
Atas dasar dari dokter pribadi milik keluarga Alexander, tuan Smith memutuskan untuk mengajak Kasih dan seluruh keluarganya untuk pergi berlibur ke sebuah pulau. Kasih membawa keluarganya dan juga Karina untuk ikut serta, disinilah mereka di sebuah pulau milik keluarga Alexander. Pulau yang sangat indah nan mempesona dengan pemandangan lautnya yang memukau.
Hamparan laut biru begitu memanjakan mata yang melihat. Semua orang tampak senang dan terpukau dengan apa yang mereka sedang saksikan.
Satu persatu orang-orang menuruni kapal pribadi yang telah membawa mereka ke pulau. Tampak John dan Wendy serta beberapa pelayan yang sedang sibuk membawa barang bawaan mereka turun dari kapal.
“Hati-hati” ucap tuan Smith menggandeng lengan Kasih turun dari kapal.
“aku bukan anak kecil” kata Kasih ketus berjalan melewati tuan Smith
“kau memang masih kecil, jika kau lupa” kata tuan Smith enteng yang semakin membuat Kasih semakin kesal.
“jika aku masih kecil, berarti kau adalah seorang pedofil karena menikahiku!” balas Kasih sembari menjulurkan lidahnya dan beranjak pergi meninggalkan tuan Smith sendiri.
“kau! Berani sekali mengatai suamimu sendiri”
Kasih tidak mempedulikan teriakan tuan Smith yang mengomelinya karena berjalan sendiri tanpa didampingi oleh siapapun.
FLASHBACK ON
Kasih yang pingsan mulai tersadar dan mendapati tuan Smith yang sedang menatapnya dengan tatapan khawatir.
‘ada apa dengan tatapannya itu... dia terlihat seperti orang yang sedang mengkhawatirkanku’ batin Kasih menatap tuan Smith dengan tatapan penuh selidik.
“apa kau baik-baik saja?” tanya tuan Smith memegang tangan Kasih memeriksa kondisinya.
“aku sudah menyuruhmu untuk berhenti berlari tapi kau tidak mau menurut. Jika saja kau terjatuh ke lantai dan bukan ke kolam renang, aku bisa pastikan kau sekarang sudah berada di dalam peti mati, sekarang!”
Kasih memanyunkan bibirnya memasang wajah kesal “aku kan tidak sengaja, mana aku tau jika disitu akan ada genangan air yang membuatku terpleset”
“itu karena kau tidak berhati-hati dan tidak mendengarkan perkataanku” omel tuan Smith memarahi Kasih “mulai sekarang kemanapun kau pergi kau harus didampingi seseorang” pungkas tuan Smith memberikan titah
“apa-apaan...aku tidak mau!” ujar Kasih dengan tegas menolak aturan baru yang dibuat oleh tuan Smith secara sepihak.
“kau harus menurut, apa kau ingat perjanjian kerja yang sudah kau tandatangani?”
Kasih berpikir sejenak dan ia ingat jika ia sudah menandatangani sebuah surat kontrak kerja sebagai istri tuan Smith yang harus melayani segala kebutuhan dari tuan Smtih dan menuruti semua perintahnya. ‘sial! Mengapa aku merasa aku sedang dibodohi oleh pria gila ini?!’
“kau tidak punya hak untuk membantahku” kata tuan Smith lagi
“ck! menyebalkan!” Kasih berdecak kesal namun mau tidak mau ia harus menuruti perintah pria gila yang sialnya adalah suaminya sendiri. Entahlah Kasih sendiri merasa bingung harus mengatakan menjadi istri dari seorang tuan penguasa negara ini sebagai sebuah anugerah atau kutukan. Semenjak menikah Kasih tidak pernah sekalipun merasa bahagia. Ia merasa terjebak di pernikahan yang tidak ada cinta samasekali dari keduanya, hanya berlandaskan selembar surat kontrak yang mengikat keduanya dengan status suami dan istri. Kasih masih sangat ingin meraih cita-citanya dan menikmati masa remaja yang manis. Namun, semua itu harus sirna karena kini ia telah hamil dan harus terikat pernikahan dengan pria sudah dengan tega merebut paksa segalanya darinya.
Sejak aturan yang dibuat tuan Smith itu, dimana Kasih akan selalu ditemani oleh Wendy atau tuan Smtih sendiri jika ia ingin kemana-mana bahkan jika hanya ingin ke toilet.
__ADS_1
FLASHBACK OFF
“Haaahhhh!!! Aku merasa seperti seorang nenek jompo karena perlakuan pria gila ini” desah Kasih mendesah kesal setelah sudah berada jauh dari pandangan tuan Smith.
“tidak bisa. Tidak boleh membiarkan dia berbuat sesuka hati”
Kasih tidak berhenti mendumel karena merasa sangat kesal. Ingin sekali rasanya ia memukul wajah datar suaminya itu yang telah membuatnya sangat kesal karena privasinya terganggu.
“kita akan pergi ke villa” ucap tuan Smith pada keluarga Kasih yang masih terpesona dengan keindahan pulau itu. Tidak ada penduduk yang tinggal di pulau itu. Bangunan satu-satunya yng berdiri dengan megah di dalam pulau adalah villa milik tuan Smith yang hampir tidak pernah dikunjungi.
“tuan, nyonya pergi berjalan sendiri, saya takut nyonya akan tersesat di pulau ini” jelas John pada sang tuan
“aku akan pergi mencarinya sendiri. Kau antar keluarga nyonya ke villa dan layani mereka dengan baik” kata tuan Smith memberi perintah. Lalu sejurus kemudian ia pergi mencari sang istri yang sedang kesal padanya.
“perubahan tuan sungguh banyak. Baru kali ini aku melihat ia mempedulikan orang lain seperti itu. Nyonya, anda benar-benar hebat!” ucap John menatap tuannya itu.
Di tempat lain Kasih terus saja berjalan tanpa sadar ia sudah berjalan terlalu jauh.
“aku sangat merasa marah padanya karena sifat seenaknya itu. Hanya terjatuh saja, tidak mencelaiku sedikitpun ia bisa-bisanya membuatku seperti orang yang sedang sakit parah” ujarnya kesal lalu tanpa disengaja ia menendang sebuah batu hingga membuatnya tersandung dan sedetik kemudian sebuah tangan besar meraih tubuhnya yang hampir terjatuh. Kasih menatap wajah tuan Smith dengan perasaan yang aneh. Wajah datar itu, bibir yang terukir indah dan telihat sangat seksi.
‘wajah pria gila ini sangat tampan. Andai saja sifatnya bisa lebih lembut...’
“apa kau tidak bisa berjalan menggunakan matamu dengan baik? Batu sebesar itu masih tidak kelihatan? Dasar gadis bodoh!” omel tuan Smith membuat lamunan Kasih seketika buyar
Dengan kesal Kasih melepaskan diri dari rengkuhan tangan tuan Smith “lepaskan aku!”
“kau harus menjaga dirimu dengan baik. Anak yang ada dirahimmu itu sangat berharga”
‘aku tau itu. Ia sangat memperhatikanku semua itu untuk anak ini’
“aku mengerti. Kau tidak usah mengingatkanku lagi” ucap Kasih masih dengan ekspresi kesalnya lalu berbalik hendak pergi
“kau akan kemana?”
“aku mau kemana itu bukan urusanmu. Kau bisa pergi duluan. Aku bisa mengurus diriku sendiri” ucap Kasih acuh
“baiklah. Aku hanya ingin mengatakan jika di pulau ini ada begitu banyak hantu yang menunggu pulau karena terlalu lama tidak pernah ada manusia yang tinggal disini. Setiap malam hari para hantu akan keluar untuk mencari orang-orang yang bisa diculiknya. Aku mengatakan ini agar kau berhati-hati saat berada di pulau ini sendirian” kata tuan Smith dengan nada datarnya meski ia bermaksud hanya untuk menakut-nakuti istrinya ini namun karena ia mengucapkannya dengan ekspresi serta nada datar seakan-akan hal itu adalah sungguhan.
“Ha..han...hantu?” Kasih begidik ngeri menatap kesekelilingnya dengan perasaan takut “apa disini sungguh ada hantu?”
‘dasar gadis bodoh ini, apa dia sungguh percaya ada hantu?’
“kau jawab pertanyaanku, apa disini sungguh ada hantu?” tanya Kasih sekali lagi dengan mimik muka ketakutan
__ADS_1
“hm, begitulah” jawab tuan Smith seadanya “sudah malam, aku ingin pergi ke villa. Kau masih ingin disini, bukan? Jika begitu, aku akan meninggalkanmu sendirian”
“Hah?! kau ingin meninggalkanku?” Kasih terkejut mendengar ia akan ditinggalkan sendirian ‘meninggalkanku sendirian? Bagaimana jika ada hantu yang muncul dan menculikku? Tidak! tidak ! aku akan ikut dengan pria gila ini’
Saat tuan Smith hendak melangkah pergi tangan Kasih dengan cepat meraih lengan tuan Smith lalu menariknya. “aku ingin ikut denganmu”
“tidak jadi pergi sendirian?”
Kasih mengeleng cepat “tidak. tidak. aku akan ikut denganmu ke villa”
Sudut bibir tuan Smith terangkat sedikit ‘dasar gadis bodoh, dari luar terlihat sangat garang didalamnya...sungguh gadis bodoh yang mudah ditebak’
Villa milik tuan Smith ini sangat luas dan besar terletak di pinggir pantai tidak jauh dari dermaga. Desain villa modern dan terdiri dari dua lantai. Villa ini sangat jarang didatangi tuan Smith. Hanya ada pelayan yang bertugas merawat dan menjaga kebersihan villa.
“selamat datang” sapa pelayan penjaga villa. seorang bibi paruh baya membukakan pintu dan menyapa keluarga Kasih yang baru saja sampai di villa.
“saya sudah menyiapkan kamar seperti perintah anda” kata penjaga villa pada John
“antar keluarga nyonya ke kamar mereka” kata John pada sang penjaga
“baik, silahkan ikut saya” kata sang penjaga mempersilahkan keluarga Kasih untuk masuk ke dalam villa.
Ayah, Ibu kedua adik Kasih serta Karina terlihat sangat kagum dengan isi dari villa yang terlihat sangat bersih dan indah, ditambah villa ini terletak di dalam pulau di pinggir pantai yang membuat villa ini sangat amat terasa nyaman. Kamar mereka juga sangat bagus dengan pemandangan hamparan laut biru dari balkon di masing-masing kamar.
“villa ini sungguh bagus” ucap Ayah Karina berdecak kagum menatap sekeliling dengan mata berbinar
“Villa ini juga dekat dengan pantai, pasti sangat seru untuk bermain di pantai besok” celetuk Alysa ikut memberi pendapat. Karina menganggukan kepalanya dengan semangat.
“silahkan, ini adalah kamar anda. Jika ada yang dibutuhkan bisa memanggil saya” kata si penjaga villa lalu meninggalkan keluarga Kasih yang asyik bercengkrama.
Berjalan bergandengan di sore hari, seketika suasana menjadi terlihat romantis. Namun tidak satupun dari kedua insan manusia yang sedang bergandegan tangan karena Kasih yang ketakutan tidak menyadari hal tersebut. Kasih fokus memperhatikan sekelilingnya karena takut akan cerita hantu yang diceritakan oleh tuan Smith. Sedangkan tuan Smith sendiri hanya memasang wajah datarnya.
Mereka berdua berjalan perlahan tanpa saling bicara. Diam-diam tuan Smith melirik wajah Kasih yang berada disebelahnya. Wajahnya tampak bersinar diterpa sinar jingga dari sang mentari yang sebentar lagi akan terbenam. Wajah cantik yang polos itu terlihat ketakutan sembari bersembunyi kedalam lengan sang suami tatkala suara-suara binatang dari hutan terdengar. Ia benar-benar takut. Tuan Smith menampilkan senyum kecil dibibirnya yang seksi tanpa Kasih sadari.
BERSAMBUNG...
__ADS_1