Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 7 Pekerjaan Pertamaku


__ADS_3

Tring! Triiiing…!!!!


Dering Hp Kasih menyela lelapnya tidurnya. Ia hanya


menggeliat sembari tangannnya meraba-raba mencari dimana letak Hpnya berada. Tumben


gak ada yang membangunkan dirinya begitu pikirnya. “kemana Ayah?"Kasih


berpikir dimana sang Ayah yang biasanya akan menyempatkan diri membangunkannya


ketika dirinya terlambat bangun pagi. setelah menemukan Hpnya ia lalu


mengangkat panggilan yang ternyata dari sahabatnya, Karina.


“Halo?”


“woiiii…!!!” seru Karina dari seberang telvon “jangan bilang


kau belum bangun yaaa…!!! Buka pintu rumahmu aku di depan”


Kasih yang masih mengantuk dan merasakan badannya yang letih


hendak berkata dimana para pelayan kenapa buka pintu gerbang saja harus


menunggu aku yang bukakan? Namun belum keluar kata-kata itu Kasih sontak


tersadar dengan ruangan kamarnya yang sangat kontras. 'Wait! Dimana ini? Kenapa kamarku


jadi seperti ini? Seru kasih dalam hati ia nampak bingung. Tunggu, semalam…. Astaga


jadi semua itu bukan mimpi?' Kasih mencelos. Ia akhirnya sadar akan keadaannya yang ia kira hanya mimpi, tentang Ayah yang jatuh sakit serta semua milik


keluarganya yang disita. Kasih lalu bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan menuju depan rumahnya untuk membukakan pintu untuk Karina.


“baru bangun kau rupanya... ” kata Karina dari jendela mobil “cepetlah mandi, kita berangkat bersama.” Karina lalu turun dari mobil dan


mengikuti Kasih masuk kedalam rumah.


“aku mau mandi dulu kau tunggu aku disini” kata Kasih


sambil berlalu ke kamar hendak bersiap-siap ke sekolah.


Karina lalu duduk di kursi dan menunggu Kasih. Tak lama muncul


Ibu Kasih membawa beberapa sarapan dan disusul Adik-adik Kasih yang sudah siap


dengan seragam sekolahnya masing-masing. Ibu Kasih memang seorang Ibu yang baik


walaupun ia seorang nyonya dari seorang tuan Avisha yang kaya raya, ia tetap


mengurus keluarganya dengan baik. Ia tak akan melepaskan tanggungjawabnya


sepenuhnya pada para pelayan. Ia tetap mengawasi para pelayan yang bekerja dikediaman mereka.


“kami berangkat duluan yah Bu,” kata Alysa yang lebih tua


dari Jenny. “kak Rin kami berangkat dulu ya” mereka sudah selesai sarapan dan


tak berniat menunggu sang kakak yang pasti akan membuat mereka terlambat jika


masih harus menunggunya. Kali ini mereka harus pergi menggunakan bus sekolah jadi tak boleh sampai telat.


Karina tersenyum menanggapi.


“hati-hati dijalan Nak” kata Ibu mengingatkan


“baik Bu” keduanyapun berangkat kesekolah


“Rin mau ikut sarapan?” tawar Ibu Kasih


Karina tersenyum “boleh tante”

__ADS_1


Beberapa saat berlalu Kasih keluar dari kamar dengan


seragamnya. Rambutnya yang sebahu dibiarkan terurai. Wajahnya tak menggunakan make


up sama sekali. Kasih berjalan mendekati meja makan. Menghampiri Karina yang


sedang makan. Lalu ia ikut menikmati sarapannya. Sarapan sederhana nasi goreng buatan


sang Ibu.


“hmmm,,, sudah lama yaaa…” ujar Kasih menghirup aroma


dari nasi goreng lezat buatan sang ibu. Ibu dan Karina nampak bingung sampai


Kasih lalu melanjutkan kalimatnya “sudah lama sekali aku tak mencicipi masakan


ibu. “ selama ini memang sang ibu sudah tak pernah turun langsung memasak di


dapur, ia hanya mengawasi saja para koki rumah yang memasak untuk mereka. Ibu


tersenyum menanggapi perkataan putrinya. Kasih lalu menghabiskan semua


makanannya lalu berangkat bersama Karina ke sekolah.


Berita mengenai keluarga Avisha yang bangkrut pastinya


sudah tersebar keman-mana. Bahkan seluruh orang di kota X pasti mengetahui


kabar ini. Murid-murid nampak membicarakan Kasih saat Kasih dan Karina berjalan


menyusuri lorong sekolah menuju ke kelas mereka. Kasih mendengar semua yang


mereka katakan mengenai keluarganya ia hanya diam mengacuhkan semua yang


terlontar tentang dirinya atau apapun itu. Ia seakan buta dan tuli. Karena ia


sudah mengeraskan hatinya sejak mengetahui penghianatan Tuan Darma. ia berjanji


pada dirinya sendiri bahwa ia hanya akan mempedulikan keluarganya dan


apa aku kan tak punya hak untuk mengontrol mulut dan perkataan mereka. jadi aku


hanya akan mengacuhkan mereka saja dan hidup dengan baik. kasih sudah


memutuskan untuk bertahan demi keluarga dan orang yang ia sayangi. Ia tak akan


peduli pada yang lain. Ia juga memutuskan untuk mundur dari kegiatan organisasi


sekolah dan berbagai pelajaran tambahan, ia hendak menggunakan waktunya untuk


bekerja paruh waktu. Ia harus membantu sang Ibu untuk membayar biaya rumah


sakit.


“kamu sungguh akan menghentikan semuanya Sih? Tanya Karina


seolah tak percaya.


“ia” jawab Kasih santai.


“kau tak perlu sampai seperti itu Sih, aku kan membantumu…”


“aku tak ingin terus bergantung padamu Rin”potong Kasih “aku


akan berusaha juga” sambungnya yakin


Karina hanya pasrah dengan keputusan yang dibuat sahabatnya


itu.


“aku akan mulai mencari pekerjaan mulai sekarang” Kata Kasih “ dan jangan coba menawariku untuk bekerja pada Ayahmu, aku tak mau” potong Kasih sebelum Karina menyela menawarinya bantuan. Kasih lalu menggenggam

__ADS_1


jemari Karina “ijinkan aku untuk berbakti pada Ayah dan seluruh keluargaku Rin, aku harus kuat mulai dari sekarang”


“baiklah, baiklah. Kau menang. Tapi... kemana kau akan


mencari pekerjaan?”


Kasih berpikir sejenak. Kemana orang-orang pergi mencari pekerjaan yaa?


“begini saja aku akan ikut membantumu menemukan pekerjaan untukmu.jika perlu aku akan menemanimu bekerja” kata Karina dengan nada santai sembari memakan keripik kegemarannya.


Kasih menatap tak percaya pada Karina. Masa ia sahabatnya ini segitunya ingin membantunya.


“aku serius Sih. Aku akan merasa bosan jika kau berangkat


bekerja. Aku tak mau kesepian” kata Karina menjelaskan maksudnya ingin ikut Kasih bekerja


“tak perlu Rin. Terima kasih.”Kasih menolak niat Karina itu karena tak ingin menyusahkan sahabatnya. “kau temani saja aku mencari pekerjaan selebihnya biar aku yang urus.” Putus  Kasih tegas


Setelah pulang sekolah Kasih dan Karina sudah saling berjanji untuk mencari pekerjaan bersama-sama. Disinilah mereka berkeliling kota hanya untuk mencari sebuah pekerjaan untuk Kasih. Namun sedari tadi tak satupun yang mau menerima Kasih untuk bekerja ditempatnya mengingat Kasih masih berstatus seorang pelajar. Karina dan Kasih sudah kelelahan. Mereka berjalan lesu sambil saling merangkul mencoba menopang berat tubuh satu sama lain.


“aku benar-benar lelah Sih.”


“aku juga”timpal Kasih mengiyakan. “kenapa sih mereka tak ada yang meberiku kesempatan? Menyebalkan!”


Sudah berjam-jam berkeliling sambil berjalan kaki entah


sudah berapa tempat yang mereka berdua datangi namun tak ada satupun yang memberi kesempatan. Kasih dan Karina sudah hendak menyerah untuk hari ini dan ingin melanjutkan besok saja. Saat hendak bersiap-siap untuk pulang, mata Kasih


tetuju pada sebuah selebaran yang bertuliskan membutuhkan pekerja. Wajah Kasih berubah sumringah. Diambilnya selebaran yang tertempel di sebuah tembok itu dan membacanya. Karina juga ikut mengintip selebaran. Mereka berdua saling pandang.Akhirnya


setelah berjalan cukup jauh keduanya telah sampai dialamat yang tertera diselebaran. Tampaklah sebuah gedung yang ternyata sebuah Bar ternama didepan dua gadis yang menatap ngeri tempat itu. Di pintu masuk tampak dijaga dua orang


pria berbadan kekar berwajah sangar. Kedua gadis itu merinding ngeri. Dengan ragu-ragu


mereka akhirnya masuk ke gedung itu.


“mana


KTP kalian” tanya pria berbadan kekar itu pada Kasih dan Karina ketika mereka hendak masuk. Pria itu hendak mengecek umur mereka apakah mereka masih dibawah


umur atau tidak. Kasih lalu menunjukkan selebaran yang baru saja ditemukannnya


“kami ingin datang melamar pekerjaan Pak” kata Kasih agak takut


Kedua pria itu


berpandangan dan berpikir


“siapa


yang akan berkerja?”


“sa..sayaa pak! ” kata Kasih gugup matanya tak berani meamandang kedua pria yang menatapnya intens.


Kedua pria itu lalu membawa kedua gadis itu masuk untuk bertemu Bos bar.


“astaga.. akhirnya keluar juga.” Kata Kasih saat ia baru saja keluar dari Bar setelah ia bertemu dengan Bos bar dan diterima berkerja di tempat itu.


“apa kau benar-benar akan bekerja disini Sih? Aku tak yakin disini aman” kata Karina merinding ia menatap sekeliling ada banyak pria dan wanita yang masuk keluar dari Bar itu.


“aku tak apa Rin” ucap Kasih menenangkan “ hanya ini kesempatan buatku. Lagipula aku


hanya bertugas mengantarkan minuman saja tidak untuk hal yang aneh-aneh”


“baiklah


jika kau berkata begitu, beritahu aku bila terjadi sesuatu padamu Sih. Aku akan datang menolongmu.” Ucap Karina


“iya, aku tahu itu. Dasar cerewet.” Kata Kasih sembari mencubit pelan hidung Karina. Karina pura-pura kesakitan dan membalas Kasih. Hari itu akhirnya perjuangan keduanya


membuahkan hasil meskipun tak seperti yang dibayangkan Kasih bahkan ia tak pernah berpikir akan mulai berkerja di tempat ini. Ia tak punya pilihan sekarang, prioritas utamanya adalah mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya untuk

__ADS_1


membayar biaya rumah sakit sang Ayah yang masih koma.


BERSAMBUNG…


__ADS_2