
Keluarga Kasih dan juga Karina sudah bersiap akan kembali ke rumah masing-masing sekarang. Mereka tampak berpamitan satu sama lain.
“jaga kesehatanmu dan kandunganmu dengan baik, Nak. Jadilah istri yang baik untuk tuan Smith” ucap Ibu Kasih berpamitan
“bersikap baiklah pada tuan Smith, Hm?” timpal sang Ayah
Kasih hanya mengangguk patuh mendengar nasihat dari kedua orang yang sangat disayanginya itu.
“kami pergi dulu, tuan. Kami titip putri kami” ujar Ayah Kasih pada tuan Smith yang dibalas anggukan olehnya.
“jaga dirimu, Kasih” ucap Karina sembari memeluk Kasih lalu masuk kedalam mobil miliknya yang didalamnya sudah ada adik-adik Kasih dan juga kedua orangtua dari Kasih yang sudah masuk ke dalam mobil lebih dulu.
“Kami mencintaimu, kak” ucap Jenny sembari melambaikan tangannya melalui jendela lalu mobil melaju pergi meninggalkan mansion megah itu dengan Kasih yang menatap kepergian keluarganya dengan tatapan sedih, tangannya melambai lemah.
“aku juga mencintai kalian” ujar Kasih lirih saat mobil itu sudah berlalu pergi meninggalkan dirinya. Saat hendak berbalik secara tiba-tiba tuan Smith sudah ada didepannya.
“Astaga! Kaget aku!”
“Ikut denganku” tuan Smith menarik Kasih tiba-tiba hingga membuat Kasih tersentak kaget
“apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!!!” Kasih memberontak namun tuan Smith tidak bergeming sama sekali dan terus berjalan memasuki mobil
“kau ingin membawaku kemana? Hei! Pria gila ini apa yang kau lakukan?!” tuan Smith terus mengacuhkan teriakan Kasih sembari memasangkan sabuk pengaman pada Kasih dan dirinya sendiri.
“jalan” perintah tuan Smith singkat masih tidak menggubris Kasih yang terus menatapnya kebingungan
“sebenarnya kau ingin membawaku kemana?! Kau tidak berniat untuk pergi menjualku kan?” tukas Kasih menatap tuan Smith curiga.
Tuan Smith meliriknya sekilas “kau pikir akan ada orang yang akan membelimu?”
“Ck! Kau benar-benar! Mulutmu itu pedas sekali, ya! dengarkan aku ya, aku ini seorang gadis muda yang cantik dan aku juga berasal dari keluarga yang terhormat. Jika kau menjualku, kau akan sangat merugi, dan lagi aku ini sedang mengandung anakmu, harusnya kau bersyukur mendapatkan seorang istri sepertiku” cerocos Kasih tidak terima dengan perkataan tuan Smith barusan.
“diamlah dan ikut saja” ucap tuan Smith acuh.
“Hah!!! Benar-benar menyebalkan!” dengus Kasih sebal namun ia akhirnya mau tidak mau harus ikut dengan kemauan tuan Smith yang tiba-tiba membawanya pergi entah kemana.
Setelah menempuh perjalanan beberapa saat akhirnya mobil berhenti tepat disebuah area pertokoan yang sangat besar. Kasih melihat dari jendela yang tidak dibuka dan melihat toko yang sangat besar dihadapannya dengan perasaan aneh. ’toko bayi?’ tuan Smith tampak sudah berdiri tepat didepannya dan membukakan pintu mobil untuknya.
“cepatlah keluar” kata tuan Smith menyuruh Kasih keluar dari dalam mobil. Perlahan Kasih melangkahkan kakinya keluar dan seketika ia takjub dengan toko bayi di hadapannya itu.
“toko yang sangat besar”
Di pintu masuk sudah terlihat pelayan dan pemilik toko yang bersiap menyambut kedatangan mereka. Kasih benar-benar takjub melihat seluruh isi toko yang tampak sangat lengkap dengan barang-barang bayi yang terpajang rapi. Sangat lengkap.
‘ini sungguh toko bayi’
“selamat datang tuan dan nyonya” sapa pemilik toko membungkuk dan terlihat para pelayan toko juga ikut membungkuk memberi hormat mengikuti sang pemilik toko.
Kasih membalas memberi hormat pada pemilik toko yang terkejut melihat aksi Kasih tersebut.
‘nyonya Alexander ini sangat berbeda, aku pikir ia akan bersikap sombong tapi ternyata...’ batin tuan pemilik toko heran
__ADS_1
“tuan dan nyonya akan berbelanja kebutuhan bayi yang akan segera lahir” ujar John pada pemilik toko menjelaskan maksud kedatangan mereka.
Tuan pemilik toko menatap Kasih dan perutnya yang menyembul dari balik dress yang dipakainya “baiklah! Kami punya barang-barang spesial untuk anda. Silahkan ikut saya sebelah sini” katanya mempersilahkan
Kasih memperhatikan semua barang yang ada dengan seksama. Ia terlihat sangat senang sekali.
“apa kita akan membeli barang-barang untuk si bayi?” tanya Kasih keceriaan terpancar dari sorot matanya.
“hm” jawab tuan Smith singkat
“anda boleh memilih barang-barang yang anda sukai dengan bebas di ruangan khusus ini, nyonya” ucap tuan pemilik toko pada Kasih yang tersenyum senang mendengarnya.
“benar-benar besar sekali. Aku seperti akan tenggelam dengan semua barang-barang ini” ujar Kasih girang. “tapi, aku sangat bingung harus memilih yang mana”
“ada apa nyonya? Apa ada sesuatu yang mengganggu anda?” tanya tuan pemilik toko yang menyadari perubahan air muka Kasih yang tiba-tiba terlihat berubah sedih.
“anu, aku sedikit bingung memilihnya” kata Kasih tersenyum cengir sembari menggaruk belakang lehernya yang tidak gatal.
“oh! Begitu” tuan pemilik toko tampak berpikir sejenak “bagaimana jika anda meminta bantuan dari Ibu anda, nyonya?”
“Ah! Kau benar sekali! aku tidak sempat berpikir kesana karena sangat terpukau dengan toko anda”
Kasih lalu dengan segera menelpon sang Ibu
“halo, Ibu aku butuh bantuan Ibu”
Beberapa saat kemudian...
“apa kau sudah selesai memilihnya?” tanya tuan Smith yang menunggunya di sebuah ruangan khusus untuk tamu VIP toko itu.
Kasih bersama dengan pelayan toko yang membantunya membawa barang-barang pilihannya barusan. 2 pelayan itu tampak membawa banyak barang dikiri dan kanan tangannya.
“apa ini sudah semua?” tanya tuan Smith lagi
Kasih memeriksa daftar yang ia punya dan mencocokkan dengan barang yang ada ditangan dua pelayan itu.
“kurasa itu sudah semua” kata Kasih akhirnya
“kirim semua barang-barang itu ke mansion” perintah tuan Smith pada John
“baik tuan” jawab John lalu segera mengurus semua barang yang telah dipilih nyonyanya itu dan membayarnya dengan sebuah kartu khusus milik keluarga Alexander.
“terima kasih sudah berbelanja di toko kami, tuan dan nyonya” ucap semua pelayan toko serentak mengantar Kasih dan tuan Smith yang hendak pergi mengakhiri aktivitasnya berbelanja.
Di dalam mobil Kasih terlihat sangat puas dan senang setelah berbelanja barusan
“kau terlihat senang setelah menghabiskan uangku” kata tuan Smith menyindir
“apa yang kau katakan? Aku membeli kebutuhan bayi yang akan lahir” seru Kasih sewot
Tuan Smith secara tiba-tiba mengeluarkan sebuah kartu tepat di dedepan wajah Kasih “apa ini?” tanya Kasih heran
__ADS_1
“kau boleh memakai itu” kata tuan Smith “kartu itu tidak memiliki batas. Kau bisa membeli apapun yang kau inginkan”
“untuk apa kau memberiku kartumu?” tanya Kasih menaikkan sebelah alisnya menatap tuan Smith curiga
“aku harus menjaga moodmu agar bayiku yang berada dirahimmu itu tumbuh sehat” ucap tuan Smith singkat
‘Ck! Menjauhlah dariku maka aku akan sangat bahagia’
“eh? Ini bukan jalan menuju ke arah mansion” tanya Kasih kemudian menyadari arah yang dituju untuk pulang berbeda.
“kita akan berjalan-jalan sebentar, nyonya” celetuk John menjelaskan
“jalan-jalan? Kemana?” tanyanya lagi
“kita akan ke mall, nyonya”
“um” Kasih mengangguk mengerti lalu memilih mencari posisi nyaman baginya karena merasa pinggang dan kakinya terasa pegal
‘Aduh pegalnya'
Tuan Smith melirik Kasih yang tampak memijat pelan punggung dan kakinya. Tanpa aba-aba tuan Smith lalu menarik kaki Kasih dan menaruhnya diatas kedua pahanya.
“Hei! Apa yang kau lakukan?” pekik Kasih terkejut
“memijatmu” jawat tuan Smith datar
John yang berada dikursi depan disamping supir tampak melirik hal itu dari kaca spion. Sedangkan Kasih yang merasa heran dan risih berusaha menarik kakinya namun tuan Smith acuh dan terus saja memijat.
‘ada apa dengan pria gila ini? membuatku bingung saja’ batin Kasih menatap wajah tuan Smith yang tampak sangat serius memijat kakinya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1