
Setelah penuturan tuan Smith yang hampir saja
membuat penyakit jantung Ayah Kasih kembali kambuh, akhirnya tuan Smith sendiri
yang maju untuk berbicara secara langsung pada Ayah Kasih.
“saya ingin menikahi putri anda, Kasih. Besok pernikahan
akan segera dilangsungkan ” tutur tuan Smith pada Ayah Kasih
“hah??? Apa... katamu?“tanya Ayah Kasih
bingung dengan perkataan tuan Smith.
“apa anda sedang melamar putriku???”
“yeah. Bisa dibilang begitu” jawab tuan Smith
membenarkan
Ayah Kasih memalingkan wajahnya menatap Kasih
yang tertunduk takut jikalau sang Ayah akan marah besar padanya
“apa aku sedang bermimpi? “ucap Ayah Kasih
yang tiba-tiba membuat semua orang menatap nya heran “aku akan mendapat menantu
seorang pria paling kaya dan berkuasa di negara ini” sambung Ayah Kasih sembari
tertawa senang hingga membuatnya tidak sengaja menarik selang infus yang masih
tertancap dilengannya. Saking senangnya ia sampai lupa jika ia baru saja
menjalani operasi dan itu membuatnya harus menahan sakit karena terlalu banyak
bergerak.
“aduh sakit sekali!” rintih Ayah Kasih
kesakitan
Buru-buru Ibu datang mendekat hendak memberi
bantuan
“apa yang kau lakukan? Kenapa bergerak seperti
ini? Apa kau lupa kau baru saja selesai menjalani operasi” ucap Ibu mengomel
“Hoho maafkan aku. Aku terlalu bersemangat. Apa
kau tau? Jika sejak awal aku mengetahui anak yang dikandungnya adalah anak dari tuan Smith aku
pasti tidak perlu sampai seperti ini” Kata Ayah Kasih senang
Kasih yang sedari tadi menundunk sontak
mengangkat wajahnya lalu menatap Ayahnya bingung
“apa maksud Ayah? “tanya Kasih tidak mengerti
mengapa sikap Ayahnya malah terlihat sangat senang begitu setelah berhadapan
dengan pria yang sudah membuat anaknya hamil sebelum menikahinya “kenapa Ayah
malah tampak bahagia seperti itu? Bukankah Ayah harusnya marah? “
Semua yang ada diruangan itu juga menatap
heran pada Ayah Kasih
“tentu saja Ayah bahagia. Siapa yang tidak
ingin bersanding dengan keluarga Alexander. Sudah sejak lama Ayah mendambakan
momen ini. Akhirnya, tiba juga hari keberuntungan Ayah bisa menjalin hubungan
kekeluargaan dengan keluarga Alexander. Impian Ayah sudah terwujud, Ayah sudah
tidak apa-apa jika harus pergi sekarang” tutur Ayah Kasih menjelaskan
“Ayah, apa yang Ayah katakan? Aku sama sekali
tidak mengerti. Apa Ayah ingin menjualku pada pria gila ini?! “ Kata Kasih yang
masih bingung tidak mengerti dengan maksud perkataan sang Ayah
“aduh! Anakku sayang Ayah tidak mungkin
berbuat seperti itu. Ayah sangat menyayangimu. Ayah sangat bahagia jika melihat
kau juga bahagia, terlebih kau sekarang sudah menemukan orang yang tepat untuk menggantikan
peran Ayah menjaga dan merawatmu. Kau harus bersyukur tuan Smith mau
menikahimu. Kau tau sendiri kondisi kita tidak seperti dulu, Ayahmu ini juga
selalu sakit-sakitan tidak bisa terus menjaga kalian. Kau butuh seorang pemuda
seperti tuan Smith untuk menjagamu, Nak. Dia itu pria yang paling berkuasa
dinegara kita, kau akan aman jika bersamanya” tutur Ayah menjelaskan
‘melindungiku? Dialah yang mencelakaiku, Ayah!
Tidak! Tidak bisa membiarkan Ayah tau yang sebenarnya. Untuk sementara aku
harus bersabar tidak boleh memperburuk situasi yang akan memengaruhi kondisi
kesehatan Ayah. Tenang Kasih, kau bisa melakukannya’
Kasih tersenyum menatap Ayahnya.
“apa yang Ayah katakan? Ayah tetap Ayahku,
selamanya tidak akan tergantikan!” Kasih memeluk hangat sang Ayah
“aduh! Anakku ini kau sebentar lagi akan
menjadi seorang istri dan Ibu. Jangan bersikap kekanakan begini didepan calon
suamimu” ujar Ayah Kasih sembari menepuk pelan punggung putrinya
“biarkan saja. Aku tidak peduli” ucap Kasih
acuh
__ADS_1
Ayah Kasih menatap tuan Smith berniat melihat
ekspresi pria itu. Namun, tuan Smith yang merasa tidak keberatan dan hanya memberi
senyum maklum tidak mempermasalahkan sifat Kasih yang seperti itu.
Ayah Kasih kemudian meminta waktu agar dapat
berbicara empat mata dengan tuan Smith
“apa yang ingin Ayah bicarakan dengan pria
gila ini. Aku tidak ingin keluar, aku ingin tetap disini” ujar Kasih melipat
tangannya didepan dada sambil memasang wajah cemberut
“Kasih, keluar dari sini Ayahmu perlu waktu
untuk berbicara dengan calon suamimu” ucap Ibu membujuk Kasih sembari menarik
Kasih keluar.
“tapi Bu... “
“sudah dengarkan Ibu, kau harus keluar” sang
Ibu akhirnya menyeret paksa Kasih keluar dari ruangan itu meninggalkan tuan
Smith dan Ayah Kasih
Kasih yang keras kepala akhirnya melunak dan
mengikuti sang Ibu keluar ruangan. saat berpapasan dengan tuan Smith, Kasih berbisik
pada tuan Smith
“awas saja kau kalau bicara sembarangan pada
Ayahku” ancam Kasih pada tuan Smith yang hanya tersenyum simpul
“kau tenang saja, ISTRIKU” balas tuan Smith dengan
senyum kemenangan terpatri jelas diwajah tampannya.
“astaga! Kau ini benar-benar makhluk
menyebalkan yang pernah ada” Kasih semakin emosi dan hendak memukul tuan Smith
namun segera dilerai sang Ibu dan menyeret Kasih pergi.
“sudah! Ayo pergi”
Setelah berada diluar Kasih lalu diam-diam mengambil
ponselnya dan mengirim pesan
“kami harus pulang. Ingat untuk menjaga Ayah
Kasih dan Kasih dengan baik”kata Nenek lalu berlalu pergi diikuti Paman Gery
yang berjalan mengikutinya dari belakang.
“baik. Hati-hati dijalan Ibu”ucap Ibu sopan memmandang
kepergian sang Ibu mertua
Karina kemudian
“Oh, baiklah. Hati-hati dijalan ya. Terima
kasih sudah datang kesini”
“iya Bibi” ujar Karina sambil tersenyum
“Kasih, aku pulang dulu ya”
“Baik. Aku akan mengantarmu keparkiran” ucap
Kasih menghentikan kegiatannya “Bu, aku pergi sebentar”
“Ya”Ibu Kasih mengangguk mengerti
***
Setelah sampai diparkiran
“aku pulang dulu, Sih” pamit Karina pada Kasih
“ingat untuk mengabariku ya”
“um” Kasih mengangguk patuh ”hati-hati di
jalan” Kasih melambaikan tangannya. Mobil Karinapun melaju meninggalkan Kasih
seorang diri di parkiran rumah sakit yang sudah terlihat sepi itu.
Kasih menghela nafas dalam-dalam lalu
memandang kearah langit malam diatasnya. Pikirannya melayang memikirkan
berbagai hal yang telah terjadi di hidupnya.
‘besok aku akan menikahi pria gila itu. Aku
tidak akan punya kesempatan lagi bersama pangeran impianku’
FLASHBACK ON
Kasih yang saat itu masih duduk dibangku SD
sedang duduk dilantai sedang terpojok dengan para murid lain yang sedang
mengolok-olok dirinya. Kasih kecil tampak menangis sembari berjongkok, kedua tangan
kecilnya menutupi kedua telinganya berharap ia tidak akan mendengar anak-anak
lain yang sedang mengata-ngatai dirinya.
Namun nihil, ia tetap bisa mendengar semua
perkataan yang dilontarkan beberapa anak yang usianya tak jauh berbeda dari
Kasih kecil
Anak-anak itu mengelilingi Kasih yang terduduk
di lantai dan terus memojokkannya, meski Kasih sudah menangis dibuatnya tapi
__ADS_1
segerombolan anak itu tidak kunjung berhenti melakukan aksinya. Hingga seorang
anak lelaki datang dan membubarkan mereka.
“apa yang kalian lakukan?! Pergi dari sini!”
Kasih berhenti menangis dan mengadakan
wajahnya untuk melihat siapakah yang sudah menolongnya itu.
Anak lelaki itu adalah Rey. Ia dengan berani
datang dan menolong Kasih dari anak-anak yang sedang membully dirinya.
Mata keduanya bertemu. Kasih kecil tidak dapat
berkata apapun. Ia hanya diam dan menatap lekat wajah Rey kecil.
“apa kau tidak apa-apa? “ Rey kecil
mengulurkan tangannya untuk membantu Kasih berdiri
Masih dalam keadaan antara bengong dan
terpesona Kasih menyambut uluran tangan Rey dan bangkit berdiri
Rey lalu melayangkan tatapan marah ke
anak-anak tadi yang membully Kasih.
“apa kalian ingin kulaporkan ke kepala
sekolah?! Pergi kalian dari sini!!! “
Gerombolan anak itupun lari berhamburan meninggalkan
Rey dan Kasih disana.
“te...tteerima kasih” ucap Kasih terbata. Tampak
rona merah sudah menghiasi kedua pipinya. Kasih menatap tanah yang ia pijak tak
berani menatap wajah Rey
“Oh, kau baik-baik saja? Kau harus melawan
jika terjadi hal itu lagi” ucap Rey pada Kasih
“baik” kata Kasih yang masih setia menatap
ujung sepatutnya. Debaran jantungnya kini berdegub semakin kencang, ia merasa
sangat senang untuk pertama kalinya ada yang mau menolongnya ketika ia sedang
dipojokkan oleh anak-anak lain yang sangat suka sekali membully dirinya. Karena
tidak pernah sekalipun melawan balik padahal ia bisa saja mengadukan hal itu
pada guru ataupun orang tuanya, namun Kasih memilih untuk tidak melakukan hal
itu. Ia ingin agar orang-orang disekitarnya merasa nyaman dengan dirinya apa
adanya. Bukan karena melihat siapa orangtuanya. Hal ini malah membuat semakin
banyak saja yang sering melakukan pembullyan padanya.
Sejak saat hari itu, Kasih akhirnya resmi
menjadi pengagum rahasia Rey. Kasih selalu memandangi Rey dari kejauhan. Menggambar
wajahnya dibuku diary miliknya bahkan menganggap Rey adalah pangeran impiannya
yang ia nantikan selama ini.
FLASHBACK OFF
“Kasih! Kasih! “ panggil Ibu menyadarkan Kasih
yang sedang melamun
Kasih tersadar dan terkejut melihat Ibunya ada
didepannya
“Ibu? Sedang apa disini”
“Ayah ingin bicara denganmu”Kata Ibu pada
Kasih
***
Setelah mengetuk pintu ruang rawat Ayahnya,
Kasih lalu masuk kedalam. Di dalam masih ada tuan Smith dan Ayahnya. Setelah
itu disusul Ibunya yang juga ikut masuk ke dalam ruangan.
“Ayah ingin berbicara DENGANKU!” Kata Kasih
menatap tuan Smith seakan memberi isyarat padanya agar segera meniggalkan
ruangan itu.
Namun, Ayah Kasih segera menyela “Biarkan tuan
Smith disini. Ia juga harus ikut mendengarkan sebagai menantuku dan calon
suamimu”
Kasih tercengang tidak percaya dengan apa yang
barusan didengarnya ‘Ayah menyebutnya menantuku, jangan-jangan...’
“Ayah merestui hubungan kalian” ucap Ayah
Kasih yang kemudian membuat Kasih terbelalak tidka percaya
“me..mmmerestui???” Seketika Kasih merasa
udara disekelilingnya menipis membuat dadanya terasa sesak karena kekurangan
oksigen. ‘sebenarnya apa yang dibicarakan Ayah dengan tuan Smith sampai Ayah
berkata merestui hubungan ini? Bukankah ia harusnya memarahi tuan Smith yang sudah
menodaiku?! Lalu mengapa...’
__ADS_1
BERSAMBUNG...