
Rumah kediaman keluarga Rey tidak terlalu besar sangat jauh berbeda dengan rumah besar keluarga Wijaya sebelumnya. Di rumah itu juga tidak banyak pelayan dan hanya ada satu orang pelayan saja. Kehidupan sederhana terpaksa mereka jalani karena Tuan Smith telah membuatnya seperti itu, tidak adanya perusahaan besar sebagai penopang kehidupan membuat ayah Rey harus pergi bekerja sebagai salah karyawan dan keluarga itu harus menjalani kehidupan berbeda dengan kehidupan mereka dahulu.
Karina yang ikut menyiapkan sarapan dengan ibu Rey dan pelayannya tampak sedang mengatur makanan diatas meja. Kasih baru saja datang dengan wajah yang berbinar bahagia.
“Selamat pagi,” ucap Kasih menyapa senyum ceria menghiasi wajah cantiknya.
“Kau sudah bangun? Ada apa dengan wajah anehmu itu?” Karina mengomentari wajah Kasih yang sedang tersenyum-senyum sendiri. Ia tahu sedang terjadi sesuatu yang bagus pada gadis itu, tapi entah apa.
“Tebaklah!”
Karina mengangkat sebelah alisnya kemudian melanjutkan kegiatan mengatur piring dan makanan diatas meja dan menyuruh pelayan memanggil anggota keluarga lain yang belum hadir di meja makan.
“Ayo, mulai makan.” kata Karina sambil membuka piring makanannya Kasih juga mengikutinya membuka piring dan bersiap menyantap sarapan. “Aku mencoba belajar memasak dengan bibi barusan. Kau harus mencobanya, aku jamin kau akan suka, atau mungkin kau akan ketagihan,” ujar Karina menambahkan seraya tersenyum bangga.
“Apanya yang istimewa, aku yakin kau tidak benar-benar memasaknya, palingan juga kau hanya ikut melihat saja,” ledek Kasih dengan nada sarkas.
“Wah! Mulut anak ini sungguh pedas!” tukas Karina tidak terima. “Aku akan mengadukanmu pada Rey supaya dia menjadi tidak menyukaimu lagi.” Karina melipat tangan didepan dadanya menatap Kasih dari ujung matanya.
Yang ditatap hanya tersenyum santai tidak terpengaruh dengan ancaman Karina sama sekali. “Kau tidak perlu melakukan hal itu, apapun yang terjadi aku yakin Rey pasti akan memihakku.” Kasih berkata-kata dengan keyakinan penuh membuat Karina menatap heran padanya.
“Kau terlihat sangat percaya diri sekali, Nona.”
“Tentu saja,” ucap Kasih tersenyum girang.
“Halo semua, selamat pagi.” Rey yang baru saja ikut bergabung di meja makan menyapa mereka semua.
“Selamat pagi.”
“Selamat pagi.”
“Habiskan makananmu, kita akan pergi setelah ini.” Rey mengambil tempat disamping Kasih.
“Kalian akan pergi kemana?” tanya Karina dengan tatapan bingung meloloskan menyuap sesendok makanan ke mulutnya.
“Menikah!” kata Kasih dan Rey bersamaan. Sontak Karina yang sedang mengunyah makanannya itu menyemburkan makanan dalam mulutnya keluar dengan mata yang memelototi pasangan sejoli dihadapannya ini.
“Apa-apaan ini?!” pekik Karina dengan lantang. “Kenapa tiba-tiba menikah?! kalian berdua apa yang kalian pikirkan? Kalian bahkan tidak membicarakannya denganku. Aku bertanya-tanya apa kalian masih menganggapku disini.”
“Jangan marah begitu, kami baru saja memutuskannya.”
“Tetap saja, seharusnya kalian mengatakannya padaku terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk menikah.” sungut Karina marah. ‘Terlebih lagi, bagaimana dengan Tuan Smith dan ... Bayi Ed.’
“Tidak bisa. Kalian tidak bisa menikah sekarang,” tolak Karina tidak menyetujui rencana sahabat baiknya itu.
“Kenapa?” Tanya Kasih tidak mengerti.
“Pokoknya tidak bisa ya tidak bisa. Aku tidak punya alasannya. Aku tidak setuju kalian menikah sekarang!” Karina melepaskan sendok dan garpu ditangannya dan beranjak pergi meninggalkan Kasih, Rey dan juga Ibu Rey yang baru saja sampai di meja makan menatap keheranan pada Karina yang terlihat kesal.
“Loh, Rin? Sudah selesai makannya?” tanya Ibu Rey tidak mendapat tanggapan dari Karina yang melenggang pergi.
__ADS_1
***
“Kau tau, mereka akan segera menikah dalam waktu dekat. Hah! itu semua membuatku gila. Bagaimana mungkin Kasih yang adalah istri Tuan Smith sekarang akan menikah dengan pria lain. Apa dia sudah gila?! Haish! Membuatku kesal dan tak berselera makan,” omel Karina diponselnya pada Tuan Adam.
“Sayang, tenanglah. Kau akan memunculkan kerutan diwajahmu dengan berteriak seperti itu.” kata Tuan Adam dengan nada bercanda.
“Ck! aku tidak akan membiarkan pernikahan itu terjadi. Tidak akan!”
Tok! Tok!
“Rin, apa kau didalam?” suara Kasih terdengar memanggilnya dari balik pintu.
“Sudah, aku tutup dulu. Sampai jumpa.” Karina mengakhiri panggilan teleponnya dan berbalik badan membuka pintu kamarnya. di depan pintu kamarnya berdiri Kasih dengan senyum manisnya. Karina melipat tangan dan bersender di tiang pintu.
“Kenapa? mau membujukku? Tidak mempan,” ucap Karina ketus.
“Ck! aku cuma ingin tau apa alasanmu tidak merestui kami, itu saja.”
“Aku tidak punya alasan,” jawabnya enteng.
“Bagaimana mungkin seseorang menolak tanpa memberikan alasan yang jelas. Kau ingin mempermainkanku?” Kasih mengerucutkan bibirnya kesal.
Karina mengabaikannya dan berbalik masuk kedalam kamarnya, Kasih mengekori dari belakang dan tanpa permisi mengambil tempat berbaring diatas kasur.
‘Aku tentu saja ingin memberitahukan padamu, Kasih. Semuanya, aku ingin sekali membuka mulutku yang sudah terasa gatal ini untuk segera berbicara. Tapi jika aku melakukan hal itu, kau akan ... ‘
“Karina!” panggil Kasih dengan suara kencang karena sebelumnya memanggil tidak mendapat jawaban.
“Eh?” Karina tersadar linglung.
“Katakan padaku, apa alasanmu. Apa kau tidak ingin didahului olehku?” tukas Kasih.
‘Ck! bukankah sudah jelas kau memang telah mendahuluiku? Dasar gadis bodoh ini.’
“Kau tidak boleh menikahinya. Aku tidak mengijinkannya. Titik!”
“Tapi kenapa?” tanya Kasih meminta penjelasan.
Karina mendengus kesal. “Kau sungguh akan menikah?”
“Tentu saja, kau kan tau sendiri aku sangat mencintainya. Dia satu-satunya orang yang ingin kunikahi. Bagiku, dia adalah pangeran impianku,” tutur Kasih penuh damba.
“Aku mengerti. Hanya saja apa kau tidak me .... “ Karina ragu melanjutkan perkataannya seketika ia tersadar akan apa yang hendak ia ucapkan. Melangkah mendekati Kasih mengelus sayang pucuk kepala gadis itu. “Terlalu cepat untuk memutuskan menikah. Bagaimana dengan bertunangan saja dulu?”
__ADS_1
***
Rey sedang duduk dan berbincang dengan sang ibu saat Kasih datang menghampiri lalu memberikan isyarat agar berbicara berdua. Ibu Rey yang memahami situasi kemudian bangkit berdiri mempersilahkan Kasih untuk duduk.
“Ibu akan pergi dulu, kalian berbincanglah.”
Kasih dan Rey mengangguk hormat mengekori langkah wanita paruh baya itu pergi menajuh. Setelah memastikan Ibu Rey telah pergi, Kasih mengambil tempat duduk di samping Rey.
“Bagaimana? Apakah sudah berbicara dengan Karina?” tanya Rey lembut.
“Um!” Kasih mengangguk mengiyakan.
“Lalu?”
“Rey!” kata Kasih membuat Rey tersentak.
“Oh?”
“Mari bertunangan!”
“Apa kau tidak ingin menikah denganku?” tanya Rey pada Kasih.
“Tentu saja aku ingin. Uh! Aku ingin menikah denganmu Rey. Aku mencintaimu.” Tiba-tiba kepala Kasih terasa berdenyut sedikit dan hal itu sedikit mempengaruhi pandangannya yang memburam.
“Kasih? apa kau baik- baik saja?” tanya Rey khawatir saat melihat Kasih yang tampak sedang memijat pelipisnya hingga ia merasa pandangannya kembali bersih.
“Oh, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit merasa pusing.”
Rey bangkit berdiri dan menuntun Kasih kembali ke kamarnya. “Kau harus beristirahat dengan baik, Kasih. Urusan pernikahan bisa kita bicarakan nanti.”
Kasih menarik lengan Rey dan seketika memeluknya. “Maafkan aku, Rey.”
“Um? Ada apa, Kasih? kau tidak biasanya.”
“Aku selalu saja membuatmu kesusahan. Sekarang saja aku sedang dalam kondisi tidak sehat menjadi istrimu pasti akan sangat merepotkanmu nanti,” lirih Kasih dengan suara yang terdengar pelan.
“Apa yang kau bicarakan? Kau akan segera sembuh, Kasih. Kau tidak usah memikirkan hal yang lain dan beristirahatlah dengan baik. Aku akan mengurus semuanya ... “ Kasih mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya kedalam tubuh Rey.
“Aku tidak ingin pergi jauh darimu, Rey. Aku tidak ingin kehilanganmu. Tapi, kerasa kita sebaiknya bertunangan saja dulu sambil menunggu aku sembuh. Maukah kau menungguku?”
Rey melonggarkan pelukan Kasih dan menatap wajah gadis yang lebih pendek darinya itu mengacak rambutnya lalu tersenyum hangat. “Tentu saja aku akan menunggu tuan putri.” Wajah Kasih sudah seperti kepiting rebus mendengar kata-kata manis pemuda yang sangat ia cintai wajah cantiknya menampikan senyum bahagianya kemudian memeluk tubuh Rey lagi dengan lebih erat seakan tidak ingin melepaskan.
‘Berbahagialah, Kasih. Aku mencintaimu.’ Rey membalas pelukan Kasih sembari menyesap aroma khas dari tubuh gadis cantik itu.
__ADS_1
BERSAMBUNG…