Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 73 Berkencan dan Berlibur


__ADS_3

Susah payah Karina membujuk Kasih untuk setuju ikut pergi berlibur dengannya. Segala macam cara digunakannya sebagai senjata untuk meluluhkan hati Kasih.


“Ayolah, Kasih. Kau harus ikut denganku. Aku jamin liburan ini pasti sangat menyenangkan,” bujuk Karina untuk kesekian kalinya. Menggenggam tangan Kasih dengan tatapan memelas.


“Tidak. Aku tidak ingin pergi jika pria gila itu ikut turut serta,” ucap Kasih teguh dengan pendiriannya.


“Kasih ... ayolah aku mohon. Kau bilang ingin menjodohkan pria gila itu, bukan?” Kasih terlihat sedikit tertarik dengan perkataan Karina soal menjodohkan Tuan Smith. ‘Betul juga. Jika saja pria gila itu menemukan seseorang yang mampu memenangkan hatinya maka aku pasti bisa pergi dengan mudah.’ Kasih menatap Karina tertarik namun masih menimbang-nimbang.


“Ayolah, kau pasti tidak ingin melewatkan kesempatan untuk membuat pria gila itu melepaskan cengkramannya padamu, bukan?” Karina kemudian melanjutkan aksinya membujuk Kasih setelah melihat gadis itu terlihat mulai tertarik. “Aku jamin kau tidak akan menyesal. Apalagi, kau bisa mengajak seorang gadis ikut dengan kita dan mulai menjodohkan pria gila itu.”


“Baiklah. Tapi aku punya satu syarat,” ujar Kasih membuat Karina bersemu bahagia.


 


 


***


 


 


Tuan Smith berdiri dengan wajah kesal menatap kearah rombongan dihadapannya yang terdiri dari Kasih, Karina, Tuan Adam, Melinda dan juga Dan. ‘Sialan! Aku ingin berlibur hanya berdua dengannya tapi lihatlah. Mengapa semua orang jadi ikut juga, menyebalkan!’


“Kita semua sudah berkumpul?” Mata Kasih menatap satu persatu-satu rombongan memastikan. “Kalau begitu ayo kita mulai berangkat!” ucap Kasih bersemangat.


Delikan tajam Tuan Smith terarah pada Karina yang hanya bisa tersenyum kikuk. ‘Ya, Ampun. Bukankah aku sudah berhasil membujuknya. Harusnya dia berterima kasih padaku, tapi lihatlah tatapan menyeramkannya itu. Benar-benar membuat bulu tubuhku merinding ketakutan. Hiii ... ’


Lengan Karina dan Melinda ditarik oleh Kasih menuju ke tangga pesawat pribadi milik keluarga Alexander yang siap membawa mereka pergi untuk berlibur.


“Silahkan, Tuan.” Dan mempersilahkan Tuan Smith untuk naik terlebih dahulu setelah Kasih dan kedua wanita lainnya.


“Ck!” Tuan Smith mendecak kesal melangkah menaiki tangga naik ke atas pesawat.


Tidak sampai disitu saja. Saat diatas pesawatpun Tuan Smith harus menahan kekesalannya karena Kasih memilih membagi kursi dengan kedua wanita lainnya. Alhasil Tuan Smtih yang hanya duduk sendirian di kursinya memasang wajah masam sambil memandang wajah Kasih yang tersenyum senang saat berbicara dengan Karina dan Melinda.


‘Gadis bodoh,’ gerutu Tuan Smith dalam hati. Tidak mau terus-menerus merasa kesal akhirnya Tuan Smith memutuskan menggunakan penutup mata dan merenggangkan tubuhnya, tidur.


Perjalanan panjang telah mereka tempuh hingga sampailah mereka semua di sebuah negara yang terkenal romantis. Tuan Smith sengaja memilih negera itu sebagai tempat liburan mereka yang tadinya ingin ia gunakan untuk menghabiskan waktu dengan Kasih. Namun, sepertinya semua itu tidak bisa dilakukannya. Kasih tidak mau terpisah dari Karina dan juga Melinda. Tangannya terus menggandeng keduanya dengan erat.


“Ayo masuk,” ucap Kasih mengajak Karina dan Melinda memasuki kamar miliknya. Karina segera berjalan mendekati Kasih lalu berbisik, “Apa kau sudah gila? Kami tidak mungkin berbagi kamar denganmu, kau sudah bersuami apa kau lupa, Nyonya muda?” kata Karina mengingatkan status Kasih. Gadis itu melirik sebentar kearah Tuan Smith lalu menatap Karina sahabatnya.


“Sudah. Kau tidur saja dengan suamimu, Nyonya. Kami akan masuk ke kamar kami sendiri. Besok kita akan bertemu lagi. Sampai jumpa,” kata Karina sebelum sempat Kasih menyela lalu segera pergi memasuki kamarnya sendiri.


“Tapi, Karina ... “


Karina menarik tangan yang  lainnya untuk pergi meninggalkan Kasih tanpa memedulikan panggilan Nyonya muda itu. Tinggallah Kasih dan Tuan Smith saling bersitatap dengan pandangan canggung. Membuang muka Kasih lalu melangkah masuk ke kamarnya menghiraukan Tuan Smith yang menatapnya datar.


 


 


***


 


 


Pagi-pagi semua orang sudah berkumpul di kafe yang terletak di dalam hotel mewah tempat mereka semua menginap. Mereka duduk dalam satu meja memesan makanan dan minuman masing-masing pada pelayan. Mereka semua duduk secara berpasang-pasangan. Kasih dan Tuan Smith, Karina dan Tuan Adam, Dan dan Melinda.


“Jadi, hari ini kita akan kemana?” sahut Kasih bertanya.


“Bagaimana jika kita pergi ke taman bermain yang terkenal di sini?” usul Melinda menyahut.


“Taman bermain?” Mata Kasih tampak berbinar senang.  Tuan Smith hanya menatap datar wajah gadis yang adalah istrinya itu sembari duduk bersandar dikursi.


“Dan!” Panggil Tuan Smith tiba-tiba membuat Dan tersentak.


“Ya, Tuan.”


“Hubungi John untuk menyiapkan kendaraan menuju kesana segera,” ucap Tuan Smith memberi perintah.


“Baik, Tuan.” Dan kemudian mengambil ponselnya dan berjalan agak menjauh lalu mulai menghubungi John seperti yang diperintahkan oleh Tuan Smith padanya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian Dan kembali ke kursinya dan menginstruksikan pada semuanya untuk segera bersiap berangkat ke taman bermain karena sebentar lagi mobil yang diaturkan John untuk mereka akan datang menjemput.


Selesai mengganti pakaiannya Kasih keluar dari kamar mandi dengan pakaiannya yang menampilkan ciri khas dari anak remaja dan hal itu membuat Tuan Smith menatap tidak suka.


“Apa-apaan dengan pakaianmu itu sangat jelek sekali!” ucap Tuan Smith mencibir kesal. Kasih menoleh kearahnya dengan mata melotot marah.


“Apa maksudmu dengan pakaianku jelek?” Kasih memperhatikan penampilannya dari ujung kaki lalu naik keatas. “Kau benar-benar tidak mengerti selera fashion, Pria gila. Emm, maksudku Tuan Smith.”


“Ganti dengan yang lain,” ucapnya Memerintah.


“Hah? Sebentar lagi kita akan dijemput mana sempat jika aku mengganti pakaianku lagi. Ada-ada saja.”


“Ayo! cepat ganti pakaianmu!” ucap Smith dengan nada serius.


“Dia bersungguh-sungguh dengan ucapannya, benar-benar tidak bisa dipercaya,” omel Kasih yang mau tidak mau menuruti perintah dari suaminya untuk mengganti pakaian.


Setelah mengganti pakaiannya dengan yang lain Kasih keluar dengan sedikit terburu-buru karena berpikir semua orang telah menunggunya. Akan tetapi, Tuan Smith kembali berkata untuk mengganti lagi pakaiannya dengan yang lain.


“Apa kau sudah gila?! Sudah tidak ada waktu lagi untuk mengganti pakaian dan lagi pakaianku ini baik-baik saja untuk apa diganti?” kata Kasih dengan intonasi yang sedikit meninggi karena menahan kekesalan dihatinya. ‘Benar-benar membuat orang kesal! Awas aja kau! Aku akan membalasmu nanti.’


“Cepat ganti atau tidak usah pergi!” ancam Tuan Smith kemudian.


Kasih tertegun tidak percaya dengan sikap pria gila menyebalkan dihadapannya ini.


“Baiklah. Baiklah. Aku akan mengganti pakaianku lagi. Tapi kali ini kau harus memilihkannya untukku karena aku tidak ingin menggantinya untuk kesekian kalinya,” ujar Kasih mengalah meski dengan wajah yang cemberut.


Tuan Smith berbalik badan lalu mengambil pakaian dari dalam koper Kasih dan memberikannya padanya.


“Ganti dengan yang ini!” katanya sambil melemparkan satu setelan pakaian pada Kasih.


“Aku akan menggantinya dengan yang ini awas saja jika kau berani menyuruhku menggantinya lagi.”


Kasih berjalan dengan ogah-ogahan disamping Tuhan Smith sambil memasang wajah cemberut.


“Hei! Nyonya muda, apa yang terjadi dengan pakaianmu, itu terlihat sedikit aneh,” bisik Karina di dekat telinga Kasih sembari memperhatikan kaos oblong dan celana jeans panjang yang dikenakan oleh Kasih dengan tatapan aneh. ‘Selera fashion gadis ini sungguh buruk.’ Batinnya memperhatikan Kasih dari ujung kaki sampai wajah.


“Diamlah, Rin! aku sedang sangat kesal!” balas Kasih galak sembari melongos masuk ke dalam mobil.


“Apa yang terjadi dengannya? Apakah aku mengatakan sesuatu yang salah?” gumam Karina menatap Kasih yang sudah masuk ke dalam mobil.


“Hei, Gadis bodoh! Apa yang kau lakukan disitu?” teriak Tuan Smith dengan nada kesal pada Kasih yang sudah lebih dulu mengambil kursi disamping kemudi.


“Tentu saja aku sedang duduk, apa kau tidak melihatnya Tuan Smith?” jawab Kasih dengan ketus. Melinda yang duduk di samping Tuan Smith di kursi tengah hanya bisa melihat perdebatan kecil sepasang suami istri tersebut tanpa dapat berkata apa-apa, Iya hanya bisa terheran melihat sikap Kasih yang sangat memberontak pada Tuan Smith.


‘Ya ampun, gadis muda ini benar-benar tidak punya rasa takut.’


“Dan, cepat jalankan mobilnya!” perintah Kasih pada Dan yang berada di kursi kemudi.


“Tidak sebelum kau pindah kemari!”


“Aku sudah mengatakan kepadamu aku tidak mau duduk disampingmu.  Sekarang diamlah dan duduk dengan baik atau aku akan turun dari mobil,” ujar Kasih memberi ancaman. Akhirnya dengan terpaksa Tuan Smith mengalah dan membiarkan Kasih duduk di kursi depan dan Melinda duduk di kursi yang berada disisinya.


‘Dasar gadis keras kepala!’ batin Tuan Smith menatap kesal kearah kasih yang tersenyum kemenangan bersamaan dengan mobil yang mulai melaju meninggalkan area hotel.


Di taman bermain kasih berjalan dengan kegirangan sambil sesekali menyuruh pengawal pribadinya yaitu Dan untuk memotret dirinya menggunakan kamera ponsel miliknya.


“Karina Ayo kita berfoto bersama!” ajak Kasih melambaikan tangannya memanggil Karina. “Dan! Kau harus memotret dengan benar jangan sampai aku terlihat tidak cantik di situ, ya!” kata Kasih tersenyum senang. Gadis itu tidak menyadari ada sepasang mata yang sejak tadi menatap tajam ke arah dirinya. Tuan Smith berdecak kesal melihat Kasih yang notabene adalah istrinya sendiri sangat dekat dan akrab dengan Dan, pengawal pribadinya daripada dengan dirinya. Melinda yang sejak tadi berada di sisi Tuan Smith namun selalu diacuhkan oleh sang Bos dan hanya bisa mendelik kesal mengetahui Bosnya itu selalu curi pandang memperhatikan Kasih.


“Tuan, Bagaimana jika anda juga memotret saya?” tanya Melinda menawarkan diri sambil tersenyum manis.


Tanpa menoleh sedikitpun ke arah Melinda dan masih fokus memperhatikan tingkah laku sang istri yang sekarang sedang tertawa bahagia dengan orang lain Tuan Smith menimpal, “Kau lakukan saja sendiri. Aku sedang sibuk.”


Merasa diacuhkan Melinda menggeram marah didalam hatinya. Ingin sekali ia membunuh Kasih agar bisa merebut pujaan hatinya itu dan menjadikannya miliknya seorang. Jika tidak ada Kasih pastilah Tuan Smith akan lebih memperhatikan dirinya daripada gadis kecil seperti Kasih itu. Begitulah pikirnya dalam hati.


“Nyonya, aku membeli ini untuk anda,” ujar Dan menyodorkan sebuah es krim cokelat kesukaan Kasih.


“Benarkah?” kata Kasih berbinar senang. “Wah! Luar biasa kau sangat pengertian Dan. Darimana kau tau aku sangat menyukai es krim cokelat?” Kasih menyambut es krim lalu menikmatinya dengan cepat.


‘Tentu saja aku mengetahuinya Kasih, karena aku adalah Rey, Cinta pertamamu dan juga pangeran impianmu.’


“Hei kau kenapa melamun?” tanya kasih menyadarkan Dan yang terdiam. ‘Terima kasih untuk es kirimnya, Dan. Lain kali aku yang akan mentraktirmu.” Keduanya tersenyum senang. Pandangan mata Kasih lalu tertuju pada sebuah permainan menembak yang akan memberikan hadiah bagi pemenangnya.


“Aku ingin ke sana!” tunjuk kasih sembari berjalan lebih dulu meninggalkan Dan yang mengekorinya dari belakang.

__ADS_1


“Selamat datang nona cantik! Apakah anda ingin bermain?” tanya sang penjaga.


“Ya, aku ingin bermain. Berikan aku peluru yang banyak.”


Berkali-kali Kasih mencoba untuk menembaki sasaran yang terus saja bergerak tanpa berhenti, namun usahanya selalu saja gagal bahkan hingga menyisakan peluru terakhir. Dengan sedih Kasih meletakkan pistol mainan itu kemudian hendak beranjak pergi.


“Aku sungguh payah! Tidak satupun tembakanku yang mengenai sasaran. Menyebalkan sekali.”


“Perlu bantuan, Nyonya?” ucap Dan menawarkan bantuannya sembari tersenyum lembut kearah Kasih yang terpesona memandang wajahnya.


‘Aneh sekali kenapa aku merasa kau bukanlah orang asing bagiku, Dan? Aku merasa sangat mengenal dirimu dan hatiku ini entah mengapa selalu saja berdebar jika berada di dekatmu.’


“Nyonya?” Dan Melambaikan tangannya di depan wajah kasih sembari memanggil-manggil Kasih.


“Eh?” Kasih tersadar dari pikirannya menatap wajah Dan dengan raut wajah bingung.


“Hadiah yang mana yang Nyonya inginkan?”


“Ap, apa?” tanya Kasih tidak mengerti. Dan tersenyum lalu mengangkat pistol mainan ke udara.


“Oh!” sahut Kasih baru mengerti setelah melihat pistol mainan yang berada di tangan Dan. “Aku ingin yang itu,” kata Kasih menunjuk sebuah boneka beruang yang cukup besar berwarna merah muda yang diincarnya sejak tadi.


“Baiklah. Silahkan anda tunggu sebentar,” ucap Dan bersiap menembak sasaran sebanyak-banyaknya agar bisa memenangkan hadiah yang diinginkan oleh Kasih.


Kasih dibuat takjub oleh pemuda di hadapannya itu memegang pistol dengan sangat keren dan menembak sasaran berkali-kali dengan tepat. Alhasil boneka yang diinginkan oleh Kasih dapat dimenangkan dengan mudah oleh Dan. Pemuda dengan postur tinggi itu berjalan dengan membawa boneka besar di tangannya kearah Kasih.


“Luar biasa! Kau sangat mengagumkan, Dan. Boneka ini kau berhasil memenangkannya.” Kasih menatap dan dengan tatapan kagum.


“Silahkan Nyonya, ini boneka anda,” ucap Dan sembari menyerahkan boneka Teddy berwarna putih itu kepada Kasih.


“Boneka ini kau yang memenangkannya aku jadi tidak enak untuk mengambilnya. Bagaimana jika kau bawa pulang saja boneka ini lalu kau berikan pada pacarmu?” kata Kasih memberi usul.


‘Aku memang sedang melakukannya Kasih, aku memberikannya pada orang yang sangat aku cintai yaitu dirimu.’


“Aku tidak punya kekasih, Nyonya.” Dan tersenyum malu.


“Benarkah? Sayang sekali pemuda sebaik dirimu tidak memiliki seorang pacar. Selain Baik Kau juga sangat tampan pasti yang akan menjadi pacarmu nanti sangat beruntung.”


“Benarkah?” Kasih mengangguk pasti.


“Syukurlah karena anda mengatakannya,” Imbuh Dan tersenyum hangat. Kasih merasa sedikit aneh namun hanya membalas dengan senyum manis dibibirnya.


“Apa yang sedang kalian lakukan?” Kasih dan Dan menoleh kearah sumber suara dan mendapati Tuan Smith sedang menatap tidak suka pada mereka berdua.


“Tidak ada. Aku sudah selesai bermain disini, Ayo! Dan kita pergi ke tempat lain...” Buru-buru Tuan Smith mencekam tangan Kasih merebut boneka beruang besar yang sempat diberikan oleh Dan untuk Kasih.


“Apa-apaan kau!” seru Kasih marah menatap tajam kearah pria tinggi dan kekar dihadapannya berusaha merebut kembali hadiah dari Dan untuknya namun tidak berhasil. “Kembalikan!”


“Tuan, apakah anda juga ingin bermain? Boneka beruang manis itu hadiah yang didapatkan pemuda tampan ini. Jika anda ingin boneka itu juga anda bisa mencoba untuk bermain, mungkin saja anda akan seberuntung pemuda ini,” ujar sang penjaga menyodorkan pistol mainan yang sama seperti yang tadi dipakai Kasih dan juga Dan.


“Permainan kekanak-kanakan begini, siapa juga yang mau memainkannya, apalagi dengan hadiah murah seperti itu. Jika mau, aku bahkan bisa membeli boneka raksasa untukmu tanpa harus bersusah payah terlebih dulu,” katanya bernada ketus sembari melipat kedua tangannya ke dalam saku celana.


“Sudahlah. Tidak perlu menghiraukannya. Tinggalkan saja dia. Paling juga dia berkata seperti hanya karena dia tidak bisa menembak sebagus kau, Dan.” Kasih menyeletuk menarik lengan Dan untuk pergi.


“Apa katamu?!” ucap Tuan Smith bernada tinggi. “Mana mungkin aku bisa dibandingkan dengan orang rendah seperti dirinya. Beraninya kau membandingkan suamimu sendiri dengan pria lain. Kasih! cepat kemari dan lihat seberapa hebatnya suamimu ini,” imbuhnya terbakar emosi tidak terima jika istrinya mengelukan pria lain dihadapannya.


“Baiklah. Kau harus bisa menembak tepat sasaran tanpa boleh meleset sedikitpun. Jika kau gagal, maka jangan mengangguku lagi,” ucap Kasih memberi tantangan menatap angkuh di depan Tuan Smith.


“Baik.  Aku terima tantangan darimu. Tapi, jika aku menang kau harus menuruti perintahku.”


“Setuju!” Kasih meraih tangan Tuan Smith berjabat tangan dengan yakin.


‘Kau pasti kalah pria gila!’


‘Menantangku? Huh!’


Kedua pasang mata itu saling menatap tajam satu sama lain memancarkan aura permusuhan yang kuat.


 


 


BERSAMBUNG...

__ADS_1


 


 


__ADS_2