
Pagi hari
Ranjang besar milik Tuan Smith yang biasanya digunakannya seorang diri mendadak pagi ini terasa sedikit aneh. Ranjang luas itu terasa sedikit sempit bagi Tuan Smith dan ia seketika tersadar ada seseorang yang sedang tidur dilengannya. Saat ia membuka mata ia sangat terkejut bahkan sempat mengira ia sedang bermimpi Kasih sedang tertidur dengan lelapnya diatas ranjang yang sama dengan dirinya.
Wajah polos dan sangat dirindukan Tuan Smith itu kini sedang berada sangat dekat dengan wajahnya hanya berjarak beberapa senti. Tuan Smith dapat merasakan hembusan nafas wanita itu menerpa kulitnya terasa sangat nyaman dan menyenangkan baginya berada diposisi seperti sekarang ini. Rasanya ia ingin berada seperti saat ini selamanya bersama dengan wanita ini.
Senyum manis mengembang diwajah tampan milik Tuan Smith sambil menatap lekat wajah Kasih.
“Andai ada kita bisa seperti ini selamanya ...”
Dengan hati-hati karena tidak ingin membuat Kasih terbangun, Tuan Smith meletakkan kepala Kasih dibantal dan segera turun dari ranjang hendak bersiap pergi ke kantor.
Setelah bersiap dengan setelan rapinya Tuan Smith keluar kamar tanpa membangunkan Kasih yang masih tertidur diatas ranjangnya. John menyambut Tuannya itu dengan sigap.
“Apakah tidur Anda nyenyak, Tuan?” tanya John menyapa sang Tuan.
Tuan Smith tersenyum cerah. “Ya, kurasa begitu. Aku tidak pernah tidur senyenyak ini sebelumnya.”
“Syukurlah kalau begitu, saya merasa senang mendengarnya, Tuan.” John tersenyum senang melihat Tuannya itu terlihat sangat bersemangat dan ia paham apa alasan dibaliknya. ‘Saya bersyukur Anda akhirnya bisa kembali bergairah seperti ini, Tuan.’
“John?”
“Ya, Tuan.”
“Biarkan Kasih tidur. Jangan bangunkan dia,” ujar Tuan Smith memberi perintah sambil berjalan pergi. John membungkuk hormat sebagai jawaban.
Kasih terbangun dengan perasaan kaget mendapati dirinya masih berada di kamar milik Tuan Smith meski begitu ia merasa sedikit bersyukur karena pria itu sudah tidak ada disitu saat dirinya terbangun. “Untunglah pria gila itu sudah pergi bisa mati karena malu diriku jika dia masih disini. Argh! Bagaimana bisa aku kalah dengan mataku sendiri dan tertidur disini. Benar-benar memalukan sekali!” Kasih berteriak kesal sambil menarik rambutnya sendiri lalu berguling-guling membuat ranjang semakin menjadi berantakan.
“Ya, Tuhan aku sangat malu sekali! Huwee ....”
Selepas mengatur perasaannya yang kacau balau Kasih melangkah dengan mengendap-endap menuju ke kamarnya tidak ingin siapapun melihat dirinya keluar dari kamar milik tuan Smith. “Bagaimanapun caranya aku tidak boleh sampai ketahuan oleh yang lain karena tertidur di kamar milik pria gila itu. Jika sampai ketahuan habislah aku. Mau taruh dimana wajahku ini? Aku tidak sanggup menanggung rasa malu karena hal itu.”
Beruntung jarak antara kamar miliknya dan tuan Smith tidak seberapa jauh jadi dirinya tidak perlu berjalan dengan mendendap seperti itu terlalu lama. Begitu sampai di depan pintu kamar buru-buru ia masuk kedalam lalu menutup pintunya dengan cepat.
“Astaga! Aku merasa seperti seorang pencuri di dalam rumah sendiri, ups! Ini bukam rumahku, sih. Tapi aku kan tinggal disini jadi ini adalah rumahku. Hihi...” Kasih sempat menertawakan dirinya sendiri lalu kemudian ia berjalan memasuki kamar mandi di kamarnya untuk membersihkan diri.
***
Karina terbaring lemas ditempat tidurnya. Rasa mual membuatnya enggan untuk makan hingga membuat tubuhnya menjadi lemah dan hanya bisa berbaring seharian. Dokter mengatakan bahwa Karina akan baik-baik saja setelah melewati fase tahap awal kehamilannya tapi tetap saja Tuan Adam merasa cukup khawatir dengan keadaan Karina yang seperti itu. Meski sangat khawatir terhadap istrinya Tuan Adam tetap harus pergi bekerja meningglkan sang istri yang sedang sakit berbeda halnya jika ia adalah Tuan Smith yang dapat meninggalkan pekerjaan sesuka hati. Bukan karena tidak profesional hanya karena itu adalah Tuan Smith yang mana pekerjaannya hanya mengawasi orang-orang yang bekerja padanya ia punya sangat banyak bawahan yang berpengalaman untuk melakukan setiap pekerjaan yang diperintahkan olehnya. Ia hanya perlu memerintah dan duduk manis menerima hasil.
“Sayang, kau yakin tidak apa jika kutinggal? Aku merasa sangat cemas,” ujar Tuan Adam sambil mengelus helaian rambut Karina yang sedang berbaring ditempat tidur.
“Tidak perlu cemas, sayang. Aku baik-baik saja Kasih akan datang sebentar lagi.”
“Selamat pagi, Tuan... Nyonya... Nona Kasih ada didepan.”
Tuan Adam dan Karina saling bertukar pandang. ‘Baru juga dibicarakan.’ Begitu batin keduanya.
Pintu kamar dibuka menampilkan Kasih yang berdiri sembari menyunggingkan senyum manis diwajahnya serta sebuah keranjang buah yang ia bawa sebagai buah tangan. Pelayan segera pergi setelah merasa tugasnya telah selesai disana memberikan privasi pada majikan dan tamu untuk berbincang.
“Hai, Rin!” Kasih melambai kemudian melangkah mendekat pada Karina yang tersenyum padanya.
“Yo, Kasih! karena kau sudah ada disini. Aku harus memberi ruang untuk para gadis, bukan? Jadi, nikmatilah waktu kalian. Aku akan segera terlambat harus berangkat sekarang.” Tuan Adam sedikit berkelakar lalu menoleh memandang kearah Kasih. “Kasih, aku titip dia ya,”
“Serahkan padaku.”
“Baiklah. Aku pergi, sayang, aku mencintaimu,” ujar Tuan Adam dengan sedikit terburu-buru karena sudah hampir terlambat sebelum pergi ia menyempatkan mencium mesra Karina terlebih dahulu lalu.
“Hati-hati di jalan, sayang!”
Selepas Tuan Adam berangkat kerja kedua wanita itu kemudian mulai berbincang ria.
__ADS_1
“Apa?!” teriak Karina histeris hingga membuat ia terbatuk sendiri saking terkejutnya. Dengan cepat Kasih memberikan segelas air minum diatas meja nakas padanya.
“Pelan-pelan saja, Rin!” ujar Kasih mengingatkan sambil menepuk-nepuk punggung Karina.
“Kau ...” Jari telunjuk Karina tertuju tepat di depan wajah Kasih yang kemudian menatap Karina dengan tatapan bingung. “Apa kau dan tuan Smith ....”
“Tidak!” elak Kasih cepat. “Tentu saja tidak begitu. Jangan berpikir yang aneh tentang diriku dan pria gila itu. Aku masih bersih! Suci seperti seorang dewi.”
Karina menahan tawanya. ‘Suci? Heh! Apa kau bercanda? Kau bahkan sudah memiliki anak dengannya, gadis bodoh!’
“Kami memang tidur seranjang tapi aku berani menjamin tidak ada apapun yang terjadi antara kami, aku bangun dipagi hari masih dengan pakaianku yang lengkap.”
“Begitu, lalu apa kau tidak merasakan sesuatu?”
“Sesuatu? seperti apa?” tanya Kasih balik menatap Karina tidak mengerti.
“Sesuatu yang aneh, seperti ….”
“Ah, ya!” seru Kasih memotong perkataan Karina yang tersentak dibuatnya. “Aku merasakannya!”
“Benarkah?!” tanya Karina antusias.
“Saat aku sedang tertidur aku merasakan sesuatu,” ucap Kasih mulai bercerita dengan nada serius dan Karina mendengarkan dengan seksama. “Sesuatu itu terasa keras dan menonjol ….”
“Keras dan menonjol?” ulang Karina sambil mengangkat sebelah alisnya.
“Benar!” kata Kasih. “Benda itu terasa keras dan menonjol menyentuh bagian pahaku sepanjang malam. Aku sempat berpikir seekor ular mungkin telah memasuki kediaman tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa karena tubuh berat si pria gila itu. Untunglah saat pagiharinya sesuatu itu sudah tidak ada lagi.”
Mendengar cerita Kasih itu seketika membuat Karina menganga menatap wanita dihadapannya itu dengan tatapan tidak percaya. ‘Ya ampun! Padahal dia sudah sangat dewasa bahkan sudah pernah melakukannya tapi hal seperti ini saja bahkan ia tidak tahu. Apa amnesianya sungguh semengerikan itu? benar-benar membuat orang merinding.’
“Sesuatu yang kumaksud itu seperti perasaan berdebar atau tiba-tiba jantungmu berdetak sangat kencang?”
“Perasaan seperti itu bukannya untuk seseorang yang sedang ...” Kasih seketika mendelik menatap Karina dengan tatapan horor. “Hei! Aku tidak mungkin menyukai pria gila seperti dirinya itu. Tidak! Tidak mungkin. Aku memang sedang menyukai seseorang dan pastinya bukan Tuan Smith.”
“Seseorang itu ....”
‘Tidak, Kasih! Kau harus mengubah takdirmu kali ini. Jangan biarkan masa lalu kembali merusak kesempatan hidupmu yang sekarang. Kumohon, bisakah kau hidup bahagia saja bersama Tuan Smith? Dia mencintaimu dengan tulus asal kau tau.’
Kasih tersenyum malu-malu lalu menyebutkan nama Rey yang kemudian membuat hati Karina mencelos sedih apa yang ia takutkan kembali terjadi. Kasih selalu dan tidak pernah bisa berhenti mencintai Rey. Meski seluruh ingatannya telah hilang namun ia masih menyimpan perasaan cintanya untuk pria yang telah tiada itu jauh dilubuk hati yang terdalam. Maka, ketika seseorang yang memakai wajah seperti pria yang sangat dicintainya itu berdiri dihadapannya perasaan cinta yang terdalampun kembali bertunas.
“Rin, apa kau pernah menyukai seseorang seperti orang gila? Kau tidak bisa melupakannya barang sedetik dan kau selalu merasa kau merindukan pria itu. Ah! Padahal aku belum lama bertemu dengannya tapi aku sudah begitu menyukainya seperti ini,” tutur Kasih tersernyum senang.
“Lalu, apa yang kau rasakan dengan tuan Smith?”
“Pria gila itu? Aku sangat kesal pada pria itu. Bagaimana tidak? Dia selalu saja membuatku marah tingkahnya sangat menyebalkan!”
“Karena itu kau tidak menyukainya?” Kasih membalas dengan anggukan. “Kau tidak menyukainya karena tingkahnya menyebalkan, bagaimana jika tingkahnya menjadi baik? Apa kau tetap tidak akan menyukainya?”
Kasih tampak terdiam tidak menjawab pertanyaan dari Karina.
“Kasih?!”
“Eh, ya?” Kasih melongo menatap Karina dengan tatapan bingung. Karina balas menatapnya dengan tatapan seperti orang yang menantikan jawaban.
“Itu... Ya, mungkin aku akan menyukainya,” jawab Kasih dengan sedikit keraguan di dalamnya. Lagipula mana mungkin tuan Smith bisa berubah secara tiba-tiba begitu.
“Eh? Apa katamu?” tanya Tuan Smith dengan suara yang lantang.
“Sudah lakukan saja seperti yang kusuruh. Aku yakin jika kau melakukannya dengan baik hasilnya pasti memuaskan.”
“Tapi bagaimana mungkin aku tiba-tiba melakukan hal seperti itu? Mau taruh dimana harga diriku? Aku ini Tuan Smith Alexander orang paling berkuasa di sini, kau pasti sudah tidak waras menyuruhku melakukan hal bodoh begitu,” ujar Tuan Smith dengan tegas menolak ide Karina yang terasa sangat konyol baginya. “Pokoknya aku tidak akan melakukan hal bodoh itu. Lupakan saja!”
__ADS_1
“Sungguh?” kata Karina ditelepon yang terhubung dengan Tuan Smith. “Lindungi saja harga dirimu itu, kalau Kasih sampai direbut oleh pria palsu itu kau akan menyesal nanti.” Perkataan Karina mulai menggoyahkan hati Tuan Smith. Ia telah mengorbankan banyak hal demi wanita itu berkorban sedikit lagi demi mencapai tujuan bukankah adalah hal yang sepadan. Tuan Smith akhirnya sepakat melakukan ide Karina.
***
Kasih berjalan masuk ke ruangan kerja Tuan Smith di dalam mansion di sana Tuan Smith telah menunggunya sambil duduk dengan posisi santai dikursi sofa.
“Ada apa? Kenapa tiba-tiba memanggilku kemari?” tanya Kasih masih dengan posisi berdiri.
“Aku hanya ingin memberikan itu padamu,” Tuan Smith menunjuk dengan ujung dagunya beberapa tumpukan buku yang sangat banyak yang diletakkan diatas lantai. Kasih melongo tidak mengerti mengapa tiba-tiba Tuan Smith bertingkah semakin aneh sekarang. ‘Apa kepalanya terbentur sesuatu?’
“Mulai sekarang aku akan memberikan semua koleksi buku apapun yang kau sukai, aku bahkan sudah memanggil para penulis buku terkenal kemari.” Suara ketukan pintu terdengar lalu tampaklah beberapa orang yang tidak dikenal Kasih masuk lalu berjejer rapi dihadapannya.
“Apa ini?” tanya Kasih dengan mata melotot semakin dibuat bingung oleh tingkah pria gila itu.
“Mereka semua adalah penulis buku terkenal dunia. Kau boleh memilih siapapun untuk kau mintai tanda tangan atau koleksi buku mereka. Terserah padamu saja.”
“Hah?”
“Tidak hanya itu aku juga sudah memanggil guru ke mansion untuk mengajarimu menjadi seorang sekretaris jadi jangan pernah meminta Melinda datang kemari lagi.”
“Eh? Kenapa begitu? Aku sudah membuat janji dengannya lagipula aku dan Melinda adalah teman,” ujar Kasih menatap Tuan Smith dengan tatapan bingung.
“Guru yang kupanggil tentu jauh lebih baik dari Melinda.”
“Ya, ya. Aku tau tapi ....”
“Sudah lakukan saja seperti kataku,” putus Tuan Smith memotong perkataan Kasih membuat wanita itu merangut kesal dibuatnya. ‘Dasar pemaksa!’
“Ayo, sekarang ikut denganku,” katanya sambli menarik tangan Kasih pergi tanpa menunggu tanggapan dari wanita itu.
Kasih melepaskan diri dari genggaman tangan Tuan Smith. “Sebenarnya kita akan kemana? Kenapa buru-buru sekali aku bahkan belum berganti pakaian.”
Tuan Smith memandang Kasih dari ujung kepala hingga kaki sambil memasang pose berpikir. “Benar juga, pakaianmu itu terlalu jelek.” Mata Kasih sontak mendelik saat Tuan Smith menyebut pakaian yang ia kenakan jelek. Dilihatnya pakaian yang melekat pada tubuhnya itu ia merasa pakaiannya baik-baik saja hanya memang tidak cocok digunakan untuk bepergian.
“Kau tunggulah sebentar disini aku akan mengganti pakaianku dulu ....”
“Ya, kau memang perlu menggantinya dengan yang lebih baik dan lebih bagus dari itu.”
“Kalau begitu ....”
Tanpa aba-aba Tuan Smith seketika menarik tangan Kasih membawanya pergi.
“Apa yang ingin kalian lakukan?” ucap Kasih bersikap siaga pada beberapa pelayan yang berjalan mendekat padanya.
“Aku percayakan pada kalian,” ujar Tuan Smith pada seseorang yang merupakan Manager di tempat itu.
“Baik, Tuan.” Manager toko itu membungkuk hormat pada Tuan Smith yang sedang duduk menyaksikan Kasih yang tidak berhenti memberontak saat para pelayan hendak melakukan tugasnya.
“Hey, pria gila! Kau benar-benar sudah gila apa yang akan mereka lakukan padaku? Cepat kemari dan tolong aku...!!!”
Tuan Smith tidak menghiraukan teriakan Kasih yang menggelegar itu ia hanya duduk santai sambil menikmati segelas minuman dingin seraya mengangkat sebelah kaki.
“Awas saja kau, tunggu aku terbebas kubunuh kau dasar menyebalkan!” Kasih menatap sebal pada Tuan Smith yang mengacuhkan dirinya.
Beberapa saat kemudian Manager datang menghampiri Tuan Smith sambil membungkuk sopan. “Tuan, semua sudah selesai. Silahkan Anda melihat,” kata Manager mempersilahkan.
Tuan Smith bangkit dari duduknya lalu mengikuti arahan dari Manager. Dihadapannya terbentang sebuah tirai panjang berwarna putih yang dibaliknya ada Kasih dengan penampilannya yang baru.
Setelah Manager memberi isyarat untuk menarik utas tali, tirai tersebut perlahan mulai terangkat naik menampilkan terlebih dulu bagian kaki Kasih dengan sepatu kaca berkilauan yang sangat cantik dikakinya. Tirai terus terangkat keatas hingga menampilkan tubuh Kasih sepenuhnya yang kini telah berbalut gaun mahal yang indah serta wajahnya dengan riasan tipis yang semakin menonjolkan kecantikan alami dari wanita itu.
Tuan Smith terdiam ia terpesona dan seketika dirinya terbayang akan sosok Kasih saat mengenakan gaun pengantin mereka dulu. Sosok Kasih yang masih muda dengan gaun pengantinnya dan sosok Kasih dewasa dengan gaun mewahnya saat ini terlihat tidak jauh berbeda membuat hati Tuan Smith merasakan pedih yang tak terkira mengingat betapa ia telah banyak menorehkan luka pada wanita itu. Rasanya seolah dirinya sangat tidak tahu malu berharap wanita itu akan mencintai dirinya akan tetapi Tuan Smith masih mengharapkan hal itu meski ia harus melawan perasaan rasa bersalah dihatinya. Ia ingin menebus kesalahannya dimasa lalu dengan membuat Kasih bahagia.
__ADS_1
BERSAMBUNG...