Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 102 Tuan Smith Mabuk


__ADS_3

Keesokan paginya saatnya bagi mereka untuk kembali pulang ke rumah. Di dalam tendanya Kasih terlihat sedang mengemas barang-barang miliknya kedalam sebuah tas.


Pikirannya seketika kembali pada kejadian tadi malam saat di mana Rey menceritakan sebuah kisah lalu mendadak tuan Smith berubah menjadi sangat murka dalam seketika.


“Sebenarnya apa yang telah terjadi pada pria gila itu kenapa dia begitu sangat marah hanya karena sebuah cerita. Sikapnya sangat aneh dan membuatku bingung,” tutur Kasih berusaha mencerna sikap aneh tuan Smith yang begitu tiba-tiba.


“Nona, sudah saatnya berangkat.” Tiba-tiba suara Wendy dari arah luar terdengar.


“Ah, ya!” Menyadari dirinya yang belum selesai mengepak semua barang-barang miliknya karena terlalu sibuk memikirkan tentang tuan Smith membuat Kasih menghentikan seluruh pikiran yang bermunculan di dalam kepalanya dan memilih menyelesaikan pekerjaannya saat ini.


Semuanya tampak telah selesai dikemas dengan baik hanya tinggal berangkat saja. Kasih melangkah keluar dari tenda miliknya dengan membawa sejumlah barang bawaannya lalu kemudian Wendy segera menghampirinya lalu memindahkan seluruh barang bawaan milik wanita itu ketangannya.


“Biarkan saya membantu Anda, Nona.”


“Terima kasih, Nona Wendy.”


“Kasih.” Rey datang mendekat menghampiri Kasih.


“Selamat pagi, Rey!” sapa Kasih tersenyum hangat. Pandangannya mendadak tertuju pada tas ransel yang berada di punggung pria itu. “Ada apa dengan bawaanmu apakah kau tidak ikut pulang bersama kami?”


Rey menggeleng sambil tersenyum ramah. “Aku akan dijemput oleh supirku. Terima kasih sudah mengajakku berkemah, Kasih. Bisakah kita bertemu kembali?”


“Ya, tentu. Kapanpun itu kau bisa menghubungiku.”


“Baiklah.”


“Nona ...” Wendy kembali menghampiri Kasih setelah selesai memasukkan barang bawaan ke dalam bagasi mobil.


“Ah, sudah waktunya berangkat aku harus pergi. Sampai bertemu lagi, Rey!”


“Jangan lupa kabari aku setelah kau tiba,” ucap Rey melambaikan salah satu tangannya pada Kasih yang kemudian lambaian tangannya dibalas oleh wanita itu.


Setelahnya mobil keluarga Alexander yang ditumpangi oleh Kasih melaju pergi.


Seolah mengerti dengan kebingungan yang dialami Kasih saat melihat ketidakberadaan Tuan Smith dan Melinda di dalam mobil tersebut Wendy kemudian menjelaskan bahwa setelah kejadian semalam tuan Smith tidak kembali kemari. Ia pergi bersama Melinda menggunakan helikopter yang ia panggil untuk menjemput dirinya.


“Ada apa dengannya kenapa bisa semarah itu hanya karena sebuah cerita. Aku benar-benar tidak mengerti dengan dirinya,” ucap Kasih bingung.


‘Nona, cerita itu... Itu... Itu cerita tentang diri Anda, Nona. Mana mungkin tuan tidak akan marah jika orang lain mencoba mengingatkannya akan kesalahannya dimasa lalu. Nona... Andai saja Anda tau bahwa tuan sangat mencintai Anda.’


“Wendy! Nona Wendy!”


Wendy tersadar dari lamunannya mendapati Kasih yang sedang menatap dirinya keheranan. “Apa yang sedang kau pikirkan? Kau baik-baik saja?”


“Ah! Saya baik-baik saja Nona.”


“Benarkah? Apa kau yakin?” tanya Kasih memastikan.


Nona Wendy tersenyum agak kikuk. “T-tentu saja Nona.”


“Ternyata dia pergi bersama Melinda, sepertinya misiku untuk mendekatkan mereka berdua sudah ada kemajuan. Baguslah kalau begitu,” tutur Kasih dengan nada pelan senyuman kelegaan terukir manis di wajahnya.


***


“Bagaimana menurutmu?” Melinda tiba-tiba muncul dari belakang Rey akan tetapi pria itu sama sekali tidak merasa terkejut dengan kehadiran Melinda di tempat itu. Ia bahkan tersenyum sinis sebagai balasan atas pertanyaan dari wanita tersebut.


“Kau meragukanku?”


“Haruskah?”  tanya Melinda dengan nada menggoda seraya mendekati pria itu.


“Kau tidak perlu khawatir tugasku tidak pernah gagal,” ujar Rey dengan nada yakin. Tentu saja pria itu memiliki tingkat kepercayaan diri yang sangat tinggi sebab selama ini setiap pekerjaan dan tugas yang diberikan kepadanya selalu diselesaikannya dengan totalitas penuh lihat saja sekarang, Ia bahkan rela mengubah seluruh wajah dan tubuhnya hanya untuk meniru sosok Rey, pria yang sangat dicintai oleh Kasih.  Tentu tidak terbayang berapa kali ia harus menjalani operasi untuk mendapatkan hasil yang sempurna agar tampak persis seperti sosok Rey.


Keduanya Rey dan Melinda tampak mengendarai sebuah mobil mewah meninggalkan area tempat berkemah. Ternyata ucapan yang dikatakan Rey pada Kasih bahwa ia akan dijemput oleh supirnya adalah sebuah kebohongan belaka. Bukan seorang sopir melainkan Melindalah sang kepala sekretaris perusahaan keluarga Alexander yang datang menjemput dirinya.


FLASHBACK ON


Tuan Smith Alexander yang sedang marah berjalan pergi meninggalkan kumpulan Kasih dan yang lainnya sembari tangannya sibuk menelpon seseorang di ponselnya.


“Aku ingin kau datang menjemputku sekarang juga!” begitu perintah Tuan Smith pada seseorang di sambungan teleponnya.


“Tuan...!” Panggil Melinda dari kejauhan lalu berjalan mendekat ke arah Tuan Smith.


“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Tuan Smith bernada dingin.


“Aku hanya mencemaskan Tuan saja, aku ....”


“Pergilah aku tidak membutuhkanmu disini,” tukas Tuan Smith dengan nada dinginnya.


Melinda mengeraskan rahangnya mendengar penolakan pria yang sudah lama menjadi incarannya itu atas kehadiran dirinya.


Beberapa saat kemudian helikopter datang dan Tuan Smith pergi bersamanya meninggalkan Melinda dengan wajahnya yang penuh dengan kemarahan. ‘Sebentar lagi, aku akan bersabar hanya sebentar lagi saja setelah itu aku pasti akan berhasil mendapatkanmu!’


FLASHBACK OFF


***


Kasih menggigit buah apel dengan gigitan besar masuk kedalam mulut lalu mengunyahnya dengan perlahan sembari dirinya terus memikirkan kemana kiranya tuan Smith pergi hingga malam selarut ini ia belum juga kembali ke Mansion. “Selama ini pria itu tidak pernah sekalipun menginap di luar bahkan pergi ke luar negeri pun ia akan tetap pulang ke Mansion lalu sekarang kemana perginya pria gila itu?”


Sempat berpikir beberapa saat hingga akhirnya Kasih lalu memutuskan untuk menghubungi Karina.


“Bagus sekali! kau baru mengingatku sekarang liburanmu pasti sangat menyenangkan sampai kau tega melupakan diriku ini,” sungut Karina kesal karena merasa diabaikan oleh Kasih selama beberapa waktu wanita itu pergi berkemah.


“Apa yang kau bicarakan tentu saja tidak seperti itu aku tidak pernah melupakanmu kau tetap dan masih akan menjadi yang terbaik selamanya.”

__ADS_1


“Benarkah begitu? Aku tidak mempercayainya.”


“Baiklah. Lalu apa yang kau inginkan dariku?” katanya Kasih mengalah.


Entah mengapa sejak pertama kali bertemu dengan sosok istri dari Tuan Adam Alexander ini Kasih serasa telah mengenalnya dengan sangat baik dan ia merasa sangat nyaman dengannya maka iapun menganggap Karina sebagai sahabatnya.


“Kau harus datang kemari menjenguk diriku, membosankan sekali dirumah sendirian,” ujarnya memutuskan.


“Dasar! Ibu hamil harus lebih banyak bergerak agar persalinan lancar bukan sepertimu yang sangat malas seperti seekor babi. Haha ...” kelakar Kasih mencandai sahabatnya itu.


“Kau mengataiku begitu, awas saja kalau ketemu kubalas kau!” timpal Karina memajukan bibirnya kedepan. “Padahal aku sangat merindukanmu tapi kau sangat kejam. Huhu ....”


“Aku punya sebuah berita yang tadinya ingin kusampaikan padamu tapi sepertinya ....”


“Katakan! Aku siap mendengarkan.”


“Seseorang tadi mengatai diriku kejam ....” Kasih memancing dengan sengaja untuk menggodai Karina.


“Kasih! Cepat ceritakan padaku!” gemas Karina tidak sabaran wanita hamil itu merasa sangat penasaran dengan apa yang akan dikatakan Kasih.


Setelah beberapa saat kemudian Kasih selesai menceritakan semua yang terjadi diperkemahan pada Karina.


“Sungguh?!”


Mereka berdua beralih menggunakan panggilan video setelahnya.


Kasih mengangguk malas sebagai jawaban. “Pria gila itu sungguh tidak masuk akal, bukan? Kau pasti sependapat denganku?”


Karina diam saja tidak menanggapi perkataan Kasih.


“Apa? Kenapa sekarang kau hanya diam saja. Kau pasti terkejut, kan? Sifat pria gila itu memang susah ditebak aku tidak habis pikir dengan pria itu dia marah dan tidak pulang sampai sekarang ....”


“Apa?”


“Apa?” tanya Kasih balik.


“Tuan Smith tidak pulang ke rumah?”


Kasih mengangguk mengiyakan.


“Apa kau tau dia pergi kemana?”


Kasih menggeleng.


“Haduh! Kalian berdua begitu rumit kepalaku sampai sakit dibuatnya. Sayang! Kurasa perutku mual.” Karina mulai berteriak memanggil Tuan Adam, suaminya.


“Hey, Kasih! Apa kabar ...” kata Tuan Adam pada Kasih seraya melambaikan tangannya pada layar menyapa.


“Aku harus pergi, sampai jumpa lagi, Kasih.”


“Ada apa denganmu, sayang? Kenapa tiba-tiba mual seperti ini?” tanya Tuan Adam sembari tangannya memijat punggung Karina yang sedang mual-mual.


Karina kemudian berbalik setelah ia merasa lebih baik naik ke atas ranjang besarnya lalu sang suami yang mengekori dari belakang dengan sigap segera menyelimuti tubuh sang istri dengan selimut tebal yang hangat.


“Sayang, apa sebaiknya kita memanggil dokter keluarga kemari untuk memeriksa dirimu? Sungguh aku sangat khawatir.” Tuan Adam membelai lembut pipi Karina dan wanita itu tampak sangat menikmati sentuhan kasih sayang dari sang suami tercinta.


“Tidak usah sayang. Aku akan segera merasa baik semua ini wajar dalam masa kehamilan kau tidak perlu terlalu cemas,” tutur Karina dengan suaranya yang terdengar lemah. “Hanya saja ....”


“Ada apa sayang?” tanya Tuan Adam mengamati ekspresi Karina yang terlihat gelisah refleks tangannya terulur mengelus lembut pucuk kepala wanitanya yang sedang hamil itu. “Jangan pikirkan apapun yang membebanimu hatimu, sayang. Ingatlah sekarang kau tengah berbadan dua kau bisa menyakiti bayi kita. Katakan saja padaku kegelisahanmu biar aku yang akan bereskan untukmu.”


“Ini semua karena pasangan Tuan Smith dan Kasih itu. Mereka berdua sungguh tiada hari membuatku cemas setengah mati,” ujar Karina bernada kesal sambil bersungut manja pada sang suami. Tuan Adam mengangkat sebelah alisnya menatap Karina.


Beberapa saat setelah Karina menjelaskan kerisauan hatinya pada Tuan Adam. Pria itupun kini ikut dibuat pusing setelahnya.


“Kasih ingin menjodohkan Tuan Smith dengan Melinda, dan sekarang mendadak pria yang berwajah Rey muncul dihadapan Kasih. Menyebalkannya lagi Kasih malah terbawa perasaannya dan membiarkan pria palsu itu mendekati dirinya. Aku sungguh tidak habis pikir aku sudah tidak sanggup lagi,” tutur Karina seraya mengangkat tinggi kedua tangannya seolah menunjukkan dirinya telah menyerah. Bagaimana tidak, dirinya kini tengah mengalami masa awal kehamilan yang mana membuat dirinya sering sekali merasa mual dan muntah, tidak hanya itu saja tentu masih ada segudang keluhan lain lagi selama proses kehamilan ini. Sekarang ia harus dibuat semakin pusing dengan masalah tentang Kasih sahabat dan orang yang sangat disayanginya.


“Sudahlah, sayang. Jangan cemas. Aku yakin kakakku pasti bisa menjaga Kasih dengan baik.” Tuan Adam memeluk Karina memberikan ketenangan pada wanitanya. Namun sesaat kemudian pelukan itu segera dilepaskan oleh Karina. “Kau bilang dia akan menjaganya dengan baik? Kalau memang benar begitu, kenapa Kasih bisa mengalami semua ini. Kenapa Tuan Smith tidak bertindak saat itu juga sebelum Kasih mengalami begitu banyak penderitaan. Dia malah membiarkan pria jahat bernama Max Julian itu!”


“I-itu ...”


“Tuan Smith bahkan sangat mungkin menghancurkan kota ini dengan mudah, kenapa menjaga Kasih saja dia tidak becus! Benar-benar bikin orang kesal saja.”


“Sayang, sudah jangan marah lagi. Berbaringlah dengan baik aku akan memijatmu,” bujuk Tuan Adam bernada lembut awalnya Karina menolak karena masih terbakar oleh amarahnya lalu setelah dibujuk oleh sang suami akhirnya ia mau menurut juga. Wanita itu kini telah tertidur lelap seusai dipijat oleh Tuan Adam.


“Kakakku... Dia sangat mencintai sahabatmu itu, saking cintanya ia bahkan rela melakukan apa saja demi dirinya. Kau hanya tidak mengerti dirinya saja,” ucap Tuan Adam dengan nada pelan sambil menatap wajah istrinya yang sedang tertidur. Setelah itu Tuan Adam menaikkan selimut hingga keatas dada Karina lalu keluar dari kamar membiarkan Karina beristirahat.


“Halo?” sapa Tuan Adam pada seseorang sambil menempelkan ponsel ketelinganya. “Aku mengerti. Aku akan segera kesana.”


***


Disebuah Bar ternama tampak Tuan Smith sedang meneguk wine yang berada dalam gelas tinggi yang berada ditangannya. Perasaannya sedang campur aduk sekarang. Perasaan marah, benci dan bersalah bergejolak sedemikian rupa hingga membuat Tuan Smith merasa tidak sanggup melihat wajah Kasih.


Setiap kali melihat wajahnya seolah semua perbuatan jahatnya pada wanita itu dimainkan secara berulang-ulang dihadapannya. Ia sangat mencintai Kasih ini bukanlah perasaan bersalah semata melainkan sungguh-sungguh adalah perasaan cintanya yang sejati pada seorang wanita dan ia baru menyadari hal ini setelah wanita itu kehilangan ingatannya tentang semuanya. Tuan Smith merasa bodoh karena terlambat menyadarinya. Dalam hati ia bertekad untuk membahagiakan Kasih dengan segenap hatinya.


“Kakak!”


Tuan Adam tiba disana berjalan mendekati Tuan Smith dan merebut gelas minuman dari tangan pria yang terlihat sudah mulai mabuk itu. Botol-botol berserakan dimeja bahkan beberapa ada yang terjatuh dilantai.


“Berhentilah minum, kau sudah mabuk, Kakak!”


Dengan tatapan setengah sadarnya Tuan Smith memandang wajah Tuan Adam. “Berikan padaku! Aku masih mau minum.” Tangan Tuan Smith berusaha meraih gelas yang kini berada ditangan Tuan Adam namun tidak berhasil.


“Tidak. Kau harus berhenti, mabuk tidak akan menyelesaikan masalahmu, Kak!” ucap Tuan Adam menjauhkan gelas dari Tuan Adam seraya merangkul tubuh Tuan Smith yang mabuk. “Sekarang ikut pulang denganku.”

__ADS_1


“Aku membunuhnya.”


Tuan Adam tertegun sejenak. “Apa yang ....”


“Aku membunuh anakku sendiri, hik!” ucap Tuan Smith dengan matanya yang mulai mengeluarkan aliran bening.


Tuan Adam tidak berkata-kata hanya diam dan memperhatikan sang kakak yang sedang sangat rapuh.


“Apa yang akan kukatakan padanya bila ia mengetahuinya suatu saat? Aku bahkan tidak berani menatap matanya. Aku sangat menyesal hingga mau mati rasanya. Bisakah dia memaafkanku? Aku memikirkannya setiap saat perasaan bersalah dan juga rasa cintaku pada wanita itu saling beradu membuatku hampir mati. Apa yang harus kulakukan? Aku takut setengah mati kehilangannya tapi... Aku tidak bisa! Aku tidak bisa mengatakan semuanya padanya. Dia mencintai pria lain dan aku mencoba merelakan dia tapi dia kembali lagi padaku dengan luka yang lain. Aku harus bagaimana?! Aku hanya ingin melihatnya bahagia!” tutur Tuan Smith sambil menangis menumpahkan kegundahan dihatinya. Ruang VVIP itu kini dipenuhi suara tangis pilu dari Tuan Smith dan Tuan Adam hanya bisa memeluk kakaknya itu berusaha menenangkan.


Tuan Adam menyetir mobilnya sendiri dan mengantar kakaknya yang sudah tertidur itu kembali ke mansion. Lewat kaca spion ditengah mobil Tuan Adam sedikit melirik kearah tuan Smith.


“Maafkan aku, Kak! Semua karena kesalahanku. Aku benar-benar pengacau hidupmu.” Genggamannya pada stir mobil mengerat seiring dengan perasaannya yang terasa ngilu melihat kehidupan percintaan sang kakak dan Kasih. Keduanya telah diterpa banyak sekali masalah sejak pertama kali bertemu dan dialah yang membuat kakaknya itu bertemu dengan Kasih. Awalnya ia berpikir bahwa semua akan selesai dengan mudah namun pada kenyataannya sang kakak malah jatuh cinta pada Kasih dan membuat hidup tuan Smith penuh warna. Namun, karena kesalahpahaman yang sempat terjadi membuat segalanya menjadi sangat kacau.


Mobil memasuki halaman besar mansion dan berhenti tepat di depan pintu masuk rumah. Disana John dan Wendy serta para palayan sudah menanti mereka.


“Tolong bantu aku membawanya masuk, paman.” Ucap Tuan Adam pada John yang dengan sigap memindahkan tubuh Tuan Smith padanya.


“Astaga! Tuan apa yang telah terjadi pada Anda?” ujar John khawatir.


“Ceritanya panjang. Tolong bawa dia masuk dahulu.”


“Baik, Tuan.”


Di lantai atas Kasih terkesiap saat berpapasan dengan John yang sedang memapah Tuan Smith dan pria itu dalam keadaan tidak sadarkan diri.


“Ada apa ini? Apa yang terjadi padanya, Paman?” tanya Kasih penasaran.


“Saya tidak tahu pasti, Nona. Tapi sepertinya tuan sedang mabuk.”


“Eh?”


“Saya akan membawa tuan ke kamarnya, Nona.”


“Ah, iya.”


“Saya permisi, Nona.”


John melenggang pergi melewati Kasih sambil memapah tubuh Tuan Smith dipundaknya.


“Mabuk? Aneh sekali! Ada apa dengannya tiba-tiba bertingkah aneh begitu? Aku baru sekali ini melihatnya sekacau itu,” gumam Kasih heran.


“Nona, bisakah tolong bantu saya sebentar?” sahut John dari dalam ruang kamar milik Tuan Smith.


“Ah, baiklah. Aku datang.” Kasih segera berlari menghampiri John.


“Apa yang bisa kubantu, Paman?” tanya Kasih pada John.


“Maafkan saya, Nona. Sepertinya punggung saya sedikit terkilir saat memapah tuan kemari, bisakah Anda membantu saya meletakkan tubuh tuan ke kasurnya?” John tampak menahan sakit pada pinggangnya.


“Baiklah. Aku sudah memegangnya,” ucap Kasih sambil menahan tubuh tuan Smith dengan kedua tangannya.


“Benar begitu, tunggu sebentar ...” John melepas tubuh tuan Smith sebentar karena hendak merenggangkan tulang pinggangnya yang terasa terjepit akan tetapi ….


“Eh?! A. Aaaaahhhh!!!”


Sedetik kemudian karena tidak kuat menahan bobot tuan Smith yang cukup berat dari tubuhnya sendiri akhirnya Kasih malah jatuh tertindih dengan tubuh tuan Smith yang  berada diatasnya.


“Paman John! Tolong aku.” Kasih berteriak dari balik tindihan tubuh tuan Smith. “Ya, Tuhan! tubuhnya sangat berat padahal dia tidak gemuk sama sekali dasar raksasa.”


John yang terkejut sempat melongo sejenak sebelum akhirnya bergegas membantu Kasih.


“Maafkan saya, Nona.”


“Tidak. Tidak apa Paman John. Anda tidak salah sama sekali semua ini karena pria gila ini sangat berat. Jangan menyalahkan diri Anda untuknya.”


“Baik, Nona. Bisakah Anda menjaga tuan sebentar? Saya akan pergi mengambil teh hangat untuk tuan.”


“Baiklah.”


“Terima kasih, Nona.” John membungkuk sopan lalu berbalik pergi.


Setelah John pergi dari sana, Kasih menatap wajah tuan Smith yang sedang terlelap. “Dia pasti sangat mabuk. Tapi untuk apa mabuk-mabukkan saat dia adalah seorang ayah yang harusnya menjaga image di depan anaknya benar-benar kekanakan. Tidak patut dicontoh sama sekali,” tutur Kasih sambil menunjuk-nunjuk wajah tampan itu dengan jarinya. “Apa kau dengar? Aku bilang kau sama sekali... Aaakh!”


Dalam sekali gerakan tubuh Kasih yang memang lebih kecil dari tuan Smith seketika sekarang sudah berada dalam kungkungan tuan Smith.


“Hey! Apa yang kau lakukan?! Apa kau gila?!” teriak Kasih dengan lantang pada tuan Smith yang bahkan tidak membuka matanya sama sekali. “Hais! Kenapa kau suka sekali menarik orang seperti ini? Kau harus sadar tubuhmu itu tidak ringan sama sekali, jadi sekarang menyingkir dariku.” Kasih berusaha dengan sekuat tenaga mendorong tubuh tuan Smith yang sedang mendekapnya erat.


“Kasih ...” suara tuan Smith terdengar setengah berbisik ditelinganya.


“Eh?”


“Maafkan aku.”


“Apa? Apa yang kau katakan barusan? Coba ulangi sekali lagi aku tidak mendengarnya dengan jelas.” Meski berkata dengan nada keras namun tuan Smith yang telah kembali tertidur tidak dapat mendengarnya. Lagipula tuan Smith sama sekali tidak sadar dengan apa yang sedang dilakukannya. Kasih menghela nafasnya kesal mengetahui pria gila itu sudah tertidur lagi. Beberapa kali ia berteriak meminta bantuan tapi tidak ada yang datang menolong dirinya bahkan John yang berkata akan kembali lagi tidak kunjung kelihatan yang sebenarnya John yang sejak tadi sudah berada disana dengan nampan ditangan hanya berdiri diam diambang pintu saat menyaksikan Kasih yang tiba-tiba ditarik oleh tuan Smith. Dirinya sempat bimbang antara membantu ataukah membiarkan, pada akhirnya ia memilih pergi saja membiarkan kedua pasangan itu menghabiskan malam berdua.


“Saya akan memberikan kesempatan bagus ini pada anda tuan. Anda harus menggunakannya dengan baik.” John berbalik sembari menutup pintu dengan sangat pelan.


“Kemana semua orang? Kenapa tidak ada satupun yang mendengar panggilanku. Paman John! Nona Wendy! Tolong aku! Siapapun! Aku saama sekali tidak bisa bergerak untuk mengambil ponselku.” Sekeras apapun teriakan Kasih tidak ada tanda-tanda seseorang datang untuk menolongnya. “Apa yang harus kulakukan? Tidak mungkin aku harus dengan posisi ini selama sepanjang malam, bukan? Ah! Tidak, tidak boleh! Aku seorang wanita lajang bagaimana mungkin aku berada di satu kamar dengan pria yang sudah punya anak terlebih lagi dengan posisi seperti ini. Aku pasti sudah gila!”


Setelah beberapa saat berlalu Kasih mulai kehabisan tenaganya untuk melepaskan diri dari tuan Smith. “Bagaimana ini? Bagaimana bisa aku berakhir seperti ini? Ck! Pria gila menyebalkan ini bisa-bisanya dia tidur seperti seekor babi! Bangun! Kumohon bangun dan menyingkirlah dariku... Ah! aku sungguh mengantuk.” Pada akhirnya Kasih harus menyerah dengan matanya yang sudah terasa sangat berat dan rasa kantuk yang tidak bisa ditahan lagi. Tanpa sadar Kasih tertidur dalam dekapan hangat tubuh tuan Smith melewati malam yang dingin karena diluar sudah mulai turun hujan.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2