Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 86 Pria Gila


__ADS_3

Selesai memandikan Kasih para pelayan itu lalu membawa paksa Kasih untuk berganti pakaian disebuah ruang ganti. Saat memasuki ruangan Kasih sekali lagi dibuat terperangah melihat begitu banyak sekali pakaian, sepatu, tas dan juga berbagai macam perhiasan di dalam satu ruang.


“Woah! Aku sungguh tidak percaya kalau aku sedang berada di dalam sebuah rumah,” ungkapnya takjub. “Apakah aku sungguh sedang berada di dalam sebuah rumah? ini bukan sebuah lelucon, bukan? Atau jangan-jangan aku sedang dibodohi dan ini hanyalah sebuah acara TV Semata. Semua barang-barang ini jelas palsu, Aku tidak percaya aku sempat tertipu.”


“Anda tenang saja, Nyonya. Semua barang-barang yang ada di ruangan ini adalah asli saya bisa menjamin itu. Barang-barang ini dipilih khusus oleh Tuan Smith untuk anda karena barang-barang lama anda sudah disimpan di dalam gudang. Dan lagi baju-baju itu semua pastilah tidak akan muat di tubuh anda,” beber Wendy pada kasih.


“Apa maksudmu dengan barang-barangku yang lama? Apakah aku pernah tinggal di sini?”


Wendy tersenyum. “Sudah jangan membuat Tuhan Smith semakin lama menunggu lebih baik anda berganti pakaian terlebih dahulu,” ucap Wendy seraya menyuruh para pelayan untuk melayani Kasih.


“Tidak perlu aku bisa melakukannya sendiri,” ucap Kasih menolak untuk dilayani saat berganti pakaian. ‘Dasar! Majikan mereka saja adalah seorang pria gila, apalagi para pelayan mereka ini mereka sungguh sangat tidak masuk akal. Bagaimana bisa mereka melucuti pakaianku dan memandikanku? Aku merasa sangat malu.’


Tanpa berlama-lama Kasih segera masuk ke dalam ruang ganti sendirian lalu mengenakan pakaian yang telah disediakan. Setelah itu ia kemudian diantar oleh para pelayan dan juga Wendy ke sebuah ruangan. Tampak Tuan Smith sudah menunggunya di sana dengan memakai setelan pakaian yang rapi.


‘Pria itu sangat tampan dan terlihat sangat bermartabat. Sayang sekali ia adalah seorang pria gila bagaimana mungkin tiba-tiba menarik orang asing kemari dan mengakuinya sebagai seorang istri. Dan, apa mereka semua berpikir aku akan mempercayainya?! Yang benar saja! aku tidak sebodoh itu. Tunggu dan lihat saja, jika ada saat yang tepat aku pasti akan kabur dari tempat aneh ini. Lihatlah betapa miripnya semua barang palsu ini dengan yang asli. Tidak kusangka aku hampir saja tertipu.’ Kasih menatap semua perabot dan hiasan mansion dengan tatapan menyayangkan.


“Kau sudah tumbuh dewasa, istriku.” Tiba-tiba suara bariton pria yang baru saja dicacinya terdengar olehnya. Kasih mengangkat wajahnya cepat menatap wajah Tuan Smith yang kini telah berada tepat didepan wajahnya. Sontak Kasih mendorong kuat tubuh Tuan Smith karena kaget, namun malah dirinya yang terdorong kebelakang dan hampir terjatuh. Dengan cepat tangan Tuan Smith terulur meraih pinggang Kasih menahannya agar tak terjatuh. Kasih terdiam membatu jantungnya memompa dengan cepat dan darahnya terasa berdesir hingga membuat wajahnya memerah.


“Kau sungguh telah tumbuh dengan baik, istriku.” Mata Tuan Smith melirik kearah tubuh Kasih yang seketika membuat wanita itu dengan cepat melepaskan diri mendundukkan wajahnya malu. Suasana canggung sangat terasa baginya. ‘Apa yang kulakukan?! Kurasa aku sudah gila karena menganggap pria itu sangat tampan dan memerah karenanya. Gila! Gila!’


“Apanya yang istri? Jangan menyebut sembarang orang dengan istri. Memang siapa yang istrimu?!” kata Kasih memasang wajah kesal menutupi perasaan canggung yang sedang ia rasakan.


Tuan Smith menarik tangan Kasih yang seketika membuatnya terkejut memelototi Tuan Smith yang sedang tersenyum membuat pesona ketampanannya bersinar menyilaukan mata Kasih. ‘Astaga! Aku tidak percaya ada pria yang sangat tampan seperti ini. Hampir saja aku mimisan didepannya.’


“Kasih Aulia Avisha, istriku.” Kasih sungguh tidak percaya dengan apa yang sedang didengarnya. Matanya mengerjap dengan cepat menatap wajah Tuan Smith dengan tatapan tidak percaya. ‘Luar biasa! Pria gila ini bahkan mengetahui nama lengkapku!’


‘Apa dia seorang penguntit?’ Kasih menatap lekat wajah Tuan Smith dengan tatapan menelisik sebelah tangannya menggaruk pelan dagunya.


“Begini, aku tidak tau siapa orang yang kau maksud, Tuan. Meski memang benar yang ku sebutkan itu memang nama lengkapku. Tapi, a-aku tidak mungkin .... MENIKAH!!!” Kasih berteriak histeris dengan bola matanya yang membulat sempurna saat Tuan Smith memperlihatkan padanya foto pernikahan mereka. Menelah ludah dengan susah payah Kasih melangkah mendekat pandangannya tidak lepas pada dua orang sosok yang mengenakan setelan pernikahan didalam foto. Sang mempelai wanita di foto itu sangat mirip dengan dirinya.


“Oh, Tuhan! Apa aku sungguh telah menikah?!” gumam Kasih dengan suara nyaring sembari menatap lebih dekat foto dihadapannya.


“Tidak mungkin! Ini pasti rekayasa. Aku hanya perlu mencari bagian editannya .... “ Tubuh Kasih sontak melemas lunglai tatkala ia tidak mendapati bagian editan yang ia cari. “Gawat! Ini sungguh foto asli. Huweee ...!”


“Apa kau masih membutuhkan bukti yang lain?” tanya Tuan Smith.


Melenguh kesal Kasih kemudian kembali bertanya. “Jika foto ini asli, apa anak yang bersamamu waktu itu .... “


“Itu anak kita.”


“Huwaaa!!! Aku bahkan mempunyai seorang anak! Tidak ini pasti hanya sebuah mimpi. Ayo, Kasih! kau harus bangun!” tangan Kasih menampar pipinya sendiri bermaksud menyadarkan dirinya yang ia kira sedang bermimpi.


“Apa yang kau lakukan? Kau bisa melukai dirimu sendiri,” cegah Tuan Smith menarik tangan Kasih.


Kasih menatap wajah Tuan Smith memandangnya dengan tatapan canggung. “Lepaskan tanganku, aku tidak serta merta menerima semua ini. Aku perlu waktu mencernanya.” Merasa sangat gugup Kasih melepaskan tangannya lalu berjalan mundur hingga tanpa sengaja tubuh bagian belakangnya menyenggol sebuah guci besar hingga terjatuh berserakan dilantai.

__ADS_1


Menutup matanya merasa bersalah Kasih mendesah pasrah. “Ma-maafkan aku, aku tidak sengaja. Aku akan menggantinya.” ‘Beruntung guci ini hanya guci palsu’


“Tidak perlu.”


“Tidak. tidak. aku akan tetap menggantinya,” bantah Kasih. “Itu, ngomong-ngomong berapa harga guci itu?”


“Itu tidak mahal, hanya 100 .... ” Tuan Smith menggantung kalimatnya pandangannya tertuju pada raut wajah Kasih.


Menghela nafas lega Kasih mengelus dadanya. ‘Syukurlah hanya seratus ribu.’


“Baiklah. Aku akan menggantinya. Setelah aku kembali, aku akan langsung memberikanmu 100 ribu. Jadi mari kita selesaikan kesalahpahaman ini dengan cepat, oh?” Kasih terdiam menatap Tuan Smith yang tiba-tiba menitikkan airmatanya.


“Ada, apa denganmu pria gila. Ah! Maksudku, ada apa denganmu kenapa kau mendadak menangis?”


Tuan Smith tidak menjawab pertanyaan Kasih dan malah langsung menarik tangan wanita itu kedalam pelukannya mendekapnya dengan sangat erat seakan tak ingin melepaskan lagi.


“Maafkan aku, Kasih. Semua ini karena ulahku. Andai Tuhan ingin menghukum, yang seharusnya dihukum adalah aku. Kau sama sekali tidak layak untuk menderita seperti ini.” Kasih hanya terdiam mematung tidak tau harus berkata apa. ‘Apa yang telah terjadi dengan pria yang terlihat tangguh dihadapanku ini? Sosoknya yang sedang menangis seperti ini sungguh tidak cocok dengan tampilannya. Dan, siapa Kasih yang dia maksud itu? Apakah itu seseorang yang sungguh dicintai pria gila ini?’ Wanita itu larut dalam pikirannya mencoba untuk memahami situasi. Lalu terdengar suara ketukan pintu. Buru-buru Kasih melepaskan pelukan Tuan Smith dan menetralkan perasaan canggung yang sempat tercipta karena baru pertama kali baginya seorang pria menangis dibahunya.


Seorang wanita cantik dengan gaya pakaiannya yang modis berjalan masuk dengan cepat menghampiri Kasih.


“Kasih?!” Panggilnya memastikan dengan raut muka yang sangat tidak percaya. Wanita yang memiliki rambut panjang itu memeluk erat tubuh Kasih.


“Apa ini adalah hari berpelukan sedunia? Kenapa semua orang memelukku?” tanyanya tidak mengerti.


“Dasar gadis bodoh! Aku sangat mengkhawatirkan dirimu, kemana saja dirimu selama ini? Semua orang mencari dirimu tapi kau seperti menghilang begitu saja. Apa yang sebenarnya terjadi? Cepat ceritakan padaku .... “


Karina nama wanita itu melirik kesal. “Hais! Dasar diktator! Aku sangat merindukan sahabatku dan kau malah membawanya tanpa memberitahukan padaku kalau Kasih sudah kembali. Sungguh menyebalkan!” gerutu Karina kesal.


“Kasih adalah istriku, aku tentu lebih berhak atas dirinya daripada dirimu, Nona Karina.”


“Ck! terserah kau saja. Menyebalkan!”


“Begini, anu, sepertinya kesalahpahaman yang terjadi jadi semakin tidak terkendali. Jadi, bisakah kalian jelaskan padaku siapa, aku?”


Pertanyaan Kasih itu sukses membuat semua mata yang ada diruangan itu tertuju padanya.


 


 


***


 


 

__ADS_1


“Hilang ingatan?!” pekik Karina tidak percaya saat sang dokter yang memeriksa Kasih menjelaskan kondisi dari Nyonya Alexander itu.


“Ya, Nona. Kondisi ini terjadi karena sepertinya Nyonya telah melewati masa kritisnya dalam waktu lama hingga membuat otaknya kehilangan seluruh ingatannya secara permanen,” ungkap sang dokter lagi.


“Hilang ingatan permanen?!” Karina kembali memekik tidak percaya. Kali ini Tuan Smith menatap tajam kearahnya membuat wanita itu segera menutup mulutnya dengan kedua tangannya kemudian mempersilahkan sang dokter melanjutkan hasil analisanya.


“Tuan, saat ini keadaan Nyonya seperti orang yang baru. Otaknya seperti selembar kertas putih yang kosong. Tidak ada hal apapun yang akan diingatnya walau kita melakukan sejumlah terapi.”


Selesai melakukan pekerjaannya sang Dokter kemudian pamit pergi.


“Apa yang dikatakan dokter itu? Apakah aku sudah boleh pergi sekarang?” tanya Kasih pada Karina yang berjalan menghampirinya.


Dengan lembut wanita itu mendekap Kasih yang masih bingung. “Kau akan baik-baik saja, Kasih. Syukurlah kau kini telah kembali kepada kami.”


‘Mulai lagi, semua ini sungguh membuatku sangat bingung. Sebenarnya siapa aku? Ah bukan! Siapa Kasih yang mereka maksud itu? Apakah itu benar adalah aku? Tapi, kenapa aku tidak mengingat apapun tentang satupun dari mereka?’


Beberapa saat kemudian Karina sudah harus pulang ia merasa tidak tega meninggalkan Kasih yang baru saja kembali akan tetapi dengan kejamnya Tuan Smith tidak mengijinkan wanita itu menginap di rumahnya dan lagi bukankah kini wanita itu telah menjadi seorang istri dari kekasihnya yang tak lain adalah Tuan Adam.


“Kejam sekali, dia bahkan tidak mengijinkan aku untuk menginap semalam saja meski di rumahnya yang besar ini punya sangat banyak kamar. Dasar pria gila, arogan dan sangat pelit!” omel Karina saat akan memasuki mobilnya.


Kasih terlihat tegang duduk disebuah kursi dihadapan Tuan Smith yang sedang sibuk membaca sesuatu ditangannya.


“Itu, Tuan Smith Alexander yang terhormat.” ‘Kali ini aku tidak boleh membuatnya sampai tersinggung jika dia menagih biaya guci itu, bisa habis aku.’


Tuan Smith melirik sebentar lalu melanjutkan kembali kegiatannya.


“Jika sudah tidak ada urusan aku akan pergi sekarang,” ucap Kasih dengan hati-hati.


Tidak mendapat respon ataupun jawaban atas pertanyaannya Kasih akhirnya memutuskan melangkah dengan sangat pelan dan hati-hati mengendap-endap untuk pergi. Namun saat Kasih sudah berada diambang pintu, tiba-tiba Tuan Smith membanting bacaan ditangannya dengan keras ke atas meja membuat Kasih seketika terlonjak kaget setengah mati.


“Astaga! Kaget aku!” pandangan Kasih beralih melihat kebelakang. Terlihat pria itu sangat menyeramkan dimatanya. ‘Habislah aku, apa pria itu sedang marah?’


“Ayo menikah kembali.”


Kedua iris bola mata milik Kasih membulat sempurna merasa seakan hampir gila dengan pernyataan tiba-tiba pria dihadapannya ini.


“EEHHH????!!!”


 


 


BERSAMBUNG...


 

__ADS_1


 


__ADS_2