Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 67 Tanda Terima Kasih


__ADS_3

FLASHBACK ON


“Tapi, Kasih. Ibu punya sesuatu yang penting untuk dibicarakan denganmu.”


“Sesuatu yang penting? Apa itu?” tanya Kasih penasaran.


“Kau harus menghentikan Tuan Smith agar tidak melenyapkan perusahaan Nenekmu,” kata Ibu kasih berterus terang. Kasih tercengang dengan mulutnya sedikit terbuka tidak percaya dengan apa yang keluar dari mulut Ibunya. ‘Ibu masih sangat membela Nenek. Bahkan setelah semua yang dilakukan Nenek padanya.’


“Jika Tuan Smith sampai menghancurkan perusahaan Nenekmu, maka Ibu ....”


FLASHBACK END


“Ibuku sendiri sangat membela orang yang sangat membenci dirinya, ini adalah kesempatanku untuk melenyapkan akar dari permasalahan keluargaku, tapi ibuku malah ....” Kasih menghela nafas frustasi pandangan matanya tertuju pada berkas berisi seluruh aset kekayaan Neneknya yang telah menjadi milik Tuan Smith. Kini berkas itu diberikan pada Kasih.


“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Kasih pada dirinya sendiri.


Tuan Smith memasuki ruangannya dan terheran melihat Kasih yang tampak kacau.


“Hey! Gadis bodoh!” ucap Tuan Smith sembari menyentil jidat Kasih hingga membuat gadis itu menjerit kesakitan.


“Apa yang kau lakukan?! Itu sangat sakit!” seru Kasih sambil menempelkan tangannya pada jidatnya yang memerah. Matanya melotot marah menatap Tuan Smith.


“Kau tidak bekerja dan hanya melamun? Gajimu ingin kupotong?” balas Tuan Smith tanpa rasa bersalah.


‘Ah! Aku selalu saja melupakan siapa yang berdiri dihadapanku ini. Dia adalah pria gila super pelit dan menyebalkan yang ada dimuka bumi.’


“Jika ingin potong gaji, ya potong saja. Untuk apa sampai menyentilku segala?!” kata Kasih marah.


“Disini akulah Bosnya. Kau hanyalah salah satu pegawaiku. Aku berhak untuk melakukan apapun, sesukaku.”


‘Arggh!!! Sangat menyebalkan! Aku ingin sekali mengutuki pria gila ini, Tuhan. Tolong ampuni aku sekali ini saja. aku sedang berpikir untuk mengerjainya agar ia jera membuatku jengkel.’


Tuan Smith melihat berkas yang ada di atas mejanya dan bertanya, “Kau sudah melihatnya?”


“Apa?” tanya Kasih galak.


Lalu dengan menunjuk menggunakan dagunya Tuan Smith menunjuk berkas yang sedang ia maksudkan. Kasih mengikuti kemana arah yang sedang ditunjuk oleh Tuan Smith. Kasih tidak berkata apapun setelah melihat berkas yang dimaksud oleh Tuan Smith. Hatinya masih sangat dilema untuk  menentukan akan diapakan berkas itu. Jika ia ingin menghancurkan sang Nenek maka ia bisa menggunakan berkas itu sebagai senjata yang paling ampuh. Akan tetapi, Kasih kembali teringat dengan ucapan sang Ibu yang mengancam Kasih akan membunuh dirinya jika Kasih sampai melakukan hal itu.


“Hey! Apa yang sedang kau pikirkan? Pekerjaanmu hanya menggunakan jari-jari kecilmu itu saja. Kau tidak perlu sampai berpikir keras begitu,” kata Tuan Smith melambaikan tangannya di depan wajah Kasih yang terbengong.


“Pria gila, ah! Bukan. Maksudku Tuan Smith.” Si pria yang dimaksud mengangkat sebelah alisnya menatap Kasih bingung. “Aku ingin meminta sesuatu hal padamu,” ucap Kasih menatap wajah Tuan Smith serius.


***


“Tuan, Nenek dari Nyonya sudah berada di ruangan,” ucap John saat memasuki ruangan dimana Tuan Smith sedang menatap berkas ditangannya.


Berkas yang dipegang oleh Tuan Smith kemudian dilempar ke atas meja. John menatap berkas itu dengan pandangan heran.


“Ini ....”


“Bawa itu dan berikan padanya. Katakan ....”


“ ... Dengan ini menyatakan seluruh perusahaan dan harta benda akan dipindah alihkan menjadi milik ... Ayah Kasih. Tuan Avisha,” tutur John membacakan surat keputusan yang dibuat oleh Tuan Smith atas permintaan Kasih.


Nenek Kasih dan paman Gery yang juga ikut turut serta hadir mendengarkan keputusan itu terkejut setengah mati. Mulut keduanya terbuka lebar tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.


“Ini tidak mungkin! Bagaimana mungkin seluruh kekaya ....” Nenek Kasih tidak percaya semua harta yang ia miliki harus berpindah tangan ke anaknya yang sudah ia usir bertahun-tahun lamanya. Ia nampak sangat syok. “Ini pasti ada kesalahan. Tolong periksa kembali,” pinta Nenek Kasih memohon pada John.


“Ini adalah keputusan bulat yang telah dibuat oleh Tuan Smith. Anda hanya akan memiliki rumah yang anda tinggali sekarang. Selain itu, semuanya telah diberikan pada Ayah Nyonya,” tutur John menjelaskan.

__ADS_1


“Tidak! itu tidak mungkin seperti itu.” Nenek Kasih menggelengkan kepalanya tidak percaya.


“Tugas saya sudah selesai disini, saya permisi. Nyonya.” John membungkuk sopan lalu pergi.


“Tidak. Anda harus menolongku untuk bertemu dengan Tuan Smith. Ini tidak mungkin seperti ini,” kata Nenek Kasih mencegah John pergi.


“Tolong kami untuk bertemu dengan Tuan Smith. Kami harus berbicara dengannya,” kata Paman Gery menambahkan.


“Itu ... sama sekali tidak perlu.”


Sebuah suara menyela mereka semua. Kasih berdiri menatap Neneknya dengan tatapan tajam.


“Kasih?!” Seru Nenek Kasih menatap ke arah Kasih dengan tatapan tidak percaya.


“Kau! dasar jalang kecil berani sekali kau melakukan hal ini kepadaku!” kata Nenek Kasih dengan penuh amarah seraya bergerak maju hendak memukul Kasih. Namun segera dicegah oleh John yang masih berada di situ.


“Mohon jaga sikap Anda Nyonya,” ucap John memberi peringatan.


“Lepaskan aku! berani sekali kau menyentuhku biarkan aku memukul gadis jalang ini!”


“Hati-hati dengan perkataan Anda jika anda tidak ingin membuat masalah yang lebih besar.”


“Huh!” Nenek Kasih melipat kedua tangannya di depan dadanya sembari mendengus kesal. “Gadis jalang Ini memang sama seperti ibunya selalu membuat masalah untukku dan keluargaku!”


“Seharusnya Nenek bersyukur karena aku tidak membuat Nenek menjadi gelandangan di jalanan.”


“Kau?!” Nenek Kasih Semakin menjadi geram. “Aku tidak tahan lagi, Ayo kita pergi saja dari sini,” tambahnya lalu bergegas menarik tangan Paman Gery meninggalkan ruang itu. Kasih hanya menatap mereka berdua hingga keduanya hilang di balik pintu.


“Apakah anda baik-baik saja Nyonya?” tanya John.


“Aku baik-baik saja paman. Terima kasih sudah membantu mengurus semua masalah ini.”


“Hal ini bukanlah apa-apa Nyonya. Saya hanya melakukan apa yang menjadi tugas saya. Jika anda ingin berterima kasih anda harus mengatakannya pada tuan Smith,” kata John dengan rendah hati.


Kasih seketika menjadi tersadar. ‘Benar juga ucapan paman John jika bukan karena bantuan dari tuan Smith semua ini tidak mungkin akan berjalan dengan lancar. Aku akan berterima kasih padanya nanti.’


“Nyonya?” Panggil John pada kasih yang terlihat sedang termenung.


“Hm?” Kasih seketika tersadar dengan wajah bingung balas menatap John yang juga sedang menatapnya.


“Saya masih harus mengerjakan pekerjaan yang lainnya. Jika tidak ada hal yang lainnya lagi, maka saya permisi dulu.” Kata John pamit pergi.


Kasih mengangguk mempersilahkan John untuk lanjutkan pekerjaannya.


***


Gadis yang telah menjadi Nyonya Alexander itu sedang berjalan pelan dengan sebuah bungkusan berada di tangannya.


“Aku membelikan dia makan siang hanya untuk berterima kasih padanya. Dia tidak mungkin menganggap aku menyukainya dan sedang berusaha untuk mencari perhatiannya, bukan?”gumamnya sambil menatap bungkusan makanan yang baru saja dibelinya.


“Ah! Apa yang sedang aku pikirkan! Benar-benar bodoh.” Kasih Mengabaikan semua pikiran negatif yang bermunculan lalu mempercepat langkah kakinya menuju ke arah ruangan tuan Smith.


Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Kasih membuka pintu ruangan kerja milik Tuan Smith dan seketika ia menjadi sangat terkejut. Dihadapannya ia sedang melihat Tuan Smith dan Melinda yang sedang menatap ke arahnya dengan pandangan terkejut. Kasih melihat mereka berdua tampak serasi satu sama lain. ‘Nona Melinda sangat cantik dan juga pintar sangat cocok dengan Tuan Smith. Jika Tuan Smith menemukan wanita lain mungkin saja dia akan melupakan aku. Setelahnya aku bisa pergi dengan bebas. Bukankah itu Terdengar sangat bagus.’


“Apa yang sedang kau lakukan di sana masuk tanpa mengetuk pintu dan sekarang kau tersenyum seperti orang gila.” Ujar Tuan Smith mengalihkan pandangannya pada dokumen-dokumen yang tergeletak di atas mejanya. ‘Gadis bodoh ini Apakah dia sedang cemburu melihat aku dan Melinda?’


Sontak Kasih tersadar dari pikirannya. “Oh, Maafkan Aku. Aku tidak bermaksud untuk bersikap tidak sopan dan mengganggu kalian. Aku datang kemari hanya ingin memberikan makan siang untuk Tuan Smith sebagai tanda ucapan terima kasih atas semua bantuan darinya.”


Mata Tuan Smith tertuju kepada bungkusan yang sedang dimaksud oleh Kasih.

__ADS_1


“Kenapa hanya berdiri di situ?” tanya Tuan Smith.


“Oh?” kasih bingung tidak mengerti.


“Bawa kemari.”


Kasih kemudian maju dan memberikan nasi kotak itu pada Tuan Smith.


“Kau Pergilah.”


Kasih membalikkan badannya hendak pergi. Akan tetapi tangannya dicekal oleh Tuan Smith.


“Huh? Ada apa?” tanya kasih bingung.


“Pergi ke mana?”


“Bukankah tadi kau menyuruhku pergi? Dan lagi urusanku disini sudah selesai Aku hanya ingin mengantarkan nasi kotak ini untukmu.”


“Dasar bodoh.” Ucapkan Smith sembari menyentil jidat kasih.


“Aw!” seketika Kasih meringis tangannya menyentuh jidatnya. “Apa yang kau lakukan dasar pria gila aku sudah berbuat baik kepadamu tapi kau malah membalasku seperti ini! Sungguh tidak bisa dipercaya!”


Tuan Smith lalu mengalihkan pandangannya pada Melinda yang sedari tadi hanya memperhatikan keduanya. “Apalagi yang kau tunggu cepat tinggalkan ruanganku.”


Melinda tersentak. “Baik, Tuan. Saya permisi.” Ucap Melinda sembari pergi meninggalkan ruang kerja Tuan Smith.


“Eh? Apa yang kau lakukan Kenapa menyuruh Nona Melinda pergi?”


“Urusannya di ruangan ini sudah selesai,” ucap Tuan Smith singkat.


“Ta... Tata... Tapii....”


“Sekarang, layani aku.”


“Hah?!” Sontak Kasih terkesiap. “Apa maksudmu?!”


“Kau adalah istriku tentu saja kau harus melayani dengan baik.”


“Aa... Apa?!” kedua mata kasih membulat menatap Tuan Smith. “ Dasar gila! Aku tidak mau.”


“Kau?!” Tuan Smith menatap Kasih dengan kedua alis yang saling bertaut. “Istri macam apa yang tidak mau melayani suaminya makan siang?”


“Tentu saja aku tidak mau. Aku....”


Kasih tiba-tiba menyadari sesuatu. “Tunggu,” ucapnya pada dirinya sendiri. “Apa barusan kau bilang melayani makan?” tanyanya kemudian.


“Tentu saja. Memangnya kau pikir apa? Atau jangan-jangan kau berpikir aku akan menyuruhmu melayaniku yang lain?” tanya Tuan Smith menebak isi kepala Kasih dengan sangat tepat.


“Sembarangan! Tidak mungkin aku berpikir seperti itu. Dasar menyebalkan! Aku tidak mengurusi mu lagi.”


“Hey! Kau Harus melayaniku makan,” seru Tuan Smith pada Kasih yang sudah sampai diambang pintu.


“Kau bukanlah seorang anak bayi lagi kau bisa makan sendiri!” ucap Kasih sembari berlalu keluar ruangan setelah menutup pintu.


“Gadis kecil ini sungguh berani,” gumam Tuan Smith sambil menatap nasi kotak pemberian Kasih.


Sementara di balik pintu ada kasih yang sedang merutuki dirinya sendiri.


“Astaga! aku sungguh bodoh bisa-bisanya aku salah paham terhadap maksud pria gila itu. Ini sangat memalukan,” ucap Kasih dengan wajah memerah sembari melangkah pergi.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2