Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 28 Menemui Rey


__ADS_3

Saat ini Kasih


dan tuan Smith sedang berada dalam mobil milik tuan Smith yang sedang melaju


dari Rumah sakit menuju kearah mansion. Suasana di dalam mobil diselimuti


keheningan hingga saat Kasih mulai angkat bicara menanyakan perihal pembicaraan antara Ayahnya dan


tuan Smith.


“aku ingin kau


mengatakan padaku dengan jelas apa yang kau katakan pada Ayahku barusan.


Mengapa ia tampak tidak keberatan sama sekali dengan pernikahan ini. Kau


menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, bukan?” Ucap Kasih penuh selidik


sembari menatap tuan Smith yang duduk bersebelahan dengan dirinya di kursi


tengah namun tuan Smith hanya diam saja tidak menanggapinya.


“hei! Aku sedang


berbicara denganmu” desak Kasih yang sudah sangat diliputi rasa penasarannya


“apa kau tuli? Hei!”


Tuan Smith membalikkan


badannya kearah jendela mengabaikan Kasih yang semakin kesal.


“apa kau akan


tetap diam membisu begini?! Aku sedang berbicara denganmu, dasar pria gila!”


Kasih mulai terbawa emosi


Tuan Smith


kemudian meliriknya sebentar lalu kemudian kembali mengalihkan pandangannya ke


arah depan


“mulai sekarang


kau harus belajar tata krama sebagai istriku” ucap tuan Smith tanpa menatap


Kasih yang terlihat bingung


“kenapa? aku


tidak perlu repot-repot belajar hanya untuk menghadapi pria gila, sombong nan


arogan sepertimu” ucap Kasih bernada ketus


“pria gila,


sombong nan arogan ini adalah calon suamimu, Nona” kata tuan Smith bernada


dingin


“apanya yang


calon suami. Bukankah pernikahan ini hanya sebatas nama saja? Kita menikah dengan


perjanjian yang harus kita tepati, kau ingat? Oh iya, aku harus segera menulis


surat perjanjian itu sebelum kita resmi menikah besok”


Tuan Smith


mendengus kasar “terserah apa maumu. Tapi aku tidak ingin kau mempermalukanku


didepan umum. Itu bisa menghancurkan reputasiku”


“ Ho! Apa kau


berpikir aku sebodoh itu! Sampai bisa merusak reputasimu?!” Kasih menghela


napas panjang meredakan emosinya yang akan meluap “ apa kau lupa tuan Smith


yang terhormat, aku ini putri dari keluarga Avisha. Aku setiap hari menjalani


pelajaran tata krama yang bahkan tidak dipelajari anak seusia diriku. Aku


bahkan jauh lebih sopan dari dirimu! Apa-apaan kau tiba-tiba menyuruhku belajar”


ujar Kasih dengan nada setengah berteriak lalu memalingkan wajahnya kearah


jendela sambil mengkerucutkan bibirnya kesal


“dasar anak


kecil” gumam tuan Smith yang lalu terdengar oleh Kasih yang sedang memasang


wajah kesalnya


“aku memang anak


kecil, paman! Jangan lupakan itu! ” sahut Kasih dengan nada kesal


Tanpa aba-aba


diwajah tuan Smith tergambar sebuah senyum yang sanggup membuat hati seorang


wanita meleleh seketika. Wajah Kasih yang sedang kesal terlihat sangat lucu


dimata tuan Smith dengan bibir kecil nan tipis itu terlihat sangat menggemaskan


ketika Kasih memanyunkannya karena ia sedang  merasa kesal. Kembali tuan Smith terbayang malam ketika ia merenggut


paksa kehormatan gadis yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.


‘Sepertinya akan


menyenangkan bermain bersama anak kecil' tuan Smith menyeringai sembari menatap


Kasih yang sedang menggerutu kesal disampingnya.


***


Di kediaman


keluarga Wijaya tepatnya dirumah Rey. Tampak Rey yang sedang duduk di kasur


tempat tidurnya sembari terus menggengam ponselnya. Entah sudah kesekian


kalinya pemuda yang berusia 2 tahun lebih tua dari Kasih itu mengecek


ponselnya.


Pemuda yang


memiliki tubuh tinggi itu baru terlihat lega setelah ponselnya menerima sebuah


pesan yang tampaknya sangat dinantikannya sejak tadi.


KASIH, AKU INGIN


BERTEMU DENGANMU. TEMUI AKU DI TAMAN BELAKANG SEKOLAH KITA, PUKUL 3 PAGI INI.


AKU MOHON JANGAN MENOLAK. AKU AKAN MENUNGGUMU. (REY)


(KASIH) AKU AKAN


DATANG


Hanya sebuah


balasan pesan singkat itu sanggup membuat hati seorang Rey merasa lega dan

__ADS_1


tenang. Raut wajahnya kini sudah tidak terlihat khawatir seperti tadi. Ia lalu


memutuskan untuk berbaring menatap langit-langit kamarnya.


“aku berharap


masih memiliki kesempatan memilikimu, Kasih...” gumam Rey bernada pelan.


Lamunannya


membawanya pada ingatan masa lalu akan dirinya yang selalu memperhatikan Kasih,


yang setiap pagi dengan sengaja melewati jalanan depan rumahnya hanya untuk


melihat dirinya keluar dari rumah dan akan berangkat ke sekolah. Ia sebenarnya


sudah menyadari sejak lama apa yang selalu dilakukan gadis paling cerdas di


sekolahnya itu. Jika saja Rey memiliki keberanian lebih untuk menyatakan


perasaannya yang juga menyukai Kasih, keduanya pasti tidak perlu menyimpan rasa


diam-diam seperti yang terjadi sekarang.


Rey merasa ia


tidak percaya diri untuk menyatakan perasaannya di depan Kasih, maka dari itu


ia lebih memilih menyimpan perasaannya dan melihat Kasih dari kejauhan, sama


seperti yang dilakukan Kasih selama ini. Tanpa mereka berdua sadari, mereka


berdua sudah saling menyukai namun tidak ada yang berani mengutarakan perasaan


masing-masing.


***


Di dalam kamar


lain yang terpisah dari kamar milik tuan Smith, terlihat Kasih yang baru saja


selesai mandi. Sesungguhnya ia ingin sekali menemani Ayahnya di rumah sakit


jika saja saat ini dirinya tidak sedang mengandung. Dengan keadaan masih


memakai kimono dan rambutnya yang masih dalam keadaan basah Kasih berjalan


meraih ponselnya dan kembali membaca pesan singkat yang masuk diponselnya saat


sedang berada di rumah sakit tadi. Pesan itu dari Rey yang mengajaknya bertemu


pukul 3 dini hari.


“andai situasinya


tidak serumit ini, aku pasti sangat bahagia bisa bertemu denganmu, Rey. aku


ingin sekali memberitahukanmu betapa aku sangat menyukai dirimu. Namun aku


harus menahan perasaanku ini demi keluargaku. Aku tidak bisa egois memilihmu


dan mengabaikan keluargaku, mereka sangat membutuhkanku saat ini” Kasih


meletakkan ponsel yang dilayarnya masih menampilkan pesan singkat yang


dikirimkan Rey padanya dan mendekapnya erat “aku berharap ada kehidupan lain


dimana kita bisa bertemu dan saling mengutarakan perasaan yang terpendam ini”


***


Karina yang


tidurnya terganggu oleh sebuah suara dari ponselnya, dengan mata masih terpejam


sebelah tangannya menggapai ponselnya dan menjawab panggilan diponselnya


“Halo” kata


Karina dengan suara berat karena rasa kantuknya yang luar biasa.


“Karina, aku


minta maaf mengganggu tidurmu, tapi aku benar-benar butuh bantuanmu kali ini”


ucap suara diseberang ponsel dengan nada berbisik


“Ng?” sahut


Karina yang setengah sadar namun tetap memegang ponselnya didekat telinganya.


“tolong antarkan


aku ke taman sekolah kita. Aku ingin menemui Rey”


“Re...y..?”gumam


Karina dengan suara yang terdengar sangat berat, sedetik kemudian sontak Karina


membelalakkan matanya terkejut kesadarannya pulih seketika. Kantuknya sudah


melayang entah kemana.


“Kasih?!” ujar


Karina sembari secara mendadak bangkit keposisi duduk.


“ya”


“apa yang kau


lakukan menelponku selarut ini” tanya Karina seraya melirik jam diatas meja


samping tempat tidurnya


“tolong aku kali


ini, aku harus pergi menemui Rey, dia pasti sudah menungguku disana”


“tunggu sebentar”


Karina tampak berpikir sejenak lalu melanjutkan “ apa maksudmu kau ingin menemui


Rey, apa kau ingin kabur? Sebaiknya kau mengurungkan niatmu itu, Kasih. Kau


sendiri yang mengatakan kau tidak ingin membuat Ayahmu khawatir....”


Karina terus


berbicara sampai Kasih tiba-tiba memotong “apa yang kau bicarakan? Aku tidak


ingin kabur, aku hanya ingin menemui Rey sebelum aku menikahi pria gila itu


besok”


“oh, syukurlah.


Aku pikir kau ingin kabur” ucap Karina merasa lega


“Aku tidak akan


melakukan hal bodoh itu. Aku masih harus melindungi keluargaku, tapi sekarang


aku sangat membutuhkan bantuanmu, Karina” pungkas Kasih berbicara dengan nada


serius


***


Mobil Karina yang

__ADS_1


melaju perlahan menepi di sekitar mansion, disana sudah ada Kasih yang menunggu


kedatangannya.


Kaca mobil


diturunkan terlihat Karina melambaikan tangannya menyuruh Kasih segera masuk


kedalam mobil. Melihat hal itu, Kasih dengan setengah berlari menghampiri mobil


itu sembari tetap memperhatikan ke sekelilingnya.


Merasa situasinya


aman Kasih segera melangkah masuk kedalam mobil milik Karina lalu mobil itu


segera melaju meninggalkan mansion.


“Katakan padaku.


Kau tidak sedang berniat yang aneh-aneh, bukan? Aku sangat terkejut dengan


dirimu yang mendadak menelponku dan menyuruhku datang mengantarmu untuk menemui


Rey. Apa kau tidak takut tuan Smith akan marah jika tau kau pergi menyelinap


keluar begini?” Omel Karina sembari tetap fokus menyetir dan sesekali


mengalihkan pandangannya pada Kasih yang hanya terdiam mendengarkan omelan


darinya. Melihat Kasih yang hanya diam saja Karina merasa sedikit bersalah lalu


mengalihkan pembicaraan.


“maafkan aku. Aku


hanya merasa khawatir denganmu, Kasih. Apa kau lupa kau ini sedang mengandung?


Jika terjadi sesuatu denganmu aku jamin tuan Smith akan marah besar”


“aku tidak akan lama.


Aku hanya ingin menemuinya sebentar. Kau tau sendiri ini merupakan kesempatan


terakhirku untuk bertemu dengannya sebagai Kasih yang mencintainya. Aku tidak


yakin kami masih bisa bertemu lagi jika aku sudah menikah dengan tuan Smith


nantinya” ucap Kasih menjelaskan


“kau ini rupanya


masih sangat mencintai pangeran impianmu itu ya?” tukas Karina


“Aku... “raut


muka Kasih seketika berubah muram, kesedihan yang teramat dalam tergambar jelas


diwajahnya yang cantik


“sudahlah. Aku


yakin, jika kalian berdua berjodoh kalian akan dipersatukan oleh takdir.


Sebentar lagi kita akan sampai, segera temui dia dan cepat kembali” kata Karina


menghibur Kasih yang tampak sangat sedih


***


Di taman sekolah yang hanya diterangi


cahaya dari lampu taman tampak Rey yang sedang duduk dikursi taman menunggu


Kasih.


Melangkah pelan Kasih berjalan menghampiri pemuda


yang telah lama mencuri hatinya itu. Seketika perasaan sedih dan juga senang


bercampur aduk didalam hatinya, ia terus melangkah perlahan hingga ia telah


berada tepat di depan Rey. Pemuda itu mengangkat kepalanya menatap Kasih. Kedua


pasang mata itu kini tengah bersitatap tanpa berkata-kata.


Setelah sekian lama larut dalam suasana


yang sedikit canggung, Kini Kasih dan Rey telah duduk bersebelahan. Kasih tampak


kikuk. Seketika itu juga Rey bangkit berdiri dan menarik Kasih kedalam


pelukannya. Namun sedetik kemudian ia terkejut saat memeluk Kasih ada sesuatu


yang terasa berbeda. Memandang kebawah tepat ke arah perut Kasih, Rey sekali


lagi terkejut dengan apa yang dilihatnya.


Ditatapnya Kasih yang tertunduk dengan


airmata yang siap tumpah. Rey benar-benar kehabisan kata-kata dan hanya meneteskan


airmata. Perasaannya campur aduk.


Beberapa saat kemudian...


Tampak Kasih dan Rey sudah lebih tenang


mereka berdua sudah berhenti menangis dan sekarang tengah duduk bersebelahan


dikursi taman itu.


“aku menyukaimu” kata-kata Rey tiba-tiba


memecah keheningan


Kasih tersentak kaget.


“aku sudah tidak pantas... “ujar Kasih


“aku tidak peduli” putus Rey tegas


“tidak semudah itu, Rey... “ Kata Kasih


memalingkan wajahnya kearah lain


“aku akan bertanggung jawab untuk anak yang


sedang kau kandung Kasih. Aku berjanji akan menganggapnya seperti anakku


sendiri... “


Mata Kasih berkaca-kaca


“andai semudah itu, Rey... “


“ada apa, Kasih? Apakah kau tidak ingin


menikah denganku? “tanya sedih sedih


“tentu saja tidak. Aku pasti sangat bahagia


jika bisa menikah denganmu, Rey. Hanya saja, itu tidak mungkin terjadi. Anak


yang kukandung bukan tidak memiliki Ayah yang tidak mau bertanggung jawab...”


Kasih meneteskan airmatanya menahan perasaan sedih dihatinya “besok aku akan


menikah” sambung Kasih dengan suara pelan


“menikah?”

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2