
Wanita yang dihadapan Tuan Smith itu tersenyum canggung menatap kearahnya. Seketika Tuan Smith berlari menarik tangan wanita itu menenggelamkannya kedalam pelukan hangatnya pelukan yang begitu kuat dan menyesakkan itu membuat Kasih hampir tak bisa bernafas. Gadis yang dipeluk secara tiba-tiba itu meronta minta untuk dilepaskan.
“Apa yang anda laku-kan? Aku tidak bisa bernah-fass!!!” ujar Kasih sudah mulai kehabisan nafasnya. Pelukan erat yang sarat akan rindu itupun kini perlahan terlepas menampilkan wajah seorang gadis yang sangat dirindukannya. Gadis itu kini telah berubah menjadi seorang wanita dewasa, hampir saja ia tidak mengenalinya namun setelah melihat lebih lekat, Tuan Smith akhirnya sangat yakin bahwa itu adalah Kasih. Istrinya yang telah sangat lama ia cari dengan penuh keputusasaan.
“Ayah! Kakak ini telah menjatuhkan es krimku, Huwaaa .... “ Ed Alexander datang mendekat dengan wajah sedih melaporkan kejadian yang baru saja ia alami pada sang Ayah.
“It-itu, aku benar-benar tidak sengaja melakukannya, Tuan. Aku minta maaf aku akan menggantinya dengan yang baru jika .... Apa yang anda lakukan?!” pekik Kasih terkejut dengan tindakan Tuan Smith yang tiba-tiba menarik tangannya pergi.
Berusaha memberontak namun tidak dipedulikan oleh pria asing yang tidak dikenalnya itu. “Apa yang anda lakukan?! Ini melanggar aturan aku bisa melaporkan anda pada .... “
Ucapan Kasih seketika terpotong seiring bibir lembut Tuan Smith mendarat dibibir manisnya. Hal itu membuat Kasih tergagu tak dapat berkata apapun wajahnya tampak sangat terkejut. ‘Siapa pria gila ini?! kenapa tiba-tiba menciumku?! Benar-benar tidak sopan!’ belum sempat Kasih bertindak apapun, tiba-tiba ia menyadari tubuhnya didorong ke dalam mobil milik Tuan Smith secara paksa.
“Duduklah dengan manis istriku sayang.”
“Apa ini?! anda telah melakukan penculikan! Aku akan melaporkan ini. Biarkan aku pergi! Tolong! Aku telah diculik seorang psikopat! To-tolong .... “Kasih terus melakukan perlawan dengan berteriak kencang sembari memukul-mukul kesegala arah berusaha membebaskan diri.
“Ed, cepat masuk kedalam. Kita harus membawa pulang ibumu,” ucap Tuan Smith seraya masuk kedalam mobil.
“Ibu?” Meski merasa bingung dan tidak mengerti dengan apa yang sedang terjadi pada akhirnya Ed hanya menuruti perkataan sang Ayah memasuki mobil dan duduk dikursi depan disamping sang Ayah sebagai pengemudi. Dirinya menatap bingung dengan wanita yang tadi membuatnya kehilangan es krim dan anehnya lagi Ayahnya menyebut wanita itu adalah ibunya. ‘Siapa wanita ini? kenapa Ayah malah membawanya ikut serta alih-alih memberikan hukuman padanya karena telah menjatuhkan es krimku. Ck! sungguh menyebalkan. Aku akan memperhitungkan ini nanti.’
“Astaga! Kau ternyata adalah seorang penculik. Aku harus menghubungi .... ” Kasih mengeluarkan ponselnya dan bermaksud untuk menghubungi seseorang namun belum sempat hal itu dilakukannya ponsel ditangannya telah direbut paksa oleh Tuan Smith. Melempar ponsel itu kesembarang arah diluar mobil.
“Astaga! Apa yang dilakukan pria gila ini? itu adalah ponselku! Kenapa kau membuangnya?!” teriak Kasih tidak terima Tuan Smith membuang ponselnya. “Seseorang tolong aku! Aku diculik!”
Tuan Smith merasa sangat senang mendengar suara Kasih yang kembali menyebutnya pria gila seperti dulu. Senyum diwajah tampan itu kembali merekah dengan indahnya.
“Tidak masalah. Aku akan membelikanmu ponsel yang baru,” ucapnya enteng. “Dan satu yang kau harus tau, Kasih. Tidak ada suami yang menculik istrinya sendiri,” tambahnya lalu dengan segera menghidupkan mesin mobil.
“I-istri apanya? Oh, tidaaakk!!!” teriakan Kasih menggema bersamaan dengan mobil yang melaju kencang.
__ADS_1
Mobil milik Tuan Smith telah memasuki halaman mansion keluarga Alexander. Rumah dan semuanya tampak sangat asing bagi wanita yang tengah dibawa paksa oleh Tuan Smith itu. ‘Astaga! Dimana aku? Kenapa ada bangunan semewah ini ditengah kota? Halamannya sangat luas bahkan terbilang seperti dikelilingi hutan. Siapa sebenarnya pria gila dan aneh ini? kenapa membawaku kemari?’ tatapan takut Kasih melirik wajah pria asing yang sedang menyetir dari pantulan kaca spion. ‘Siapa sebenarnya dia? Kenapa dia tau namaku?’
Mobil berhenti dan Kasih masih tidak percaya melihat bangunan yang sangat luar biasa dihadapannya. ‘Gila! Mansion ini punya berapa banyak kamar di dalamnya?’ seketika Kasih tersadar dengan pikirannya tangannya bergerak memukul kepalanya sendiri hingga membuatnya meringis sakit.
“Turunlah,” pinta Tuan Smith membukakan pintu mobil mempersilahkan Kasih yang sedang terbengong untuk segera turun. “Ada apa? Apakah memintaku untuk menggendongmu turun?” tanya Tuan Smith dengan nada menggoda.
Kasih buru-buru mendorong tubuh pria yang ia anggap pria gila itu hingga sedikit terdorong kebelakang lalu dengan cepat ia melangkah turun. Mata kasih seketika terpana melihat mansion megah dihadapannya. ‘Apakah ini mimpi?’ tangan Kasih bergerak mencubit dirinya sendiri dan alhasil sekali lagi membuatnya mengaduh kesakitan.
“Aduh! Sakit sekali.” Kasih menggosok bagian tubuhnya yang memerah bekas cubitan tangannya sendiri.
John, Wendy dan beberapa pelayan mansion datang menyambut kedatangan sang Tuan. Mereka semua seketika terkejut tidak percaya dengan apa yang sedang mereka lihat.
“I-itu, Tuan, apakah itu benar adalah Nyonya?” tanya John meminta penjelasan dari Tuan Smith yang kemudian dibalasnya dengan anggukan pasti sembari menyunggingkan senyum kebahagiaan. John tertohok tidak percaya begitu pula dengan Wendy yang sangat syok melihat kembalinya sang Nyonya yang telah lama menghilang.
Wendy berjalan mendekat menghampiri sang Nyonya yang kini terlihat lebih dewasa mengikuti umurnya yang telah bertambah. “Nyo-nyonya? Apakah ini benar-benar anda?” tanya Wendy masih tidak mempercayai apa yang ia lihat. Matanya tampak berkaca-kaca menatap wajah sang Nyonya yang hanya terdiam kebingungan. ‘Apa yang sedang terjadi disini?’ batin Kasih bingung.
“Bawa dia masuk dan bersihkan dirinya,” kata Tuan Smith memberi perintah pada para pelayannya yang kemudian bergerak menghampiri sang Nyonya yang memasang sikap siaga.
“Tenanglah, Nyonya. Kami hanya ingin membersihkan tubuh anda,” ucap salah seorang pelayan menjelaskan.
“A-ku, aku tidak mau. Aku tidak membutuhkan kalian membersihkan tubuhku. Aku baik-baik saja. jangan mendekatiku .... ” Kasih tidak dapat mengelak lagi tubuhnya segera dibawa paksa oleh para pelayan yang dipimpin oleh Wendy.
“Kuserahkan padamu. Bersihkan dia dengan baik lalu bawa padaku,” ujar Tuan Smith seraya berlalu pergi. Wendy membungkuk hormat pada sang Tuan lalu bergegas menjalankan perintah.
Sementara itu Kasih yang tengah dibawa dan hendak dibuka pakaiannya untuk dimandikan terus berteriak minta untuk dilepaskan. “Jangan berani mendekat! Atau aku akan memukul kalian,” ujar Kasih mengancam dengan menodongkan sebuah vas bunga yang diraihnya dari atas meja kepada para pelayan yang hendak melepaskan pakaiannya.
“Nyonya, tolong biarkan kami melakukan tugas kami. Atau kami akan dihukum oleh Tuan Smith,” pinta salah seorang pelayan pada Kasih dengan wajah memelas.
“Hah? kenapa kalian harus dihukum? Apakah kita sedang berada disekolah?”
__ADS_1
Wendy kemudian merasakan seolah dirinya sedang de javu. Ia mengingat saat awal-awal sang Nyonya berada di kediaman ini dan pertanyaan yang sama juga terlontar. Secara tiba-tiba Wendy memeluk Nyonyanya itu dengan erat membuat Kasih tertegun heran.
“Apa yang kau lakukan?” tanyanya dengan nada perlahan raut wajahnya menampilkan kebingungan.
“Nyonya, syukurlah anda sudah kembali. Kami sangat bersyukur anda baik-baik saja. Apa anda tau, Tuan sangat menderita kehilangan anda, Nyonya. Terima kasih Tuhan telah mengembalikan anda pada Tuan kami.”
Alis Kasih saling tertaut, mengernyit merasakan kebingungan yang semakin menjadi. Dilepaskannya dekapan Wendy dari tubuhnya menciptakan sedikit jarak sehingga ia dapat melihat wajah wanita yang terus berbicara hal yang tidak masuk akal baginya. “Nyonya? Tuan? Siapa yang kalian maksud itu? aku sungguh tidak mengerti dengan apa yang sedang kalian bicarakan. Aku rasa kalian disini hanya sedang salah paham saja, aku tidak akan menuntut kalian semua asalkan kalian mau melepaskanku. Jadi, kumohon tolong lepaskan aku.”
“Anda ingin kemana, Nyonya? Tanya Wendy.
“Tentu saja aku ingin pulang.”
“Tapi ini adalah rumah anda, Nyonya.”
“Tidak. sudah kukatakan kalian hanya sedang .... “
Tiba-tiba suara bariton Tuan Smith menggema dari pengeras suara yang berada diruangan itu.
“Wendy! Jika kau mulai bekerja lamban, sebaiknya kau berhenti bekerja saja.”
Kasih menatap pengeras suara yang tergantung diatas sana. “Ck! dasar pria gila.”
“Maafkan kami, Nyonya. Kami harus melakukan ini,” ucap Wendy sambil berjalan medekati Kasih dengan langkah perlahan.
“Apa yang ingin kalian lakukan?” Kasih kembali menodongkan vas bunga yang sempat dilupakan olehnya karena teralihkan oleh Wendy yang tiba-tiba memeluk dirinya.
Wendy menoleh menatap para pelayan lalu memberi isyarat bersiap untuk melakukan sesuatu mendadak Kasih bergidik takut dibuatnya sembari melangkah mundur. “Jangan coba-coba untuk mendekat! Aku peringatkan ka- Aaahhhh!!!”
Bersambung ...
__ADS_1