
“Sungguh?!” ujar Kasih dengan tatapan tidak percaya. “Aku tidak percaya jika kau sungguh berumur tak jauh dariku. Tadinya aku berpikir kau ....”
“Cukup tua?” potong Dan menebak dengan tepat.
Kasih terkekeh menanggapi. “Wajahmu sungguh tidak menggambarkan usiamu yang sesungguhnya. Aku ingin mendengar cerita mengenai dirimu, Dan. Bisakah kau menceritakannya padaku? Aku tentu harus mengenal siapa yang menjadi malaikat pelindungku.”
“Tidak ada yang menarik tentang diriku, Nyonya. Aku hanyalah seorang yatim piatu yang kebetulan bekerja sebagai salah satu pengawal di mansion ini,” ujar Dan menjelaskan.
“Ah! Begitukah? Aku hanya sedikit penasaran apakah kita pernah bertemu sebelumnya? aku ... aku seperti pernah mengenalmu.”
“Sungguhkah? Mungkin karena wajahku cukup pasaran, Nyonya.” Ucap Dan dengan nada bercanda seolah merendah dihadapan Kasih.
Kasih tersenyum. ‘Aku merasa sangat senang berbicara dengan Dan. Dia orang yang cukup menyenangkan.’
***
John memasuki ruang kerja Tuan Smith sambil membawa berkas lalu melaporkannya pada Tuan Smith yang sedang berjibaku dengan layar laptop miliknya.
“Tuan, perusahaan milik nenek nyonya sudah berhasil dieksekusi. Tidak ada yang tersisa dari perusahaan itu,” ucap John melaporkan hasil kerjanya yang tentunya selalu memuaskan tuannya itu.
Tanpa mengalihkan pandangannya Tuan Smith mengangguk. “Pastikan wanita tua itu hidup menderita.”
“Baik, Tuan,” kata John membungkuk hormat lalu pamit undur diri.
Tuan Smith menatap cincin pernikahannya dengan gadis manis bernama Kasih, cincin mewah itu masih tersimpan di dalam kotanya dan hanya akan digunakan jika ia dan Kasih akan melakukan sandiwara sebagai suami istri yang bahagia.
Sementara itu, Nenek Kasih yang baru saja kehilangan seluruh harta bendanya bergegas menemui Ayah dan Ibu kasih di rumah sederhananya. Ia dan paman Gerry pergi menemui orangtua Kasih untuk mendesak putrinya agar menolong mereka dari kebangkrutan.
“Nak, kau harus menolongku. Menantumu dan putrimu itu telah bersekongkol membuatku kehilangan segalanya,” ucap Nenek Kasih mengadu sembari memegang tangan Ayah Kasih berharap anaknya itu iba pada dirinya dan ikut menyalahkan Kasih dan tuan Smith.
“Maafkan aku, Bu. Kali ini aku tidak bisa membantumu. Karena Kasih sekarang bukanlah seorang gadis kecil kami lagi, kini ia telah memiliki seorang suami yang akan bertanggung jawab atas dirinya. Kami tidak punya hak untuk ikut campur keputusannya. Ibu harus berbicara langsung dengan mereka berdua.”
Nenek Kasih melepaskan pegangan tangannya pada Ayah Kasih dengan tatapan marah. “Apa kau bilang?! Kau tidak ingin membantuku?! Kau sungguh tidak tau diri. Aku adalah ibumu!”
Ayah Kasih menunduk seakan enggan menatap kedua mata Ibunya. ‘aku tidak boleh terus disetir oleh Ibuku. Aku tidak boleh membiarkan Ibuku terus menindas istri dan anakku.’
“Maafkan aku, Bu.” Ayah Kasih pergi meninggalkan sang Ibu lalu disusul istrinya yang mengekorinya dari belakang.
Nenek Kasih seketika menggeram kesal menatap marah. “Arggh! Sialan! Dasar anak tidak berguna.”
Ibu Kasih menarik suaminya itu mengajaknya untuk berbicara serius.
__ADS_1
“Kenapa kau bersikap seperti itu sayang? Biar bagaimanapun dia adalah ibumu,” ucap Ibu Kasih tidak senang.
“Istriku,” Ayah Kasih menangkupkan jemari istrinya didalam tangannya. “Kau tidak perlu menahan setiap luka yang ditorehkan oleh ibuku padamu. Aku tau kau sangatlah menderita selama ini. mulai sekarang aku akan melindungimu.”
Ibu Kasih menarik tangannya kasar. “Apa yang sedang kau bicarakan? Aku tidak menderita sama sekali. aku tidak peduli sekalipun Ibu mertua tidak menyukaiku atau bahkan membenciku. Bagiku dia tetaplah orangtua yang harus kuhormati. Kau tidak boleh berbuat seperti itu pada ibumu sendiri.”
“Istriku, aku tau kau memiliki hati yang lembut dan baik, tapi kau tidak perlu mengorbankan perasaanmu hanya untuk menyenangkan hati ibuku. Dia tidak akan pernah menghargai hal itu. Baginya kau adalah kecatatan yang harus disingkirkan. Bagaimana bisa kau masih membela orang yang bahkan selalu berusaha membuatmu menderita. Kau tidak harus menanggungnya sendirian.”
“Ibumu adalah ibuku juga. Meski ia tidak menyukaiku. Aku tetap tidak bisa membuangnya begitu saja. tidak ada seorang anak yang bisa memutuskan hubungan antara ibu dan anak.” Ibu Kasih menatap nanar kearah suaminya.
“Tapi istriku ....”
“Hentikan!” sela Ibu Kasih tegas. “Aku tidak ingin mendengar apapun lagi darimu. Aku akan berbicara pada Kasih untuk menolong Ibu.” Pungkas Ibu kasih meninggalkan suaminya yang seketika termenung tanpa tau harus berkata apa.
***
Karina yang pergi menuju ke rumah orang tua Kasih saat itu merasa aneh ketika melihat nenek Kasih baru saja keluar dari dalam rumah.
‘Bukankah itu adalah nenek Kasih?’ batinnya terheran.
Setelah mobil milik nenek Kasih pergi meninggalkan halaman rumah orang tua Kasih, Karina lalu melanjutkan langkahnya memasuki rumah itu.
Tuan Avisha seketika memandang kearah Karina. “Nak, Karina?”
Raut wajah Ayah Kasih terlihat jelas sedang merasa tertekan namun ia berusaha untuk menyembunyikannya dari Karina.
“Paman, aku akan pergi menemui Alysa dan Jenny ....” Kata Karina sembari bergegas pergi menemui Alysa dan Jenny di kamar mereka. Karina berjalan pergi dengan perasaan aneh dengan situasi yang ada di rumah orangtua sahabatnya ini.
“Alysa, kak Karina melihat ayah dan ibumu terlihat sedikit tertekan apa kalian mengetahui apa yang sedang terjadi?” tanya Karina pada Alysa yang tengah belajar bersama dengan Jenny di kamarnya. Jenny sejenak menghentikan kegiatannya lalu kemudian menjawab, “Mungkin itu karena Nenek lagi, Kak.”
Karina seketika tercengang ketika mendengar Nenek Kasih. ia teringat bahwa ia tadi sempat melihat Nenek Kasih keluar dari rumah dengan raut wajah marah. “Nenekmu?” tanya Karina penuh selidik.
“Iya.” Katanya membenarkan. “Tadi Nenek datang ke rumah, Nenek menyuruh agar Ayah membujuk Kak Kasih untuk menolong perusahaannya,” ungkap Alysa melanjutkan kembali kegiatan belajarnya.
Pada akhirnya Karina yang mendengar penuturan adik Kasih itu membuka ponselnya dan melihat sebuah berita bahwa perusahaan milik nenek Kasih telah resmi gulung tikar. Karina menutup mulutnya tidak percaya dan bertanya-tanya mengapa bisa perusahaan sebesar itu bisa tiba-tiba bangkrut. Karinapun menghubungi Kasih untuk menanyakan hal tersebut.
“Hey! Apa kau sudah melihat berita besar?!” kata Karina pada Kasih saat sambungan teleponnya.
Kasih yang sedang bermain dengan Ed bayi kecilnya seketika mengernyit bingung. “Berita besar yang dimaksud ....” Kasih membeo dengan mata membulat sempurna saat melihat berita yang dimaksud Karina di televisi. Kasih sangat terkejut melihat berita yang mengatakan bahwa perusahaan sang Nenek kini telah resmi bangkrut hanya dalam semalam saja.
“Halo?” panggil Karina dari ponsel yang masih tersambung dipegangan Kasih. “Kasih?! apa kau masih disana?” tanyanya memastikan karena tidak mendapat tanggapan selama beberapa saat.
“Ah! Ya?” kata Kasih terbengong. “Kau berkata apa barusan?” tanya Kasih kemudian.
“Aku melihat Nenekmu menghampiri rumah orangtuamu barusan. Apakah sesuatu telah terjadi?” tanya Karina ingin tau.
__ADS_1
Kasih terdiam untuk beberapa saat bayangan kejadian saat tuan Smith berkata akan membatalkan semua kerjasamanya dan Neneknya seketika terlintas. Ia sungguh tidak menyangka jika pria gila itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya.
‘Bangkrut? Nenekku? Apa yang telah terjadi?” Kasih terus bertanya-tanya tidak mengerti.
“Karina, aku harus pergi. Kututup dulu,” kata Kasih cepat tanpa menunggu tanggapan dari Karina, Kasih mengakhiri panggilan telepon dan bergegas pergi.
Karina yang belum mendapat jawaban atas pertanyaannya merengut kesal karena Kasih menutup telepon begitu saja saat ia masih ingin berbicara.
“Dasar gadis bodoh ini, tega sekali ia menutup panggilanku tanpa menjawab pertanyaan.”
***
Tuan Smith yang sedang berada di ruang kerjanya sedang duduk dikursinya sambil mendengarkan laporan yang disampaikan oleh John. Seketika kegiatan kedua pria itu terhenti saat Kasih masuk ke dalam ruangan setelah terlebih dulu mengetuk pintu.
“Apa kau sibuk?” tanya Kasih menatap Tuan Smith serius.
John mengalihkan pandangannya ke arah Tuan Smith dengan pandangan bertanya. Tuan Smith tidak berkata apapun dan hanya mengibaskan tangannya mengisyaratkan pada John untuk pergi.
John pergi setelah menutup pintu. Kasih merasa sedikit canggung namun kemudian ia memberanikan diri untuk bertanya pada Tuan Smith.
“Apa kebangkrutan perusahaan Nenekku adalah perbuatanmu?” tanya Kasih berterus terang.
“Menurutmu?”
“Aku tau kau sangat berkuasa, akan tetapi untuk apa kau benar-benar melakukan hal itu?” tanya Kasih penasaran.
“Kau sungguh tidak tau?” tanya Tuan Smith lagi.
Kasih semakin dibuat bingung dengan pertanyaan ambigu pria dihadapannya itu.
“Pikirkan dengan benar, siapa dirimu?”
“Bisakah kau berkata dengan benar? Aku sungguh tidak mengerti dengan perkataanmu. Kau membuatku sangat bingung.”
“Baiklah.” Tuan Smith bangkit berdiri dari duduknya lalu berjalan menghampiri Kasih yang seketika melangkah mundur karena ia merasa terintimidasi seiring langkah Tuan Smith yang semakin mendekat kearahnya.
“Itu semua karena .... kau.” Telunjuk Tuan Smith terarah tepat di depan wajah Kasih, pada saat yang bersamaan tubuh bagian belakang Kasih membentur dinding dengan langkahnya yang terhenti seketika.
BERSAMBUNG...
__ADS_1