Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 97 Ciuman Ketigaku


__ADS_3

Di sebuah ruang kamar mewah di dalam mansion megah milik keluarga Alexander tampak seorang wanita dewasa yang masih terlelap dalam tidurnya. Ranjang besar dengan kasurnya yang empuk sepertinya menambah kenyamanan bagi siapa saja yang tidur diatasnya. Diluar matahari sudah mulai meninggi tapi si wanita tampak masih enggan untuk bangun hingga kebisingan alarm diatas meja nakas dekat tempat tidurnya mengusik mimpi indah si wanita.


“Hoammmm...!!!“ menguap dengan lebar sambil mematikan alarm dengan sekali tekan.


Meski masih merasa mengantuk Kasih membawa dirinya dengan langkah gontai memasuki kamar mandi pribadinya langkahnya berhenti memandangi kaca didepannya yang memantulkan bayangan dirinya sendiri dari pantulan cermin. Ditatapnya wajah cantik itu meski baru saja bangun tidur dan belum memakai polesan apapun lalu pandangannya terhenti pada bibir tipis miliknya bayangan Tuan Smith yang sudah dua kali mencium bibir itu tiba-tiba muncul.


Diusapnya pelan bibir menawan yang terlihat merah muda itu seraya pikirannya melayang saat dimana bibir itu menempel dengan bibir sang pria bernama Tuan Smith Alexander pria dewasa yang sudah memiliki seorang anak. “Astaga! Aku pasti sudah sangat gila. Bagaimana mungkin aku tergoda dengan ciuman seorang duda beranak satu. Meski kuakui tuan Smith memanglah sangat mempesona. Setiap sisi darinya memiliki daya tarik yang luar biasa. Oh! Apa aku barusan sedang memuji pria gila itu?! Benar-benar tidak bisa dipercaya!“ Kasih menepuk-nepuk pipinya sendiri berusaha menyadarkan dirinya dari segala pikiran yang berkecamuk saat ini. “Tidak benar. Aku tidak boleh seperti ini. Hey, Kasih! Awas saja kau jika sampai membiarkan pria gila itu menciummu untuk ketiga kalinya.” Kasih berbicara sendiri sambil mengarahkan jari telunjuknya kearah pantulan dirinya didalam cermin dihadapannya.


***


“Cepat habiskan sarapanmu. Hari ini berangkat ke sekolah bersamaku,” perintah Tuan Smith seraya menyudahi kegiatan sarapan paginya.


Ed Alexander tidak menyahuti ucapan sang Ayah wajahnya menampilkan ekspresi bingung. Tumben sekali ayahnya yang super sibuk itu punya waktu untuk menemaninya berangkat ke sekolah. Selama ini hanya Wendy si asisten kepala pelayanlah yang menemaninya ke sekolah. Apakah sesuatu merasuki Ayahku? Begitu pikirnya.


Mobil berhenti di depan gerbang sekolah. Dengan segera Ed Alexander bergegas turun dari dalam mobil akan tetapi dirinya dibuat bingung karena sang Ayah dan Kasih malah ikut turun juga.


“Aku akan masuk sendiri seperti biasa. Tidak perlu diantar oleh kalian,” kata Ed Alexander.


“Kami tidak sedang mengantarmu,” terang Kasih singkat yang malah membuat Ed mengernyit tidak mengerti. “Hari ini ada pertemuan orangtua murid, bukan? Kami datang untuk menghadirinya,” lanjutnya menjelaskan.


Ed melayangkan tatapannya pada wajah sang Ayah yang sedang berdiri dengan gagah disamping Kasih. “Kalian berdua?”


Kasih mengangguk mengiyakan.


‘Sejak kapan Ayah begitu perhatian padahal ia tidak pernah sekalipun menemaniku bahkan menanyakan apapun tentang sekolah juga tidak pernah.’


“Apa mungkin ... kalian akan segera menikah?“ cetus Ed Alexander menyipitkan kedua mata bulatnya menatap pengasuhnya dan sang Ayah dengan curiga.


Kasih tersedak seakan sedang susah bernafas tangannya melambai dengan cepat menolak pernyataan polos si bocah kecil dihadapannya.


“Tidak. Bukan seperti itu. Kau salah.”


“Ed Alexander,” sahut Tuan Smith menyela.


“Hn?” Ed Alexander menatap sang Ayah dengan tatapan bertanya.


“Apa kau menginginkan seorang ibu?” tanyanya kemudian.


“Apa?!” Keduanya tampak tersentak kaget.


***


Kasih benar-benar tidak mengerti dengan apa yang ada dipikiran Tuan Smith dan anaknya. Kedua ayah dan anak itu yang satu bertanya dengan pertanyaan yang membuat Kasih kaget setengah mati dan ayah si anak malah menambahinya membuat Kasih kehabisan kata dibuatnya.


FLASHBACK ON


“Apa kau menginginkan seorang ibu?” tanyanya kemudian.


“Apa?!” Keduanya tampak tersentak kaget.


“Apa yang sedang kau katakan?!” seru Kasih gusar. “ Samasekali tidak seperti itu, Ed kau jangan....”

__ADS_1


“Tidak mau. Aku hanya ingin ibuku,” ucap Ed Alexander bernada dingin lalu berbalik pergi dengan acuh.


Kasih menoleh menatap kearah Tuan Smith dengan tatapan marah. “Tuan Smith yang terhormat bisakah anda untuk menjaga kata-kata anda dihadapan anak kecil?”


“Memangnya aku mengatakan sesuatu yang salah?” kata Tuan Smith acuh.


Lidah Kasih seketika kelu kehabisan kata-katanya mulutnya hanya terbuka tapi tak sanggup mengeluarkan suara ia tidak tau harus berkata apalagi menghadapi pria gila dihadapannya. ‘Kurasa aku butuh pil penurun darah tinggi sekarang.’ Tidak ingin meladeni kegilaan pria gila itu lagi Kasih memutuskan melangkah pergi menyusul Ed Alexander.


Tuan Smith tersenyum senang memandangi Kasih dari tempatnya.


***


Acara pertemuan para orangtua murid sangat meriah karena selain mengadakan rapat akan ada kegiatan bermain bersama juga yang akan diselenggarakan setelahnya.


Kehadiran seorang Tuan Smith Alexander di tempat itu sangat mencolok dan menarik perhatian orang termasuk para wartawan yang tidak ingin ketinggalan meliput berita eksklusif yang sangat jarang bisa didapatkan. Pesona seorang Tuan keluarga Alexander juga tidaklah main-main seluruh kaum hawa yang hadir dibuatnya sibuk mengagumi sosok Tuan Smith yang sangat jarang berada ditempat umum seperti sekarang. Maka kesempatan ini tidak disia-siakan untuk mengambil gambar pria itu.


Tubuh Kasih tak kuasa beradu dengan keagresifan orang-orang itu untuk mendekat kearah Tuan Smith alhasil Kasih terdorong jauh dari sisi Tuan Smith lalu kemudian John datang menertibkan keramaian.


Mata Tuan Smith menyisir keramaian mencari keberadaan wanita tercintanya. Senyumnya mengembang saat melihat wanitanya itu yang sedang berada dekat di meja kudapan.


Kasih menelan salivanya melihat tumpukan kue manis berbagai macam dihadapannya. ‘Sepertinya enak sekali.’ Tangannya terulur hendak mengambil salah satu dari makanan manis menggugah selera yang tersaji dihadapannya.


“Nona, acara akan segera dimulai.” Suara Wendy tiba-tiba menginterupsi. Kasih menarik kembali tangannya dengan perasaan tidak rela sambil menelan salivanya sekali lagi lalu dengan lesu berjalan meninggalkan tempat itu.


“Baiklah. Setelah rapat tadi kita akan melanjutkan dengan kegiatan bermain bersama untuk melihat seberapa kompaknya Ayah dan Ibu wali murid sekalian,” ujar si pembawa acara melalui mic yang dipegangnya.


John dan Wendy sudah bersiap akan bermain namun sedetik kemudian mereka mendapat lirikan tajam dari Tuan Smith. “Apa yang sedang kalian lakukan?”


“Tidak perlu. Aku yang akan bermain,” putus Tuan Smith membuat John dan Wendy saling melempar tatapan bingung.


“Tapi permainan akan membutuhkan pasangan, Tuan. Apakah asisten kepala pelayan Wendy akan ...”


“Tidak perlu. Aku sudah punya,” potong Tuan Smith berjalan pergi menghampiri Kasih lalu menggenggam tangan wanita itu.


“Wali murid Ed Alexander?” panggil pembawa acara kemudian seketika Tuan Smith mengangkat tangannya yang sedang menggenggam tangan Kasih lalu dengan cepat melangkah menuju ke arah panggung tanpa memedulikan Kasih yang kebingungan.


“Hei pria gila Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Kasih dengan suara setengah berbisik.


“Kau menemaniku ke sini untuk ini, kan?”


“Hah? Kenapa aku harus bermain bersama denganmu lagi?! Bukankah kau bisa memilih Wendy sebagai pasangan bermainmu. Kenapa harus aku.” Kasih protes untuk kembali bermain bersama dengan Tuan Smith karena permainannya akan membuat dirinya dan Tuan Smith hampir tidak memiliki jarak satu sama lain.


“Tentu saja karena kau adalah ibunya,” kata Tuan Smith enteng.


Kasih mendengus kesal. “Kau mulai lagi berbicara melantur. Aku tidak akan meladenimu, aku pergi saja ….”


Lengan kokoh Tuan Smith terbentang menghadang tepat dihadapan Kasih membuat wanita itu seketika menghentikan niatnya untuk segera pergi. “Mau ke mana kau? Kau tidak bisa kemana-mana. Bukankah kau yang menyuruhku untuk datang kemari sekarang kau harus bertanggung jawab.” Tanpa memberi kesempatan Kasih untuk berkata-kata Tuan Smith segera menarik pinggang wanita itu merapat dengan tubuhnya seketika membuat Kasih membelalak dengan mulutnya yang terbuka. Moment itu tidak di sia-siakan oleh para wartawan yang selalu siap siaga dengan kamera ditangan.


“Kau ingin mati?!” kata Kasih galak kekesalannya sudah mulai memuncak. “Ada banyak orang disini, kau sungguh tidak tau malu.” Kasih membulatkan matanya menatap Tuan Smith memberikan tatapan mematikan pada pria itu akan tetapi, pria itu tidak juga jera malahan ia semakin berani merangkul tubuh Kasih semakin erat setelah sempat rangkulan itu longgar karena Kasih terus saja mendorong tubuh Tuan Smith menjauh.


“Diamlah! Kau tidak ingin orang-orang ini menulis berita aneh tentangmu, kan?” bisik Tuan Smith ditelinga Kasih.

__ADS_1


“Berita aneh apa yang bisa ditulis tentangku?”


“Misalnya ... Kau sangat menikmati ciumanku?”


“Kau?!” seru Kasih tanpa sadar lalu sedetik kemudian ia menutup mulutnya rapat menyadari seluruh perhatian sedang tertuju pada mereka. Pada akhirnya Kasih hanya bisa tersenyum dengan terpaksa kearah kamera yang sedang menyorot.


“Baiklah! Kita akan mulai kegiatan bermain dengan berlari sambil membawa tongkat, masing-masing pasangan harus membawa tongkatnya dan menyerahkannya pada pasangannya dan kemudian pasangan harus membawa tongkatnya melewati garis finish,” tutur si pembawa acara menjelaskan para peserta mendengarkan dengan seksama bagaimana cara bermain.


“Apa kau sudah siap?” tanya Tuan Smith berbisik ditelinga Kasih. Helaan nafas Tuan Smith yang menyentuh telinga Kasih seketika membuatnya tersentak karena merasa geli.


“Ck! Menjauhlah dariku,” ketusnya kesal.


Permainan pertama berjalan dengan meriah dan sangat menyenangkan. Tuan Smith dan Kasih berhasil memenangkan permainan membawa tongkat keduanya terlihat sangat senang dan mulai menikmati peran masing-masing. Entah pengaruh apa dan darimana keduanya menjadi sangat kompak ketika bermain bersama. Perasaan bahagia menyelimuti ketiganya dan Ed Alexander juga ikut bergabung bermain bersama dalam beberapa kali permainan yang lain seperti lomba lari, berenang, menembak balon air bahkan memukul semangka semua permainan itu dilakukan mereka bersama dengan riang gembira.


“Luar biasa! Para orangtua sekalian telah bekerja keras. Akan tetapi, sayang sekali poin tertinggi diraih keluarga Alexander dan kini kita akan segera memainkan permainan yang terakhir yaitu permainan mempertahankan balon hingga ke garis finish. Kita akan lihat apakah keluarga Alexander sanggup menyelesaikan permainan terakhir dan membawa pulang hadiah kemenangan? Mari kita mulai permainannya!”


“Wah! Ternyata akan dapat hadiah!” ujar Kasih berjingkrak senang.


Tuan Smith hanya berpose memasukkan tangannya kedalam celana pendek yang saat ini digunakannya karena tidak mungkin jika menggunakan setelan jas untuk ikut bermain, bukan? Mata Kasih terhenti pada tampilan Tuan Smith yang terlihat kasual meski begitu pria ini malah semakin memancarkan pesonanya yang luar biasa. ‘Sial! Pria ini sungguh luar biasa. Tidak hanya kemampuannya yang hebat tapi paras dan tubuhnya juga sangat sempurna.’ Kasih merenung mengingat jalannya permainan yang baru saja dimainkannya. “Benar juga, semua permainan tadi bahkan dengan mudah dimenangkan karena kemampuan pria gila ini.”


“Hn, kau berkata sesuatu?” tanya Tuan Smith menyadarkan lamunan Kasih. Pria yang adalah ayah dari Ed Alexander itu kemudian mengisyaratkan Kasih agar segera mengambil posisinya karena permainannya akan segera dimulai.


“Hah?” Kasih melongo bingung.


“Ada apa denganmu? Apa kau sakit?”


“Tidak, Tidak. Bukan begitu. Aku baik-baik saja. Sudah tidak perlu mencemaskan diriku permainan akan segera dimulai,” ujar Kasih mengingatkan. Beruntung baginya Tuan Smith percaya dengan apa yang dikatakan oleh Kasih dan tidak bertanya lagi.


Sorak-sorai dari para penonton kian terdengar meriah karena ini adalah pertandingan bagian terakhir dari permainan. Masing-masin murid saling memberi semangat pada orangtua mereka yang sedang bertanding. Ed Alexander memasang ekspresi datarnya memandangi sang Ayah dan pengasuhnya disana. Tangannya mengepal erat melihat sang ayah yang tampak begitu memperhatikan wanita yang baru beberapa waktu dikenalnya itu dan entah mengapa sang ayah dengan gampangnya begitu percaya pada wanita itu bahkan menjadikannya sebagai pengasuh dirinya. Padahal tidak ada pengasuh lain selama ini selain nona Wendy karena Tuan Smith tidak mudah percaya pada orang lain. ‘Apakah benar ayah sudah jatuh cinta pada wanita itu? Tidak benar. Posisi ibu tidak boleh digantikan oleh siapapun, tidak akan kubiarkan hal itu terjadi.’ Ed Alexander merasa sangat marah dan membenci Kasih. Diliriknya dengan tatapan marah nona Wendy dan John yang bersorak dengan suara lantang memberi semangat. ‘Wanita itu pasti sudah menyihir semua orang agar menyukainya. Alangkah bagusnya jika dia hanya sekedar menjadi pengasuh saja tanpa ada maksud yang lain, aku pasti akan menyukainya.’


“MULAI!!!”


Balon tiup yang sudah terisi oleh udara itu diletakkan ditengah-tengah antar wajah Tuan Smith dan Kasih dan keduanya harus menjepitnya dangan baik agar tidak terjatuh dengan begitu kedua wajah keduanya menjadi sangat dekat membuat jantung Kasih berdegup lebih cepat.


Pelan tapi pasti masing-masing peserta mulai berjalan sambil membawa balon tiup dengan berhati-hati.


“Ada apa denganmu? Kenapa terus saja menatapku? Perhatikan langkahmu,” ujar Kasih mengingatkan.


“Aku sedang terpesona,” jawab Tuan Smith singkat membuat Kasih tersentak kaget sejenak ia menghentikan langkahnya memelototi pria dihadapannya. “Aku berkata yang sebenarnya,” imbuhnya bernada acuh membuat wanita yang dihadapannya itu wajahnya semakin memerah karena malu.


“Ck! Bisakah kau diam dan fokus saja?”


“Aku sudah mengatakannya. Aku begitu terpesona padamu salahkan dirimu yang membuatku seperti itu.”


“Kau! Benar-benar tidak masuk akal.”


“Apa kau tau? Jarak ini membuatku mengingat betapa manisnya bibirmu itu.”


“Kau benar-benar …” Kasih mulai tidak memperhatikan keseimbangannya dan membuat balon yang memisahkan jarak antara dirinya dan Tuan Smith secara mendadak terlempar kesembarang arah mengakibatkan bibir keduanya menempel secara tidak sengaja membuat suasana tiba-tiba hening seketika semua yang melihat hal itu ikut membelalakkan matanya seperti halnya Kasih yang membeku ditempatnya berdiri sambil terbelalak tak percaya dengan apa yang baru saja terjadi. ‘Apa barusan dia menciumku untuk yang ketiga kalinya?’


BERSAMBUNG…

__ADS_1


__ADS_2