
Di ruang kamarnya Kasih terlihat sedang asyik bermain ponsel pintar baru miliknya. Bermain game dan semacamnya sudah dicoba wanita itu, hingga akhirnya ia merasa sedikit bosan lalu kemudian dirinya terpikir untuk berselancar di internet.
“Tuan Smith sangat kaya, ia juga seorang pebisnis yang hebat. Aku heran kenapa berita tentangnya begitu sedikit? Tidak mungkin para wartawan melewatkan berita apapun tentang orang seperti Tuan Smith. Aku bahkan tidak bisa menemukan satupun berita tentang pernikahannya. Bukankah ini sangat aneh?” Kasih merasa frustasi karena dirinya sedikitpun tak menemukan apa yang ia cari dari internet. Berita tentang pernikahan Tuan Smith atau apapun itu tentang istri Tuan Smith Alexander tidak ada satupun yang akan menemukan halaman berita tentangnya. Kenapa? Karena tentu saja semua berita itu telah dihapus dan diblock atas perintah langsung dari Tuan Smith sendiri. Pria itu tidak akan membiarkan Kasih mengorek masa lalu lagi. Bahkan ia telah memerintahkan untuk memusnahkan seluruh barang Kasih di ruang penyimpanan. Tidak terkecuali kalung warisan keluarga Alexander, semua harus dihancurkan demi Kasih. Bagi Tuan Smith, Kasih adalah hal terpenting baginya dan ia tidak akan segan melakukan apapun baginya.
Tidak mudah menyerah, Kasih mencoba untuk mendatangi sebuah perpustakaan terbesar yang ada dikota hanya untuk mencari berita mengenai istri Tuan Smith Alexander. Semenjak ia melihat gambar dirinya yang begitu mirip dengan istri pria gila itu, Kasih seakan dirasuki rasa penasaran yang begitu besar. Ia ingin mengingat masa lalunya, dan ia begitu penasaran tentang semuanya.
“Oh, ayolah. Bahkan perpustakaan sebesar ini?” ujar Kasih gusar seraya menghela nafas kesal.
Setelah mencari sekian lamanya akhirnya Kasih memutuskan untuk menyerah dan hendak kembali pulang ke mansion.
“Akankah anda kembali sekarang, Nona?“ tanya Wendy yang ditugaskan menjaga Kasih 24 jam oleh Tuan Smith.
Menatap Wendy dengan wajah lesu lalu berkata, “Ya, kurasa ...” Kasih menggantungkan kalimatnya tatkala pandangan matanya menangkap sesuatu yang menarik baginya. Tanpa aba-aba dirinya segera melangkah menghampiri apa yang menarik itu dengan pandangan berbinar senang.
Wendy sedikit tergopoh karena tingginya susunan buku yang berada dipelukannya. “Ya, Tuhan! Kenapa buku ini sangat berat,” gumamnya sembari membenarkan posisi agar bisa membawa semua buku yang dipinjam Kasih ke dalam mobil. Sementara Kasih dengan senyum cerahnya menyelesaikan proses meminjam buku-buku itu dengan penjaga perpustakaan.
“Biarkan aku membantumu, Nona Wendy.” Kasih menawarkan bantuan ia hendak mengambil beberapa tumpukan buku untuk dibawa namum dicegah oleh Wendy.
“Itu tidak perlu, Nona. Saya akan membawakannya untuk anda.”
“Sungguh? Tapi sepertinya ....” Melihat Wendy dengan tatapan khawatir. Wendy memang kesusahan membawa demikian banyaknya buku itu, namun ia menyadari ini adalah bagian dari tugasnya dan ia merupakan orang yang sangat bertanggung jawab atas pekerjaannya.
“Tidak usah khawatir, Nona. Saya baik-baik saja. Apakah kita pulang sekarang?“ tanya Wendy kemudian.
“Baiklah.”
Kedua wanita itu berjalan beriringan menuju mobil. Seorang sopir segera menyambut membukakan pintu mobil bagi Kasih lalu membantu Wendy memasukkan tumpukan buku ke dalam bagasi mobil.
Di dalam mobil yang masih melaju pelan. Wendy tertarik melihat ponsel baru yang dipegang oleh Kasih. “Apakah itu ponsel baru, Nona?”
“Ini?” Mengangkat ponsel agar terlihat lebih jelas. “Ya, ini dari si pria gila,” katanya dengan nada santai.
Kasih POV ON
“Terima kasih, aku akan menghubungimu.” Aku tersenyum manis pada seorang pria rekan kerjaku di kantor. Meski aku tidak begitu paham bekerja di kantor ini, akan tetapi, bukankah sebaiknya jika aku mulai mengakrabkan diri dengan orang-orang? Aku baru saja bertukar nomer ponsel dengan pria itu karena kurasa perlu untuk saling mengenal dengan teman-teman sekantor. Tentu tidak hanya dengan pria itu saja, aku juga bertukar ponsel dengan rekan-rekan yang lain sebelumnya. Hal itu tentu saja wajar menurutku akan tetapi tidak bagi Tuan Smith Alexander yang kebetulan saat itu sedang mengawasi dirinya dari kamera CCTV di dalam ruangan miliknya.
“Berani sekali dia tersenyum seperti itu. Akan menghubunginya? Tidak akan kubiarkan!” ucap Tuan Smith kesal sembari menatap wajah Kasih di layar monitor.
“Sudah selesai, aku akhirnya menyimpan semua nomer para staf yang bekerja sedivisi denganku, aku juga sudah bergabung dengan grup kantor. Ah! betapa menyenangkannya bisa bersosialisasi dengan orang lain. Kurasa aku mulai ….” Secara mendadak seseorang merebut ponsel Kasih dari tangannya. “Apa yang kau lakukan?! Kenapa mengambil ponsel milikku?” tanya Kasih dengan nada marah.
“Aku akan menyita ponselmu ini.”
“Eh?!” Aku hampir saja dibuat tersedak hingga sekarat oleh pria gila menyebalkan dihadapanku ini. ‘Menyita ponselku? Apa maksudnya itu? Tidak mungkin ia yang seorang Bos kekurangan ponsel, bukan? Lalu apa yang dilakukannya sekarang. Apa dia sedang berebut ponsel dengan bawahannya? Dan lagi ia sendiri yang memberikan ponsel itu padaku, tapi sekarang tak ada angin ataupun hujan ia tiba-tiba ingin mengambil kembali barang yang telah diberikan pada orang lain. Apa-apaan dia ini? apa yang terjadi padanya?’
“Kenapa?” Tanyaku berusaha menahan diri.
“Apanya?”
‘Gzzz! Apa-apaan itu dia masih bertanya dengan wajah tanpa dosa begitu, benar-benar membuat orang ingin menghajar wajah tampannya itu. Tuan Smith, aku akan mengampunimu kali ini karena wajahmu tampan,’ batinku menarik nafas panjang.
“Ponselku. Untuk apa kau mengambilnya?” tanyaku sambil menahan amarah.
“Aku akan menggantinya dengan yang lebih baru.”
“Tidak perlu. Aku bisa menggunakan yang itu saja,” sanggahku tentu saja aku masih tidak rela jika harus melakukan pekerjaan mengumpulkan nomer ponsel para staf yang sudah dengan susah payah kukumpulkan.
“JIka aku bilang aku akan menggantinya dengan yang baru, maka aku akan menggantinya. Titik,” putus Tuan Smith melenggang pergi meninggalkanku yang bahkan tidak sempat mengucapkan satu katapun hanya bisa menatap punggungnya miris.
__ADS_1
‘Aku kan sudah payah mengumpulkan nomer teman sekantor. Hiks!’
Kasih END POV
Wendy tertawa ringan mendengar kisah dibalik ponsel baru yang dipegang Kasih.
“Nona Wendy apa kau sedang menertawakanku? Tega sekali.” Kasih mengerucutkan bibirnya memasang wajah cemberut.
“Maafkan saya, Nona. Tapi apa anda tidak tau alasan tuan melakukan hal itu?”
“Tuanmu yang gila itu, mana aku tahu apa yang ada didalam pikirannya. Selalu saja ada hal yang tidak masuk akal dilakukannya padaku setiap saat. Benar-benar membuat orang merasa akan mati karena kesal.”
Wendy tersenyum kecil menatap wajah Kasih yang polos. ‘Nona, Nona, masih saja tidak mengerti maksud tuan. Anda tidak pernah berubah.’
“Ada apa? kenapa tersenyum misterius begitu? Apa kau tau sesuatu, Nona Wendy? Ayo cepat katakan.”
“Menurut anda, tuan adalah orang yang seperti apa, Nona?” tanya Wendy kemudian.
Menghela nafas pendek. “Tuan Smith … pria gila menyebalkan. Diktator dan suka memaksa. Begitulah dia,” jelasnya dengan nada menggebu-gebu.
“Tuan sangat tampan, apa Nona tidak ada ketertarikan dengannya?” goda Wendy memancing ekspresi Kasih yang mendadak jadi salah tingkah dan semburat merah menghiasi pipi putihnya.
‘Tuan Smith tentu sangat tampan. Aku tidak memungkiri hal itu. Jika saja sifatnya tidak menyebalkan mungkin aku akan ... Walah! Walah! Apa yang sedang kupikirkan?! Apa aku barusan akan mengatakan aku akan menyukai pria gila itu? Ah! aku pasti sudah gila!’ Kasih menggeleng kuat menepis semua yang barusan ia pikirkan tentang pria yang membawanya ke rumahnya dengan paksa.
“Nona, kita sudah sampai.” Wendy sudah membuka pintu mobil dan menunggu Kasih untuk turun. Kasih yang sedang larut dalam pikirannya itu kemudian tersentak kaget. “Oh,” jawab Kasih singkat.
“Nona pengasuh, apa yang sedang kau lakukan?” tanya Ed Alexander penasaran melihat Kasih yang baru pulang membawa begitu banyak bawaan.
“Bocah menyebalkan, aku membawa buku untuk dibaca. Aku juga membawakan beberapa untukmu. Buku ini bagus untuk anak seusiamu.”
“Buku dongeng?” kata Ed Alexander dengan nada aneh sembari memperlihatkan buku yang dibawakan Kasih untuk dirinya. Kasih mengangguk antusias membenarkan. Ekspresi wajah Ed Alexander semakin merasa aneh. Ia samasekali tidak pernah membaca buku seperti itu, bahkan ini adalah kali pertama baginya melihat buku seperti itu. Selama ini ia hanya membaca buku pelajaran atau buku-buku yang diberikan sang ayah padanya.
***
Malam hari Tuan Smith sedang sibuk memeriksa dokumen lalu tiba-tiba ia melihat dimonitornya Kasih tampak sedang asyik membaca sebuah buku sejak tadi. “Apa yang sedang dibacanya hingga begitu serius,” Tuan Smith menghentikan sejenak kesibukannya dan mengecek kegiatan Kasih. Karena merasa penasaran Tuan Smith kemudian memutuskan pergi ke kamar Kasih.
Setelah sampai di depan pintu kamar wanita itu, Tuan Smith menghentikan langkahnya tepat di depan pintu mengangkat tangannya dengan ragu-ragu untuk beberapa saat, hingga kemudian ia memutuskan kembali ke kamarnya lagi.
“Kau masih memiliki kebiasaan membaca buku novel romantis sama seperti dulu.” Tuan Smith berbalik meninggalkan kamar Kasih mengurungkan niatnya untuk menemui wanita itu. Suara Tuan Smith terdengar lirih.
Sementara itu, Kasih masih menikmati membaca buku novel sambil tersenyum-senyum sendiri. Tanpa sadar dirinya sedang diawasi dari kamera pengawas.
“Aku menyukai alur ceritanya, kuharap endingnya akan bahagia.” Satu buku novel telah selesai ia baca dan perasaan mengantuk menguasai dirinya hingga dengan cepat wanita itu jatuh tertidur dengan pulasnya.
“Kasih, aku mencintaimu.” Seorang pria mengecup lembut bibir Kasih. Anehnya wanita itu melihat dirinya sendiri namun dengan sosok lebih muda dari dirinya saat ini. Ia sama sekali tidak mengenal pria yang baru saja mengecup bibirnya anehnya lagi sosok Kasih yang berada dihadapannya terlihat tidak keberatan bahkan wajahnya memancarkan aura kebahagiaan. Kasih kebingungan. Di tatapnya lekat wajah pria yang terasa akrab namun ia tidak bisa mengingat siapa pria itu dirinya berusaha menggali memori tentangnya namun nihil. Tak ada sedikitpun memori yang bisa menjelaskan situasi yang terjadi saat ini.
“Maukah kau menikah denganku?” tanya pria itu kemudian.
“Aku bersedia.” Jawab Kasih sembari tersenyum manis.
“Selamat karena akhirnya kau bisa bersama dengan pangeranmu, Kasih. Jangan lupakan aku yang paling mencintaimu.” Seorang gadis menghampiri Kasih sembari memeluknya dari belakang.
“Tentu saja, kau selamanya tidak akan tergantikan,” seloroh Kasih menimpali.
Sesaat kemudian keadaan berganti dengan sosok pria tadi yang sudah terkena tembakan. Tatapan pria itu hanya tertuju pada sosok Kasih yang tidak sadarkan diri. Tatapan pria itu begitu sendu namun penuh dengan cinta. Tanpa sadar Kasih dewasa menitikkan air matanya ia seolah dapat merasakan kesedihan si pria yang terlihat akan menikahi dirinya. Pria itu berlumuran darah sesaat sebelum tubuh pria itu dilempar jatuh, pria itu masih tetap menatap wajah Kasih dan sempat menyebutkan nama wanita yang belum sempat ia nikahi itu dengan nada lirih.
Tampak Kasih yang masih dalam keadaan mata tertutup sedang menangis tersedu-sedu airmata mengalir deras dari kedua matanya yang masih tertutup. Kasih masih terisak bahkan saat dirinya telah sepenuhnya sadar dari tidurnya. Ia merasa sedih sekaligus bingung mengapa dirinya merasa begitu sedih padahal dirinya sama sekali tidak mengenal siapa pria yang berada di dalam mimpinya barusan.
__ADS_1
“Aku merasa sangat sedih. Airmataku tidak mau berhenti. Apa yang barusan itu? Apakah itu adalah masa laluku? Kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali? ataukah mimpi itu hanya sekedar mimpi? Tapi mimpi itu terasa sangat nyata.”
***
Pagihari …
Di dapur tampak Kasih sedang meminum segelas jus jeruk. Ia terlihat lemas dan ada lingkaran hitam dimatanya yang bengkak setelah menangis semalam. ‘Aku sungguh aneh, menangis separah ini hanya untuk sebuah mimpi.’
“Selamat pagi, Nona.” Suara Wendy menyapa indra pendengaran Kasih yang sedang melamun sembari menikmati minumnya. Wanita itu menoleh dengan raut muka pucat serta kantung mata terlihat jelas jika ia kurang tidur.
“Apa tidur anda, nyenyak? Kenapa raut muka anda terlihat pucat? Anda baik-baik saja, Nona?” tanya Wendy bernada khawatir.
“Aku baik-baik saja. Jangan cemas,” balas Kasih dengan suara lemas.
“Benarkah? Anda tidak terlihat begitu.” Nona Wendy menatap ragu mendengar jawaban Kasih. “Saya akan memanggil dokter Adam untuk anda ….”
“Woah! Kau tidak harus melakukan itu, aku sungguh dalam keadaan baik. Jangan cemas setelah beristirahat sebentar aku akan kembali segar, okay?” potong Kasih cepat.
“T-tapi ….”
“Aku akan mengantar ini, pelayan tolong bawakan untukku.” Seorang pelayan datang lalu membawa nampan yang sudah disiapkan Kasih untuk Tuan Smith. Wendy kehabisan kata-kata dan hanya bisa menatap khawatir pada Kasih.
***
“Aku akan pergi mengikuti rapat sebentar.” Tuan Smith mendadak masuk ke dalam ruangannya berbicara pada Kasih yang sontak menyembunyikan obat sakit kepala yang hendak ia konsumsi kebawah meja seraya menampilkan senyum kikuknya berharap agar tidak ketahuan.
“Kau ….”
“Hm?” Masih dengan senyum kikuknya tangan Kasih meremas kemasan obat yang belum sempat ia minum. ‘Jika ingin pergi, pergilah sekarang!’
“Kau boleh pulang lebih dulu jika kau ingin. Aku mungkin akan lama,” tutur Tuan Smith kemudian.
Kasih mengangguk sambil tetap mempertahankan senyumannya. ‘Pergilah sekarang juga.’
“Baiklah, aku pergi dulu.” Tuan Smith akhirnya pergi keluar setelah mengambil jasnya. Kasih akhirnya bisa bernafas lega setelah melihat pria gila itu menutup pintu dan menghilang dibaliknya.
“Huft! Akhirnya dia pergi juga. Kepalaku sudah sangat sakit, aku perlu meminum obatku segera.” Mengeluarkan obat yang ia sembunyikan dan bersiap untuk meminumnya. Akan tetapi, baru saja obat itu masuk kedalam rongga mulutnya, mendadak pintu terbuka kembali dan Tuan Smith muncul secara tiba-tiba membuat Kasih terlonjak kaget. Butiran obat itu masih berada di dalam rongga mulutnya dan perlahan mulai menimbulkan rasa pahit saat bereaksi dengan lidahnya sendiri.
‘Ya, Tuhan. Pahit sekali,’ batin Kasih menahan rasa pahit yang menyeruak di dalam mulutnya.
“Oh, aku lupa mengambil ini,” kata Tuan Smith sambil mengambil berkas yang ia maksud. “Apa kau baik-baik saja?” tanya Tuan Smith menyadari ekspresi Kasih yang terlihat sedikit aneh.
GLUK!
Dengan terpaksa ia menelan pil pahit itu meski tanpa meminum segelas air untuk menghilangkan rasa pahit.
“Jangan pedulikan aku, aku akan baik-baik saja.” Kasih sekuat tenaga mempertahankan senyuman yang dibuat semanis mungkin diwajahnya agar Tuan Smith tidak merasa curiga. ‘Bisa gawat jika pria gila ini mengetahui tentangku yang sedang sakit, bisa-bisa ia akan heboh sendiri dan bersikap menyebalkan lagi. Ah! aku tidak ingin membayangkannya!’
“Baiklah. Aku akan berangkat dulu,” pungkas Tuan Smith bersiap membuka pintu.
“Yah. Sebaiknya kau segera pergi,” cicit Kasih setengah berbisik namun masih bisa terdengar oleh indra pendengaran tajam Tuan Smith.
“Kau mengatakan sesuatu?” tanya Tuan Smith tidak jadi menggerakkan gagang pintu yang sudah dipegangnya karena merasa Kasih sedang mengatakan sesuatu namun dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Menggeleng cepat dengan perasaan gugup Kasih berkata dengan suara lantang. “Tidak ada!” Tuan Smith menganggkat sebelah alisnya merasa wanitanya itu bersikap agak aneh hari ini.
“Aku tidak mengatakan apapun. Sudahlah kau pergi saja. Jika tidak kau akan segera terlambat,” ujar Kasih mendorong paksa tubuh kekar pria yang jauh lebih dewasa darinya itu kearah pintu menyuruhnya agar segera pergi.
__ADS_1
BERSAMBUNG…