Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 90 Penasaran


__ADS_3

Kasih sedang termenung sendirian di beranda kamarnya.


Pikirannya melayang memikirkan siapa sebenarnya dirinya. Cincin yang melingkar


dijari manisnya sejak ia pertama


kali membuka matanya diranjang rumah sakit itu tertera namanya. “Aku


baru saja tersadar entah sudah berapa lamanya dan sekarang aku tidak mengingat


siapa diriku. Tidak hanya itu, aku juga harus membayar hutangku karena


memecahkan guci si Pria Gila itu. Sungguh menyebalkan sekali.”


Diangkatnya wajahnya menatap langit malam dengan sang


rembulan yang sedang bersinar terang diatas sana. “Tuhan, aku merasa sangat


bingung. Siapa aku? Apa aku punya keluarga? lalu dimana mereka sekarang?”


***


“Bibi, apa yang sedang Bibi cari?” tanya Ed Alexander pada sang


Bibi Alysa yang terlihat celingak celinguk seakan mencari sesuatu.


“Itu ...” kata Alysa pelan sembari masih sibuk melihat


kesana kemari. “Apa benar kau punya seorang pengasuh baru?”


Ed Alexander mengangguk santai.


“Siapa namanya?” tanya Alysa ingin tahu.


“Namanya Kasih.”


Seketika itu juga kedua manik Alysa melebar tangannya


bergerak perlahan menutup mulutnya yang tanpa sadar ternganga. ‘Benarkah itu?


benarkah Kasih telah kembali? Ya, Tuhan apa ini sungguh nyata? Kakakku ....’


“Apa yang sedang kau bicarakan? Jika Ibu mendengar hal ini


Ibu bisa sangat sedih,” ujar Jenny disambungan telepon yang terhubung dengan


Kakaknya Alysa.


“Aku serius!” tegas Alysa. “Kasih telah kembali.”


Jenny menggeleng masih tidak mempercayai dengan apa yang


baru saja didengarnya. Kakak yang telah hilang selama bertahun-tahun bahkan ia kira telah mati tidak


mungkin tiba-tiba kembali.


“Kau harus mempercayaiku. Aku berkata yang sebenarnya. Kak


Kasih telah kembali ....”Alysa tak sanggup melanjutkan perkataannya ketika


matanya menangkap sosok yang telah sangat lama dirindukan.


“Kasih ...” ucap Alysa pelan menatap lurus sosok Kasih yang


sedang berdiri dihadapannya.


Jenny menggerutu kesal melihat kearah ponsel lalu mematikan


panggilan secara sepihak karena tidak lagi mendapat jawaban dari Alysa. “Apa


sih Kak Alysa ini. Mana mungkin Kak Kasih kem ....”


Belum sempat Jenny menyelesaikan kalimatnya sebuah notif masuk ke


ponselnya dan alangkah terkejutnya ia saat melihat sebuah foto yang baru saja


dikirimkan Alysa padanya.


“Ti-tidak mungkin! Ini tidak mungkin!” seru Jenny tak


percaya.


“Apanya yang tidak mungkin, Jen?” tanya ibu yang tiba-tiba


sudah berada dihadapan Jenny.


“Ibu?!”


“Ada apa dengan ekspresimu itu? apa kau baru saja melihat


hantu?”


Jenny segera tersadar dari keterkejutannya sembari berusaha


menutupi layar ponsel yang masih menampilkan gambar Kasih yang  baru saja dikirimkan oleh Alysa.


“Ah! Itu, anu ... Aku baru saja ingat aku ada urusan keluar


sebentar Bu, aku akan


pergi dulu.” Jawab Jenny agak kikuk sembari berlalu meninggalkan ibunya yang


masih menatapnya dengan keheranan.


“Ada apa dengan anak itu? Aneh sekali,” tukas sang Ibu heran.


Tanpa mempedulikan apapun lagi Jenny segera bergegas menuju


ke kediaman Tuan Alexander untuk memastikan.


“Maaf, sepertinya aku harus memperkenalkan diri padamu.” Suara


Kasih itu seketika menyadarkan Alysa dari keterpakuannya.


“Namaku adalah Kasih, aku pengasuh dari bocah ini,” ucap


Kasih sambil tersenyum lembut.


Dengan mata berkaca-kaca Alysa menyambut jabat tangan dari


Kasih.


“Alysa. Bibinya Ed Alexander.”


BRAK!


Seketika suara pintu terbuka dengan keras mengagetkan mereka


semua. Tampak Jenny dengan nafasnya yang tersengal berdiri mematung di ambang


pintu menatap lurus kearah Kasih yang juga menatapnya bingung.


“Ka- Ka- Kakak ... “suara Jenny terdengar lirih seiring air


mata yang menggenang dipelupuk mata.


Alysa segera bergerak menghampiri Jenny membawanya menjauh


untuk memberi penjelasan.


“Itu ... Itu kak Kasih, kan?” tanya Jenny yang kini telah


berlinangan air mata. Ia masih


sangat terguncang dengan fakta yang baru saja ia ketahui mendadak ia merasa


seolah sedang bermimpi.


Alysa hanya bisa mengangguk tanpa bisa mengeluarkan sepatah


kata. Terlihat jelas iapun ingin sekali menangis seperti halnya yang sedang


dilakukan oleh sang adik, namun ditahannya.


“A-apa?!” Jenny menatap tidak percaya pada Alyssa mencoba


mencari kebohongan dari setiap ucapan yang baru saja didengarnya. “Ini tidak mungkin,” sangkal


Jenny tidak ingin mempercayai apa yang ia dengar. “ kakakku Kak Kasih tidak


mungkin ia melupakan kita. Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu?”


Alyssa sangat mengerti dengan perasaan dari sang adik Ia pun


menarik adiknya itu yang masih dalam keadaan menangis ke dalam pelukannya untuk


menenangkan perasaannya. “Tenanglah Jenny, jangan menangis terus.”  tangan Alysa bergerak menepuk pelan punggung Jenny.


“Kita


harus tetap kuat, entah hal apa yang telah dialami oleh kak Kasih sehingga ia


kehilangan semua ingatannya. Aku sedang berpikir bagaimana caranya untuk


memberitahu hal ini pada ibu. Aku takut setelah mengetahui kak Kasih tidak


mengingat siapapun dari kita maka ibu akan terguncang dan akan memicu


penyakitnya kambuh,” terang Alysa


memberi penjelasan pada Jenny.


Jenny yang sudah merasa perasaannya lebih tenang melepaskan diri dan menatap


intens kedua manik sang kakak.


“Bagaimanapun


ibu harus mengetahui


perihal kembalinya kak Kasih. Kita tidak mungkin menyembunyikannya selamanya. Perlahan


kita harus mencari waktu yang tepat untuk memberitahu ibu. Kita sudah


cukup kehilangan ayah dan bahkan hampir kehilangan kak Kasih juga.” Jenny


kembali menangis kedalam pelukan kakaknya.


“itu tidak akan terjadi, adik. Kita tidak akan kehilangan


siapapun lagi. Percayalah pada Kakak.”


Jenny semakin menangis meluapkan perasaan sedihnya dalam


dekapan sang Kakak. Dipeluknya erat tubuh sang Kakak seakan takut kehilangan.


“Nona, tuan Alexander memanggil untuk makan siang bersama.”


Terdengar suara Jhon yang sedang berbicara pada Kasih.

__ADS_1


“Baiklah, paman John. Kami akan segera kesana,” jawab Kasih


yang kemudian bergegas menuju ke ruang makan diikuti dengan yang lain.


Suasana makan siang di keluarga Alexander terasa sangat


hening hanya suara denting alat makan saja yang terdengar. Tidak ada satupun


yang berani membuka suara. Alysa dan Jenny hanya bisa saling menatap satu sama


lain. Mereka berdua ingin sekali menanyakan soal Kasih pada tuan Smith. Hingga


pada akhirnya sebuah suara memecah keheningan yang ada.


“Itu ...


“sontak seluruh pandangan tertuju pada sosok Kasih yang tersadar bahwa semua


orang sedang menatapnya saat ini. ‘ada apa dengan semua orang ini, sangat aneh. Atmosfer ini membuatku merasa sangat tidak nyaman aku ingin segera pergi saja.’


“Aku sepertinya sudah selesai makan aku akan pergi.” Kasih


segera berdiri dari kursinya bergegas pergi.


“Berhenti.”


Suara dari Tuan Smith membuat Kasih menghentikan tindakannya.


“Habiskan makananmu.” Perintah Tuan Smith dengan suara khasnya yang terdengar tegas dan


dingin sambil dengan santai menikmati hidangan dipiringnya.


“Tapi aku sudah kenyang perutku ini sudah sangat penuh aku tidak


ingin makan lagi,” sanggah Kasih masih tetap ingin pergi dan tidak ingin


melanjutkan makan.


“Jika masih tidak ingin makan, maka selanjutnya setiap


makanan yang kau makan aku akan menghitungnya dan memasukkannya menjadi


tagihanmu,” tutur Tuan Smith dingin.


Dengan kegeraman yang sudah mencapai ubun-ubun bibir bagian


atas Kasih terlihat bergerak sedikit, Kedua telapak tangannya mengepal kuat


ingin sekali meninju tampang dingin nan rupawan dari Tuan Smith. ‘ Hais! pria


gila ini membuatku benar-benar kesal! Bagaimana bisa dia begitu pelit hanya


makanan saja begitu perhitungan sekali!’


Meski hatinya sangat dongkol akan tetapi dengan terpaksa Kasih


kemudian melanjutkan menghabiskan sisa makanannya dengan ogah-ogahan. ‘Hutangku sudah begitu


banyak, mana mungkin aku membiarkannya bertambah, bisa-bisa aku harus membayar


seumur hidupku disini dengan pria gila ini. Menyebalkan sekali!’


Suasana hening pun kembali tercipta hingga acara makan siang


itu berakhir.


“Akhirnya selesai juga aku benar-benar sangat kenyang


sepertinya perutku akan meledak. Jika sampai aku sakit perut karena terlalu


banyak makan aku pasti akan menyalahkanmu dasar pria gila!” umpat Kasih bernada menyindir sambil


meletakkan sendok dan garpu ke atas piringnya yang telah kosong.


Tuan Smith yang masih berada di situ hanya mendengar dengan


cuek umpatan dari gadis bernama Kasih itu.


“Menyebalkan sekali aku tidak pernah bertemu orang seperti


dirinya begitu pelit dan perhitungan!” Kasih masih belum berhenti kesal dan


terus mengumpati pria yang bernama Tuan Smith Alexander.


“Dasar cerewet, siapa suruh kau mengambil begitu banyak


lauk. Jika kau tidak mampu menghabiskannya


maka kau hanya akan membuang-buang makanan,” timpal Ed Alexander dengan nada


acuh.


Kasih yang masih merasa kesal menatap tajam ke arah Ed Alexander. “Apa yang kau


katakan barusan?! Siapa yang kau bilang cerewet?!”


EdAlexander


melangkah gontai meninggalkan Kasih yang terus mengomeli dirinya.


“Dasar anak dan ayah benar-benar tidak ada bedanya. Sama-sama


sangat menyebalkan!” kata Kasih kesal. “ Hei tunggu aku! kau mau ke


mana? kau masih harus menjelaskan siapa yang kau sebut sebagai orang yang


berlari mengejar Ed Alexander yang berada belum jauh.


Tersisa Alysa,


Jenny serta Tuan Smith yang masih berada di ruang makan, meski merasa


sedikit canggung akhirnya Alysa dan Jenny memutuskan


untuk berbicara dengan Tuan Smith.


Belum juga satu kata pun keluar dari mulut keduanya Tuan Smith langsung menyela.


“Aku tahu apa yang ingin kalian bicarakan. Ikut denganku ke ruang kerjaku, aku akan menjawab semua


pertanyaan kalian.” Tuan Smith melangkah


pergi meninggalkan keduanya dalam keterkejutan.


Di ruang kerja kedua gadis itu tampak gelisah dengan apa


yang akan disampaikan oleh Tuan Smith pada mereka berdua.


“Duduklah!” Perintah Tuan Smith pada keduanya.


Tanpa berkata apapun keduanya hanya menurut mengambil tempat


yang berada di hadapan meja kerja dari sang kakak ipar.


“Apa yang kalian pikirkan semuanya itu adalah kebenaran. Wanita


yang kalian lihat itu adalah Kasih. Kakak kalian,” ungkap Tuan Smith singkat.


Kedua gadis itu sangat terkejut hingga kehilangan kata-kata.


Kasih yang telah lama menghilang tanpa kejelasan apakah ia masih hidup atau


sudah meninggal membuat mereka berdua seolah susah untuk menerima kenyataan


yang ada, bahwa Kasih masih hidup dan kini ada bersama mereka.


“Tapi, bagaimana mungkin? Bukankah ... “


“Ini semua karena ulah dari Max Julian,” beber Tuan Smith.


FLASHBACK ON


Tuan Smith tidak mampu menyelamatkan nyawa Rey. Pria itu


terlalu banyak kehilangan darah hingga akhirnya merenggut nyawanya. Sebelum Rey


meninggal, ia memberikan cincin pernikahannya dengan Kasih pada Tuan Smith.


Cincin serupa yang ada pada Kasih saat ini, cincin itu terukir nama Rey.


Digenggamnya dengan erat cincin milik Rey yang telah bernoda


darah sembari tangan satunya menggenggam erat tangan Rey yang telah tak


bernyawa.


“SIALAN!!!”


FLASHBACK OFF


“Kalian berdua


sebaiknya tidak usah khawatir. Kasih memang telah kehilangan seluruh


ingatannya. Akan tetapi, itu masih lebih baik daripada ia kehilangan nyawanya. Penyakitnya


hanya merenggut ingatannya bukan nyawanya. Jadi, jangan khawatirkan apapun dan


bersikaplah biasa. Aku akan mengurus sisanya dari sini.”


Begitulah segelintir perkataan Tuan Smith yang menyuruh


mereka untuk tenang dan tidak mengungkit masa lalu. Semua demi kebaikan dari


sang Kakak, Kasih. Mereka sangat mengerti mengapa Tuan Smith menyuruh mereka


bersikap demikian, penyakit Kasih sangat beresiko jika ia merasa tertekan atau


mengingat hal yang ditolaknya. Hal itulah yang hendak digunakan Max Julian


untuk menekan Tuan Smith agar menuruti keinginannya.


Akhirnya setelah mendapat penjelasan dari Tuan Smith, kedua


gadis itu memutuskan untuk menurut. Keduanya pulang ke rumah dan hendak memberi


penjelasan juga pada sang Ibu.


Di rumah sang Ibu terlihat sedang santai menonton tv di


ruang tamu. Sementara kedua anak gadisnya baru saja memasuki rumah.


“Kalian darimana saja? pulangnya bersamaan?” tanya sang Ibu


yang menyadari kedatangan putri-putrinya.


“Kami ....”


“Kalian sudah makan? Mau ibu panaskan makanan?” tukas sang

__ADS_1


Ibu.


Kedua gadis itu saling berpandangan dengan lemah lalu


berjalan mendekati sang Ibu lalu perlahan menceritakan fakta tentang kembalinya


Kasih.


Jelas saja, mendengar sang putri sulung yang ternyata telah


kembali dengan keadaan selamat membuat hati sang Ibu mencelos. Uraian air mata


berderai menghiasi hening malam keluarga kecil Avisha. Mereka bertiga hanya


bisa saling berpelukan memberikan kekuatan satu sama lain.


***


Menutup pintu kamar dengan pelan berusaha tidak membuat


suara yang dapat membuat sang empunya kamar terbangun Kasih bergegas pergi


sebelum akhirnya terkejut dengan kehadiran Wendy disana.


“Astaga! Kau mengejutkanku!” kata Kasih sembari memegang


dadanya yang terasa jantungnya hampir melompat keluar.


“Maafkan saya, Nona.”


“Apa yang kau lakukan disini, Nona Wendy?” tanya Kasih


kemudian.


Wendy lalu mengajak Kasih menikmati secangkir kopi di


beranda sembari mengobrol. Suasana rumah megah keluarga Alexander di malam hari


nampak legang apalagi di malam hari kebanyakan para pelayan telah beristirahat


dan hanya menyisakan


para penjaga yang senantiasa menjaga keamanan rumah.


Dari beranda pemandangan terasa sangat segar dan nyaman. Suara


jangkrik dan hewan malam dari arah hutan bisa terdengar dengan jelas.


“Ini kopi anda, Nona.” Wendy mendekatkan segelas kopi hangat


pada Kasih.


“Terima kasih, Nona Wendy,” ucap Kasih dengan senyum manisnya


lalu menyeruput kopi itu dengan semangat.


“Auh! Panas sekali. Hehe.”


“Anda baik-baik saja, Nona?” tanya Wendy khawatir.


“Aku baik-baik saja, anda tidak perlu secemas itu.”


“Syukurlah.”


“Ngomong-ngomong, Nona Wendy. Boleh aku bertanya sesuatu?”


tanya Kasih sambil meniup kopinya yang mengepulkan asap panas.


“Tentu saja, Nona. Apa yang ingin ada ketahui?”


Kasih meletakkan kopinya lalu memasang wajah serius. “Begini,


aku tidak pernah melihat ibu si bocah dingin itu, aku juga tidak pernah melihat


satupun fotonya terpajang di mansion megah ini. Aku hanya penasaran saja,


kemanakah nyonya dari mansion indah ini. Kenapa satupun tentangnya tidak ada di


rumah ini.”


“Itu ....”


“Apakah sang Nyonya sudah meninggal? Makanya tidak ada


satupun barangnya yang tersisa?” sela Kasih penasaran. “Tapi, kenapa fotonyapun


tidak ada? Aneh sekali,” ucap Kasih masih terus menerka.


Dalam hati Wendy hanya bisa mendesah sedih. ‘Tentu saja


semua barang anda masih ada, Nyonya. Semua barang anda sangat rapi dan terawat


di tempat penyimpanan. Tuan sendiri yang memerintahkan kami semua untuk


merawatnya karena tuan


yakin anda akan kembali suatu saat. Anda harus tau betapa terpuruknya tuan saat kehilangan anda.’


Wendy POV


Wendy sebagai asisten kepala pelayan keluarga Alexander yang


memimpin para pelayan untuk membereskan semua barang kepunyaan Kasih sang


Nyonya rumah untuk disimpan ditempat penyimpanan khusus. Pakainan, sepatu,


perhiasan bahkan foto-foto Kasih semuanya dikemas dan dimasukkan ditempat


penyimpanan atas perintah dari Tuan Smith Alexander.


Kalung warisan keluarga Alexander yang tampak mewah itu


bahkan ikut dimasukkan ke dalam tempat penyimpanan.


“Sayang sekali semua barang ini harus dimasukkan ke dalam


sini, padahal semuanya adalah barang mewah dan mahal,” komentar salah seorang


pelayan yang terdengar oleh telinga Wendy.


“Benar. Bahkan foto-foto Nyonya pun semua disimpan, ada apa


dengan tuan kita.


Apakah ia hendak melupakan Nyonya Kasih?” timpal seorang yang lain.


“Apa yang kalian lakukan?! Jangan hanya bermalas-malasan


disana! Cepat selesaikan pekerjaan!” hardik Wendy yang tidak ingin mendengar


sang majikan digosipkan sembarangan.


Di dalam lubuk hatinya Wendy sangat mengerti dan paham


perasaan sang tuan. Ia


juga paham betul maksud dari perintah tuannya yang ingin semua barang disimpan dengan baik agar saat


Kasih kembali nanti semua barang miliknya masih ada. Tak menyangka, keyakinan sang tuan benar-benar


membawa Kasih kembali meski dengan ingatan yang kosong memasuki rumah ini bukan sebagai nyonya rumah melainkan hanya


seorang wanita biasa.


Wendy Pov


End


“Ah! aku


tau! sang Nyonya pemilik mansion ini dulunya pasti sangat kasihan,” celetuk


Kasih membuat Wendy seketika tersadar dari lamunannya sejenak lalu menatap


wajah Kasih dengan tatapan bingung.


“Apa ….”


Kasih


tiba-tiba menatap wajah Wendy dengan ekspresi serius. “Pasti begitu, kan?


Nyonya rumah ini pasti sangat frustasi sekali menghadapi pria gila nan


menyebalkan itu setiap hari. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kasihannya


Nyonyamu itu, Nona Wendy,” terang Kasih menjelaskan maksud perkatannya. Seketika


Wendy merasa tergelitik. ‘Yah, Nyonya anda sangat kasihan sekaligus beruntung


dicintai tuan hingga seperti itu. Andai anda tau betapa tuan sangat merindukan


Anda.’


“Aku ingin


sekali bertemu dengan nyonyamu itu, jika kau punya foto atau sejenisnya,


mungkin kau bisa memperlihatkannya padaku, Nona Wendy.”


“Itu ….” Wendy


menggaruk belakang kepalanya yang tidak terasa gatal.


“Tentu saja


ini akan menjadi rahasia kita berdua saja. Tuan menyebalkanmu itu tidak akan


pernah tau jika kau membocorkan informasi nyonyamu padaku. Aku jamin itu. Percayalah!”


kata Kasih mencoba menyakinkan Wendy yang tampak ragu-ragu dengan


permintaannya.


“Maafkan


saya, Nona. Tapi dirumah ini tidak ada yang bisa membuka ruangan tempat semua


barang nyonya berada,” ucap Wendy dengan nada tidak tega. Sontak wajah Kasih


berubah lesu. Ia merasa sangat penasaran dengan rupa sang nyonya rumah yang


menurutnya sangat misterius karena hampir semua orang tidak ada yang mau


membahas tentang wanita itu dengannya hingga hal itu makin membuat dirinya merasa


penasaran.


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2