
Beberapa hari kemudian setelah pesta pernikahan selesai digelar, Kasih belum sekalipun
melihat tuan Smith berada di rumah. Yang Kasih ketahui tuan Smith sedang sangat
sibuk di perusahaan saat ini hingga ia tidak punya waktu sama sekali untuk
pulang ke mansion.
Kasih merasa senang bukan main karena tuan Smith tidak berada di rumah maka ia akan punya
banyak waktu tenang untuk dinikmati. Entah mengapa tiap kali bersama keduanya
akan selalu berdebat seperti anjing dan kucing. Sifat tuan Smith dan Kasih
sungguh saling bertolak belakang satu sama lain. Belum lagi perbedaan usia yang
cukup jauh membuat keduanya seringkali berbeda pendapat.
“Ahhh... betapa senangnya hidupku tanpa si tuan menyebalkan itu. Andai aku bisa menikmati
setiap hari seperti ini...aku pasti akan sangat senang” ucap Kasih sembari
berjemur di pinggir kolam renang dengan sebelah tangannya memegang gelas
minuman segar dan tampak juga ada beberapa jenis buah segar yang telah dipotong
kecil dan siap dinikmati. Bersandar dengan santai sambil berselonjoran kaki merupakan
kegiatan yang amat digemari olehnya terlebih saat ini bentuk tubuhnya telah
berubah lebih gemuk karena kehamilannya.
“hei! Nona wendy” panggil Kasih pada Wendy yang berdiri di sampingnya
Wendy yang dipanggilpun berjalan mendekat karah Kasih “ya Nyonya”
“aish! Apa-apan panggilan itu. Aku tidak ingin dipanggil dengan sebutan wanita tua seperti itu”
kata Kasih keberatan dengan panggilan itu untuknya. “aku ingin panggilan yang biasa saja” lanjutnya
“tapi Nyonya...itu adalah panggilan yang sudah seharusnya bagi istri tuan Smith” ucap Wendy menjelaskan
“aku tidak mau” tolak Kasih tegas “aku tidak ingin dipanggil dengan sebutan itu”
“jika anda menolak, tuan Smith akan menghukum kami semua Nyonya”
“astaga! Kenapa sedikit-sedikit harus menghukum sih! Apa kita sedang berada di sekolah?” gerutu
Kasih sebal lalu meraih piring yang berisi buah potong segar dan langsung memakannya.
“lupakan saja. Apapun itu aku tidak ingin memikirkannya aku hanya akan menikmati waktu santaiku saat
ini” kata Kasih yang akhirnya memutuskan untuk tidak mau ambil pusing dengan apapun yang diperintahkan tuan Smith.
***
Di perushaan keluarga Alexander tampak tuan Smith yang sedang duduk dibalik meja kerjanya
dan John berdiri tepat disampingnya seperti yang biasa ia lakukan membacakan
jadwal dan laporan yang merupakan tugasnya sebagai sekertaris tuan Smith. Tuan
Smith mengenakan kacamata yang membuatnya semakin terlihat sangat tampan.
“aku tidak peduli bagaimanapun caranya kau harus bisa mengakuisisi perusahaan milik keluarga
Wijaya” perintah tuan Smith pada John tiba-tiba menyela John yang sedang membacakan laporan perusahaan.
“saya akan melaksanakan tugas saya dengan baik, tuan” Jawab John patuh dan melanjutkan membacakan laporan yang sedang dipegangnya.
__ADS_1
“katakan pada tuan Wijaya untuk mengirim putranya keluar negeri jika masih ingin memiliki saham diperusahaan”
kata tuan smith lagi lalu menyuruh John pergi meninggalkan ruangannya.
Setelah John tampak menghilang dibalik pintu tuan Smith bergumam dengan nada dingin “seorang bocah ingin berebut wanita denganku, Huh! Kau akan lihat akibatnya”
***
Semenjak kejadian di mansion tuan Smith, pada saat acara pernikahan waktu itu, Rey sama sekali
tidak keluar kamar dan hanya mengurung dirinya di kamarnya. Ia juga tidak makan
dan minum. Perasaannya benar-benar hancur saat ini.
Melihat keadaan putra satu-satunya yang demikian membuat kedua orangtuanya merasa sangat khawatir,namun tidak dapat berbuat apa-apa.
“pa, apa yang harus kita lakukan pada Rey?” tanya Ibu Rey menatap suaminya cemas.
“papa juga tidak tau ma. Kasih kini telah resmi menjadi istri dari tuan Smith dan kita tidak
boleh sampai menyinggung tuan Smith” jawab Ayah Rey pasrah
Tidak berapa lama kemudian telepon rumah berdering. Ayah Rey yang duduk tidak jauh dari telepon bergegas menjawab panggilan dari telepon itu.
“halo”
“tuan Wijaya, saya Sekertaris tuan Smith”
***
Dikamar Rey yang hanya mengahabiskan waktunya dengan memandangi potret Kasih yang sangat banyak
tertempel di dinding kamarnya, ia tampak sangat berantakan dengan rambutnya
yang acak-acakan. Lalu Ayah dan Ibu Rey dengan tergesa-gesa memasuki kamar milik Rey dan segera membereskan barang-barang milik Rey.
milik Rey kedalam koper. Rey yang tampak tidak mempedulikan hal itu hanya
membiarkan kedua orangtuanya berbuat sesukanya. Baginya pernikahan Kasih dan
tuan Smith telah membuatnya kehilangan separuh dari jiwanya. Tidak ada lagi semangat terpancar dari sinar matanya. Hanya kesedihan.
“kau harus melupakan gadis itu, Rey. Dia bukanlah jodohmu” kata Ibunya membelai lembut wajahnya ia
sangat sedih melihat anaknya yang telah berubah menjadi sangat menyedihkan.
Setelah selesai berkemas keluarga Wijaya kemudian pergi meninggalkan kediaman dengan membawa semua barang mereka menuju bandara
***
Kasih yang tengah bersantai dengan minuman dingin ditangannya terhenyak ketika ponselnya tiba-tiba berdering. Kasih lalu menaruh minumannya dan meraih ponselnya.
“halo”
“Kasih apa kau sudah tahu? Keluarga Wijaya akan segera meninggalkan negara ini!” ujar Karina
yang sedang menelpon Kasih dan mengabarkan tentang keluarga Rey yang akan segera meninggalkan negara ini.
Kasih sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.
“pindah? Pppindah..???!!” ulang Kasih dengan nada bingung “apa yang kau bicarakan Karina? Aku tidak paham
dengan maksudmu?”
“seluruh keluarga Rey akan pindah hari ini. kau belum tahu?!” kata Karina heboh
“ak...aku...” seketika Kasih tergagu tidak dapat megatakan apapun.
“Kasih?! Apa kau mendengarku?!” panggil Karina menyadarkan Kasih yang mulai termenung
__ADS_1
‘Rey...’ Kasih akhirnya mulai menangis dalam diam mengabaikan sambungan teleponnya yang masih terhubung dengan Karina yang terus memanggil dirinya.
***
Di ruang baca tampak tuan Smith yang sedang duduk bersantai sambil membaca sebuah buku
ditemani secangkir kopi kesukaannya, tampak menemaninya menikmati waktu bersantai. Tampak juga John yang selalu setia berdiri mematung di samping tuan Smith.
Tuan smith terlihat sangat menikmati waktunya bersantai sampai seseorang menggebrak
mejanya. Dia adalah Kasih sang Nyonya Alexander yang sednag menatap marah kearah tuan Smith.
“apa yang kau perbuat pada keluarga Rey?!” tanya Kasih marah
Tuan Smith tidak bereaksi apapun. Ia msih berkutat dengan aktivitasnya membaca sembari sesekali
menyeruput kopi yang berada tepat berada didepannya.
Melihat hal itu Kasih semakin marah. Emosinya sudah mencapai ubun-ubun dengan uratnya yang
tampak berkedut dikepalanya.
“hei! Sepertinya kau suka sekali mengabaikan orang yang berbicara denganmu ya?!” kata Kasih
dengan nada kasar namun masih tidak berhasil mendapatkan perhatian dari pria yang telah menjadi suaminya itu.
“Ho! Kau benar-benar pria gila tidak punya sopan santun yang tidak menghargai istrimu
yang sedang berbicara padamu!!!” ucap Kasih berapi-api
“apa yang kau inginkan, Istriku?” tanya tuan Smith akhirnya menghentikan aktivitasnya dan menatap Kasih,
Mendengus kasar Kasih mengelus dadanya mencoba bersabar dengan pria sedingin es yang sialnya
adalah suaminya sendiri ‘sabar...sabar...kau harus tetap waras menghadapi pria gila ini, Kasih. Tidak boleh menjadi gila seperti dirinya’ batin Kasih memberi semangat pada dirinya sendiri.
“aku baru saja menerima kabar. Keluarga Wijaya, apa yang kau lakukan pada mereka?” tanya Kasih
memandang tuan Smith penuh selidik.
“nyonya Alexander, apa kau sedang mencurigai suamimu?” kata tuan Smith serius sembari
balas menatap Kasih.
Kasih membuang wajahnya kearah lain saat kedua mata itu bertemu.
“apa yang kau katakan? Jangan memangg ilku dengan sebutan itu!”
“apa kau menolak statusmu? Apa kita perlu membuka rahasia ini jika sebenarnya kita berdua menikah
berdasarkan kontrak? Haruskah kita pergi kekeluargamu sekarang? Baiklah jika
itu memang yang kau inginkan” kata tuan Smith dengan nada mengancam lalu bergegas bangkit berdiri namun segera ditahan oleh Kasih.
“apa yang kau bicarakan?! Jangan pernah berani berkata sembarangan didepan keluargaku” ujar Kasih serius
“baiklah, istriku” kata tuan Smith dengan nada menggoda.
“haish! Tidak ada gunanya berbicara denganmu! Aku akan mencari tahu sendiri. Jika benar itu kau. Jangan harap aku akan melepasmu dengan mudah.” ujar Kasih yang tiba-tiba wajahnya memerah kemudian bergegas pergi dengan menggerutu kesal.
Kasih berjalan perlahan sembari mencerna tentang apa yang sedang terjadi. “haish! Aku sungguh
tidak bisa menang melawan pria gila itu dalam berdebat. Jika seperti ini, aku tidak akan bisa mencari tahu kenapa keluarga Rey tiba-tiba pindah. Apakah tuan Smith berada dibaliknya, tapi apa motifnya? Apakah mungkin karena kejadian dipernikahan waktu itu?”
“nona, keluarga anda datang untuk mengunjungi anda” ujar Wendy yang tiba-tiba datang menghampirinya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1