
“apa?!” tuan Adam tersentak kaget “Kakak sudah tau kau adalah pacarku?” tanya tuan Adam menatap Karina yang sedang galau. Ia tidak tau harus melakukan apa karena rahasianya sudah diketahui oleh tuan Smith dan hal itu dijadikan senjata untuk membuatnya tunduk pada perintahnya.
“jika Kasih sampai mengetahuinya, habislah aku!” Karina berteriak frustasi “aku tidak ingin kehilangan sahabatku, Kasih. Apapun yang terjadi kau harus membantuku menjaga rahasia ini agar Kasih tidak mengetahuinya”
Tuan Adam menatap wajah kekasihnya itu dengan pandangan heran “Kakakku itu memang sungguh hebat!”
Karina menatap tajam kearah tuan Adam kekasihnya itu. “kau masih berani memujinya? Ini semua karena kesalahanmu! Kau benar-benar... Haiss!!! Aku kehabisan kata-kata denganmu”
“kau jangan marah lagi, sayang... semua ini mungkin sudah takdir. Bukan aku yang menjebak sahabatmu itu. Semua itu berkat kebodohan pegawai Bar. Aku akan mengurus semuanya. Kau tidak perlu cemas” tuan Adam mencoba menenangkan sang kekasih yang terlihat gelisah.
“kau sungguh menyebalkan!” Karina memukul dada tuan Adam pelan. Tuan Adam menerima pukulan kekasihnya itu dengan pasrah.
“baiklah, maafkan aku”
***
Mobil tuan Smith berhenti disebuah gedung yang sangat tinggi nan megah. Gedung itu adalah merupakan perusahaan keluarga Alexander. Kasih menengadah dan takjub dengan kemegahan gedung itu.
‘gedung yang sangat tinggi. Keluarga Alexander sungguh mengerikan. Lihatlah betapa besar gedung ini, aku tidak bisa menebak ada berapa jumlah karyawan yang bekerja di dalamnya. Benar-benar membuatku merinding’
Tuan Smith membukakan pintu untuk Kasih dan segera menyuruhnya untuk turun. Ketika akan masuk mereka disambut dengan para petinggi dari perusahaan itu yang dengan sigap membungkuk memberi hormat untuk menyambut kedatangan tuan Smith dan Kasih. Kasih sedikit merasa risih karena melihat begitu banyak pasang mata yang menatapnya.
‘sungguh menyebalkan! Tidak bilang padaku akan pergi ke perusahaan, aku sedang tidak memakai pakaian yang layak, sungguh memalukan!’
Kasih menunduk menatap sandal rumah yang ia kenakan. Karena ditarik paksa oleh tuan Smith ia tidak sempat untuk mempersiapkan dirinya. Bukankah ia hendak beristirahat? Sekarang ia malah berada di tengah-tengah para karyawan yang sedang menatapnya.
setelah berbicara sedikit dengan para petinggi dan orang kepercayaannya, tuan Smith membawa Kasih menaiki lift khusus yang terhubung langsung keruangan presdir. Beberapa orang mulai membicarakan kedatangan tuan Smith yang tiba-tiba serta membawa gadis muda yang sedang hamil berpakaian santai ke perusahaan. Bisa mereka pastikan bahwa gadis yang mereka maksud adalah istri dari sang bos. Beberapa wanita merasa iri dan mulai bergosip ria. Seorang wanita cantik bernama Melinda yang sedang berjalan tidak sengaja mendengar gosip mereka. Ia menghentikan langkahnya dan mendengar dengan seksama dan bersembunyi dibalik tembok. Melinda adalah kepala sekertaris perusahaan besar milik keluarga Alexander dan ia diam-diam menyukai tuan Smith, ia sangat mendambakan posisi sebagai nyonya Alexander. Namun sepertinya ia harus menelan pil pahit karena kenyataannya sekarang tuan Smith malah menjadikan seorang gadis yang bahkan belum lulus sekolah sebagai istrinya dan menempati posisi sebagai nyonya Alexander.
“apa kau melihat gadis yang sedang hamil yang bersama Bos kita tadi?” kata salah seorang wanita mulai berbicara setelah suasana yang tegang karena menyambut kedatangan sang Bos yang tiba-tiba. Tentu saja tidak ada yang berani berkata-kata saat sang Bos sedang berada disitu. Semua orang akan tertunduk dan menutup mulut mereka rapat-rapat.
Para wanita yang ada disitu mulai tertarik dan mendengarkan. Mereka sangat paham sang Bos sangat jarang pergi ke perusahaan jika tidak ada hal yang penting. Tuan Smith hanya akan memerintahkan orang-orang kepercayaannya dan mengawasi dari mansion. Jika tidak hal yang mendesak maka ia tidak akan pergi ke perusahaan.
“bukankah ia sangat...biasa?” tanyanya kemudian dengan menekankan kata terakhirnya
“kau benar, dan ia juga terlihat masih sangat muda”
“apa yang terjadi dengan Bos kita? Mengapa menjadikan seorang gadis kecil itu sebagai istrinya?”
“lihatlah pakaian yang ia kenakan, sungguh tidak pantas!”
__ADS_1
“bukankah nona Melinda lebih pantas untuk Bos kita? Ia sangat cantik dan juga pintar, sangat pantas untuk bersanding dengan Bos kita”
“ya, kau benar.”
Melinda yang berdiri tidak jauh dari kerumunan karyawan wanita yang tengah bergosip ria itu hanya diam dan mendengarkan pembicaraan mereka.
‘Heh! seorang gadis kecil ingin bersaing denganku, tunggu dan lihat saja, berapa lama kau akan bertahan disisi tuan Smith. Posisi sebagai nyonya Alexander adalah milikku, gadis kecil sepertimu sungguh tidak pantas menempati posisi itu’
Melinda menjatuhkan sebuah pensil kelantai dan menginjak pensil itu hingga patah. Dengan tatapan tajam dan mengerikan ia pergi meninggalkan tempat itu.
***
Di dalam ruang kerja milik tuan Smith. Kasih menatap tidak percaya dengan ruangan yang begitu besar dan megah itu. Ada begitu banyak buku yang tersusun rapi dirak-rak yang menempel di dindingnya. Sofa tamu yang nyaman, dan juga jendela kaca yang sangat besar menampilkan pemandangan kota dari lantai tertinggi gedung. Belum lagi berbagai hiasan patung dan lukisan yang menghiasi ruangan itu.Mata Kasih tertuju pada kursi kebesaran milik tuan Smith yang terlihat sangat megah, dan ada ruangan lain di dalam ruangan itu. Ruangan itu adalah sebuah kamar untuk tuan Smith beristirahat. Dan luar biasanya di kamar yang ada di ruang kerja itu cukup lengkap. Fasilitasnya terdiri dari ranjang queen size, meja, lemari dan kursi sofa. Di dalam kamar juga ada kamar mandi.
“ruanganmu cukup lengkap, kenapa tidak sekalian memindahkan mansion kemari?” cibir Kasih menyindir tuan Smith yang sedang duduk dengan berpangku kaki dikursi kebesarannya. Kursi berwarna hitam dan ada sedikit aksen keemasannya itu lebih mirip dengan kursi seorang raja.
‘sungguh berlebihan sekali’ begitulah komentar Kasih saat ia melihat kursi kebesaran tuan Smith yang ia gunakan untuk bekerja di dalam ruang kerjanya.
“aish! Terserah kau saja!” kata Kasih acuh. Ia lalu duduk di kursi sofa yang terletak tidak jauh di depan meja kerja tuan Smith
“Ah! Aku hampir saja lupa, apa kau membawaku kemari hanya untuk wisata kantormu saja?” tanya Kasih kemudian
Tuan Smith terkekeh “kita belum lama kembali dari pulau pribadi, apakah kau sudah ingin pergi wisata lagi?” tanya tuan Smith berpura-pura tidak mengerti dengan maksud pertanyaan Kasih.
“tidak. siapa yang ingin pergi wisata?”
“kau” tunjuk tuan Smith pada Kasih
“aku? Aku tidak... kau sedang bersilat lidah lagi denganku?” celetuk Kasih dengan nada suara naik satu oktaf saat menyadari ia sedang dipermainkan oleh pria tampan itu.
Tuan Smith lalu mengambil sesuatu dari dalam laci mejanya dan meletakkannya diatas meja lalu menyuruh Kasih untuk mengambilnya.
Kasih menatap kotak itu dengan pandangan heran “apa.. ini?” tanya Kasih sembari melemparkan pandangannya pada tuan Smith
“Bukalah!” perintahnya
Setelah membuka kotak berwarna hitam itu Kasih begitu terkejut dengan isinya.
“sebuah kalung?” Kasih menatap tuan Smith meminta penjelasan. “mengapa memberiku sebuah kalung?” tanyanya heran
__ADS_1
“simpan itu baik-baik. Jika kau sampai menghilangkannya aku akan membuat perhitungan denganmu” katanya memberi peringatan
“kalung ini cukup mewah bagiku, aku tidak cocok memakainya” kata Kasih memperhatikan berapa banyak berlian serta batu berharga yang tersemat di kalung itu. ‘kalung ini jelas sangat berharga dan mahal, untuk apa memberikan padaku?’
Tanpa Kasih sadari ternyata tuan Smith sudah berdiri didepannya dan meraih kalung itu dan memasangkannya pada lehernya.
“kalung ini adalah warisan turun-temurun keluarga Alexander, setiap nyonya Alexander akan diberikan kalung ini. Jika kau berani menghilangkannya. Habislah kau!”tutur tuan Smith menjelaskan
Kasih luar biasa tercengang dibuatnya ‘untuk apa memberiku harta berharga ini? bagaimana jika aku sampai menghilangkannya? Apakah nyawaku juga akan dicabut? Sungguh menakutkan sekali’
“aku tidak memerlukan barang ini, aku tidak terbiasa memakai barang yang terlalu berlebihan” ucap Kasih memberi alasan
“kau harus memakainya saat pergi bersamaku nanti malam” tuan Smith berdiri menatap wajah Kasih. jarak mereka begitu dekat, Kasih sedikit merasa terganggu dengan situasi yang ada.
“terserah kau saja” tersadar, Kasih sontak mendorong tubuh tuan Smith menjaga jarak darinya. “jika sudah tidak ada urusan lagi, aku ingin pulang dan beristirahat” katanya berusaha mencairkan suasana canggung yang sempat tercipta.
“tidak perlu terburu-buru, jika kau sungguh ingin beristirahat kau bisa menggunakan kamar itu”
“aku tidak mau, aku ingin pulang. Segera!”
“kau sungguh keras kepala” tuan Smith menarik tangan Kasih lalu membawanya masuk ke dalam kamar istirahatnya. Meski sempat memberontak, namun dengan perbandingan kekuatan yang jauh berbeda tentu saja pada akhirnya lagi-lagi Kasih harus pasrah diseret oleh tuan Smith.
“kau bisa gunakan ruangan ini untuk beristirahat sepuasmu, tunggu aku selesai dengan urusanku, aku akan membawamu pulang bersama”
“tapi..”
“aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu, jika kau masih bersikeras, bagaimana jika aku ikut bergabung denganmu....” ucap tuan Smith menggoda Kasih yang sontak membulatkannya matanya menatap tuan Smith ‘apa yang ingin kau lakukan?’
Tuan Smith terkekeh melihat ekspresi Kasih yang terlihat sangat lucu baginya. ‘betapa polosnya gadis bodoh ini, aku sampai tidak bisa membedakan ia bodoh atau hanya polos. Sungguh lucu’ Dalam hati tuan Smith merasa senang bisa menggoda gadis itu.
“bagaimana?” tuan Smith mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Kasih. Sontak hal itu membuat Kasih semakin terkejut dibuatnya. Tubuh tuan Smith yang lebih tinggi dari dirinya terlihat seperti seekor serigala yang siap menerkam kelinci kecil yang akan menjadi mangsanya.
“jika kau sungguh ingin aku menemanimu tidur...maka aku...”
“tidak. Aku tidak membutuhkanmu disini. Sana! Keluar dari sini” Kasih segera mendorong tuan Smith keluar dari kamar itu dan menutup pintunya dengan cepat.
“lihatlah wajah malu-malunya itu. Sungguh mengemaskan” kata tuan Smith menatap pintu kamar yang dibaliknya ada Kasih yang sedang bingung dengan perlakuan tuan Smith padanya.
“sebenarnya apa yang sedang direncanakan pria gila itu, mengapa mendadak memainkan peran seperti seorang pangeran yang sedang menggoda sang putri? Benar-benar tidak bisa dipercaya. Aku bahkan sempat berpikir melihat pria gila itu sebagai seorang pangeran tadi. Tidak. tidak. ia tidak cocok menjadi seorang pangeran, ia lebih cocok menjadi seorang raja. Raja yang menyebalkan. Haha” Kasih tertawa dengan apa yang ia pikirkan tentang tuan Smith.
BERSAMBUNG...
__ADS_1