Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 27 Calon Suami


__ADS_3

Setelah penuturan tuan Smith yang hampir saja


membuat penyakit jantung Ayah Kasih kembali kambuh, akhirnya tuan Smith sendiri


yang maju untuk berbicara secara langsung pada Ayah Kasih.


“saya ingin menikahi putri anda, Kasih. Besok pernikahan


akan segera dilangsungkan ” tutur tuan Smith pada Ayah Kasih


“hah??? Apa... katamu?“tanya Ayah Kasih


bingung dengan perkataan tuan Smith.


“apa anda sedang melamar putriku???”


“yeah. Bisa dibilang begitu” jawab tuan Smith


membenarkan


Ayah Kasih memalingkan wajahnya menatap Kasih


yang tertunduk takut jikalau sang Ayah akan marah besar padanya


“apa aku sedang bermimpi? “ucap Ayah Kasih


yang tiba-tiba membuat semua orang menatap nya heran “aku akan mendapat menantu


seorang pria paling kaya dan berkuasa di negara ini” sambung Ayah Kasih sembari


tertawa senang hingga membuatnya tidak sengaja menarik selang infus yang masih


tertancap dilengannya. Saking senangnya ia sampai lupa jika ia baru saja


menjalani operasi dan itu membuatnya harus menahan sakit karena terlalu banyak


bergerak.


“aduh sakit sekali!” rintih Ayah Kasih


kesakitan


Buru-buru Ibu datang mendekat hendak memberi


bantuan


“apa yang kau lakukan? Kenapa bergerak seperti


ini? Apa kau lupa kau baru saja selesai menjalani operasi” ucap Ibu mengomel


“Hoho maafkan aku. Aku terlalu bersemangat. Apa


kau tau? Jika sejak awal aku mengetahui anak yang  dikandungnya adalah anak dari tuan Smith aku


pasti tidak perlu sampai seperti ini” Kata Ayah Kasih senang


Kasih yang sedari tadi menundunk sontak


mengangkat wajahnya lalu menatap Ayahnya bingung


“apa maksud Ayah? “tanya Kasih tidak mengerti


mengapa sikap Ayahnya malah terlihat sangat senang begitu setelah berhadapan


dengan pria yang sudah membuat anaknya hamil sebelum menikahinya “kenapa Ayah


malah tampak bahagia seperti itu? Bukankah Ayah harusnya marah? “


Semua yang ada diruangan itu juga menatap


heran pada Ayah Kasih


“tentu saja Ayah bahagia. Siapa yang tidak


ingin bersanding dengan keluarga Alexander. Sudah sejak lama Ayah mendambakan


momen ini. Akhirnya, tiba juga hari keberuntungan Ayah bisa menjalin hubungan


kekeluargaan dengan keluarga Alexander. Impian Ayah sudah terwujud, Ayah sudah


tidak apa-apa jika harus pergi sekarang” tutur Ayah Kasih menjelaskan


“Ayah, apa yang Ayah katakan? Aku sama sekali


tidak mengerti. Apa Ayah ingin menjualku pada pria gila ini?! “ Kata Kasih yang


masih bingung tidak mengerti dengan maksud perkataan sang Ayah


“aduh! Anakku sayang Ayah tidak mungkin


berbuat seperti itu. Ayah sangat menyayangimu. Ayah sangat bahagia jika melihat


kau juga bahagia, terlebih kau sekarang sudah menemukan orang yang tepat untuk menggantikan


peran Ayah menjaga dan merawatmu. Kau harus bersyukur tuan Smith mau


menikahimu. Kau tau sendiri kondisi kita tidak seperti dulu, Ayahmu ini juga


selalu sakit-sakitan tidak bisa terus menjaga kalian. Kau butuh seorang pemuda


seperti tuan Smith untuk menjagamu, Nak. Dia itu pria yang paling berkuasa


dinegara kita, kau akan aman jika bersamanya” tutur Ayah menjelaskan


‘melindungiku? Dialah yang mencelakaiku, Ayah!


Tidak! Tidak bisa membiarkan Ayah tau yang sebenarnya. Untuk sementara aku


harus bersabar tidak boleh memperburuk situasi yang akan memengaruhi kondisi


kesehatan Ayah. Tenang Kasih, kau bisa melakukannya’


Kasih tersenyum menatap Ayahnya.


“apa yang Ayah katakan? Ayah tetap Ayahku,


selamanya tidak akan tergantikan!” Kasih memeluk hangat sang Ayah


“aduh! Anakku ini kau sebentar lagi akan


menjadi seorang istri dan Ibu. Jangan bersikap kekanakan begini didepan calon


suamimu” ujar Ayah Kasih sembari menepuk pelan punggung putrinya


“biarkan saja. Aku tidak peduli” ucap Kasih


acuh

__ADS_1


Ayah Kasih menatap tuan Smith berniat melihat


ekspresi pria itu. Namun, tuan Smith yang merasa tidak keberatan dan hanya memberi


senyum maklum tidak mempermasalahkan sifat Kasih yang seperti itu.


Ayah Kasih kemudian meminta waktu agar dapat


berbicara empat mata dengan tuan Smith


“apa yang ingin Ayah bicarakan dengan pria


gila ini. Aku tidak ingin keluar, aku ingin tetap disini” ujar Kasih melipat


tangannya didepan dada sambil memasang wajah cemberut


“Kasih, keluar dari sini Ayahmu perlu waktu


untuk berbicara dengan calon suamimu” ucap Ibu membujuk Kasih sembari menarik


Kasih keluar.


“tapi Bu... “


“sudah dengarkan Ibu, kau harus keluar” sang


Ibu akhirnya menyeret paksa Kasih keluar dari ruangan itu meninggalkan tuan


Smith dan Ayah Kasih


Kasih yang keras kepala akhirnya melunak dan


mengikuti sang Ibu keluar ruangan. saat berpapasan dengan tuan Smith, Kasih berbisik


pada tuan Smith


“awas saja kau kalau bicara sembarangan pada


Ayahku” ancam Kasih pada tuan Smith yang hanya tersenyum simpul


“kau tenang saja, ISTRIKU” balas tuan Smith dengan


senyum kemenangan terpatri jelas diwajah tampannya.


“astaga! Kau ini benar-benar makhluk


menyebalkan yang pernah ada” Kasih semakin emosi dan hendak memukul tuan Smith


namun segera dilerai sang Ibu dan menyeret Kasih pergi.


“sudah! Ayo pergi”


Setelah berada diluar Kasih lalu diam-diam mengambil


ponselnya dan mengirim pesan


“kami harus pulang. Ingat untuk menjaga Ayah


Kasih dan Kasih dengan baik”kata Nenek lalu berlalu pergi diikuti Paman Gery


yang berjalan mengikutinya dari belakang.


“baik. Hati-hati dijalan Ibu”ucap Ibu sopan memmandang


kepergian sang Ibu mertua


Karina kemudian


“Oh, baiklah. Hati-hati dijalan ya. Terima


kasih sudah datang kesini”


“iya Bibi” ujar Karina sambil tersenyum


“Kasih, aku pulang dulu ya”


“Baik. Aku akan mengantarmu keparkiran” ucap


Kasih menghentikan kegiatannya “Bu, aku pergi sebentar”


“Ya”Ibu Kasih mengangguk mengerti


***


Setelah sampai diparkiran


“aku pulang dulu, Sih” pamit Karina pada Kasih


“ingat untuk mengabariku ya”


“um” Kasih mengangguk patuh ”hati-hati di


jalan” Kasih melambaikan tangannya. Mobil Karinapun melaju meninggalkan Kasih


seorang diri di parkiran rumah sakit yang sudah terlihat sepi itu.


Kasih menghela nafas dalam-dalam lalu


memandang kearah langit malam diatasnya. Pikirannya melayang memikirkan


berbagai hal yang telah terjadi di hidupnya.


‘besok aku akan menikahi pria gila itu. Aku


tidak akan punya kesempatan lagi bersama pangeran impianku’


FLASHBACK ON


Kasih yang saat itu masih duduk dibangku SD


sedang duduk dilantai sedang terpojok dengan para murid lain yang sedang


mengolok-olok dirinya. Kasih kecil tampak menangis sembari berjongkok, kedua tangan


kecilnya menutupi kedua telinganya berharap ia tidak akan mendengar anak-anak


lain yang sedang mengata-ngatai dirinya.


Namun nihil, ia tetap bisa mendengar semua


perkataan yang dilontarkan beberapa anak yang usianya tak jauh berbeda dari


Kasih kecil


Anak-anak itu mengelilingi Kasih yang terduduk


di lantai dan terus memojokkannya, meski Kasih sudah menangis dibuatnya tapi

__ADS_1


segerombolan anak itu tidak kunjung berhenti melakukan aksinya. Hingga seorang


anak lelaki datang dan membubarkan mereka.


“apa yang kalian lakukan?! Pergi dari sini!”


Kasih berhenti menangis dan mengadakan


wajahnya untuk melihat siapakah yang sudah menolongnya itu.


Anak lelaki itu adalah Rey. Ia dengan berani


datang dan menolong Kasih dari anak-anak yang sedang membully dirinya.


Mata keduanya bertemu. Kasih kecil tidak dapat


berkata apapun. Ia hanya diam dan menatap lekat wajah Rey kecil.


“apa kau tidak apa-apa? “ Rey kecil


mengulurkan tangannya untuk membantu Kasih berdiri


Masih dalam keadaan antara bengong dan


terpesona Kasih menyambut uluran tangan Rey dan bangkit berdiri


Rey lalu melayangkan tatapan marah ke


anak-anak tadi yang membully Kasih.


“apa kalian ingin kulaporkan ke kepala


sekolah?! Pergi kalian dari sini!!! “


Gerombolan anak itupun lari berhamburan meninggalkan


Rey dan Kasih disana.


“te...tteerima kasih” ucap Kasih terbata. Tampak


rona merah sudah menghiasi kedua pipinya. Kasih menatap tanah yang ia pijak tak


berani menatap wajah Rey


“Oh, kau baik-baik saja? Kau harus melawan


jika terjadi hal itu lagi” ucap Rey pada Kasih


“baik” kata Kasih yang masih setia menatap


ujung sepatutnya. Debaran jantungnya kini berdegub semakin kencang, ia merasa


sangat senang untuk pertama kalinya ada yang mau menolongnya ketika ia sedang


dipojokkan oleh anak-anak lain yang sangat suka sekali membully dirinya. Karena


tidak pernah sekalipun melawan balik padahal ia bisa saja mengadukan hal itu


pada guru ataupun orang tuanya, namun Kasih memilih untuk tidak melakukan hal


itu. Ia ingin agar orang-orang disekitarnya merasa nyaman dengan dirinya apa


adanya. Bukan karena melihat siapa orangtuanya. Hal ini malah membuat semakin


banyak saja yang sering melakukan pembullyan padanya.


Sejak saat hari itu, Kasih akhirnya resmi


menjadi pengagum rahasia Rey. Kasih selalu memandangi Rey dari kejauhan. Menggambar


wajahnya dibuku diary miliknya bahkan menganggap Rey adalah pangeran impiannya


yang ia nantikan selama ini.


FLASHBACK OFF


“Kasih! Kasih! “ panggil Ibu menyadarkan Kasih


yang sedang melamun


Kasih tersadar dan terkejut melihat Ibunya ada


didepannya


“Ibu? Sedang apa disini”


“Ayah ingin bicara denganmu”Kata Ibu pada


Kasih


***


Setelah mengetuk pintu ruang rawat Ayahnya,


Kasih lalu masuk kedalam. Di dalam masih ada tuan Smith dan Ayahnya. Setelah


itu disusul Ibunya yang juga ikut masuk ke dalam ruangan.


“Ayah ingin berbicara DENGANKU!” Kata Kasih


menatap tuan Smith seakan memberi isyarat padanya agar segera meniggalkan


ruangan itu.


Namun, Ayah Kasih segera menyela “Biarkan tuan


Smith disini. Ia juga harus ikut mendengarkan sebagai menantuku dan calon


suamimu”


Kasih tercengang tidak percaya dengan apa yang


barusan didengarnya ‘Ayah menyebutnya menantuku, jangan-jangan...’


“Ayah merestui hubungan kalian” ucap Ayah


Kasih yang kemudian membuat Kasih terbelalak tidka percaya


“me..mmmerestui???” Seketika Kasih merasa


udara disekelilingnya menipis membuat dadanya terasa sesak karena kekurangan


oksigen. ‘sebenarnya apa yang dibicarakan Ayah dengan tuan Smith sampai Ayah


berkata merestui hubungan ini? Bukankah ia harusnya memarahi tuan Smith yang sudah


menodaiku?! Lalu mengapa...’

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2