
Suasana dapur pagi ini tiba-tiba saja menjadi sangat sibuk semua pelayan dapur terlihat berkumpul di tempat itu menyaksikan Kasih yang sedang mengambil alih.
Para pelayan dapur yang bertugas menyiapkan sarapan pagi hari ini dibuat kebingungan dengan apa yang sedang dilakukan oleh Kasih. Namun begitu tidak ada satupun dari mereka yang berani menolak permintaan dari wanita itu. Mereka semua hanya bisa menurut ketika Kasih menyuruh mereka untuk memasak makanan sesuai dengan arahannya.
“Apa yang sedang dilakukan oleh Nona Kasih? Apa dia sedang ingin membuat ramuan atau apa?” kata seorang pelayan berbisik pada salah seorang temannya.
“Entahlah, lakukan saja tidak usah banyak pertanyaan. Kau tentu tidak ingin terkena masalah nantinya, bukan?”
Kedua pelayan tersebut tidak lagi meneruskan obrolan mereka dan memilih melanjutkan pekerjaan yang sedang mereka kerjakan.
“Tolong tata dengan baik, ya.” Para pelayan membawa hasil masakan ke meja makan. Dirinya terlihat sangat puas dengan apa yang baru saja dikerjakan. ‘Aku harus menjaga kesehatan pria gila itu. Aku tidak ingin anak sekecil Ed harus kehilangan Ayahnya juga. Dengan demikian, akupun tidak harus selamanya berada disini. Hihi.’
“Apa yang sedang terjadi disini? Kenapa hari ini sarapan pagi terlihat agak berbeda?” tanya Ed saat dirinya tiba dimeja makan hendak sarapan.
“Kalian semua sudah bekerja dengan baik. Terima kasih atas bantuannya,” ujar Kasih riang pada para pelayan yang telah membantunya menyiapkan makanan.
“Untuk apa semua itu?” tanya Tuan Smith seraya menarik kursi lalu duduk.
“Semua ini kubuatkan untukmu.”
GLUK!
Seketika Tuan Smith merasa agak kesulitan menelan salivanya sendiri. Rasa minuman yang dibuatkan Kasih kemarin saja belum juga hilang bahkan Tuan Smith seolah masih bisa mencium aroma khas dari minuman yang kata Kasih itu adalah minuman berkhasiat yang dibuatnya berdasarkan resep yang didapatnya dari sebuah laman internet.
“Hari ini aku membuat lebih banyak minuman untuk kau bawa ke kantor,” ucap Kasih seraya menyendokkan nasi kedalam piring Tuan Smith. Wajah pria itu seketika pucat pasi. ‘What the hell?! Meminum minuman itu segelas saja sudah membuatku bolak balik kamar mandi karena sakit perut. Dan sekarang, dia ingin aku menghabiskan minuman itu sebanyak ini?’ Diliriknya minuman buatan Kasih itu dengan tatapan ngeri.
“Kasih, sepertinya aku merasa sangat sehat sekarang. Bisakah aku tidak meminum minuman ini?”
“Kenapa?” tanya Kasih ekspresinya tiba-tiba berubah menjadi sedih. “Apakah minuman itu tidak terasa enak?”
‘Bukan tidak enak lagi, tapi rasanya seperti meminum ramuan sihir.’
Tuan Smith menjadi serba salah melihat Kasih yang menjadi sedih seperti itu. Dilayangkannya pandangannya pada Ed yang sedang duduk disebelahnya seolah meminta bantuan namun bocah itu hanya mengangkat bahunya acuh tak ingin peduli. Lalu mengalihkan pandangannya lagi pada John berharap pria tua yang telah mengabdi selama bertahun-tahun padanya itu dapat membantu dirinya saat ini. Namun hasilnya sama saja. John juga tidak dapat membantunya sama sekali. Pria tua yang tidak akan diragukan lagi kesetiaannya pada keluarga Alexander itu hanya bisa nyengir tak berdaya. ‘Maafkan saya, Tuan. Kali ini saya sungguh tidak dapat menolong anda.’
‘Sialan! Apakah ini adalah akhirnya?’
Sambil tersenyum ala kadarnya Tuan Smith mengangkat gelas mengarahkannya pada mulutnya dengan perlahan sementara Kasih terus mengawasi dirinya dengan senyum riang terukir diwajahnya.
“Selamat pagi!”
Kehadiran Tuan Adam dan Karina tiba-tiba menginterupsi sejenak perhatian Kasih menjadi sedikit teralihkan sejurus kemudian Tuan Smith mengambil kesempatan itu untuk dengan cepat menyerahkan gelas minumannya pada John lalu dengan sigap menukarnya dengan gelas kosong.
“Oh? Kau menghabiskannya dengan cepat. Apakah minuman itu selezat itu? Jika kau sungguh menyukainya mungkin kau harus meminumnya segelas lagi ....”
“Tidak, tidak perlu. Aku sudah merasa sangat segar dengan segelas minuman itu. Ayo cepat mulai sarapannya kita harus berangkat ke kantor.”
“Ya, kau benar. Kalian berdua apakah ingin ikut sarapan bersama?” tanya Kasih menoleh pada Tuan Adam dan Karina.
Keduanya saling memandang satu sama lain kemudian berkata dengan kompak. “Boleh juga.”
Hoek!
“Astaga! Aku merasa kepalaku sangat pusing sekarang. Bagaimana bisa ada minuman semengerikan itu. Benar-benar membuat perutku seperti sedang dihantam badai sekarang. Hoek!” tutur Karina memuntahkan isi perutnya ke dalam toilet sedangkan di sebelahnya sang suami kondisinya tidak jauh berbeda dengan Karina yang terus saja muntah.
“Sepertinya kita datang disaat yang benar-benar tidak tepat sayang. Kakakku itu sungguh keterlaluan bisa-bisanya dia membiarkan kita memakan makanan yang dibuat oleh istrinya.”
“Itu bukanlah makanan sayang melainkan racun. Aku tidak akan sanggup untuk memakannya lagi.”
“Kakak, kau sungguh keterlaluan. Bagaimana bisa kau membiarkan kami memakan racun di depanmu seperti itu terlebih lagi aku ini adikmu!” protes Tuan Adam pada pria yang sedang duduk santai dihadapannya itu.
“itu bukanlah salahku. Salahkan dirimu yang datang disaat yang tidak tepat,’ ucap Tuan Smith enteng.
“Kau ini sungguh kejam sekali.” Tuan Adam menggerutu sambil memasang wajah cemberutnya. “Tapi, ngomong-ngomong kenapa Kasih bisa mendadak begitu? Ia bersikap sangat aneh untuk apa membuat minuman mengerikan seperti itu bukankah kita bisa membeli minuman herbal instan?”
“Ia mengkhawatirkan diriku.”
“Eh?”
Tuan Smith kemudian menceritakan soal dirinya yang menyuruh Wendy untuk bersandiwara didepan Kasih soal ibu Ed yang telah meninggal.
“Sungguh? Kau mengarang cerita seperti itu?” seru Tuan Adam tak percaya. Tuan Smith hanya mengangguk pelan. “Wah! Kau benar-benar! Lalu itukah sebabnya Kasih sampai membuatkanmu minuman mengerikan itu agar supaya kau berumur panjang?” Tuan Smith mengangguk sekali lagi menjawab rentetan pertanyaan dari sang adik.
“Aku sangat yakin sebenarnya ia juga mencemaskanku di dalam hatinya hanya tidak menunjukkannya saja,” ucap Tuan Smith percaya diri.
“Kau yakin? Kurasa tidak seperti itu. Sepertinya Kasih hanya takut kau akan segera meninggal dan meninggalkan Ed sendirian dengan begitu ia tidak harus mengasuh Ed selamanya setelah kau tiada,” ujar Tuan Adam dengan polosnya ia tak menyadari tatapan Tuan Smith yang seolah siap mencabik habis dirinya.
“Kau ingin mati?!”
Seketika itu juga Tuan Adam nyalinya langsung menciut perlahan dirinya mengambil langkah mundur lalu berlari dengan secepat kilat.
“Ck! Menyebalkan!” rutuk Tuan Smith kesal setelah melihat Tuan Adam menghilang dibalik pintu.
***
“Aku ingin memesan yang ini dan itu juga. Terima kasih,” kata Kasih sembari menunjuk pesanannya.
“Baik. Silahkan menunggu, Nona.”
Usai memesan Kasih kemudian duduk disalah satu kursi yang disediakan sambil menunggu pesanannya datang.
“Kasih?”
Kasih menoleh melihat siapa yang sedang memanggil dirinya.
“Nona Melinda.”
__ADS_1
“Kau akan memesan?”
“Tidak, aku sudah memesan.”
“Bolehkah?” tanya Melinda meminta ijin duduk semeja dengan Kasih. Wanita itu mengangguk semangat.
“Pesanan anda, Nona.” Pelayan datang membawa pesanan Kasih.
“Terima kasih,” ucap Kasih seraya menyambut pesanannya. “Oh, ya, apa kau juga ingin memesan sesuatu?”
“Tidak, terima kasih.”
Melinda terus memperhatikan Kasih yang sedang asyik menikmati makanan dan minuman yang tadi dipesannya. “Ada apa? kenapa melihatku seperti itu?”
“Oh, maafkan aku, sebenarnya ada yang ingin aku tanyakan padamu.”
“Hm? Apa?”
“Itu … apakah kau dan Tuan Smith memiliki sebuah hubungan?”
“Hubungan seperti apa yang kau maksud?” tanya Kasih sedikit canggung karena pertanyaan Melinda. Sekilas bayangan soal Tuan Smith yang telah mencium dirinya sebanyak tiga kali muncul dibenaknya akan tetapi segera ditepis olehnya. ‘Tidak! Tidak! Pasti bukan hubungan yang seperti itu.’
‘Hubungan spesial tentu saja. Dasar bodoh!’ rutuk Melinda dalam hati. “Maksudku … hubungan antara wanita dan pria dewasa.”
Gluk!
Kasih menahan nafasnya dalam-dalam. ‘Kumohon jangan menanyakan apapun.’
“Apa kau dan Tuan Smith memiliki semacam perasaan khusus?” tanyanya semakin diliputi rasa ingin tahu.
“Haha… itu tidak seperti yang anda pikirkan, Nona. Aku dan tuan Smith tidak ada hubungan spesial apapun aku bisa menjamin itu!”
“Benarkah?”
“Sungguh. Ah! kelihatannya aku sudah harus kembali,” kata Kasih menepis rasa canggung yang meliputi dirinya.
“Menurutmu … bagaimana jika aku memiliki perasaan khusus itu?” Melinda bertanya saat Kasih sudah akan beranjak pergi akan tetapi pertanyaan itu seketika membuat Kasih menghentikan langkahnya. “Kau tidak akan keberatan, kan?”
“Ah? tentu saja. Kenapa juga harus keberatan. Aku ini kan tidak ada hubungannya dengannya.”
“Sungguhkah? Kalau begitu kau akan mendukungku?” tanya Melinda pada Kasih.
“Yya, bisa dibilang begitu.”
***
“Menyukai pria gila itu?” ucap Kasih berujar sendiri sambil mengingat pembicaraannya dengan Melinda. “Huh! Itu sangat tidak mungkin yang benar saja. Dan juga kalau dia menyukai pria gila itu memangnya apa hubungannya denganku? Ah! benar juga. Jika nona Melinda menyukainya bagaimana kalau ….” Wanita itu tampak terpikirkan sesuatu mendadak dibenaknya muncul sebuah balon ide yang menurutnya sangat cemerlang. Jemarinya dengan lincah mulai mengetikkan sesuatu diponselnya lalu bersiap menekan tombol kirim. “Setelah ini Ed akan segera memiliki seorang ibu. Aku sungguh telah melakukan sebuah perbuatan yang mulia bocah dingin itu pasti akan sangat berterima kasih padaku.” Memikirkan ide itu membuat Kasih merasa sangat senang dan bangga pada dirinya sendiri.
AKU INGIN KITA BERKEMAH UNTUK MERAYAKAN ULANG TAHUN ED, BAGAIMANA MENURUTMU?
Tuan Smith membaca pesan yang dikirimkan oleh Kasih padanya. Berkemah? Tuan Smith sama sekali tidak pernah melakukan hal tersebut selama hidupnya bahkan memikirkannyapun tidak. Tidur hanya beralaskan kasur lipat sederhana dan berada didalam tenda sempit membuatnya bertanya-tanya apa yang ada di dalam isi kepala si wanitanya itu.
AYOLAH, LAKUKAN DEMI ANAKMU.
“Demi anak kita. Bagaimana bisa Ed hanya menjadi anakku. Dia anakmu juga, Kasih.”
BAIKLAH.
“Dia menyetujuinya.” Kasih merasa girang setelah mendapat persetujuan dari Tuan Smith. “Aku akhirnya mendapatkan jawaban mengapa pria gila itu selalu menganggu dan menggodaku semuanya pasti karena dia melihat wajahku sangat mirip dengan mendiang istrinya. Kasihan sekali. Maka dari itu aku akan berbaik hati membantunya menemukan seorang wanita yang bisa menggantikan istrinya dengan begitu Ed akan mendapatkan kasih sayang ibunya dan mungkin saja bocah tengil itu akan berhenti bersikap dingin setelahnya. Siapa yang tahu.”
***
Ed Alexander berlari kencang menghambur dalam pelukan seorang wanita setengah baya yang mana wanita itu adalah neneknya. Ed sangat menyayangi Nenek dan kedua bibinya terkadang ia akan menelpon mereka dan menyuruh mereka untuk datang berkunjung ke mansion untuk menemani dirinya bermain. Sang nenek juga sangat menyayangi cucu semata wayangnya itu terlebih saat ia mendapat kabar Kasih menghilang tanpa kabar apakah putrinya itu masih hidup ataukah sudah tiada. Satu-satunya kebahagiaan yang ditinggalkan sang putri untuknya agar dirinya dapat bertahan melawan deraan penderitaan yang silih berganti adalah Ed, cucunya. Belum lagi setelah mendapat kabar putri sulungnya menghilang ayah Kasih tiba-tiba jatuh sakit hingga meninggal dunia hal itu menjadi pukulan terberat bagi seluruh anggota keluarga Avisha.
Nenek Kasih yang kini tidak dapat berbuat seenaknya seperti dahulu hanya bisa mengutuki ibu Kasih karena menganggap Ibu Kasih sebagai penyebab semua kekacauan yang terjadi. Api kebencian Nenek Kasih tidak pernah padam sekalipun dirinya telah kehilangan segalanya bahkan kehilangan putranya juga tidak mengubah sikapnya sama sekali.
“Nenek, ayo bermain denganku. Bibi juga ikutlah denganku,” ajak Ed menarik tangan Nenek dan bibinya Alysa yang saat itu menemani Ibunya kesana.
“Baiklah. Nenek akan menemanimu bermain sampai kau puas. Ayo.”
Merekapun memasuki ruang khusus yang biasa digunakan Ed untuk bermain karena semua mainannya diletakkan disana.
“Silahkan bermain, saya akan menyuruh para pelayan menyiapkan kudapan untuk dibawa kesini.” John membungkuk hormat setelah mendapat anggukan setuju dari Ibu Kasih.
“Aku punya segala jenis mainan yang terbaru disini. Kita akan mencoba yang mana dulu?” Ed terlihat sangat antusias tiap kali bermain bersama Nenek dan bibinya.
“Kita akan memainkan semuanya secara perlahan, Nak. Tapi sebelumnya Nenek ingin bertemu seseorang.”
“Siapa?”
Ed mengintip dari ambang pintu sebelum sesaat kemudian pintu itu menutup rapat. “Untuk apa nenekku berbicara dengannya?” Ed tampak bingung melihat sang nenek yang mendadak meminta bertemu dengan Kasih.
“Nenek, salam kenal. Saya adalah Kasih.” Kasih memperkenalkan dirinya. Nenek Ed tak dapat berkata apapun semua kata-katanya seakan tertahan ditenggorokannya bibirnya kelu dan tubuhnya membeku ditempat menatap wanita yang berada dihadapannya. Wajah Kasih bertahun-tahun lalu dengan sekarang tidak banyak berubah hanya sedikit terlihat lebih dewasa dari sebelumnya.
“Aku adalah pengasuh dari Ed Alexander, anda adalah .… “
“Ibunya Kasih,” potong Ibu Kasih membuat Kasih tersentak kaget.
“Maksud anda?”
“Ibu Ed Alexander bernama Kasih.”
“Ah!” Kasih mengangguk mengerti. “Kenapa namanya juga sama denganku, benar-benar kebetulan sekali .… “
“Kasih …. “
__ADS_1
“Ya?”
“Itu namamu?”
“Benar, Nenek. Namaku Kasih.” Kasih memasang senyum manisnya.
Ibu Kasih tidak kuasa menahan airmatanya yang menggenang dipelupuk matanya. Ia menangis terisak dihadapan Kasih.
“Nenek ada apa? Kenapa anda tiba-tiba menangis?” tanya Kasih khawatir.
“Tidak, hanya saja saat melihat wajahmu aku langsung teringat pada putriku.”
‘Benar juga, tidak hanya rupaku saja bahkan namaku juga sama dengannya. Tidak heran jika Nenek Ed sampai menangis seperti itu.’
“Anda baik-baik saja? Aku turut prihatin dengan yang terjadi dengan putri anda dan anda berhak untuk bersedih.”
“Bolehkah?” tanya Ibu Kasih meminta ijin sembari tangannya terulur hendak menyentuh wajah Kasih melihat hal itu Kasih seketika mengangguk mempersilahkan. Perlahan tangan Ibu Kasih mengelus pipi Kasih merasakan kulit putrinya yang telah lama menghilang dirinya sangat merindukan putrinya itu hingga airmata kembali mengalir membasahi kedua pipinya.
Kasih meraih tangan wanita yang sebenarnya adalah Ibu kandungnya itu menggenggamnya dengan lembut dan berkata, “Jika anda merindukan putri anda silahkan datang dan menemuiku, Nenek. Aku sama sekali tidak keberatan untuk itu.”
Ibu Kasih terisak mendengar perkataan Kasih. ‘Anakku, malang sekali nasibmu, Nak. Maafkan ibu yang tidak bisa melindungimu dengan baik. Kau pasti sangat menderita.’
Ibu Kasih tersenyum lalu menepuk tangan Kasih yang sedang menggenggam tangannya. “Terima kasih.”
“Jangan sungkan,” kata Kasih tersenyum lembut.
“Ed, bersikap baiklah pada Kasih. Nenek akan kembali lagi mengunjungimu lain waktu.” Nenek Ed memberi pesan pada cucunya itu sambil memeluknya hangat.
“Aku akan menunggu kabar dari Nenek, tapi kenapa aku harus baik padanya? Bahkan Ayah juga menyuruhku begitu. Benar-benar menyebalkan!” sungut Ed kesal menampilkan raut wajahnya yang sedang manyun terlihat sangat menggemaskan sekali.
Nenek Ed tersenyum lembut mengelus pelan pucuk kepala Ed penuh kasih sayang. ‘Tuan Smith sudah mengetahui bahwa dia adalah Kasih, tapi ia sendiri tidak bisa memberitahu anaknya bahwa Kasih adalah ibu kandungnya. Betapa kejamnya takdir mempermainkan hidup kalian.’
“Kau adalah cucu kesayangan wanita tua ini, tentu saja harus bersikap baik pada siapapun. Hum?” kata sang Nenek melirik Ed menggodanya.
“Ck! Baiklah. Baiklah. Aku akan bersikap baik padanya sesekali,” kata Ed luluh dengan nada malas.
Ibu Kasih itu hanya bisa menghela nafasnya lalu melempar pandangannya menatap Kasih yang kemudian tersenyum sopan padanya. Ibu dan anak yang telah lama berpisah harusnya saling memeluk melepas kerinduan yang telah lama terpendam bagaimana bisa hubungan itu kini terasa begitu asing. Ia hanya bisa menangis sedih bersamaan dengan laju mobil yang membawanya meninggalkan kediaman keluarga Alexander.
Kasih tidak bisa memejamkan matanya pikirannya sedang berkelana kesana kemari. “Susah juga memliki wajah yang mirip dengan orang lain. Terlebih aku tinggal di rumah orang itu. Jika ingin pergi aku juga tidak tau harus pergi kemana tidak ada seorangpun yang kukenal. Hais! Benar-benar serba salah aku merasa sangat tidak nyaman.”
Tring!
Kasih melirik ponselnya sebuah pesan dari nomer tidak dikenal. “Siapa ini?”
KASIH, INI AKU. REY.
“Pria itu mengiirm pesan padaku.”
Seketika Kasih merasa sangat bersemangat membalas pesan dari orang yang belum lama berkenalan dengannya itu.
TERNYATA KAU, AKU AKAN MENYIMPAN NOMERMU.
YA. APA KAU SUDAH AKAN TIDUR?
TIDAK.
BISAKAH KITA BERTEMU? AKU INGIN MEMBERIKAN BUKU INI PADAMU
“Dia mengajakku bertemu.” Kasih terkekeh merasa bahagia.
TENTU.
AKU AKAN MENGIRIMKAN ALAMATNYA PADAMU.
“Wanita bodoh yang mudah ditipu.” Max Julian muncul kemudian berjalan mendekati pria yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan Rey itu. “Tidak sia-sia aku mengirimmu untuk menarik perhatian wanita itu. Ternyata kekuatan cinta pertama wanita itu begitu kuat bahkan setelah semua ini dia masih saja mencintai pria yang sudah mati. Sepertinya Tuan Smith tidak mampu menghapus pria itu dari hatinya.”
FLASHBACK ON
Kasih berjalan sembari tidak berhenti mengomel tentang Tuan Smith yang selalu sukses membuatnya kesal setengah mati. Seperti pagi tadi pria itu tiba-tiba saja menyuruhnya atau lebih tepatnya memaksa untuk mengenakan setelan pakaian yang dipilihkan Tuan Smith untuknya. Kasih sudah berulang kali menolak hal itu akan tetapi selalu saja pria itu akan mengancam dirinya dengan berbagai hal agar membuat wanita itu tunduk pada kata-katanya.
“Pria gila menyebalkan itu aku ingin sekali memasaknya dalam panci mendidih hingga seluruh tubuhnya menjadi lunak agar aku bisa memasukkannya kedalam toples. Astaga! Apa aku baru saja berpikir seperti seorang psikopat? Ah! Bisa gila aku jika terus berada disekitar pria gila itu. Terlebih lagi, bagaimana bisa dia dengan seenaknya menciumku! Itu benar-benar gila dan memalukan! Apa dia cabul atau apa aku tidak habis pikir dengannya.”
Lamunan Kasih terus saja melambung bersamaan dengan luapan kekesalan yang terus saja meluncur dari bibirnya. Ia tidak lagi memperhatikan langkahnya dan tidak sengaja mengambil buku yang ternyata buku itu juga sedang ditarik oleh seseorang diseberang rak buku tersebut. Alhasil terjadilah saling tarik menarik buku di perpustakaan itu.
“Maafkan aku, kupikir kau lebih membutuhkan buku itu, silahkan ambillah,” kata pria itu mengalah melepaskan buku yang juga diinginkan oleh Kasih.
“Tidak. Tidak bisa begitu. Aku bisa membacanya lain waktu kau boleh mengambilnya lebih dulu,” Kasih menolak dengan cepat merasa tidak enak dengan pria itu.
“Begitukah?” kata pria itu sambil tersenyum ramah. “Kalau begitu bagaimana jika kau memberiku nomermu, Nona.” Seketika kedua manik bening Kasih membesar menatap pria itu hendak protes akan tetapi sejurus kemudian pria itu dengan cepat menjelaskan maksud perkataannya. “Jangan berpikir negatif dulu, aku tidak punya maksud lain padamu, Nona. Hanya saja jika aku sudah selesai membaca buku ini aku bisa segera memberitahumu.”
Kasih tertawa kemudian mengeluarkan buku kecil dan pulpen untuk menulis nomer ponselnya dan memberikan pada pria dihadapannya.
“Kasih. Nama yang cantik,” puji pria itu saat melihat catatan yang diberikan oleh Kasih padanya. “Perkenalkan, namaku Rey.”
Keduanya bersalaman saling memperkenalkan diri lalu kemudian perkenalan itu berlanjut dengan bercengkrama di kafe tidak jauh dari perpustakaan. Tidak butuh waktu lama keduanya langsung menjadi akrab karena masing-masing sangat menyukai buku novel.
“Terima kasih untuk traktirannya. Lain kali aku yang traktir,” ujar Kasih setelah mereka bercengkrama cukup lama. Suasananya cukup akrab dan menyenangkan baginya membuat ia merasa bisa cepat menerima orang yang mengaku bernama Rey itu sebagai teman.
“Tidak perlu sungkan begitu. Aku akan membaca buku ini secepatnya dan mengabarimu, okay?”
“Santai saja. Tidak perlu buru-buru aku punya banyak buku yang lain dan bisa membaca buku-buku itu selagi kau membaca.”
“Baiklah, sampai jumpa lagi.”
Kasih tersenyum manis
__ADS_1
FLASHBACK OFF
BERSAMBUNG…