Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 68 Surat Ancaman


__ADS_3

“Kasih, kau itu sangat beruntung, apa kau tau itu?” ucap Karina sambil menyeruput segelas es dihadapannya.


“Apa maksudmu?” tanya kasih tidak mengerti.


“Kau masih tidak mengerti?” kata Karina bertanya balik. ‘Sungguh gadis bodoh yang sangat polos.’ sedangkan kasih hanya mengangguk membenarkan perkataan Karina.


“Apakah kau sadar dengan statusmu sekarang ini?”


“Ada apa ini kenapa semua orang menanyakan tentang statusku. Aku tidak mengerti apa hebatnya menjadi seorang istri dari pria gila itu.”


Karina menahan napasnya lalu menepuk jidatnya sembari berkata, “Ya Tuhan, gadis bodoh ini benar-benar...”


“Jelas saja aku tidak mengerti semua orang menanyaiku akan statusku, aku heran apa hebatnya statusku ini!”


Pletak!


Saking gemasnya Karina sampai memukul jidat Kasih.


“Karina! Apa yang sedang kau lakukan apa kau sudah gila?” seru Kasih menatap Karina dengan mata melotot. Jidatnya yang dipukul oleh Karina terasa berdenyut sakit.


‘Gadis gila ini bukan main pukulannya sangat menyakitkan.’


Sambil menaruh kedua tangannya dipinggangnya Karina kemudian menjelaskan pada sahabatnya yang terlihat baginya sangat teramat menggemaskan karena terlalu polos. “Dengarkan aku dengan baik, Nyonya Alexander. Aku tidak akan menjelaskan kedua kali padamu, jadi dengarkan baik-baik.” Kasih memasang wajah tanda mengerti dan bersiap mendengarkan penjelasan dari sahabat tersayangnya itu.


“Kau itu sekarang adalah seorang Nyonya pemilik mansion paling luar biasa yang pernah ada. Kau adalah istri dari tuan Smith Alexander yang sangat kaya raya. Kau tidak perlu memusingkan apapun lagi di dalam hidupmu, kau memiliki segalanya. Suami yang sangat tampan dan luar biasa kaya. Kau sangat beruntung kau tau?”


“Apa kau berpikir aku seberuntung itu?” tanya Kasih dengan nada sedih.


“Tentu saja,” ucapnya yakin. Namun, sedetik kemudian Karina tersadar akan ekspresi dari Kasih yang terlihat sedih.


“Apa yang sedang kau pikirkan, sayangku? Mengapa wajahmu terlihat sangat jelek begitu. Berhentilah bersedih atau aku akan marah padamu.”


“Aku hanya sedang memikirkan kehidupanku yang tragis. Kurasa aku tidak akan pernah berbahagia sepanjang hidupku, Rin,” ujar Kasih dengan mata berkaca-kaca.


“Aduh! Kenapa kau berkata seperti itu, Sih? Aku tidak percaya kau berkata begitu. Lihatlah kehidupanmu yang sekarang. kini kau telah memiliki Bayi Ed dan juga semua hal yang sempat direnggut oleh orang lain darimu. Aku tau kau masih memikirkan Rey, aku yakin tidak mudah bagimu untuk melupakan cinta pertamamu itu. Tapi, Kasih. aku hanya ingin bilang padamu, hidup itu untuk masa depan bukan untuk masa lalu. Kau harus membangun hidupmu dan bukan hanya terpaut dengan masa lalumu.”


“Aku mengerti, Rin. Hanya saja, masa lalu ini terlalu sulit untuk kulupakan. Atau mungkin tidak akan pernah kulupakan.” Kasih mulai menangis dan Karina segera mendekap sahabatnya yang tampak rapuh itu.


“Tenanglah Kasih. Semuanya akan baik-baik saja. Kau tidak harus melewati semua ini sendirian. Bukankah kau memiliki aku? Aku akan selalu berada dipihakmu dan membelamu apapun yang terjadi. Percayalah!” ucap Karina menenangkan Kasih.


‘Terima kasih, Karina. Aku sungguh beruntung bisa bertemu denganmu. Andai sedari dulu aku berjumpa denganmu. Mungkin saja aku tidak perlu terlalu menderita.’


“Rin?”


“Hm? Ada apa, Sih?”


“Aku ingin menceritakan sesuatu padamu. Ini adalah aibku yang paling tidak ingin aku umbar pada siapapun. Jadi, tolong kau jangan ceritakan pada siapapun, ya?”


“Apa itu? ceritkan padaku, Kasih. Kau tentu tau aku ini siapa. Aku adalah orang yang sangat memedulikanmu,” ucap Karina menyakinkan Kasih.


Lalu Kasih menceritakan semuanya pada Karina sahabatnya itu. Semua hal yang terjadi saat Kasih masih bersekolah. Semua pembullyan dan pelecahan yang ia terima ia ceritakan semuanya. Karina menatap Kasih yang bercerita sambil menangis dengan tatapan tidak percaya. Karina tidak menyangka sahabatnya yang sangat ia sayangi itu ternyata menanggung begitu banyak beban yang enggan untuk dibagikannya pada siapapun terlebih pada keluarganya sendiri.


Tak kuasa menahan tangis dan kesedihannya, Karina menarik tubuh Kasih dan memeluknya sembari menangis sedih.


“Maafkan aku, Kasih. Aku tidak pernah tau semua kesedihanmu ini. Maafkan aku,” ujar Karina berurai air mata. “Kau sangat kuat dan tegar. Aku salut padamu,” tambahnya.


 


 


***


 


 


Di dalam kamar Karina dihampiri oleh Tuan Adam yang kebingungan dengan kekasihnya yang tiba-tiba sedang menangis sesenggukan sendirian.


“Woah! Kau sedang menangis? Siapa yang telah berani membuatmu menangis seperti ini?” tanya Tuan Adam ingin tau.


Karina menatap kekasihnya itu lalu kembali melanjutkan tangisnya. “Aku sangat sedih. Kau seharusnya menghiburku sebagai kekasihku bukankah kau sangat tidak gentleman?”


“Siapa? Aku?” kata Tuan Adam menunjuk dirinya sendiri bingung. “Kau pasti bergurau ....” sangkal Tuan Adam percaya diri akan tetapi segera dirinya mendapat tatapan mematikan dari sang kekasih yang kemudian menciutkan nyalinya. “Ya sudah baiklah. Aku akan bertanggung jawab padamu. Aku akan menemanimu berbelanja dengan kartu milikku.”


“Benarkah?” tanya Karina seketika menjadi bersemangat.


“Tentu saja. Kapan aku pernah berbohong padamu?”


Setelah itu Karina tersenyum senang dan melupakan kesedihannya akan cerita masa lalu Kasih yang sangat menyedihkan dan menyayat hati.


“Tapi sayang ... apa yang telah membuatmu sangat sedih?” tanya Tuan Adam penasaran.

__ADS_1


Karina tersenyum jahil. “Rahasia.”


“Dasar. Masih menyimpan rahasia dariku padahal aku membayar begitu banyak untuk membuatnya kembali ceria seperti itu.”


“Apalagi yang kau tunggu? Cepat antar aku berbelanja,” seru Karina secara tiba-tiba sudah siap dengan tas tangannya bersiap untuk pergi berbelanja.


“Baik. Baik,” kata Tuan Adam pasrah. “Wanita sungguh membingungkan.”


“Kau berkata sesuatu?” tanya Karina menyipitkan kedua matanya menatap tajam kearah Tuan Adam.


“Tidak ada. Aku tidak mengatakan apapun.” Tuan Adam buru-buru mengibaskan kedua tangannya menyangkal.


“Baguslah. Ayo berangkat.”


“Baik.”


 


 


***


 


 


“Tidak masalah, Ayah. Aku sungguh akan memberikan semuanya pada Ayah.”


“Tapi, Kasih ....”


“Ayah tidak perlu memikirkan apapun lagi. Ayah hanya perlu hidup dengan baik bersama Ibu dan dua saudariku yang nakal itu,” ucap Kasih tersenyum.


“Lalu Nenekmu ....”


“Nenek mendapatkan rumah sebagai tempat tinggalnya, Ayah tidak perlu mengkhawatirkannya. Nenek akan baik-baik saja.” ucap Kasih dengan nada serius.


“Kasih?” Tuan Smith berjalan menghampiri Kasih yang sedang bertelponan dengan sang Ayah.


“Ayah, aku harus pergi. Aku akan menelpon Ayah lain waktu. Jaga kesehatan, Ayah,” kata Kasih mengakhiri pembicaraannya.


“Ayahmu?” tanya Tuan Smith.


“Hm.”


“Ayah bertanya tentang aset Nenek yang kini menjadi miliknya,” ujar Kasih menjelaskan lalu hendak berjalan pergi.


“Apa kau ... ingin makan es krim?”


Langkah kaki Kasih sontak terhenti ia menatap heran pada Tuan Smith yang tiba-tiba mengajaknya menikmati es krim.


Kasih terus menatap wajah Tuan Smith mencari-cari apakah ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh pria tampan itu. ‘Pria gila ini tiba-tiba mengajakku untuk memakan es krim. Entah hantu apa yang telah merasukinya.’ Kasih membatin sambil menyendok es krim ke dalam mulutnya.


Sebuah serbet tiba-tiba mendarat disudut bibir Kasih yang kemudian membuatnya menatap orang yang sedang mengelap bibirnya yang tertempel makanan manis dan dingin itu. Kasih menatap bingung pada Tuan Smith yang semakin aneh menurutnya.


‘Pria gila ini semakin aneh, membuatku merinding saja.’


“Kau makan seperti anak kecil. Sungguh kekanak-kanakkan,” ujar Tuan Smith sambil terus melap bibir Kasih.


Kasih tersadar lalu merasa salah tingkah. “Aku hanya sedikit ceroboh. Bukan berarti aku kekanakan seperti yang kau katakan,” ucap Kasih membela diri.


“Begitukah?” kata Tuan Smith menantang. “Tidak mau mengaku,” cicitnya dengan suara pelan


“Apa?!”


“Aku tidak mengatakan apapun.” Sangkal Tuan Smith berpura-pura sedang memakan es krim miliknya dengan lahap. ‘Makanan apa ini? aku sungguh tidak menyukai makanan manis ini. jika bukan karena anjuran dari John yang bilang akan lebih mudah mengambil hati seorang gadis dengan sebuah makanan manis, aku tidak mungkin melakukan hal bodoh ini dan menyiksa diri.’


“Es krim ini lumayan enak, apa kau sering memakan makanan manis seperti ini? aku sungguh tidak menyangka ternyata kau juga menyukai jenis makanan manis seperti ini. Kupikir kau bahkan tidak akan menyentuh makanan manis dihidupmu,” ucap Kasih mengutarakan pikirannya tentang Tuan Smith yang ia sangka juga menyukai makanan manis seperti dirinya.


‘Tentu saja aku tidak menyukai makanan aneh seperti ini. Terasa aneh sekali dilidah.’


“Lain kali kau harus mengajakku mencoba rasa yang lain,” tambahnya membuat Tuan Smith yang sedang menyentuh es krim dengan lidahnya seketika tercengang.


“Ada apa? Apakah kau keberatan?” tanya Kasih memperhatikan ekspresi pria tampan yang sedang menahan diri untuk mencoba hal yang sangat ia hindari, yaitu makanan manis.


‘Aku tidak mungkin sanggup untuk menahan diri setelah hari ini. Gadis ini, entah apa yang disukainya dari makanan aneh seperti ini. Benar-benar tidak masuk akal.’


“Hei! Aku sedang berbicara denganmu.” Kasih menarik tarik tangan Tuan Smith menyadarkannya dari pikirannya.


“Ah! Baiklah. Aku akan membawamu mencoba banyak sekali rasa yang lain dari es krim ini. Aku jamin kau akan sangat menyukainya.”


“Bagus!”

__ADS_1


Sedikit hati-hati Tuan Smith lalu bertanya, “Kasih?”


“Um?”


“Kau sungguh tidak ingin membalas perbuatan Nenekmu?” tanya Tuan Smith kemudian.


“Itu semua sudah berlalu. Ibuku tidak ingin mempersulit Nenek, jadi aku juga tidak akan melakukan hal itu. aku hanya ingin Ibu dan yang lainnya bisa hidup dengan tenang tanpa gangguan dari Nenek. Dengan keadaan Nenek sekarang ini, aku yakin dia tidak akan pernah melakukan hal yang seperti biasa ia lakukan pada keluargaku.”


“Benarkah? Kau sungguh akan melepaskannya begitu saja? padahal kau bisa menggunakan statusmu ini untuk menekannya lebih dan membuatnya benar-benar berada dikondisi yang terburuk.”


Kasih tersenyum manis. “Aku bukanlah orang yang pendendam, Tuan Smith.”


“Oh, sungguh menarik. Lalu apa kau sudah memaafkan perbuatanku padamu?” tanya Tuan Smith yang seketika membuat raut wajah Kasih sedikit berubah sedih. Tuan Smith tau kesalahannya terlalu besar dan tidak akan mudah bagi seorang gadis muda yang telah kehilangan segalanya dihidupnya untuk memaafkannya.


“Memaafkanmu?” ulang Kasih sambil menatap kedua bola mata Tuan Smith. “Tentu saja aku telah memaafkanmu. Kau mungkin membuat kesalahan besar padaku, dan hal itu sungguh telah membuatku sangat amat menderita. Akan tetapi, aku juga tidak boleh terus menerus mengingat kesalahanmu itu dan terus membencimu. Aku akan memberimu kesempatan jika kau ingin,” tutur Kasih masih dengan senyum manisnya.


“Tuan ...?” Tiba-tiba terdengar suara Wendy yang menyadarkan Tuan Smith dari lamunannya.


Tuan Smith menatap Wendy dengan pandangan bingung. “Wendy? Apa yang sedang kau lakukan disini? Kemana Nyonya?” tanya Tuan Smith keheranan.


“Nyonya sudah pergi sejak tadi, Tuan. Apakah perlu saya panggilkan untuk anda?”


‘Astaga! Apa aku sendang menghayal? Benar-benar tidak masuk akal aku melakukan hal bodoh itu.’


“Tuan?”


“Oh?” Tuan Smith tampak kebingungan dengan apa yang baru saja terjadi. “Tidak perlu.” Tuan Smith berjalan berlalu pergi meninggalkan Wendy.


 


 


***


 


 


Di kamar bayi Ed, Almira dan Dita sedang bermain bersama bayi lucu itu. Kasih memasuki kamar dan langsung disapa oleh kedua pengasuh bayinya.


“Selamat siang, Nyonya.” Kedua gadis itu berdiri membungkuk hormat pada Kasih.


“Kalian berdua ini, sudah berulang kali kukatakan untuk berhenti bersikap seperti itu. Tampaknya kalian benar-benar tidak menganggapku. Huh?” Kasih duduk bergabung dengan mereka semua.


“Maafkan kami, Nyonya. Kami tidak boleh melanggar aturan jika kami masih ingin berada disini. Anda tau sendiri bagaimana ketatnya aturan yang dibuat oleh tuan.”


“Disini tidak ada siapapun selain kalian dan aku. Jika tidak ada yang lainnya kalian boleh bersikap layaknya seorang sahabat. Apa kalian mengerti?” kata Kasih memastikan pada kedua pengasuh itu.


Almira dan Dita saling beradu pandang. “Baiklah, Nyonya.”


“Bagus  sekali! Jika begitu kita adalah sahabat.” Senyum manis menghiasi wajah cantik Kasih.


“Nyonya, anda terlalu menyanjung kami hingga membuat kami sangat tersipu malu,” ucap Dita tersenyum malu.


“Sudahlah. Aku tidak mempermasalahkan apapun lagi. Sekarang aku hanya ingin mengetahui bayi kecilku ini sudah bisa kemampuan apa?” Kasih mengalihkan pandangannya pada bayi Ed yang kini telah mulai bisa berguling.


“Bayi Ed sungguh anak yang luar biasa, Nyonya. Dia sungguh seorang bayi yang pintar dan lucu. Bukankah begitu bayi Ed?” kata Almira menjelaskan.


Lalu keseruan mereka berlanjut dengan Wendy yang masuk ke dalam dengan senampan penuh cemilan dan minuman untuk mereka semua nikmati.


“Nyonya, ini ada sebuah surat untuk anda,” kata Wendy memberikan surat pada Kasih.


Kasih merasa sedikit bingung tapi ia menerima saja surat itu dan lalu membukanya dengan penasaran. “Sebuah surat untukku? Cukup aneh. Tapi, mari kita lihat siapa yang masih menulis surat di jaman yang sangat canggih ini aku ingin tau apa yang dia tulis untukku .....” Kasih tidak melanjutkan perkataannya. Seketika ia terdiam dengan wajah yang memucat kaget.


“Nyonya? Apa anda baik-baik saja?” tanya Wendy yang menyadari perubahan raut muka sang Nyonya.


Kasih masih terpaku dengan tangannya bergetar ketakutan. Sebelum Wendy dan kedua pengasuhnya sempat bertanya lagi, Kasih segera bangkit lalu berjalan pergi.


“Ada apa?” tanya Almira penasaran.


“Entahlan.” Wendy yang tidak mengetahui apapun hanya bisa mengangkat bahu.


Sementara Kasih yang sangat terkejut setelah membaca surat yang ternyata berasal dari seseorang yang ingin memeras dirinya. Nafasnya terengah-engah menahan emosi yang menggelora di dadanya. Ia ingin sekali berteriak kencang sambil menangis namun tidak dapat dilakukannya karena ia tentu tidak ingin semua orang sampai mengetahui aibnya.


Kertas surat yang berada ditangannya diremasnya kuat lalu ia mulai menangis sendirian. “Kenapa? kenapa? kenapa harus begini?” tanya Kasih entah pada siapa.


 


 


BERSAMBUNG...

__ADS_1


 


 


__ADS_2