
Lantai bawah mansion dimana para pelayan yang sedang sibuk menyiapkan makan malam yang dipimpin oleh Wendy tiba-tiba semua pelayan itu tergelak kaget melihat sang Tuan yang mereka kenal sangat kejam dan tidak berperasaan tengah memanggul seorang gadis yang adalah Nyonya rumah itu sendiri melangkah menuruni tangga.
Nyonya muda yang kepalanya berada terbalik dengan kakinya yang berada diatas hanya bisa berteriak-teriak minta untuk diturunkan. Akan tetapi, sang Tuan tidak terpengaruh sama sekali.
“Hidangkan makan malamnya sekarang!” perintah Tuan Smith yang seketika membuat para pelayan mempercepat gerakan mereka untuk menyiapkan makan malam.
Tepat berada di depan meja makan langkah kaki Tuan Smith berhenti.
“Cepat turunkan aku, kau pria gila yang tidak sopan!” Kasih menggerakkan tubuhnya dengan kuat.
“Tenanglah atau aku akan melemparmu!”
Kasih sontak menutup rapat mulutnya saat mendengar pria yang ia sebut pria gila itu mengatakan akan melempar dirinya. ‘Pria gila ini sungguh keterlaluan sekali! ia tidak sungguh-sungguh akan melemparku, kan?!’
Kasih yang tubuhnya masih terbalik itu menatap sang pria dengan pandangan gusar. “Aduh! Kepalaku pusing sekali. Sepertinya darahku telah menumpuk diotakku hingga membuat kepalaku akan meledak!”
Senyum tipis tercetak diwajah tampan Tuan Smith. ‘Sedang berakting? Benar-benar lucu.’
“Aduh! Kepalaku semakin sakit! Auch!” imbuh Kasih berpura-pura. Sebelah matanya tertutup dan sebelahnya lagi terbuka sedikit mengintip Tuan Smith berharap pria itu akan tergugah hatinya.
“Aku tidak akan menurunkanmu bahkan aku akan melemparmu jika kau tidak berkata jujur padaku.”
“Hah?!”
“Katakan padaku kemana saja kau pergi sepanjang hari ini?”
Gluk!
Kasih meneguk ludahnya dengan susah payah. ‘Gawat! Apa dia mengetahui sesuatu?!’
“Tidak mau bicara?” tanya Tuan Smith menyadarkan Kasih dari pikirannya. “Aku akan hitung sampai 3. Jika kau masih tidak juga membuka mulut, aku akan benar-benar melemparmu!” ancamnya sungguh-sungguh.
Kasih terkejut dan merasa sangat takut tangannya meremas lengan Tuan Smith dengan kencang. “Apa yang ingin kau lakukan?! Melemparku?! Kau sungguh pria gila tak berperasaan!”
“Satu!”
Kasih semakin gelagapan mendengar Tuan Smith yang memulai menghitung.
“Dua!”
“Tunggu!”
“Sudah ingin bicara?”
Kasih diselimuti kebimbangan. Bola matanya bergerak kesana kemari sembari sedikit menggigit bibir bawahnya.
“Baiklah. Kau sepertinya lebih suka babak belur setelah kuhempaskan ke lantai,” ucap Tuan Smith sembari hendak melempar tubuh Kasih. merasa terdesak Kasih dengan cepat membuka suara.
“Aku akan bicara! Aku akan bicara! Kumohon hentikan!”
Tuan Smith menghentikan aksinya menunggu Kasih melanjutkan ucapannya.
“Aku, aku, aaku. Aku pergi dengan Karina. Yah! Tadi aku baru saja pergi dengannya. Aku pergi hingga lupa waktu setelah aku mengunjungi ayah dan ibuku tentunya. Kau tidak perlu terlalu curiga padaku. Aku tidak mungkin berbuat apapun yang membuatmu perlu curiga seperti itu. bukankah aku juga tidak mungkin berani melakukan hal yang tidak-tidak dibelakangmu. Aku masih punya akal sehat dan tidak mungkin melakukan hal yang aneh,” ujar Kasih dengan tatapan meyakinkan.
“Kau tidak berbohong, kan?” tanya Tuan Smith penuh selidik.
“Tentu saja! aku mana berani melakukan hal itu. Sungguh! Percayalah padaku!” imbuhnya berusaha meyakinkan Tuan Smith dengan tatapan memohon.
__ADS_1
Merasa sedikit kasihan melihat gadis itu. Tuan Smith akhirnya menurunkan Kasih dan mendudukkannya diatas kursi disamping kursi miliknya. Tangan Kasih memijit kepalanya yang terasa pusing karena terlalu lama berada diposisi terbalik.
“Aku mengampunimu kali ini. Jika aku sampai mengetahui kau berbohong. Kau akan tau akibatnya,” ucap Tuan Smith mengancam lalu mengambil alat makannya. Kasih melenguh kesal menatap kearah pria dingin itu. “Apalagi yang kau tunggu?” Kasih terkesiap menatap wajah Tuan Smith bingung. Dengan ujung dagunya Tuan Smith menunjuk makanan yang tersaji dihadapan sang gadis memberi isyarat padanya untuk mulai makan.
“Aku tidak lapar.”
“Makan!” kata Tuan Smith dengan penuh tekanan.
“Dasar pemaksa!” gumam Kasih kesal dengan suara pelan sembari tangannya mengambil piring miliknya dan mulai menyendok makanan kedalam mulutnya, mengunyahnya dengan ogah-ogahan. ‘Bagaimana mungkin aku punya selera makan setelah beberapa lama diposisi terbalik itu! kepalaku bahkan terasa sangat pusing sekali.’
Sendok milik Tuan Smith bergerak kesana dan kesini mengambil bermacam daging dari jenis masakan yang berbeda-beda menaruhnya kedalam piring milik Kasih yang sudah setengah. Sebelum sempat protes, Tuan Smith berkata tanpa bisa ditentang. “Makan semua ini atau tidak usah makan selamanya!”
Bibir Kasih manyun kedepan dengan tubuhnya melemas seketika. ‘Makan makanan kali ini sudah seperti menerima hukuman mati saja.’ Potongan daging dipiringnya ditatapnya dengan pandangan lemas sembari sesekali melempar pandangan pada Tuan Smith dengan tatapan memohon tapi pria dingin dengan tatapan tajamnya itu hanya menatap tanpa ekspresi.
Tidak berhasil memohon dengan pandangan ala puppy eyes jurus andalannya Kasih dengan terpaksa menyendok potongan daging yang diambilkan oleh Tuan Smith untuknya hingga semuanya habis tidak bersisa. Tuan Smith yang sedari tadi mengawasi kegiatan makan gadisnya tersenyum puas karena sang gadis sudah menghabiskan semua daging dipiringnya.
“Ugh! Mual sekali,” ucap Kasih mengelus perutnya yang terasa sangat penuh kemudian diselingi beberapa kali suara angin yang keluar dari kerongkongannya. Kasih tercekat. ‘Astaga! Apa aku baru saja bersendawa? Benar-benar memalukan. Aku sudah tidak mengenali diriku sendiri. Sebelumnya aku tidak pernah makan sebanyak ini sebelumnya.’ Buru-buru Kasih mengambil segelas air yang berada disamping piringnya meminumnya dengan cepat.
“Mandilah dan ikut denganku.” Tuan Smith berdiri meninggalkan Kasih yang lagi-lagi tidak sempat protes dan hanya bisa melenguh kesal menatap punggung pria yang selalu membuatnya kesal dan marah.
***
Setengah jam kemudian Tuan Smith yang sudah siap dengan setelan pakaian kasual yang semakin menambah aura tampan yang terpancar dari dirinya tertegun melihat sosok istrinya yang tengah tertidur di sofa empuk yang terletak tak jauh dari ruang makan.
Melangkah mendekat Tuan Smith bersimpuh dihadapkan Kasih menatap lekat wajah tenang gadis itu dan berkata dengan nada pelan. “Ternyata kau cantik juga, ya. Tak kusangka kau bisa terlihat begitu manis saat tertidur seperti ini.”
Tubuh mungil Kasih perlahan terangkat melayang diudara karena diangkat oleh Tuan Smith membawanya masuk ke dalam kamar.
Setelah meletakkan tubuh istrinya keatas kasur, Tuan Smith duduk diujung ranjang disamping tubuh Kasih sembari menatap kedua mata yang masih betah menutup, sangat terlihat jelas gadis itu tengah sangat menikmati tidurnya.
“Gadis kecil, bodoh sepertimu ini ... Punya kekuatan apa sampai membuatku begitu mengkhawatirkan dirimu? Mungkinkah aku seperti itu hanya karena aku merasa bersalah?” Tuan Smith bergumam sendiri pada gadis yang masih saja tidur lelap. Tangan besar nan kokoh miliknya bergerak perlahan mengelus pipi mulus Kasih membuat sang empunya melenguh kecil.
“Haruskah aku melepaskanmu? Aku tidak yakin aku dapat melakukannya. Kurasa aku telah terikat olehmu, gadis kecil.”
Seusai berucap demikian bibir tipis dan seksi Tuan Smith sukses mendarat diatas bibir Kasih yang sama sekali tidak menyadari semua tindakan pria yang sangat dibenci olehnya. Jika sampai ia mengetahuinya pastilah gadis itu akan mengamuki Tuan Smith yang saat ini sedang tersenyum hangat setelah sukses mencium Kasih diam-diam.
“Tidurlah, istriku. Maafkan aku.”
Lampu kamar dimatikan dan seluruh isi kamar menjadi gelap gulita. Diluar jendela tampak bulan dan bintang bersinar begitu indah menyaksikan semua hal yang telah dilakukan oleh pria itu tanpa sepengetahuan sang gadis.
***
__ADS_1
Esoknya Kasih yang tidak tahu menahu perihal apapun yang telah dilakukan oleh Tuan Smith padanya terlihat sedang sibuk menyiapkan semua keperluan suami menyebalkannya dengan telaten seperti biasa. Tangannya yang telah terbiasa setiap pagi melakukan hal yang sama terlihat sangat ahli mempersiapkan semuanya. Mulai dari menyiapkan kopi, setelan pakaian yang akan digunakan oleh Tuan Smith untuk bekerja, sepatu dan juga tas kerja. Kasih tampak seperti seorang istri sungguhan yang sedang melayani suaminya dipagi hari. Akan tetapi, pada kenyataannya Kasih hanya melakukan semuanya semata-mata karena ia menganggap hal itu adalah kewajibannya sebagai seorang pegawai dengan posisi sebagai istri yang terikat kontrak.
“Sempurna.” Kasih menatap puas dengan hasil pekerjaannya. Merasa cukup Kasih melangkahkan kakinya untuk membangunkan sang suami yang terlihat masih nyenyak tertidur diatas ranjang besar milik mereka berdua.
“Hei! Bangunlah! Kau harus pergi bekerja,” ujar Kasih sembari menguncangkan tubuh Tuan Smith.
Tuan Smith membuka matanya perlahan dan menatap Kasih yang sudah berada dihadapannya sedang mencoba membangunkan dirinya.
Sekelebat bayangan ingatan akan semalam dimana dirinya sempat mengecup rasa manis dari bibir milik dari gadis dihadapannya ini terlintas di benaknya. Pria bermarga Alexander yang adalah satu-satunya keturunan resmi yang tersisa itu menampilkan senyum samar diwajahnya.
Melihat Tuan Smith telah membuka matanya Kasih bergegas pergi meninggalkan kamar tanpa disadari oleh pria yang masih asyik membayangkan betapa indahnya momen dimana bibirnya bersentuhan dengan bibir Kasih. Meski mereka berdua telah melakukan hal yang lebih dari itu sebelumnya, akan tetapi saat ini kejadian itu malah terasa lebih berkesan baginya. Tuan Smith merasakan rasa senang yang begitu menggelora dari dalam hatinya seakan siap meledak keluar setiap saat. Puas membayangkan hal-hal manis Tuan Smith mengibaskan selimut dan berjalan menuju kamar mandi di dalam kamar dengan perasaan bahagia. Pagi yang segar dan penuh gairah untuknya.
***
Pintu kamar Bayi Ed terbuka dan Kasih sang ibu dari si bayi memasuki kamar mencari bayi tersayangnya yang tampak masih tertidur di dalam tempat tidur miliknya.
Kain gorden yang terjuntai menutupi jendela yang menghalangi sinar mentari memasuki ruangan kamar disibakkan Kasih dan membiarkan sinar kecemasan itu menyeruak memenuhi ruangan tidur milik bayinya. Dipandanginya bayi tampannya yang tampak tak terganggu sedikitpun dengan tindakannya barusan lalu tersenyum lembut.
‘Bayi kecilku tertidur begitu pulas. Aku jadi tak tega untuk membangunkannya.’
Kasih akhirnya memanggil pengasuh bayinya melalui interkom dikamar itu menyuruh mereka untuk menemuinya di sini sekarang.
“Aku akan pergi sebentar. Aku ingin Bayiku sudah siap saat aku telah selesai menikmati sarapanku karena aku akan membawa Bayiku ikut serta. Bisakah kalian membantumu melakukannya?“ tanya Kasih pada pengasuh Namira dan Dita yang telah datang menemuinya sesuai dengan panggilannya.
“Baik, Nyonya.” Kedua pengasuh itu menuruti Kasih dengan patuh.
“Aku serahkan pada kalian berdua, ya.”
“Baik.”
Kasih meninggalkan kamar dengan kedua pengasuh yang senantiasa siap melayani bayi Ed nya.
‘aku harus pergi mencairkan semua uangku hari ini. Semoga saja uangku cukup.’ Mata Kasih menatap kartu berisi semua uang miliknya meremasnya dengan kuat lalu pergi dari sana.
BERSAMBUNG ...
__ADS_1