Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 95 Andai Aku Punya Keluarga


__ADS_3

Diruang kerja yang berada di mansion terlihat Tuan Smith yang sedang duduk dikursi miliknya sambil menatap sebuah amplop yang diberikan oleh pria yang datang sebagai tamunya. Agak ragu Tuan Smith akhirnya memutuskan membuka amplop itu. Isi dari amplop cokelat itu adalah sebuah kertas yang berisikan kalimat pesan.


BAGAIMANA DENGAN KEJUTAN DARIKU? KAU TERKEJUT, KAN? KUHARAP BEGITU. KARENA AKU MASIH AKAN MEMBERIMU KEJUTAN YANG LAIN. TUNGGU DAN NANTIKANLAH! PEMBALASAN DENDAMKU AKAN SEGERA DIMULAI.


MAX JULIAN


Meremas kuat kertas itu dengan penuh amarah, Tuan Smith paham dengan kejutan yang dimaksud oleh pemuda yang menaruh dendam padanya itu. Pria yang sangat mirip dengan Rey yang dilihatnya waktu itu adalah merupakan bagian dari rencana Max untuk  menekannya.


“Bajingan itu berani sekali mencoba menyudutkanku menggunakan tipuan rendahan seperti ini. Apa dia pikir merubah wajah seseorang yang sudah meninggal akan membuatku gentar? Kali ini aku tidak akan membiarkanmu begitu saja, Max!”


“Tuan Smith, apa kau di dalam? Ini aku, Kasih.” Suara Kasih terdengar berbicara dari balik pintu membuat Tuan Smith segera menyembunyikan amplop cokelat itu kedalam laci kerjanya.


“Masuklah.”


Pintu terbuka perlahan kemudian Kasih masuk setelahnya. “Ini adalah hari perkumpulan para orang tua, kau harus bersiap untuk menghadirinya.”


Dahi Tuan Smith mengernyit bingung. “Kau bisa menyuruh John atau Wendy ….”


“Dasar bodoh! Ini adalah pertemuan orangtua untuk anakmu, kenapa kau tidak ingin hadir dan malah menyuruh mereka? Apa kau sesibuk itu? Setahuku kau hanya duduk bersantai mengawasi orang lain bekerja. Pertemuan ini bahkan hanya diadakan sesekali dan kau sama sekali tidak bisa meluangkan waktumu untuk anakmu? Sungguh keterlaluan!” tutur Kasih mengomeli Tuan Smith tanpa ampun ia tidak segan memarahi sikap pria gila itu yang begitu acuh pada sang anak. Pria gila itu bahkan tidak mempunyai kesibukan sama sekali selain mengawasi para pekerjanya dan menghadiri rapat selain itu ia hanya akan menghabiskan waktunya diruang pribadi mengawasi Kasih melalui kamera pengawas atau memeriksa berkas-berkas.


“Jika begitu kau harus ikut bersamaku,” putus Tuan Smith dengan santai.


“Kenapa aku harus ikut? Aku hanya pengasuhnya, dibandingkan kau yang adalah ayah kandungnya, aku bukanlah siapa-siapa.”


“Karena kau …” ‘Kau adalah ibunya, Kasih. Kau itu adalah ibu dari Ed Alexander.’


“Sudahlah. Jika kau ingin ditemani kau bisa meminta John untuk ikut bersamamu aku masih punya urusan. Aku pergi dulu, Daah!”


Secepat kilat tangan Tuan Smith bergerak menarik tangan Kasih hingga wanita itu jatuh tertarik dengan keras kedalam dekapan tubuh Tuan Smith. Kasih seketika membeku bibirnya tertutup rapat seolah terkunci sesuatu. Benar! Pria itu ternyata sedang mencium bibirnya. Anehnya tubuh Kasih sama sekali tidak bisa bergerak, seketika seluruh tubuhnya terasa lemas. Bahkan kedua kakinya hampir tidak bisa ia rasakan saat ini. ‘Apa ini? D-dia? Menciumku? Sungguh?! Aku sedang tidak bermimpi, kan? Oh ini sungguh membuatku gila! Tubuhku bahkan tidak bisa digerakkan sekarang.’


Untuk sesaat Kasih hanya bisa menatap wajah rupawan milik pria dihadapannya. Pria yang selalu membuatnya kesal dan ingin marah dan pria itu kini sedang menciumnya tanpa ijin. Pria itu menutup matanya sambil mencium dirinya seolah sangat menikmati apa yang dilakukannya saat ini pada bibir kecil milik Kasih.

__ADS_1


“Kau menyukainya?” tanya Tuan Smith menyadarkan Kasih dari lamunannya. ‘Sial! Dia sudah selesai? Kenapa aku merasa tidak rela ciumannya berlalu dengan cepat. Argh! Bisa gila aku!’


“Apanya?”


“Ciumanku,” katanya santai.


Wajah Kasih panas dan memerah antara kesal dan malu bagaimana bisa pria gila ini melakukan hal seperti itu dan bahkan tanpa malu bertanya mengenai pendapatnya. ‘Oh! Pria ini sungguh benar-benar sudah gila!’


Dengan sekuat tenaga Kasih mendorong tubuh Tuan Smith membuat pria itu terdorong sedikit kebelakang lalu tangan Kasih mendarat diwajah tampan sang pria memberikan bekas merah dikulit wajah yang putih mulus itu. “Kau gila?! Benar-benar tidak bisa dipercaya!” Setelahnya Kasih pergi dengan marah meninggalkan Tuan Smith yang masih diam ditempat sambil mengelus pelan pipinya yang memerah. Senyum kecil tampak tersungging diwajah pria yang hatinya sedang berbunga-bunga saat ini.


***


“Pria gila sialan! Berani sekali dia memperlakukanku seenaknya begitu, lihat saja aku pasti akan membalasnya suatu saat,” gerutunya kesal setelah itu raut wajahnya berubah seketika. “Tapi, ciuman pria itu cukup memabukkan. Jika saja ia tidak menyebalkan mungkin aku akan berubah pikiran. Mungkin.” Kasih tersenyum malu dengan apa yang terucap dari bibirnya sendiri.


“Kasih?” Suara Karina yang sekonyong-konyong sudah muncul membuka pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu membuat wanita itu tersentak kaget. “Ya? Aku tidak sedang melakukan apapun. Sungguh! Aku tidak mungkin berimajinasi aneh seperti itu pada ...” ucap Kasih tiba-tiba dengan nada cepat masih dalam keadaan kaget hingga akhirnya ia sadar bahwa dirinya sedang berbicara melantur.


“Apa? kau berimajinasi?” tanya Karina perlahan sambil menatap aneh kearah Kasih alisanya naik sebelah menatap penuh selidik wanita dihadapannya. “Kau berimajinasi seperti apa? siapa yang kau imajinasikan, Kasih? Katakan padaku, ayolah!” berondong Karena dipenuhi rasa penasaran.


“Tidak, tidak ada. Lupakan saja,” ujar Kasih menghindari tatapan Karina.


“Kubilang tidak ada. Kau jangan menggangguku lagi, aku hendak mandi,” tegas Kasih memberi alasan seadanya.


“Kasih … Ayolah!” mohon Karina tidak menyerah.


“Tidak. Tidak ada. Sekarang pergilah atau aku akan menggelitikmu,” seloroh Kasih dengan tatapan mengancam.


Beberapa saat kemudian suara gelegar tawapun terdengar dari dalam kamar Kasih lalu pintu kamar itu terbuka menampilkan Karina yang masih tertawa keras keluar dari sana. Wajah Karina terlihat memerah karena terlalu banyak tertawa.


“Dasar! Dia benar-benar menggelitikku tanpa ampun,” kata Karina setelah berada diluar kamar menatap kearah pintu kamar Kasih yang bau saja ditutupnya lalu kemudian berjalan pergi.


Sementara itu, di dalam kamarnya Kasih merebahkan tubuhnya keatas pembaringan menatap langit-langit kamar dengan tatapan sendu. “Andai aku bisa mengingat masa laluku mungkin saja saat ini aku sudah berkumpul bersama keluargaku.”

__ADS_1


***


Ibu Kasih sedang duduk sendirian di dalam kamar tidurnya menatap nanar foto keluarga yang menampilkan dirinya, suaminya, Alysa, Jenny dan juga Kasih yang tersenyum kearah kamera mereka semua tampak bahagia. Jemarinya dengan lembut mengusap bingkai foto sembari menangis dalam diam rasa rindu mulai merayap dalam relung hatinya. Kenangan manis anggota keluarga terlintas jelas dalam ingatan wanita paruh baya itu membuat hatinya semakin terasa sakit.


FLASHBACK ON


Hari itu di saat cuaca cerah keluarga Avisha sedang melakukan piknik disebuah bukit yang memiliki pemandangan Indah. Seluruh anggota keluarga ikut serta menikmati hidangan sederhana yang mereka bawa kesana. Tidak ada satupun pelayan yang ikut saat itu, hanya anggota keluarga saja. Dimasing-masing wajah mereka tersenyum bahagia jarang sekali  mereka bisa menghabiskan waktu seperti sekarang ini.


“Aku ingin makan seafood juga, sayang,” pinta Ayah Kasih pada sang istri.


“Nop!” tegas Ibu Kasih menggelengkan kepalanya menolak permintaan suaminya. Seketika wajah sang suami berubah cemberut karena tidak diijinkan menikmati hidangan kesukaannya itu.


“Oh, Ayolah sayang. Kau tau, kan dokter berkata apa,” ucap Ibu Kasih mengingatkan.


Menghela nafas pasrah Ayah Kasih hanya bisa melanjutkan memakan hidangan yang sudah disediakan sang istri untuknya. Tentu saja semua hidangan yang ada di piring miliknya adalah hidangan sehat sangat berbeda dengan hidangan yang sedang dinikmati oleh anak-anaknya.


“Nikmatilah makananmu, sayang. Aku akan mengambilkan obat untukmu,” ucap sang istri mengambilkan obat untuk sang suami dari kotak obat dipangkuannya. Di saat yang tepat Kasih mencuri kesempatan buru-buru memberikan potongan seafood ke dalam piring sang Ayah.


“Cepat habiskan, Ayah!” kata Kasih dengan suara berbisik sembari menatap sang ibu mengawasi kalau-kalau tindakannya itu akan ketahuan olehnya.


Sang Ayah tersenyum senang lalu melahap potongan seafood itu dengan penuh khidmat. “Ah! benar-benar nikmat sekali,” seru sang Ayah senang suaranya terdengar oleh sang istri yang kemudian menatapnya dengan tatapan bertanya.


“Makanan yang kau masak sungguh lezat, sayang.”Ayah Kasih tersenyum kikuk sambil mengunyah makanannya.


“Ini, minumlah obatmu juga.” Ibu Kasih menyodorkan butiran obat yang kemudian diminum oleh sang Ayah. Melirik kearah Kasih yang membalas tatapan sang Ibu dengan  senyuman manisnya. ‘Bocah ini, apa dia kira aku tidak tahu apa yang dia lakukan?’ Kasih memang selalu tidak tega dengan sang Ayah yang harus mengontrol pola makanannya untuk masalah kesehatan. Beberapa makanan yang biasa digemarinya kini sudah tidak boleh lagi dikonsumsinya ibunya akan mengaturnya dengan ketat untuk menjaga kesehatan sang suami.


“Baiklah sekarang waktunya menikmati irisan buah manis,” ujar sang Ibu dengan suara nyaring yang kemudian dibalas dengan sahutan kegirangan oleh semuanya.


FLASHBACK OFF


Butiran bening dari kedua bola mata Ibu Kasih mendarat jatuh diatas bingkai foto yang sedang dipegangnya. Perasaan rindu yang mendalam akan suami dan putri tertuanya membuat hatinya begitu pedih. Rumah tangganya yang dibangunnya bersama dengan sang suami meski dengan tanpa restu dan bahkan sampai diusir dari keluarga oleh sang mertua dipertahankannya dengan sepenuh hati. Tidak peduli sang mertua yang begitu membenci dirinya, atau perusahaan yang tiba-tiba bangkrut dan mereka harus hidup menderita ia bisa menerima semuanya. Akan tetapi, hatinya seolah tidak sanggup menerima jika ia pada akhirnya harus kehilangan suami yang dicintainya dan putri tertuanya.

__ADS_1


“Suamiku, akhirnya putrimu telah kembali.”


BERSAMBUNG ….


__ADS_2