
Ayah, Ibu dan kedua adik Kasih datang mengunjungi mansion tampak juga Karina yang ikut serta dalam keluarga tersebut. Mereka semua tampak takjub saat melihat isi mansion yang bak istana yang sangat megah dan luar biasa. Berbagai barang langka nan mahal menghiasi rumah megah itu. Guci, vas, lukisan dan semuanya yang menghiasi mansion adalah barang-barang mahal yang tidak ternilai harganya. Semua tampak takjub dan tak mampu berkata-kata dan hanya bisa ternganga menatap kemewahan yang menyilaukan mata.
“Wah! rumah ini sudah seperti museum barang mewah” Kata Ayah Kasih berdecak kagum
Setelah mereka semuanya duduk dikursi terlihat beberapa pelayan datang membawa bermacam-macam kudapan, aneka makanan dan juga minuman untuk mereka.
“wah! Benar-benar luar biasa! Bahkan di rumah kita tidak semewah ini” seru Alysa girang “Ayah! Aku ingin tinggal disini”
“aku juga” timpal Jenny merengek.
“kalian berdua tenanglah!” kata Ibu Kasih lembut
“Ayah! Ibu!” panggil Kasih yang muncul di ambang pintu menyapa keluarganya “Karina kau juga datang?” katanya pada Karina yang dibalas dengan senyuman manis oleh Karina.
“Kakak!” seru Alysa dan Jenny secara bersamaan lalu berlari menghambur kedalam pelukan sang Kakak.
“hati-hati kalian jangan sampai menyakiti perut kakak” seru Ibu Kasih mengingatkan kedua anaknya
Kasih dan kedua adiknya berpelukan dengan hangat melepas rasa kangen satu dengan yang lain.
“apa kalian bersikap baik?” tanya Kasih pada kedua adiknya sembari membungkuk menatap kedua adik kesayangannya bergantian
“tentu saja, Kakak” jawab keduanya kompak
“kalian merindukanku? Hm?” Kasih mengelus sayang rambut adiknya itu dan tersenyum lembut
“ya! Kami merindukan Kakak dan juga adik bayi” kata Jenny sembari mengelus pelan perut Kasih
Kasih tersenyum lalu memeluk kedua adiknya itu “Kakak juga sangat merindukan kalian”
“oh, kalian semua sudah datang?” kata tuan Smith yang baru muncul di tengah mereka
“tuan Smith, bagaimana kabar anda?” sapa Ayah Kasih menghampiri tuan Smith dan menjabat tangan tuan Smith
“Ayah mertua anda terlau sungkan” kata tuan Smith dengan nada datarnya
“ah! Kau benar nak! Bukankah sekarang kau telah resmi menjadi salah satu anakku. Baiklah mulai sekarang kita adalah satu keluarga” putus Ayah Kasih tersenyum senang
“Ayah, aku tidak ingin punya saudara sepertinya” celetuk Kasih spontan
“tentu saja kakak tidak akan bersaudara dengannya, mana ada saudara yang menikah dan akan segera memiliki anak.” Celoteh Alysa polos
“bisa kita makan sekarang? Aku sudah sangat lapar” potong Jenny sembari menunjuk makanan yang ada di atas meja
“John!” panggil tuan Smith
“ya, tuan” jawab John yang mengerti maksud dari tuannya. John lalu memerintahkan pada para pelayan untuk melayani keluarga Kasih dengan baik. Mereka semua tampak sangat gembira dan menikmati semua makanan yang disajikan diatas meja.
__ADS_1
“Alysa, makan pelan-pelan” kata Ibu Kasih mengingatkan putrinya yang tampak makan dengan sangat lahap
“kakak, aku juga ingin makan yang itu” kata Jenny pada Alysa sembari menunjuk makanan yang sama seperti yang sedang dimakan oleh Alysa.
Kasih lalu berinisiatif untuk mengambilkan makanan yang ditunjuk oleh adiknya. Namun, tuan Smith lalu menahannya.
“apa yang kau lakukan?” tanya Kasih menarik tangannya tapi tidak dilepaskan tuan Smith
“di rumah ini begitu banyak pelayan, untuk apa kau repot-repot”
“terserah padaku!” Kasih menarik tangannya paksa “sebaiknya kau mengurus dirimu sendiri”
“Kasih, kau tidak boleh berkata seperti itu pada suamimu” ujar Ayah Kasih “maafkan anak kami, tuan. Anda pasti kesusahan dibuatnya”
“tidak masalah, Ayah mertua. Aku tidak keberatan” ujar tuan Smtih “aku bermaksud mengundang kalian semua untuk menginap disini supaya Kasih merasa bahagia”
“apa yang kau katakan?” ujar Kasih setengah berbisik pada tuan Smith yang duduk bersebelahan dengan dirinya.
“bukankah itu ide bagus, istriku?” kata tuan Smith dengan sengaja menaikakn nada suaranya memberikan senyum manisnya pada Kasih.
‘aish! Pria gila ini apa yang sedang dia rencanakan?!’
Semua tampak menatap Kasih menunggu jawabannya. Alhasil dengan terpaksa Kasih menyetujui ide gila dari tuan Smith tersebut meski dengan berat hati. Jika keluarganya berada disini mau tidak mau Kasih dan tuan Smith harus selalu menampilkan kemesraan mereka sebagai suami istri.
“baiklah. Terserah kalian saja” ujar Kasih pasrah. Alysa dan Jenny spontan bersorak kegirangan
Dan lebih menyebalkannya lagi Kasih harus tidur sekamar dengan tuan Smith karena jika tidak keluarganya akan merasa curiga dan sandiwaranya terancam akan terbongkar.
“apa kalian benar-benar harus menginap?” ujar Kasih bernada kesal dan tampak enggan jika harus tidur dikamar yang sama dengan tuan Smith.
“mau bagaimana lagi, tuan Smith sendiri yang menawarkan untuk menginap. Adikmu juga terlihat sangat bahagia menginap disini, jadi Ibu rasa tidak apa-apa jika malam ini kita semua akan bermalam disini” kata Ibu Kasih menjelaskan
“tapi...”
“sudahlah. Hanya malam ini saja. Besok kita akan segera pulang. Sepertinya ada yang ingin menghabiskan bulan madunya tanpa kita semua” goda Ibu Kasih kemudian
“apanya? Tentu saja tidak seperti itu! Kalian salah paham padaku” cerocos Kasih tegas
“hmm... kau tidak usah bersikap malu-malu begitu. Kami semua mengerti” goda Ibu Kasih lagi menatap putrinya yang wajahnya sudah memerah sepenuhnya.
“aku bilang tidak begitu. Kalian tidak boleh berpikir sembarangan, menyebalkan sekali!” Kasih memasang wajah cemberutnya kesal dengan candaan Ibunya itu. Semuanya akhirnya tertawa tidak terkecuali Karina yang tidak sengaja tertawa lepas namun saat itu juga ia mendapat deathglare dari Kasih dan segera menutup mulutnya agar tidak ikut menertawakan dirinya. Karina lalu menggerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara “maaf”
“ah! Aku perlu berbicara dengan Karina sebentar, Bu” ucap Kasih kemudian sembari menarik tangan Karina pergi
“oh, baiklah” kata Ibu Kasih lalu memandang kedua putrinya, Alysa dan Jenny yang sedang sibuk bermain “hei! kalian berdua harus berhati agar tidak terjatuh”
Di balkon Kasih memilih tempat itu untuk berbicara dengan Karina berdua
__ADS_1
“apa kau baik-baik saja?” tanya Karina pada Kasih
“BURUK! Sangat buruk” sahut Kasih “aku tidak mengerti dengan semua ini kenapa bisa menimpa hidupku. Kau tau, Rey sudah menyatakan perasaannya padaku, tepat saat hari dimana aku akan segera menikah”
Karina tampak terkejut “apa?! Pantas saja ia sampai membawa bodyguard menerobos ke mansion tuan Smith”
Mendesah lemah Kasih lalu melanjutkan “aku sudah menceritakan padanya soal malam itu di bar”
“Ehhh??!” teriak Karina spontan “apa aku menceritakan semuanya padanya?”
“tidak semuanya. Aku hanya mengatakan kesalahan malam itu, aku tidak mungkin mengatakan padanya bahwa aku menikahi tuan Smith diatas kontrak, bukan? Aku tidak ingin memperumit masalah. Tapi aku tidak menyangka Rey akhirnya malah mendatangiku di mansion dan membuat kehebohan”
Karina mengelus punggung Kasih “kau tidak usah menyalahkan dirimu sendiri Kasih. Mungkin semua ini memang sudah menjadi takdirmu. Kau harus tetap sabar dan kuat”
“hm..aku sangat kuat sekarang. Aku bahkan bisa membawa perut buncitku ini kemana-mana” kata Kasih sambil menunjukkan perutnya pada Karina. Iapun secara spontan tertawa kecil.
“apa kau sudah memilihkan nama untuk anakmu nanti?” tanya Karina mengelus perut Kasih
“entahlah aku belum memikirkannya. Terlalu banyak yang terjadi padaku belakangan ini. pernyataan cinta Rey dan hidupku yang sangat berantakan”
“tunggu, pernyataan cinta?” tanya Karina bingung
“hm... ternyata selama ini kami berdua hanya saling menyimpan perasaan kami yang sebenarnya satu sama lain”
“wah! Luar biasa!” Karina berdecak kagum “kalian sangat...sangat luar biasa! Bertahun-tahun menyimpan perasaan dan malah saling menyatakan perasaan dihari pernikahan?!” Karina menarik udara disekitarnya sebanyak-banyaknya tidak mengerti dengan perjalanan hidup sahabatnya yang penuh liku “apa kau sedang bercanda?! Kau menyukainya sejak kau berada disekolah dasar dan baru sekarang kau tahu jika ia juga menyukaimu? Saling menyukai!!!”
Kasih mengangguk pelan mengiyakan pernyataan dari sang sahabat
“luar biasa! Aku tidak percaya ini, benar-benar gila!”
“aku ingin sekali bersama dengan pria yang kucintai, aku ingin mengandung anak dan hidup bahagia bersamanya sampai aku tua nanti. Tapi kini, aku malah harus melepaskan impianku, sekolahku, bahkan cintaku. Aku sudah tidak punya apapun, Rin! Aku benar-benar... tidak punya apapun” air muka Kasih lantas berubah muram seketika, nada bicaranya berubah pelan diakhir “aku hanya punya keluargaku sekarang ini. aku tidak punya apapun selain itu. Aku tidak boleh membuat mereka bersedih dengan mengetahui fakta bahwa aku kehilangan mahkotaku dengan pria yang bahkan tidak mencintaiku sama sekali. Mereka akan sangat sedih jika mendengar hal itu” lanjutnya
“aku mengerti kesedihanmu, Kasih. Aku ikut bersedih akan hal itu. Akan tetapi, apakah kau akan terus menahan semua ini sendirian? Kau harus membesarkan anak dari pria yang sudah memaksamu memiliki anak darinya, tidak hanya itu, kaupun harus hidup bersamanya selamanya” tukas Karina
“tidak selamanya” ujar Kasih singkat membuat Karina menatapnya keheranan
“apa maksudmu? Kau..” Karina tidak melanjutkan perkataannya hanya menatap Kasih penuh selidik mencoba memahami apa sebenarnya yang sedang direncanakan sahabat baiknya ini.
BERSAMBUNG...
__ADS_1