Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 100 Berkemah


__ADS_3

“Nyonya,” ucap John yang tidak sengaja memanggil  Kasih dengan panggilan itu seketika mendapat tatapan aneh dari semuanya. “Maksud saya, Nona Kasih. Semuanya sudah siap apakah berangkat sekarang?”


“Baiklah. Ayo berangkat!” seru Kasih riang.


Saat akan masuk kedalam mobil Kasih sengaja memberi kursi miliknya disisi Tuan Smith untuk Melinda meskipun Tuan Smith tidak mau tapi karena Kasih mengancamnya maka dengan terpaksa mengikuti kemauan wanita itu. ‘Rencana pertama sudah dimulai. Nona Melinda kau harus memanfaatkan kesempatan ini dengan baik.’ Kasih terkekeh dengan lamunannya sendiri.


“Sampai kapan kau akan diam dan berdiri saja disitu?” tanya Ed dengan nada sarkasnya membuat Kasih seketika sadar dari lamunannya dan bergegas masuk kedalam mobil dan duduk disebelah Ed.


“Sudah siap, ayo kita berangkat!” serunya girang tangannya mengepal diangkat keatas dengan semangat.


“Ck! Berisik sekali,” ucap Ed mengomentari sikap Kasih kemudian memutar musik kesukaannya mendengarkannya menggunakan headset.


Kasih tidak mempermasalahkan sikap dingin bocah itu padanya dan hanya menikmati pemandangan diluar jendela yang setengah terbuka. Menghirup udara yang masuk dari sana dan memasang senyum bahagianya. Diam-diam Tuan Smith menatap wajah bahagia Kasih sambil tersenyum lembut Melinda yang menyaksikan pemandangan didepan matanya itu merasa sangat kesal namun tidak dapat berbuat apa-apa hanya bisa mengepal kuat kedua tangannya sambil menahan amarah.


Mobil yang mereka tumpangi cukup luas memiliki kursi yang bisa saling berhadapan. Kursi dibagian depan ditempati oleh John yang menyetir sedang disampingnya ada Wendy. Di kursi bagian belakang ada Tuan Smith dengan Melinda disampingnya dan Kasih dengan Ed disampingnya.


Kendaraan mewah berwarna hitam metalik itu melaju dengan kecepatan sedang menyusuri jalanan kota yang padat hingga sampailah perjalanan mereka ke bagian pinggir kota dimana mereka akan berkemah sebagai perayaan ulang tahun Ed. Kegiatan seperti ini hampir tidak pernah dilakukan keluarga Alexander sebelumnya karena kesibukan Tuan Smith dan juga perasaan sedihnya yang sempat kehilangan Kasih sebelumnya membuatnya menjadi seorang pria yang gila kerja. Meski begitu ia merupakan seorang ayah yang sangat perfeksionis pada putra semata wayangnya, Ed Alexander. Ditengah kesibukannya ia akan memberi perhatian sederhana untuk sang putra walau hal tersebut hanya sesekali bahkan terbilang sangat jarang.


Untuk ukuran pria sedingin Tuan Smith Alexander memberi perhatian sesekali sudah merupakan hal yang sangat berharga dan jarang terjadi. Biasanya disaat putranya berulang tahun ia hanya akan membeli kue tart dan merayakannya bersama anggota keluarga Alexander. Acara kecil-kecilan yang sangat dinantikan Ed setiap tahunnya. Dan tahun ini berkat ide dari Kasih Ed bisa mendapatkan lebih dari sekedar kue tart dan lilin saja.


Walaupun memasang wajah datar dan bersikap dingin didalam hati Ed merasa sangat senang bisa menikmati waktu berkemah dengan sang ayah. ‘Aku cukup mengagumimu kali ini, Nona Kasih.’ Ed melirik Kasih dari tempat ia duduk.


Setelah sekian lama berkendara akhirnya mereka tiba ditempat tujuan. Suasana asri dari rimbunan daun serta pepohonan yang tumbuh hijau menyambut dengan udara segarnya.


Kasih menghirup udara disekitarnya dalam-dalam hingga membuat dadanya mengembang. “Segarnya...!”


Tuan Smith selalu diam-diam memperhatikan Kasih disetiap kesempatan. Baginya menatap wajah yang sangat dirindukannya itu sudah sangat membuat hatinya berbunga-bunga. ‘Wanitaku ini masih sangat cantik seperti dahulu. Begitu banyak wanita cantik disekitarku dan aku pada akhirnya ditaklukkan oleh wanita bodoh ini.’


Wajah Kasih memanglah cantik akan tetapi jika mau membandingkannya dengan para wanita yang berada disekitar Tuan Smith, maka Kasih adalah satu banding seribu kecantikan para wanita itu. Terlahir dari keluarga kaya tidak membuat penampilan Kasih senantiasa menggunakan pakaian mahal dan berkelas, penampilan Kasih terkesan sederhana ia juga tidak terlalu menonjol saat masih duduk dibangku sekolah bahkan dirinya tak jarang mendapat perlakuan tak pantas dari orang-orang disekitarnya.


Pelecehan, dipukuli dan diejek sudah biasa diterimanya saat disekolah dulu. Orang-orang suka memujinya saat di depan orangtuanya namun akan mulai bergosip tentang dirinya dan keluarganya dibelakang. Tidak hanya para siswa yang melakukan pembullyan pada dirinya bahkan para guru juga ikut melakukan hal serupa padanya. Tidak ingin membebani keluarganya maka semuanya hanya disimpannya didalam hatinya memendam kesedihan dan semua lukanya sendirian.


Tidak disangka penderitaan itu masih berlanjut saat dirinya harus terlilit sebuah benang tak kasat mata dengan Tuan Smith dari keluarga Alexander yang berkuasa. Melalui kesalahpahaman hingga segalanya menjadi semakin rumit Kasih menjadi sangat tertekan dengan semua yang terjadi dalam hidupnya mengakibatkan gadis lugu yang kini telah beranjak dewasa itu harus kehilangan ingatannya, cintanya dan sang ayah yang sangat disayanginya tidak hanya itu saja ia bahkan menjadi seperti orang asing terhadap anaknya sendiri dan ia juga tidak pernah tau bahwa ia pernah keguguran sebelumnya.


“Sempurna sekali! Paman John memang sangat hebat!” ujar Kasih menunjukkan jari jempolnya pada John sebagai tanda pujian.


“Nona anda terlalu menyanjungku,” ujar John tersenyum menanggapi.


“Sungguh. Anda benar-benar melakukannya dengan sangat baik, loh! Lihatlah semua tenda itu tampak kokoh dan berdiri kuat.” Kasih memandang semua tenda yang telah dipasang oleh John dengan tatapan kagum. Lalu kemudian tiba-tiba saja Tuan Smith datang kesana dan mulai memasang tenda yang lain.


“Oh, Tuan Smith? Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Kasih menatap heran Tuan Smith.


“Kau tidak melihatnya? Aku sedang memasang tenda!”


“Aku tentu melihatnya tapi untuk apa?” tanya Kasih tidak mengerti.


“John bisa memasang tenda dengan baik karena ia belajar hal itu dariku. Asal kau tahu saja, aku ini punya banyak keahlian yang tersembunyi,” ujar Tuan Smith membanggakan dirinya. “Salah satunya adalah memasang ten...da?”


Kasih menahan tawa saat Tuan Smith telah selesai mencoba memasang tendanya sambil terus saja memuji dirinya sendiri. Bagaimana tidak tenda itu miring seakan baru saja diterjang angin kencang.


“Tendaku lebih bagus, bukan? Lihatlah dengan jelas kau akan mengerti setelah kau masuk kedalamnya.” Baru saja Tuan Smith memasuki tenda yang baru dipasang olehnya tenda itu seketika roboh dan menimpa dirinya sendiri yang sedang berada didalamnya.


“Oh, apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti ini? Pasti ada kesalahan ....”


“Tuan, saya akan membantu anda ...” John dengan cepat menghampiri Tuan Smith untuk membantu tuannya itu. Sedangkan Kasih hanya tersenyum geli melihat kelakuan pria itu.


“Dasar tukang pamer,” ucap Kasih mencibir.


“John cepat bantu aku keluar dari sini.”


“Baik, Tuan.”


Melinda menata makanan dan minuman bersama Wendy si asisten kepala pelayan. Diam-diam dirinya menyiapkan sesuatu didalam sakunya. ‘Aku harus memanfaatkan kesempatan malam ini.’

__ADS_1


“Tuan, hati-hati.” John terlihat memapah Tuan Smith berjalan kearah Wendy dan Melinda yang sedang sibuk dengan makanan dan minuman dimeja.


“Ya, Tuhan. Apa yang telah terjadi pada Anda, Tuan?” tanya Wendy kaget dengan penampilan Tuan Smith yang sedikit kotor karena terkena debu dan tanah saat mencoba memasang tenda barusan.


“Jangan banyak tanya, cepat bawakan Tuan pakaian bersih,” ucap John memberi perintah pada Wendy.


“Oh, Baik.” Wendy bergegas pergi melakukan seperti perkataan John.


“Anda tidak apa-apa, Tuan?” tanya Melinda perhatian.


“Hn, aku baik saja.” Tuan Smith melangkah pergi diikuti John yang mengekor dari belakang. “Bantu aku membersihkan diri, John.”


“Baik, Tuan.”


Melinda menahan kekesalan hatinya karena sikap acuh Tuan Smith padanya. “Bisa-bisanya dia masih bersikap dingin seperti itu padaku apa dia buta atau apa padahal aku sudah berada didekatnya selama bertahun-tahun.”


***


KAU SUDAH SAMPAI?


“Astaga! Gawat aku melupakan janji temuku dengan Rey. Bagaimana ini?” situasi panik seketika menyerang Kasih saat dirinya tiba-tiba teringat akan janjinya dengan Rey dan lagi ternyata pria itu sudah berada di alamat tempat mereka berjanji untuk bertemu.


“Aku ingin minta ijin pergi sebentar,” ujar Kasih pada Tuan Smith disambungan telepon sesaat setelah ia menerima pesan dari Rey.


“Mau kemana kau? Bukankah kau yang mempunyai ide untuk melakukan semua ini? Tidak! Kau tidak akan kemana-mana aku tidak akan mengijinkanmu.”


“Sebentar saja. Kumohon. Aku sudah terlanjur berjanji padanya untuk bertemu.”


“Siapa?” tanya Tuan Smith mulai penasaran. “Dia seorang pria atau wanita?”


“Ck! Bukan urusanmu! Kenapa kau jadi sangat cerewet begitu. Jika kau masih tidak memberi ijin maka aku akan pergi sendiri.”


Tuan Smith mendelik kesal dengan wanitanya yang keras kepala itu seketika ia beranjak dari duduknya. “Tidak. Jangan lakukan itu. Awas saja kalau kau sampai berani.”


Merasa kesal Kasih langsung menutup panggilannya secara sepihak tanpa menghiraukan kata-kata Tuan Smith lagi.


Sebuah mobil berhenti diarea tempat keluarga Alexander sedang mengadakan kemah. Dari dalam mobil turun seorang pria yang kemudian dihampiri oleh Kasih.


“Maafkan aku karena mendadak mengubah tempat bertemu. Aku baru ingat kalau punya janji denganmu setelah aku sudah berada disini,” ujar Kasih tidak enak hati.


“Tidak masalah. Lagipula aku juga sedang senggang,” jawab Rey sembari tersenyum lembut pada Kasih. “Sedang berkemah? Sepertinya sangat menyenangkan tapi apakah tidak apa jika aku ikut bergabung?”


“Serahkan padaku. Aku akan mengurusnya,” ucap Kasih percaya diri lalu keduanya tampak berjalan bersama ke dalam menuju tenda tempat mereka berkemah.


“APA?!” Pekik Tuan Smith tidak suka. “Yang benar saja bagaimana bisa kau mendadak membawa orang asing kemari terlebih lagi kau mengajaknya untuk berkemah bersama. Apa kau sudah gila?!” mendadak Tuan Smith terlihat sangat gusar mengetahui Kasih tiba-tiba saja mengajak seseorang yang ia ketahui sedang menyamar sebagai Rey itu datang kesini dan bergabung bersama anggota keluarganya.


“Ayolah! Jangan berpikiran sempit begitu bukankah semakin banyak orang bergabung maka akan semakin menyenangkan dan seru.”


“Apa kau bercanda? Kalau begitu apa perlu kita mengundang seluruh kota kesini untuk bergabung?” ucap Tuan Smith marah.


“Sudahlah! Sepertinya berbicara denganmu hanya membuang-buang tenaga. Kalau kau tidak suka dengan dia disini maka aku juga akan pergi,” ujar Kasih memberi ancaman dan ia mengatakannya dengan sangat serius.


“Apa katamu?!” Tuan Smith mendelik menatap Kasih tidak percaya dengan apa yang barusan didengar oleh indra pendengarannya. “Kenapa kau jadi ikut pergi juga? Memang apa hubunganmu dengan pria asing itu.”


“Dia bukan pria asing. Dia temanku dan dia punya nama.”


Tuan Smith membuang mukanya kesal kehabisan kata berdebat dengan wanita yang sangat dicintainya itu. ‘Dia baru saja bertemu dengan pria palsu itu beberapa kali dan sekarang pria palsu itu kini sudah menjadi temannya. Sungguh tidak masuk akal!’


“Terserah. Lakukan saja apa yang kau mau,” ucap Tuan Smith kemudian mengalah dari Kasih.


“Benarkah?” tanya Kasih menatap lekat wajah Tuan Smith mencari kebenaran dari sana. “Dia boleh bergabung dengan kita? Dan menginap juga?”


“Ya, ya. Lakukanlah semaumu.”

__ADS_1


“Baiklah. Terima kasih. Aku tidak tau ternyata kau bisa sebaik ini padaku,” ujar Kasih tersenyum sangat manis dihadapan Tuan Smith yang sedang terpesona menatap wajah wanitanya itu. Perlahan-lahan wajah Tuan Smith bergerak maju mendekat kearah wajah Kasih.


“Tuan ....”


“Tuan ....”


Tiba-tiba wajah Kasih dihadapannya seketika berubah menjadi wajah John sang kepala pelayan yang sangat setia hal itu sontak membuat Tuan Smith terlonjak kaget.


“Astaga!” pekiknya saat sadar orang yang hampir saja diciumnya adalah kepala pelayannya bukanlah Kasih.


“Ada apa? Kemana Kasih?” tanya Tuan Smith pada John yang menatap heran padanya.


“Nona Kasih sudah pergi menyiapkan makan malam, Tuan.”


“Apa?! Benar-benar wanita itu sangat keterlaluan.” Tuan Smith kemudian beranjak pergi dengan perasaan canggung meninggalkan John yang masih bingung dengan kelakuan sang Tuan Alexander.


“Itu... Apakah barusan tuan hendak menciumku?” tanya John pada dirinya sendiri.


SELAMAT ULANG TAHUN ED ALEXANDER


Tulisan pada banner berwarna-warni itu digantung dengan kedua ujungnya terikat pada tongkat yang ditancapkan ketanah pada kedua sisi banner. Serta beberapa buah balon tiup warna-warni turut menghiasi acara ulang tahun sederhana Ed Alexander yang ke 6 Tahun.


Kue ulang tahun dengan lilin angka 6 diatasnya juga sudah siap diatas meja dan semua orang sudah berkumpul disana.


“Happy brithday, Ed.” Senyum manis Kasih terukir diwajahnya menyambut Ed yang baru saja muncul. Bocah itu tidak mengatakan sepatah katapun hanya bisa takjub dengan kejutan yang disiapkan Kasih. Pesta yang tidak mewah sama sekali bahkan sangat sederhana akan tetapi menjadi sangat spesial bagi Ed karena semua keluarganya berkumpul meski nenek dan bibinya berhalangan hadir karena sedang ada urusan namun hal itu tidak mengurangi sedikitpun rasa bahagia yang ia rasakan saat ini.


Tuan Smith sang Ayah dari bocah kecil yang sedang berulang tahun datang menghampiri Ed dengan sekotak hadiah ditangannya. “Selamat ulang tahun, Ed. Ayah punya hadiah kecil untukmu.” Tuan Smith menyodorkan kotak yang berada ditangannya pada Ed dan bocah itu segera menerimanya.


“Terima kasih, Ayah.” Ed bersiap untuk membuka kotaknya namun segera dicegah oleh sang Ayah.


“Nanti saja kau buka. Ini juga ada hadiah yang dititipkan nenek dan kedua bibimu,” ujar Tuan Smith kemudian.


Ed lalu memasukkan kotak yang tidak terlalu besar itu kedalam sakunya dan berjalan dengan dituntun oleh Kasih kearah meja dimana kue ulang tahunnya berada.


“Baiklah,” kata Kasih seraya menyalakan lilin pada kue. “Ayo nyanyikan lagu ulang tahun!”


Semua orang menyanyikan lagu ulang tahun untuk Ed dan bocah itu tampak menikmati acara sederhananya. ‘Andai saja yang menyiapkan semua ini adalah ibuku.’ Batinnya penuh harap lalu meniup lilin yang berada diatas kue tersebut hingga padam.


“Potong kuenya, lalu berikan pada Ayahmu, Ed!” ujar Melinda pada Ed yang sudah siap dengan pisau kue ditangannya.


Setelah memberi potongan kue pertamanya pada sang Ayah kini Ed bersiap memberikan potongan kue keduanya.


Melinda bergerak maju kedepan menggeser posisi Kasih lalu mengambil posisi wanita itu agar dirinya terlihat dengan jelas oleh Ed yang sedang berjalan mendekat. Sedangkan Kasih yang kini berada dibelakang Melinda sama sekali tidak keberatan akan perlakuan wanita itu karena memang ia sendiri bermaksud untuk menjadikan Melinda sebagai Ibu dari Ed.


Ed hendak berjalan mendekat pada Kasih untuk memberikan kuenya akan tetapi Melinda dengan cepat meraih kue itu dari tangan Ed.


“Terima kasih,” kata Melinda sambil tersenyum percaya diri.


Sementara Ed hanya berdiri mematung menatap Kasih yang sedang berbicara dengan yang lainnya. ‘Apa yang baru saja aku pikirkan? Untuk apa aku memberikan kue keduaku pada wanita itu. Dia memang sudah berbuat baik padaku dengan menyiapkan semua ini tapi tetap saja, aku tidak akan membiarkan dia menggantikan posisi ibuku.’ Setelahnya Ed berbalik tanpa mengatakan sepatah katapun. Melinda menyadari tatapan Ed yang tertuju pada Kasih membuat hati wanita itu memanas karena merasa sangat marah tanpa sadar tangannya meremas kuat potongan kue yang telah ia rebut tadi. ‘Berani sekali bocah ini mengacuhkanku! Tunggu saja, jika aku berhasil menjadi nyonya Alexander lihat apa yang akan kulakukan padamu, bocah tengik!’


Tuan Smith mencari-cari keberadaan Kasih kesana kemari hingga langkahnya terhenti saat melihat Kasih sedang berbicara berdua dengan Rey.


“Wanita ini sungguh keterlaluan. Susah payah aku mencari dirinya dan dia malah enak-enakan berduaan dengan pria lain disini. Istri macam apa dia ini,” omel Tuan Smith seraya berjalan mendekat hendak menguping pembicaraan mereka.


“Terima kasih sudah bersusah payah menemuiku dan maafkan aku karena membuatmu jauh-jauh datang kemari hanya untuk hal remeh seperti ini,” ujar Kasih merasa sungkan.


“Tidak masalah. Sudahlah jangan sungkan begitu lagipula bukankah kita ini teman. Sesekali melakukan hal seperti ini bagus juga untuk menyegarkan pikiran.”


“Sungguh? Kau tidak berkata begitu untuk menghiburku, kan?”


“Apakah terlihat jelas?” tanyanya Rey bernada jahil.


“Ck! Kau menyebalkan.” Keduanya lalu tertawa bersama.

__ADS_1


Sedangkan disisi lain Tuan Smith yang menyaksikan hal tersebut merasa marah dan cemburu. Ingin sekali dirinya segera menghampiri keduanya lalu menarik paksa Kasih pergi dari sana dan melayangkan bogem mentahnya pada wajah pria palsu itu. Tuan Smith mengetahui ini adalah siasat Max untuk balas dendam padanya membiarkan Rey palsu mendekati Kasih agar membuat wanita itu mengingat kembali sosok Rey yang dicintainya. Mengingat hal tersebut membuat Tuan Smith mengurungkan niatnya lalu pergi dari tempat itu untuk menenangkan diri.


Bersambung...


__ADS_2