
Saat ini Kasih
dan tuan Smith sedang berada dalam mobil milik tuan Smith yang sedang melaju
dari Rumah sakit menuju kearah mansion. Suasana di dalam mobil diselimuti
keheningan hingga saat Kasih mulai angkat bicara menanyakan perihal pembicaraan antara Ayahnya dan
tuan Smith.
“aku ingin kau
mengatakan padaku dengan jelas apa yang kau katakan pada Ayahku barusan.
Mengapa ia tampak tidak keberatan sama sekali dengan pernikahan ini. Kau
menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, bukan?” Ucap Kasih penuh selidik
sembari menatap tuan Smith yang duduk bersebelahan dengan dirinya di kursi
tengah namun tuan Smith hanya diam saja tidak menanggapinya.
“hei! Aku sedang
berbicara denganmu” desak Kasih yang sudah sangat diliputi rasa penasarannya
“apa kau tuli? Hei!”
Tuan Smith membalikkan
badannya kearah jendela mengabaikan Kasih yang semakin kesal.
“apa kau akan
tetap diam membisu begini?! Aku sedang berbicara denganmu, dasar pria gila!”
Kasih mulai terbawa emosi
Tuan Smith
kemudian meliriknya sebentar lalu kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke
arah depan
“mulai sekarang
kau harus belajar tata krama sebagai istriku” ucap tuan Smith tanpa menatap
Kasih yang terlihat bingung
“kenapa? aku
tidak perlu repot-repot belajar hanya untuk menghadapi pria gila, sombong nan
arogan sepertimu” ucap Kasih bernada ketus
“pria gila,
sombong nan arogan ini adalah calon suamimu, Nona” kata tuan Smith bernada
dingin
“apanya yang
calon suami. Bukankah pernikahan ini hanya sebatas nama saja? Kita menikah dengan
perjanjian yang harus kita tepati, kau ingat? Oh iya, aku harus segera menulis
surat perjanjian itu sebelum kita resmi menikah besok”
Tuan Smith
mendengus kasar “terserah apa maumu. Tapi aku tidak ingin kau mempermalukanku
didepan umum. Itu bisa menghancurkan reputasiku”
“ Ho! Apa kau
berpikir aku sebodoh itu! Sampai bisa merusak reputasimu?!” Kasih menghela
napas panjang meredakan emosinya yang akan meluap “ apa kau lupa tuan Smith
yang terhormat, aku ini putri dari keluarga Avisha. Aku setiap hari menjalani
pelajaran tata krama yang bahkan tidak dipelajari anak seusia diriku. Aku
bahkan jauh lebih sopan dari dirimu! Apa-apaan kau tiba-tiba menyuruhku belajar”
ujar Kasih dengan nada setengah berteriak lalu memalingkan wajahnya kearah
jendela sambil mengkerucutkan bibirnya kesal
“dasar anak
kecil” gumam tuan Smith yang lalu terdengar oleh Kasih yang sedang memasang
wajah kesalnya
“aku memang anak
kecil, paman! Jangan lupakan itu! ” sahut Kasih dengan nada kesal
Tanpa aba-aba
diwajah tuan Smith tergambar sebuah senyum yang sanggup membuat hati seorang
wanita meleleh seketika. Wajah Kasih yang sedang kesal terlihat sangat lucu
dimata tuan Smith dengan bibir kecil nan tipis itu terlihat sangat menggemaskan
ketika Kasih memanyunkannya karena ia sedang merasa kesal. Kembali tuan Smith terbayang malam ketika ia merenggut
paksa kehormatan gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.
‘Sepertinya akan
menyenangkan bermain bersama anak kecil' tuan Smith menyeringai sembari menatap
Kasih yang sedang menggerutu kesal disampingnya.
***
Di kediaman
keluarga Wijaya tepatnya dirumah Rey. Tampak Rey yang sedang duduk di kasur
tempat tidurnya sembari terus menggengam ponselnya. Entah sudah kesekian
kalinya pemuda yang berusia 2 tahun lebih tua dari Kasih itu mengecek
ponselnya.
Pemuda yang
memiliki tubuh tinggi itu baru terlihat lega setelah ponselnya menerima sebuah
pesan yang tampaknya sangat dinantikannya sejak tadi.
KASIH, AKU INGIN
BERTEMU DENGANMU. TEMUI AKU DI TAMAN BELAKANG SEKOLAH KITA, PUKUL 3 PAGI INI.
AKU MOHON JANGAN MENOLAK. AKU AKAN MENUNGGUMU. (REY)
(KASIH) AKU AKAN
DATANG
Hanya sebuah
balasan pesan singkat itu sanggup membuat hati seorang Rey merasa lega dan
__ADS_1
tenang. Raut wajahnya kini sudah tidak terlihat khawatir seperti tadi. Ia lalu
memutuskan untuk berbaring menatap langit-langit kamarnya.
“aku berharap
masih memiliki kesempatan memilikimu, Kasih...” gumam Rey bernada pelan.
Lamunannya
membawanya pada ingatan masa lalu akan dirinya yang selalu memperhatikan Kasih,
yang setiap pagi dengan sengaja melewati jalanan depan rumahnya hanya untuk
melihat dirinya keluar dari rumah dan akan berangkat ke sekolah. Ia sebenarnya
sudah menyadari sejak lama apa yang selalu dilakukan gadis paling cerdas di
sekolahnya itu. Jika saja Rey memiliki keberanian lebih untuk menyatakan
perasaannya yang juga menyukai Kasih, keduanya pasti tidak perlu menyimpan rasa
diam-diam seperti yang terjadi sekarang.
Rey merasa ia
tidak percaya diri untuk menyatakan perasaannya di depan Kasih, maka dari itu
ia lebih memilih menyimpan perasaannya dan melihat Kasih dari kejauhan, sama
seperti yang dilakukan Kasih selama ini. Tanpa mereka berdua sadari, mereka
berdua sudah saling menyukai namun tidak ada yang berani mengutarakan perasaan
masing-masing.
***
Di dalam kamar
lain yang terpisah dari kamar milik tuan Smith, terlihat Kasih yang baru saja
selesai mandi. Sesungguhnya ia ingin sekali menemani Ayahnya di rumah sakit
jika saja saat ini dirinya tidak sedang mengandung. Dengan keadaan masih
memakai kimono dan rambutnya yang masih dalam keadaan basah Kasih berjalan
meraih ponselnya dan kembali membaca pesan singkat yang masuk diponselnya saat
sedang berada di rumah sakit tadi. Pesan itu dari Rey yang mengajaknya bertemu
pukul 3 dini hari.
“andai situasinya
tidak serumit ini, aku pasti sangat bahagia bisa bertemu denganmu, Rey. aku
ingin sekali memberitahukanmu betapa aku sangat menyukai dirimu. Namun aku
harus menahan perasaanku ini demi keluargaku. Aku tidak bisa egois memilihmu
dan mengabaikan keluargaku, mereka sangat membutuhkanku saat ini” Kasih
meletakkan ponsel yang dilayarnya masih menampilkan pesan singkat yang
dikirimkan Rey padanya dan mendekapnya erat “aku berharap ada kehidupan lain
dimana kita bisa bertemu dan saling mengutarakan perasaan yang terpendam ini”
***
Karina yang
tidurnya terganggu oleh sebuah suara dari ponselnya, dengan mata masih terpejam
sebelah tangannya menggapai ponselnya dan menjawab panggilan diponselnya
“Halo” kata
Karina dengan suara berat karena rasa kantuknya yang luar biasa.
“Karina, aku
minta maaf mengganggu tidurmu, tapi aku benar-benar butuh bantuanmu kali ini”
ucap suara diseberang ponsel dengan nada berbisik
“Ng?” sahut
Karina yang setengah sadar namun tetap memegang ponselnya didekat telinganya.
“tolong antarkan
aku ke taman sekolah kita. Aku ingin menemui Rey”
“Re...y..?”gumam
Karina dengan suara yang terdengar sangat berat, sedetik kemudian sontak Karina
membelalakkan matanya terkejut kesadarannya pulih seketika. Kantuknya sudah
melayang entah kemana.
“Kasih?!” ujar
Karina sembari secara mendadak bangkit keposisi duduk.
“ya”
“apa yang kau
lakukan menelponku selarut ini” tanya Karina seraya melirik jam diatas meja
samping tempat tidurnya
“tolong aku kali
ini, aku harus pergi menemui Rey, dia pasti sudah menungguku disana”
“tunggu sebentar”
Karina tampak berpikir sejenak lalu melanjutkan “ apa maksudmu kau ingin menemui
Rey, apa kau ingin kabur? Sebaiknya kau mengurungkan niatmu itu, Kasih. Kau
sendiri yang mengatakan kau tidak ingin membuat Ayahmu khawatir....”
Karina terus
berbicara sampai Kasih tiba-tiba memotong “apa yang kau bicarakan? Aku tidak
ingin kabur, aku hanya ingin menemui Rey sebelum aku menikahi pria gila itu
besok”
“oh, syukurlah.
Aku pikir kau ingin kabur” ucap Karina merasa lega
“Aku tidak akan
melakukan hal bodoh itu. Aku masih harus melindungi keluargaku, tapi sekarang
aku sangat membutuhkan bantuanmu, Karina” pungkas Kasih berbicara dengan nada
serius
***
Mobil Karina yang
__ADS_1
melaju perlahan menepi di sekitar mansion, disana sudah ada Kasih yang menunggu
kedatangannya.
Kaca mobil
diturunkan terlihat Karina melambaikan tangannya menyuruh Kasih segera masuk
kedalam mobil. Melihat hal itu, Kasih dengan setengah berlari menghampiri mobil
itu sembari tetap memperhatikan ke sekelilingnya.
Merasa situasinya
aman Kasih segera melangkah masuk kedalam mobil milik Karina lalu mobil itu
segera melaju meninggalkan mansion.
“Katakan padaku.
Kau tidak sedang berniat yang aneh-aneh, bukan? Aku sangat terkejut dengan
dirimu yang mendadak menelponku dan menyuruhku datang mengantarmu untuk menemui
Rey. Apa kau tidak takut tuan Smith akan marah jika tau kau pergi menyelinap
keluar begini?” Omel Karina sembari tetap fokus menyetir dan sesekali
mengalihkan pandangannya pada Kasih yang hanya terdiam mendengarkan omelan
darinya. Melihat Kasih yang hanya diam saja Karina merasa sedikit bersalah lalu
mengalihkan pembicaraan.
“maafkan aku. Aku
hanya merasa khawatir denganmu, Kasih. Apa kau lupa kau ini sedang mengandung?
Jika terjadi sesuatu denganmu aku jamin tuan Smith akan marah besar”
“aku tidak akan lama.
Aku hanya ingin menemuinya sebentar. Kau tau sendiri ini merupakan kesempatan
terakhirku untuk bertemu dengannya sebagai Kasih yang mencintainya. Aku tidak
yakin kami masih bisa bertemu lagi jika aku sudah menikah dengan tuan Smith
nantinya” ucap Kasih menjelaskan
“kau ini rupanya
masih sangat mencintai pangeran impianmu itu ya?” tukas Karina
“Aku... “raut
muka Kasih seketika berubah muram, kesedihan yang teramat dalam tergambar jelas
diwajahnya yang cantik
“sudahlah. Aku
yakin, jika kalian berdua berjodoh kalian akan dipersatukan oleh takdir.
Sebentar lagi kita akan sampai, segera temui dia dan cepat kembali” kata Karina
menghibur Kasih yang tampak sangat sedih
***
Di taman sekolah yang hanya diterangi
cahaya dari lampu taman tampak Rey yang sedang duduk dikursi taman menunggu
Kasih.
Melangkah pelan Kasih berjalan menghampiri pemuda
yang telah lama mencuri hatinya itu. Seketika perasaan sedih dan juga senang
bercampur aduk didalam hatinya, ia terus melangkah perlahan hingga ia telah
berada tepat di depan Rey. Pemuda itu mengangkat kepalanya menatap Kasih. Kedua
pasang mata itu kini tengah bersitatap tanpa berkata-kata.
Setelah sekian lama larut dalam suasana
yang sedikit canggung, Kini Kasih dan Rey telah duduk bersebelahan. Kasih tampak
kikuk. Seketika itu juga Rey bangkit berdiri dan menarik Kasih kedalam
pelukannya. Namun sedetik kemudian ia terkejut saat memeluk Kasih ada sesuatu
yang terasa berbeda. Memandang kebawah tepat ke arah perut Kasih, Rey sekali
lagi terkejut dengan apa yang dilihatnya.
Ditatapnya Kasih yang tertunduk dengan
airmata yang siap tumpah. Rey benar-benar kehabisan kata-kata dan hanya meneteskan
airmata. Perasaannya campur aduk.
Beberapa saat kemudian...
Tampak Kasih dan Rey sudah lebih tenang
mereka berdua sudah berhenti menangis dan sekarang tengah duduk bersebelahan
dikursi taman itu.
“aku menyukaimu” kata-kata Rey tiba-tiba
memecah keheningan
Kasih tersentak kaget.
“aku sudah tidak pantas... “ujar Kasih
“aku tidak peduli” putus Rey tegas
“tidak semudah itu, Rey... “ Kata Kasih
memalingkan wajahnya kearah lain
“aku akan bertanggung jawab untuk anak yang
sedang kau kandung Kasih. Aku berjanji akan menganggapnya seperti anakku
sendiri... “
Mata Kasih berkaca-kaca
“andai semudah itu, Rey... “
“ada apa, Kasih? Apakah kau tidak ingin
menikah denganku? “tanya sedih sedih
“tentu saja tidak. Aku pasti sangat bahagia
jika bisa menikah denganmu, Rey. Hanya saja, itu tidak mungkin terjadi. Anak
yang kukandung bukan tidak memiliki Ayah yang tidak mau bertanggung jawab...”
Kasih meneteskan airmatanya menahan perasaan sedih dihatinya “besok aku akan
menikah” sambung Kasih dengan suara pelan
“menikah?”
__ADS_1
BERSAMBUNG...