih yang terluka.


“Aku tidak menduga ada orang yang sangat bodoh sepertimu! Kau sudah dilukai seperti ini tapi  kau masih membiarkan orang itu begitu saja. Aku bertanya-tanya apakah otakmu itu masih berfungsi atau sudah rusak. Jika otakmu rusak kaupun harus mengatakannya padaku agar aku memberimu otak yang baru untuk kau gunakan.” Omel Tuan Smith pada Kasih sembari masih berkonsentrasi mengobati bibir Kasih. Dari jarak yang sangat dekat itu Kasih dapat mencium aroma tubuh dan nafas Tuan Smith. Sejenak Kasih seolah merasa sangat familiar dengan situasi saat ini namun pikirannya teralihkan saat rasa perih dari obat yang menyentuh luka dibibirnya.


“Aw!” rintih Kasih menahan sakit namun tak dapat berbuat banyak karena dagunya sedang dipegangi oleh Tuan Smith. Iapun hanya bisa mengernyitkan keningnnya menahan sakit.


“Kau sudah merasa sakit? Lalu kenapa saat kau dipukuli tadi kau tidak berbicara apapun?” tanya Tuan Smith bernada sarkas ia merasa sangat marah dan kesal melihat Kasih yang tidak berdaya seperti itu. ia marah dan merasa dirinya tidak sanggup melindungi wanita miliknya.


“Memangnya aku harus berbuat apa padanya? Aku sendiri tidak mengingat apapun. Aku orang seperti apa dimasa lalu akupun tidak tahu.”


Mendengar perkataan Kasih itu membuat hati Tuan Smith seakan tertohok. ‘Benar juga. Pastilah sangat membingungkan baginya ketika bertemu orang-orang dari masa lalu yang tidak diingatnya.’


‘Wanita yang bernama Nirmala itu sepertinya mengetahui aku orang yang seperti apa dimasa lalu, bisa saja dia menjadi kunci aku bisa mengingat kembali masa laluku sebaiknya aku menemuinya untuk bertanya.’


“Aku sudah selesai.”


“Sudah ya, terima kasih. Aku pergi dulu.” Ucap Kasih sambil bangkit berdiri.  n


“Kau ...” Tiba-tiba Tuan Smith berucap membuat Kasih tercengang menunggu pria itu menyelesaikan kalimatnya yang sepertinya tersangkut ditenggorokan.


“Ada apa? Kau ingin berkata sesuatu?”


“Itu, apa kau sungguh sangat ingin tau seperti apa masa lalumu?” tanya Tuan Smith kemudian.


“Tentu saja. Tidak mengingat apapun itu sangat menyiksa. Memang siapa orang di dunia ini yang tidak mau berkumpul bersama keluarganya? Aku harus mendapatkan kembali ingatanku bagaimanapun caranya tidak peduli harus melakukan apapun itu aku pasti akan berusaha.”


“Bagaimana jika masa lalumu itu tidak menyenangkan,” ungkap Tuan Smith membuat Kasih memiringkan wajahnya sambil menatap bingung kearah pria itu. Buru-buru kemudian Tuan Smith segera menjelaskan maksud ucapannya agar tidak membuat wanita itu berprasangka negatif padanya. “Maksudku semua orang punya masa lalu dan tidak semua masa lalu orang itu menyenangkan, bukan? Bisa saja Tuhan memberimu kesempatan memulai kembali dengan mengijikan dirimu hilang ingatan. Dengan melupakan segala hal dimasa lalu kuyakin kau akan lebih mudah untuk menata masa depanmu dimasa sekarang. Tidakkah kau ingin menggunakan kesempatan ini?”


Kasih tampak terdiam sejenak. “Melupakan masa lalu dan memulai kembali, ya?”


“Benar. Kau bisa memulai kehidupanmu yang baru tanpa dibayangi masa lalu bukankah itu sangat bagus? Lagipula tidak ada yang bisa menjamin mengingat kembali hal yang terlupakan adalah sesuatu yang baik, kan?” kata Tuan Smith berusaha mempengaruhi pikiran Kasih agar sekiranya wanita itu mau merubah pikirannya.


“Jika aku melakukan hal itu apakah aku sungguh bisa memulai kembali?” tanya Kasih ragu.


“Tentu saja!” ucap Tuan Smith meyakinkan.


“Tapi, aku tidak mau melupakan keluargaku. Aku ingin bertemu mereka bagaimanapun caranya.”


“Hmm ...” Tuan Smith tampak memasang pose berpikir. ‘Tapi keluargamu sudah bersamamu, Kasih. Jika kau bersikeras masih ingin bertemu dengan keluargamu, maka aku akan mengabulkannya.’


***


Kasih tampak baru saja keluar dari sebuah ruangan tempat ia dan Tuan Smith barusan berbicara berdua. Setelah menutup pintu Kasih langsung bertemu dengan Wendy yang sudah menunggu dirinya. Wendy memang ditugaskan untuk menjaga Kasih jadi kemanapun wanita itu pergi Wendy harus selalu mendampingi dirinya.


“Nona, biarkan saya membantu Anda kembali ke kamar untuk beristirahat,” ajak Wendy sembari menghampiri Kasih.

__ADS_1


“Um!” Tanpa banyak berkata Kasih langsung mengikuti Wendy yang kemudian menuntun dirinya kembali ke dalam kamar miliknya.


Di dalam kamar Wendy membantu Kasih berbaring dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut dikasur wanita itu. “Maafkan saya, Nona.” Tiba-tiba Wendy berucap dengan penuh penyesalan membuat Kasih seketika dibuat tercengang. “Jika bukan karena kelalaian saya, Anda pasti tidak perlu mengalami semua ini. Mohon maafkan saya, Nona.”


“Tidak. Tidak. Ini bukanlah kesalahanmu. Mungkin hari ini aku hanya sedang sial saja. sama sekali tidak ada hubungannya denganmu Nona Wendy,” kata Kasih panik dengan sikap Wendy yang terlihat sangat menyesal. “Aku tidak apa-apa, sungguh. Hanya luka kecil saja tidak perlu khawatir berlebihan.” Kasih meraih tangan Wendy seraya tersenyum lembut menatapnya.


“Syukurlah, Nona. Saya sangat lega mendengarnya. Tapi, apa sudut bibir Nona sungguh sudah baik-baik saja sekarang?” tanya Wendy memperhatikan bibir Kasih yang sudah terolesi obat.


“Tenang saja. Aku sungguh sudah tidak apa-apa.  Luka ini juga sudah diobati.”


“Lain kali saya tidak akan membiarkan Nona sendirian lagi.”


“Iya, iya. Aku akan membiarkan Nona Wendy menempel padaku seperti seekor anak anjing kecil,” candanya sambil tersenyum.


Wendy ikut tersenyum dan menimpali candaan wanita kesayangan Tuannya itu. “Baik, Nona. Saya akan mengikuti Anda seperti Tuan Smith menempeli Anda.”


“Tidak mau. Aku tidak akan sanggup jika punya anjing kecil menyebalkan seperti Tuanmu itu. Tidak! tidak! Nona Wendy jadi sahabatku saja. Jangan ikut-ikutan jadi menyebalkan seperti pria gila itu.”


Wendy tersenyum kecil menanggapi.


“Tapi, apa kau mengenal wanita itu?” tanya Kasih kemudian.


“Siapa? Wanita yang di Mall itu?”


“Dia ...”


Setelah Wendy menjelaskan siapa wanita yang memukuli dirinya di Mall waktu itu. Kasih akhirnya mengerti wanita itu mengira dirinya adalah Kasih istri Tuan Smith dikarenakan wajah mereka dan terjadilah kesalahpahaman diantara mereka.


“Aku tidak bisa membiarkan kesalahpahaman ini terus berlanjut, aku harus bertemu ” ucap Kasih menyakinkan dirinya.


“Oh? Anda berniat menemui wanita bernama Nirmala itu?!” seru Wendy kaget ia lalu menggeleng kuat menentang niat Nonanya itu. “Tidak! Jangan lakukan itu, Tuan Smith akan marah besar jika mengetahui hal ini.” Wendy seketika tidak sanggup membayangkan betapa murkanya Tuan Smith. ‘Ya Tuhan! Apalagi yang akan dilakukan Nona Kasih. Jika sesuatu hal terjadi lagi aku pasti akan mendapat hukuman berat. Padahal aku baru saja dihukum karena masalah barusan. Aku harus menghentikan Nona Kasih.’


Dengan cepat Kasih memegang kedua tangan Wendy mengatupnya dan menatap wanita yang jago berkelahi itu dengan dengan tatapan memelas.


Wendy menggeleng kuat sambil berusaha tidak termakan rayuan sang Nona.


“Ah, Nona Wendy ayolah kumohon ...” ujar Kasih sambil memasang wajah imut dan mengedipkan kedua matanya pada Wendy.


Wendy berusaha menjauhkan wajahnya dari Kasih tidak tahan menatap wajah menggemaskan yang dipasang oleh Kasih.


“Ayolah ... kumohon lakukanlah untukku, ya?”


Terlihat sekali dari wajah Wendy yang mulai hancur benteng pertahanannya. ‘Wallah! Wallah! Gawat! Aku tidak tahan lagi, aku tidak tega dengan Nona yang sudah memohon seperti ini.’


***

__ADS_1


“Nona ... apa sungguh tidak apa-apa kita melakukan ini? kenapa aku merasa kita seperti seorang pencuri sekarang,” ujar Wendy risih. Karena perasaan tidak tega pada Nonanya ia terpaksa mengikuti ide Kasih untuk menyelinap masuk kedalam kamar Tuan Smith dan mencuri ponsel miliknya.


Kasih muncul dan menemui Wendy yang sedang gusar. Ia takut ketahuan dan merasa tidak nyaman dengan pakaian yang sedang mereka kenakan. Dengan pakaian serba hitam serta topeng berwarna senada mereka memang sungguh terlihat mirip seperti seorang pencuri seperti yang dikatakan oleh Wendy.


“Nona Wendy jangan cemas kita hanya perlu melakukannya dengan cepat.”


“Tapi ....”


“Sudah jangan bicara lagi cepat cari ponselnya tuan Smith akan segera kemari,” potong Kasih sembari memantau tuan Smith yang sedang mandi bisa terlihat uap mengepul dari arah kamar mandi yang ada di dalam kamar mewah itu. Keduanyapun bergerak memulai mencari keberadaan ponsel tuan Smith.


“Disebelah sana, coba cari disebelah sana.”


“Baik, Nona.”


“Ponsel itu harus segera ditemukan sebelum¬-“


Klek!


Belum selesai Kasih berbicara terdengar suara pintu terbuka yang menandakan bahwa tuan Smith sudah selesai mandi tapi mereka berdua belum juga menemukan apa yang mereka cari. Alhasil keduanya seketika terserang  panik.


“Nona, Tuan akan kemari! Ayo cepat pergi.”


Kasih tidak bisa berpikir ia bingung harus apa. ‘Tidak bolah pergi sekarang. Tidak sebelum aku menemukan ponsel pria gila itu.’ Tanpa memedulikan keadaan yang sedang genting Kasih berusaha bersikap tenang dan terus mencari dan voila, ia berhasil menemukan apa yang ia cari tapi waktu sudah semakin menipis disaat-saat genting Wendy segera mengambil tindakan menarik paksa Kasih dari tempat itu yang lalu meninggalkan ponsel itu terjatuh diatas kasur.


***


Tuan Smith terlihat keluar dari kamar mandi dan tidak melihat mereka. Sedangkan Kasih dan Wendy yang buru-buru keluar dari kamar itu terlihat sangat gugup.


“Hampir saja! ya, Tuhan jantungku ini kurasa aku meninggalkan jantungku di dalam saking takutnya tadi itu benar-benar hampir saja kita ketahuan ... Nona?!” Wendy tercekat tak percaya tatkala ia yang merasa telah berhasil membawa Kasih keluar tapi tidak menemukan batang hidung wanita itu. Iapun kebingungan mencari kemana wanita itu pergi.


“Aku merasa sudah membawanya dengan tanganku ini tapi ... kemana ia pergi?” katanya dalam kebingungan. “Jangan bilang kalau Nona Kasih ....”


Benar saja Kasih yang dicari olehnya sudah kembali ke dalam kamar dan sekarang sedang bersembunyi di bawah kolong tempat tidur Tuan Smith. Dari bawah sana Kasih bisa melihat Tuan Smith yang sedang beraktivitas setelah mandi. Perlahan Tuan Smith berjalan mendekati tempat tidurnya kemudian menjatuhkan handuknya ke lantai bersiap untuk berpakaian. Kasih yang sedang bersembunyi menahan nafas dibuatnya. ‘Pria gila ini kenapa harus berganti pakaian di dekat sini. Aku sekarang merasa seperti seorang penguntit. Benar-benar memalukan sekali!’


‘Tapi aku tidak bisa bohong pria gila yang satu ini memang memiliki tubuh yang mempesona. Andai saja aku bisa memegang sedikit gumpalan otot yang kencang itu- Astaga! Aku sangat mesum! Aku pasti sudah menjadi gila hidungku juga mimisan.’


Beberapa saat berlalu. Kasih masih berada ditempat itu dan Tuan Smith masih belum meninggalkan kamarnya sedangkan karena pakaian yang ia kenakan Kasih mulai merasa kegerahan. ‘Kenapa disini panas sekali. Huft! Apa sebaiknya pakaian ini kulepas saja, ya? Panas sekali!’


Karena tidak tahan lagi Kasih akhirnya mulai membuka pakaiannya hingga menyisakan pakaian dalamnya yang tipis. ‘Sekarang sudah lebih baik. Setidaknya aku bisa menunggu pria gila ini pergi dengan nyaman.’


Waktu berlalu akan tetapi pria gila begitu sebutan Kasih untuknya masih saja betah dikamar yang suhunya sangat panas itu. Kasih yang sedari tadi menunggu disana sudah sangat lelah hingga ia jatuh tertidur. Hingga waktu semakin berlarut Kasih terbangun dan menyadari lampu kamar telah padam ia melihat sepasang sandal santai yang pastinya milik tuan Smith tergeletak di samping ranjang dari hal itu Kasih sangat yakin bahwa tuan Smith telah tertidur. “Sudah saatnya beraksi!’ ucap Kasih semangat. Pelan-pelan Kasih menggeser tubuhnya sendiri keluar dari tempat persembunyiannya dan saat kepalanya yang keluar lebih dulu ia sangat terkejut mendapati ada sosok yang sedang menatap dirinya.


“Sssiia-Ahhh!!!”


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2