
Selama lima tahun belakangan ini Melinda selalu datang ke Mansion selain membawakan berkas penting untuk Tuan Alexander ia juga selalu mengambil kesempatan untuk mendekatinya tidak hanya itu saja, ia bahkan mencoba untuk mengambil hati Ed Alexander. Meski usahanya tersebut selalu gagal, namun wanita itu tampaknya tidak pernah menyerah.
Seperti hari ini, Melinda datang ke Mansion dengan membawa berkas dan beberapa mainan seperti biasa. Tujuan lainnya adalah ingin memastikan siapa wanita yang sedang heboh dibicarakan para karyawan.
“Hai manisku, aku membawakanmu mainan baru,” ucapnya pada Ed Alexander yang menatapnya datar. Pantang menyerah wanita itu membuka mainannya dan menunjukkannya pada bocah cuek dihadapannya. “Lihatlah mainan ini adalah mainan keluaran terbaru yang aku belikan untukmu. Bukankah mainan ini terlihat bagus?” katanya pad Ed Alexander yang terlihat tidak tertarik sama sekali.
Disaat yang bersamaan Kasih muncul dengan cemilan dan segelas susu yang biasa disiapkan Wendy untuk bocah itu. Kini tugas itu dilakukan oleh Kasih yang bertindak sebagai pengasuh Ed Alexander. “Hei, aku membawakanmu susu dan cemilan.” Seketika Melinda tercengang melihat wanita dihadapannya itu. Wanita yang dikira semua orang telah mati karena saking lamanya menghilang tanpa kabar sekarang sedang berdiri dihadapannya.
Kasih menatap Melinda yang menatapnya tanpa berkedip. “Maaf, anda siapa?” tanya Kasih pada Melinda.
“Ah, a-aku .... “ Melinda tampak gelagapan masih tidak menyangka dengan sosok dihadapannya.
“Aku Kasih pengasuh bocah itu,” ucap Kasih kemudian mengulurkan tangannya memperkenalkan dirinya pada Melinda.
Sedikit tidak percaya Melinda menyambut uluran tangan Kasih.
“Ed, kau makanlah cemilan ini, setelah itu kita akan pergi jalan-jalan, mengerti?” kata Kasih menolehkan wajahnya pada Ed Alexander.
Tanpa berkata sedikitpun bocah itu mengambil satu cemilan dinampan menggigitnya dan dengan tenang melanjutkan membacanya.
‘Bocah itu sangat senang membaca,’ batin Kasih dalam hati.
“Wah! Mainan ini banyak sekali. apa kau membawanya untuk Ed Alexander?” tanya Kasih melihat mainan yang dibawa oleh Melinda.
Dengan sedikit canggung Melinda berdiri merapikan rambut dan rok yang sedikit tertarik keatas karena habis membungkuk tadi. “Aku kesini untuk mencari Tuan Smith Alexander,” ucap Melinda mengalihkan pembicaraan tangannya meremas kuat dokumen yang sedang ia bawa dari pancaran matanya tersimpan amarah yang siap untuk meluap menyaksikan didepan matanya sendiri orang yang akan menghalangi setiap rencananya telah berada ditengah keluarga Alexander.
Disudut tempat yang sepi masih berada di dalam mansion Melinda terlihat sedang memarahi seseorang melalui panggilan tepeon genggam miliknya.
“Apa saja yang kau kerjakan?! Kenapa dia bisa kembali?!” marahnya dengan suara tertahan tak ingin ketahuan. “Aku tidak mau tau, lakukan sesuatu untuk melenyapkan dia segera!!!” setelah itu panggilan ditutup.
“Aku tidak akan membiarkan dia kembali dan merusak rencana yang sudah kususun dengan rapi. Kau tidak boleh kembali, Kasih. Tidak boleh!”
Sementara itu di taman tampak Kasih dan Ed Alexander sedang berjalan-jalan di taman. Sesekali Kasih melirik bocah kecil disampingnya itu. Entah mengapa ia merasa sangat senang bisa berada berdua dengan bocah itu.
‘Bocah ini jika dilihat-lihat tampan juga, sayang sekali sifatnya sangat menyebalkan!’
“Nona, di depan ada sebuah kedai es krim biasanya Tuan Muda selalu datang dan membeli es krim disana. Apa anda ingin mencoba kesana?” tanya Wendy pada Kasih.
__ADS_1
Kasih melirik Ed Alexander yang tampak tertarik ketika mendengar es krim disebut. “Benarkah?” Seketika Kasih menolehkan wajah cantiknya pada Ed Alexander yang masih tidak menunjukkan reaksi dan hanya sibuk dengan bukunya seolah-olah ia tidak tertarik pada pembicaraan yang sedang berlangsung.
“Kedengarannya bagus,” ucap Kasih memasang pose berpikir melirik sedikit ke arah Ed Alexander memperhatikan reaksi bocah itu. “Tapi, sepertinya hari ini ia tidak ingin pergi kesana, Wendy. Jadi kita .... “
“Siapa bilang aku tidak ingin pergi?” tanya Ed Alexander dengan cepat berjalan mendahului kedua wanita yang saling bersitatap dibelakangnya itu. Kasih dan Wendy tersenyum satu sama lain.
“Akhirnya dia termakan umpan juga,” ucap Kasih menghela nafas senang.
“Nona Kasih, dari sini saya akan menyerahkan Tuan Muda pada anda, saya yakin anda akan bisa menaklukkan bocah itu.”
Kasih membalas dengan senyuman yakin. ‘Baiklah, bocah nakal. Aku akan membuatmu menyukaiku.’
“Apa kau menyukai es krim itu?” tanya Kasih pada bocah kecil yang sedang menyantap es krim itu dengan tenang. Pandangan matanya menatap tidak suka pada es krim yang berada dipegangan tangan Kasih. Es krim rasa cokelat sama dengan yang sedang dinikmati olehnya.
“Kenapa kau harus memesan rasa yang sama dengan punyaku? Apa kau sengaja melakukannya? Benar-benar menyebalkan!” Kata Ed Alexander kesal.
Kasih melirik es krim miliknya menunjukkannya pada Ed Alexander. “Ini? aku memang sangat menyukai rasa ini. Sepertinya kita mempunyai selera yang sama, apa kau menyadari itu?”
“Ck! dalam mimpimu.”
Kasih tertawa lepas melihat ekspresi kesal bocah cuek dihadapannya itu seraya mulai memakan es krimnya.
“Syukurlah akhirnya anda bisa bertemu dengan ibu anda lagi, Tuan Muda.”
***
Prang!!!
Kemarahan menguasai Max Julian saat ini. ia melempar barang menghancurkan setiap benda yang ia temui dengan cepat membuat seisi ruangan tampak seperti kapal pecah. Para pengawalnya menunduk takut tak berani membuka suara.
__ADS_1
“Apa saja yang kalian kerjakan?! Kalian bahkan tidak becus menjaga seorang wanita lemah?! Aku tidak percaya aku membayar kalian untuk ini!!!”
Prang!!!
Sekali lagi suara benda hancur terdengar. Benda itu dilempar dengan kuat oleh Max Julian yang sangat kesal karena mengetahui Kasih telah kabur.
Flashback On
Secara mendadak hari itu Kasih membuka matanya setelah dirinya mengalami koma lima tahun yang lalu. Max Julian melakukan banyak upaya agar dapat menyelamatkan nyawa Kasih. mendatangkan para dokter terbaik untuk kesembuhannya, dan para dokter itu melakukan operasi beberapa kali pada bagian kepala Kasih namun mereka hanya mampu menyelamatkan nyawanya saja. setelah itu Kasih dinyatakan koma dan barulah hari ini ia secara tidak terduga sadar dari tidur panjangnya.
Perlahan manik indah itu terbuka namun dengan cepat menutup kembali pelan-pelan menyesuaikan cahaya yang diterima oleh mata yang telah lama tertutup itu. Kasih melihat sekeliling. Pandangan matanya tertuju pada jari manisnya yang telah terpasang sebuah cincin disana. Perlahan ia bangkit dengan tubuh penuh dengan alat bantu kehidupan.
Melepaskan semua alat bantu dan juga infus yang menempel ditubuhnya, Kasih berjalan dengan pelan menuju keluar kamar kebetulan tidak ada satupun yang menyadari hal itu. Berjalan sempoyongan tak tau arah Kasih akhirnya melihat sebuah pakaian yang digantung diruang ganti mengenakannya lalu berjalan pergi meninggalkan rumah sakit. Hingga saat dirinya yang masih sedikit merasa pusing dan tidak mengingat apapun berjalan di daerah supermarket dimana ia akhirnya tidak sengaja menabrak bocah kecil yang sedang memakan es krim.
“Apa yang terjadi?” tanya Tuan Smith yang sudah berdiri di hadapan Ed Alexander dan seorang wanita yang tampak membelakangi dirinya sedang sedikit membungkuk menghadap pada Ed Alexander.
Flashbcak Off
BERSAMBUNG...
__ADS_1