
Kasih sedang termenung sendirian di beranda kamarnya.
Pikirannya melayang memikirkan siapa sebenarnya dirinya. Cincin yang melingkar
dijari manisnya sejak ia pertama
kali membuka matanya diranjang rumah sakit itu tertera namanya. “Aku
baru saja tersadar entah sudah berapa lamanya dan sekarang aku tidak mengingat
siapa diriku. Tidak hanya itu, aku juga harus membayar hutangku karena
memecahkan guci si Pria Gila itu. Sungguh menyebalkan sekali.”
Diangkatnya wajahnya menatap langit malam dengan sang
rembulan yang sedang bersinar terang diatas sana. “Tuhan, aku merasa sangat
bingung. Siapa aku? Apa aku punya keluarga? lalu dimana mereka sekarang?”
***
“Bibi, apa yang sedang Bibi cari?” tanya Ed Alexander pada sang
Bibi Alysa yang terlihat celingak celinguk seakan mencari sesuatu.
“Itu ...” kata Alysa pelan sembari masih sibuk melihat
kesana kemari. “Apa benar kau punya seorang pengasuh baru?”
Ed Alexander mengangguk santai.
“Siapa namanya?” tanya Alysa ingin tahu.
“Namanya Kasih.”
Seketika itu juga kedua manik Alysa melebar tangannya
bergerak perlahan menutup mulutnya yang tanpa sadar ternganga. ‘Benarkah itu?
benarkah Kasih telah kembali? Ya, Tuhan apa ini sungguh nyata? Kakakku ....’
“Apa yang sedang kau bicarakan? Jika Ibu mendengar hal ini
Ibu bisa sangat sedih,” ujar Jenny disambungan telepon yang terhubung dengan
Kakaknya Alysa.
“Aku serius!” tegas Alysa. “Kasih telah kembali.”
Jenny menggeleng masih tidak mempercayai dengan apa yang
baru saja didengarnya. Kakak yang telah hilang selama bertahun-tahun bahkan ia kira telah mati tidak
mungkin tiba-tiba kembali.
“Kau harus mempercayaiku. Aku berkata yang sebenarnya. Kak
Kasih telah kembali ....”Alysa tak sanggup melanjutkan perkataannya ketika
matanya menangkap sosok yang telah sangat lama dirindukan.
“Kasih ...” ucap Alysa pelan menatap lurus sosok Kasih yang
sedang berdiri dihadapannya.
Jenny menggerutu kesal melihat kearah ponsel lalu mematikan
panggilan secara sepihak karena tidak lagi mendapat jawaban dari Alysa. “Apa
sih Kak Alysa ini. Mana mungkin Kak Kasih kem ....”
Belum sempat Jenny menyelesaikan kalimatnya sebuah notif masuk ke
ponselnya dan alangkah terkejutnya ia saat melihat sebuah foto yang baru saja
dikirimkan Alysa padanya.
“Ti-tidak mungkin! Ini tidak mungkin!” seru Jenny tak
percaya.
“Apanya yang tidak mungkin, Jen?” tanya ibu yang tiba-tiba
sudah berada dihadapan Jenny.
“Ibu?!”
“Ada apa dengan ekspresimu itu? apa kau baru saja melihat
hantu?”
Jenny segera tersadar dari keterkejutannya sembari berusaha
menutupi layar ponsel yang masih menampilkan gambar Kasih yang baru saja dikirimkan oleh Alysa.
“Ah! Itu, anu ... Aku baru saja ingat aku ada urusan keluar
sebentar Bu, aku akan
pergi dulu.” Jawab Jenny agak kikuk sembari berlalu meninggalkan ibunya yang
masih menatapnya dengan keheranan.
“Ada apa dengan anak itu? Aneh sekali,” tukas sang Ibu heran.
Tanpa mempedulikan apapun lagi Jenny segera bergegas menuju
ke kediaman Tuan Alexander untuk memastikan.
“Maaf, sepertinya aku harus memperkenalkan diri padamu.” Suara
Kasih itu seketika menyadarkan Alysa dari keterpakuannya.
“Namaku adalah Kasih, aku pengasuh dari bocah ini,” ucap
Kasih sambil tersenyum lembut.
Dengan mata berkaca-kaca Alysa menyambut jabat tangan dari
Kasih.
“Alysa. Bibinya Ed Alexander.”
BRAK!
Seketika suara pintu terbuka dengan keras mengagetkan mereka
semua. Tampak Jenny dengan nafasnya yang tersengal berdiri mematung di ambang
pintu menatap lurus kearah Kasih yang juga menatapnya bingung.
“Ka- Ka- Kakak ... “suara Jenny terdengar lirih seiring air
mata yang menggenang dipelupuk mata.
Alysa segera bergerak menghampiri Jenny membawanya menjauh
untuk memberi penjelasan.
“Itu ... Itu kak Kasih, kan?” tanya Jenny yang kini telah
berlinangan air mata. Ia masih
sangat terguncang dengan fakta yang baru saja ia ketahui mendadak ia merasa
seolah sedang bermimpi.
Alysa hanya bisa mengangguk tanpa bisa mengeluarkan sepatah
kata. Terlihat jelas iapun ingin sekali menangis seperti halnya yang sedang
dilakukan oleh sang adik, namun ditahannya.
“A-apa?!” Jenny menatap tidak percaya pada Alyssa mencoba
mencari kebohongan dari setiap ucapan yang baru saja didengarnya. “Ini tidak mungkin,” sangkal
Jenny tidak ingin mempercayai apa yang ia dengar. “ kakakku Kak Kasih tidak
mungkin ia melupakan kita. Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu?”
Alyssa sangat mengerti dengan perasaan dari sang adik Ia pun
menarik adiknya itu yang masih dalam keadaan menangis ke dalam pelukannya untuk
menenangkan perasaannya. “Tenanglah Jenny, jangan menangis terus.” tangan Alysa bergerak menepuk pelan punggung Jenny.
“Kita
harus tetap kuat, entah hal apa yang telah dialami oleh kak Kasih sehingga ia
kehilangan semua ingatannya. Aku sedang berpikir bagaimana caranya untuk
memberitahu hal ini pada ibu. Aku takut setelah mengetahui kak Kasih tidak
mengingat siapapun dari kita maka ibu akan terguncang dan akan memicu
penyakitnya kambuh,” terang Alysa
memberi penjelasan pada Jenny.
Jenny yang sudah merasa perasaannya lebih tenang melepaskan diri dan menatap
intens kedua manik sang kakak.
“Bagaimanapun
ibu harus mengetahui
perihal kembalinya kak Kasih. Kita tidak mungkin menyembunyikannya selamanya. Perlahan
kita harus mencari waktu yang tepat untuk memberitahu ibu. Kita sudah
cukup kehilangan ayah dan bahkan hampir kehilangan kak Kasih juga.” Jenny
kembali menangis kedalam pelukan kakaknya.
“itu tidak akan terjadi, adik. Kita tidak akan kehilangan
siapapun lagi. Percayalah pada Kakak.”
Jenny semakin menangis meluapkan perasaan sedihnya dalam
dekapan sang Kakak. Dipeluknya erat tubuh sang Kakak seakan takut kehilangan.
“Nona, tuan Alexander memanggil untuk makan siang bersama.”
Terdengar suara Jhon yang sedang berbicara pada Kasih.
__ADS_1
“Baiklah, paman John. Kami akan segera kesana,” jawab Kasih
yang kemudian bergegas menuju ke ruang makan diikuti dengan yang lain.
Suasana makan siang di keluarga Alexander terasa sangat
hening hanya suara denting alat makan saja yang terdengar. Tidak ada satupun
yang berani membuka suara. Alysa dan Jenny hanya bisa saling menatap satu sama
lain. Mereka berdua ingin sekali menanyakan soal Kasih pada tuan Smith. Hingga
pada akhirnya sebuah suara memecah keheningan yang ada.
“Itu ...
“sontak seluruh pandangan tertuju pada sosok Kasih yang tersadar bahwa semua
orang sedang menatapnya saat ini. ‘ada apa dengan semua orang ini, sangat aneh. Atmosfer ini membuatku merasa sangat tidak nyaman aku ingin segera pergi saja.’
“Aku sepertinya sudah selesai makan aku akan pergi.” Kasih
segera berdiri dari kursinya bergegas pergi.
“Berhenti.”
Suara dari Tuan Smith membuat Kasih menghentikan tindakannya.
“Habiskan makananmu.” Perintah Tuan Smith dengan suara khasnya yang terdengar tegas dan
dingin sambil dengan santai menikmati hidangan dipiringnya.
“Tapi aku sudah kenyang perutku ini sudah sangat penuh aku tidak
ingin makan lagi,” sanggah Kasih masih tetap ingin pergi dan tidak ingin
melanjutkan makan.
“Jika masih tidak ingin makan, maka selanjutnya setiap
makanan yang kau makan aku akan menghitungnya dan memasukkannya menjadi
tagihanmu,” tutur Tuan Smith dingin.
Dengan kegeraman yang sudah mencapai ubun-ubun bibir bagian
atas Kasih terlihat bergerak sedikit, Kedua telapak tangannya mengepal kuat
ingin sekali meninju tampang dingin nan rupawan dari Tuan Smith. ‘ Hais! pria
gila ini membuatku benar-benar kesal! Bagaimana bisa dia begitu pelit hanya
makanan saja begitu perhitungan sekali!’
Meski hatinya sangat dongkol akan tetapi dengan terpaksa Kasih
kemudian melanjutkan menghabiskan sisa makanannya dengan ogah-ogahan. ‘Hutangku sudah begitu
banyak, mana mungkin aku membiarkannya bertambah, bisa-bisa aku harus membayar
seumur hidupku disini dengan pria gila ini. Menyebalkan sekali!’
Suasana hening pun kembali tercipta hingga acara makan siang
itu berakhir.
“Akhirnya selesai juga aku benar-benar sangat kenyang
sepertinya perutku akan meledak. Jika sampai aku sakit perut karena terlalu
banyak makan aku pasti akan menyalahkanmu dasar pria gila!” umpat Kasih bernada menyindir sambil
meletakkan sendok dan garpu ke atas piringnya yang telah kosong.
Tuan Smith yang masih berada di situ hanya mendengar dengan
cuek umpatan dari gadis bernama Kasih itu.
“Menyebalkan sekali aku tidak pernah bertemu orang seperti
dirinya begitu pelit dan perhitungan!” Kasih masih belum berhenti kesal dan
terus mengumpati pria yang bernama Tuan Smith Alexander.
“Dasar cerewet, siapa suruh kau mengambil begitu banyak
lauk. Jika kau tidak mampu menghabiskannya
maka kau hanya akan membuang-buang makanan,” timpal Ed Alexander dengan nada
acuh.
Kasih yang masih merasa kesal menatap tajam ke arah Ed Alexander. “Apa yang kau
katakan barusan?! Siapa yang kau bilang cerewet?!”
EdAlexander
melangkah gontai meninggalkan Kasih yang terus mengomeli dirinya.
“Dasar anak dan ayah benar-benar tidak ada bedanya. Sama-sama
sangat menyebalkan!” kata Kasih kesal. “ Hei tunggu aku! kau mau ke
mana? kau masih harus menjelaskan siapa yang kau sebut sebagai orang yang
berlari mengejar Ed Alexander yang berada belum jauh.
Tersisa Alysa,
Jenny serta Tuan Smith yang masih berada di ruang makan, meski merasa
sedikit canggung akhirnya Alysa dan Jenny memutuskan
untuk berbicara dengan Tuan Smith.
Belum juga satu kata pun keluar dari mulut keduanya Tuan Smith langsung menyela.
“Aku tahu apa yang ingin kalian bicarakan. Ikut denganku ke ruang kerjaku, aku akan menjawab semua
pertanyaan kalian.” Tuan Smith melangkah
pergi meninggalkan keduanya dalam keterkejutan.
Di ruang kerja kedua gadis itu tampak gelisah dengan apa
yang akan disampaikan oleh Tuan Smith pada mereka berdua.
“Duduklah!” Perintah Tuan Smith pada keduanya.
Tanpa berkata apapun keduanya hanya menurut mengambil tempat
yang berada di hadapan meja kerja dari sang kakak ipar.
“Apa yang kalian pikirkan semuanya itu adalah kebenaran. Wanita
yang kalian lihat itu adalah Kasih. Kakak kalian,” ungkap Tuan Smith singkat.
Kedua gadis itu sangat terkejut hingga kehilangan kata-kata.
Kasih yang telah lama menghilang tanpa kejelasan apakah ia masih hidup atau
sudah meninggal membuat mereka berdua seolah susah untuk menerima kenyataan
yang ada, bahwa Kasih masih hidup dan kini ada bersama mereka.
“Tapi, bagaimana mungkin? Bukankah ... “
“Ini semua karena ulah dari Max Julian,” beber Tuan Smith.
FLASHBACK ON
Tuan Smith tidak mampu menyelamatkan nyawa Rey. Pria itu
terlalu banyak kehilangan darah hingga akhirnya merenggut nyawanya. Sebelum Rey
meninggal, ia memberikan cincin pernikahannya dengan Kasih pada Tuan Smith.
Cincin serupa yang ada pada Kasih saat ini, cincin itu terukir nama Rey.
Digenggamnya dengan erat cincin milik Rey yang telah bernoda
darah sembari tangan satunya menggenggam erat tangan Rey yang telah tak
bernyawa.
“SIALAN!!!”
FLASHBACK OFF
“Kalian berdua
sebaiknya tidak usah khawatir. Kasih memang telah kehilangan seluruh
ingatannya. Akan tetapi, itu masih lebih baik daripada ia kehilangan nyawanya. Penyakitnya
hanya merenggut ingatannya bukan nyawanya. Jadi, jangan khawatirkan apapun dan
bersikaplah biasa. Aku akan mengurus sisanya dari sini.”
Begitulah segelintir perkataan Tuan Smith yang menyuruh
mereka untuk tenang dan tidak mengungkit masa lalu. Semua demi kebaikan dari
sang Kakak, Kasih. Mereka sangat mengerti mengapa Tuan Smith menyuruh mereka
bersikap demikian, penyakit Kasih sangat beresiko jika ia merasa tertekan atau
mengingat hal yang ditolaknya. Hal itulah yang hendak digunakan Max Julian
untuk menekan Tuan Smith agar menuruti keinginannya.
Akhirnya setelah mendapat penjelasan dari Tuan Smith, kedua
gadis itu memutuskan untuk menurut. Keduanya pulang ke rumah dan hendak memberi
penjelasan juga pada sang Ibu.
Di rumah sang Ibu terlihat sedang santai menonton tv di
ruang tamu. Sementara kedua anak gadisnya baru saja memasuki rumah.
“Kalian darimana saja? pulangnya bersamaan?” tanya sang Ibu
yang menyadari kedatangan putri-putrinya.
“Kami ....”
“Kalian sudah makan? Mau ibu panaskan makanan?” tukas sang
__ADS_1
Ibu.
Kedua gadis itu saling berpandangan dengan lemah lalu
berjalan mendekati sang Ibu lalu perlahan menceritakan fakta tentang kembalinya
Kasih.
Jelas saja, mendengar sang putri sulung yang ternyata telah
kembali dengan keadaan selamat membuat hati sang Ibu mencelos. Uraian air mata
berderai menghiasi hening malam keluarga kecil Avisha. Mereka bertiga hanya
bisa saling berpelukan memberikan kekuatan satu sama lain.
***
Menutup pintu kamar dengan pelan berusaha tidak membuat
suara yang dapat membuat sang empunya kamar terbangun Kasih bergegas pergi
sebelum akhirnya terkejut dengan kehadiran Wendy disana.
“Astaga! Kau mengejutkanku!” kata Kasih sembari memegang
dadanya yang terasa jantungnya hampir melompat keluar.
“Maafkan saya, Nona.”
“Apa yang kau lakukan disini, Nona Wendy?” tanya Kasih
kemudian.
Wendy lalu mengajak Kasih menikmati secangkir kopi di
beranda sembari mengobrol. Suasana rumah megah keluarga Alexander di malam hari
nampak legang apalagi di malam hari kebanyakan para pelayan telah beristirahat
dan hanya menyisakan
para penjaga yang senantiasa menjaga keamanan rumah.
Dari beranda pemandangan terasa sangat segar dan nyaman. Suara
jangkrik dan hewan malam dari arah hutan bisa terdengar dengan jelas.
“Ini kopi anda, Nona.” Wendy mendekatkan segelas kopi hangat
pada Kasih.
“Terima kasih, Nona Wendy,” ucap Kasih dengan senyum manisnya
lalu menyeruput kopi itu dengan semangat.
“Auh! Panas sekali. Hehe.”
“Anda baik-baik saja, Nona?” tanya Wendy khawatir.
“Aku baik-baik saja, anda tidak perlu secemas itu.”
“Syukurlah.”
“Ngomong-ngomong, Nona Wendy. Boleh aku bertanya sesuatu?”
tanya Kasih sambil meniup kopinya yang mengepulkan asap panas.
“Tentu saja, Nona. Apa yang ingin ada ketahui?”
Kasih meletakkan kopinya lalu memasang wajah serius. “Begini,
aku tidak pernah melihat ibu si bocah dingin itu, aku juga tidak pernah melihat
satupun fotonya terpajang di mansion megah ini. Aku hanya penasaran saja,
kemanakah nyonya dari mansion indah ini. Kenapa satupun tentangnya tidak ada di
rumah ini.”
“Itu ....”
“Apakah sang Nyonya sudah meninggal? Makanya tidak ada
satupun barangnya yang tersisa?” sela Kasih penasaran. “Tapi, kenapa fotonyapun
tidak ada? Aneh sekali,” ucap Kasih masih terus menerka.
Dalam hati Wendy hanya bisa mendesah sedih. ‘Tentu saja
semua barang anda masih ada, Nyonya. Semua barang anda sangat rapi dan terawat
di tempat penyimpanan. Tuan sendiri yang memerintahkan kami semua untuk
merawatnya karena tuan
yakin anda akan kembali suatu saat. Anda harus tau betapa terpuruknya tuan saat kehilangan anda.’
Wendy POV
Wendy sebagai asisten kepala pelayan keluarga Alexander yang
memimpin para pelayan untuk membereskan semua barang kepunyaan Kasih sang
Nyonya rumah untuk disimpan ditempat penyimpanan khusus. Pakainan, sepatu,
perhiasan bahkan foto-foto Kasih semuanya dikemas dan dimasukkan ditempat
penyimpanan atas perintah dari Tuan Smith Alexander.
Kalung warisan keluarga Alexander yang tampak mewah itu
bahkan ikut dimasukkan ke dalam tempat penyimpanan.
“Sayang sekali semua barang ini harus dimasukkan ke dalam
sini, padahal semuanya adalah barang mewah dan mahal,” komentar salah seorang
pelayan yang terdengar oleh telinga Wendy.
“Benar. Bahkan foto-foto Nyonya pun semua disimpan, ada apa
dengan tuan kita.
Apakah ia hendak melupakan Nyonya Kasih?” timpal seorang yang lain.
“Apa yang kalian lakukan?! Jangan hanya bermalas-malasan
disana! Cepat selesaikan pekerjaan!” hardik Wendy yang tidak ingin mendengar
sang majikan digosipkan sembarangan.
Di dalam lubuk hatinya Wendy sangat mengerti dan paham
perasaan sang tuan. Ia
juga paham betul maksud dari perintah tuannya yang ingin semua barang disimpan dengan baik agar saat
Kasih kembali nanti semua barang miliknya masih ada. Tak menyangka, keyakinan sang tuan benar-benar
membawa Kasih kembali meski dengan ingatan yang kosong memasuki rumah ini bukan sebagai nyonya rumah melainkan hanya
seorang wanita biasa.
Wendy Pov
End
“Ah! aku
tau! sang Nyonya pemilik mansion ini dulunya pasti sangat kasihan,” celetuk
Kasih membuat Wendy seketika tersadar dari lamunannya sejenak lalu menatap
wajah Kasih dengan tatapan bingung.
“Apa ….”
Kasih
tiba-tiba menatap wajah Wendy dengan ekspresi serius. “Pasti begitu, kan?
Nyonya rumah ini pasti sangat frustasi sekali menghadapi pria gila nan
menyebalkan itu setiap hari. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kasihannya
Nyonyamu itu, Nona Wendy,” terang Kasih menjelaskan maksud perkatannya. Seketika
Wendy merasa tergelitik. ‘Yah, Nyonya anda sangat kasihan sekaligus beruntung
dicintai tuan hingga seperti itu. Andai anda tau betapa tuan sangat merindukan
Anda.’
“Aku ingin
sekali bertemu dengan nyonyamu itu, jika kau punya foto atau sejenisnya,
mungkin kau bisa memperlihatkannya padaku, Nona Wendy.”
“Itu ….” Wendy
menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal.
“Tentu saja
ini akan menjadi rahasia kita berdua saja. Tuan menyebalkanmu itu tidak akan
pernah tau jika kau membocorkan informasi nyonyamu padaku. Aku jamin itu. Percayalah!”
kata Kasih mencoba menyakinkan Wendy yang tampak ragu-ragu dengan
permintaannya.
“Maafkan
saya, Nona. Tapi dirumah ini tidak ada yang bisa membuka ruangan tempat semua
barang nyonya berada,” ucap Wendy dengan nada tidak tega. Sontak wajah Kasih
berubah lesu. Ia merasa sangat penasaran dengan rupa sang nyonya rumah yang
menurutnya sangat misterius karena hampir semua orang tidak ada yang mau
membahas tentang wanita itu dengannya hingga hal itu makin membuat dirinya merasa
penasaran.
BERSAMBUNG…
__ADS_1