
Kasih merasa sangat percaya diri karena merasa Tuan Smith tidak mungkin bisa menang dari Dan yang sangat ahli menembak. Tentu saja Kasih sangat percaya akan kemampuan dari pemuda yang belum lama ini menjadi pengawal pribadinya itu, karena tadi ia sudah menyaksikannya sendiri dengan mata kepalanya.
‘Aku yakin sekali si pria gila ini pasti akan segera kalah dan tidak akan menggangguku lagi.’ Kasih menatap Tuan Smith dengan yakin.
“Ayo, cepat dimulai. Atau jangan-jangan kau sedang berpikir untuk mengaku kalah?” kata Kasih pada Tuan Smith.
Pria itu hanya tersenyum sinis kemudian mengambil pistol mainan dihadapannya dan dalam sekilas mata ia melepaskan beberapa kali tembakan ke arah target yang sempat membuat Kasih sedikit terkejut.
“Dia lumayan juga. Itu pasti hanya kebetulan saja,” ujar Kasih mengomentari aksi Tuan Smith yang sudah selesai menembak target.
Penjaga itu mengambil sasaran target yang telah terjatuh hasil tembakan oleh Tuan Smith dan membawanya mendekat pada mereka. ‘Mari kita lihat hasilnya, aku yakin dia pasti ... “ sorot mata Kasih menangkap sasaran target yang telah bolong ditengah itu. “Apa itu sasaran yang tadi?!” pekik Kasih menatap tidak percaya.
“Tentu saja, nona.” Penjaga itu membenarkan.
Kasih meraih sasaran target dari tangan penjaga menariknya melihat lebih dekat dengan wajah bingung.
“Bukankah tadi dia menembak berkali-kali? Bahkan pelurunya sampai habis, tapi lubang peluru ini hanya ada satu.”
“Bagaimana? Terpesona?” ujar Tuan Smith membuat Kasih tertegun. “Aku lupa mengatakan padamu kalau aku sangat ahli menembak. Bukan hanya menggunakan pistol mainan ini, aku bahkan sangat ahli menembak dirimu hingga menghasilkan bayi Ed, bukan?” Tuan Smith mengerling nakal pada Kasih.
“Menggelikan! Aku tidak peduli!” ucap Kasih berlari marah sembari melempar sasaran target yang tadi dipegangnya.
“Hei! Gadis bodoh! Aku telah menjadi pemenang. Harusnya kau memberiku selamat dan jangan lupa dengan janjimu,” teriak Tuan Smith dengan suara nyaring membuat Kasih menghentakkan kakinya kesal.
“Ini hadiah anda, Tuan.” Penjaga itu memberikan boneka beruang berwarna biru pada Tuan Smith sebagai hadiah kemenangan. Tuan Smith mengambil hadiahnya lalu pergi menyusul Kasih.
Kasih berlari sembari marah-marah mengutuki Tuan Smith. “Pria gila menyebalkan! Dia sengaja membuatku tampak seperti orang bodoh! Aku tidak percaya aku dibodohi untuk kesekian kali olehnya.” Kasih terus berjalan hingga ia sadar dirinya tidak tau dimana sekarang. Kepalanya celingak-celinguk mencari orang yang mungkin dikenalnya. Namun, nihil semua wajah yang dilihatnya adalah wajah orang asing.
“Menyebalkan! Aku tidak percaya aku bisa tersesat,” ucap Kasih masih kesal. “Bahasa asingku tidak terlalu bagus, bagaimana caraku bertanya pada orang-orang ini?”
Kasih berjalan ke sembarang arah dengan kebingungan menoleh kesana dan kemari berharap ia akan bertemu siapapun yang bisa membawanya kembali berkumpul dengan yang lainnya.
“Kumohon, siapapun tolong temukan aku. Aku takut,” gumam Kasih merasa takut. Tangan dan ujung kakinya mulai terasa dingin dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
Sementara di tempat lain Tuan Smith dan Dan sedang mencari keberadaan Kasih sambil berteriak memanggil-manggil namanya.
“Dasar gadis bodoh! Apa dia tidak tau sekarang ia berada dimana? Berjalan sendiri seakan bisa pulang sendiri, jika tersesat jangan sampai menangis!” gumam Tuan Smith kesal matanya menyusuri satu per satu orang yang berlalu lalang mencari sosok Kasih.
“Dan!” panggilnya kemudian.
“Ya, Tuan.” Jawab Dan menghampiri Tuan Smith.
“Kita berpencar. Kau cari kesebelah sana. Hubungi aku jika kau sudah menemukannya,” ucap Tuan Smith menunjuk kearah berlawanan dengan arah yang akan disusuri olehnya.
“Kasih?!” Kedua pria itu berjalan saling berlawanan arah mencari kemana perginya Kasih.
Sementara Kasih yang merasa ketakutan bercampur bingung terus berjalan di tempat asing. Sesekali ia berusaha mencoba berbicara dengan orang asing yang melewatinya mencari arah menuju parkiran namun tidak satupun yang mengerti dengan bahasa asing milik Kasih yang berantakan.
“Bagaimana ini? tidak ada satupun orang yang mengerti bahasaku. Aku juga tidak bisa berbahasa asing dengan benar. Ayah, Ibu, Kasih takut sekali, aku harus mengatakan sekarang bahwa belajar bahasa asing itu sangat berguna, terlebih disaat seperti ini,” gumam Kasih menangis takut. Ponselnya yang kehabisan baterai dimasukkannya kedalam tas selempang kecil yang tergantung manis dibahunya. “Kenapa disaat seperti ini ponselku harus mati, menyedihkan sekali. Huaa.” Kasih meratapi dirinya yang terlihat menyedihkan seperti seekor anak anjing yang terpisah dengan sang majikan.
Tanpa sadar langkah kakinya membawanya kearah jalan yang sepi tidak ada seorangpun disana. Tiba-tiba Kasih merasa sangat takut jantungnya berdetak cepat. Secepat kilat ia memutar badannya berjalan cepat kembali ke jalanan yang tadi ia tapaki, tetapi sebelum sampai ke jalan yang ia tuju, seorang pria asing berbadan tinggi dan besar menghadang dirinya. Kasih memutar balik badan dan ada satu orang pria asing lagi yang menghadang langkahnya. Tangannya meremas kuat tali tas kecilnya berusaha meredam ketakutan yang melanda.
“Pe, permisi! Aku ingin lewat,” ucap Kasih gugup menggigit pelan bibir bawahnya sembari menatap takut pria-pria asing itu.
Para pria asing itu mengacuhkan perkataan Kasih dan hanya tertawa jahat. Kasih merasa sangat ketakutan hingga tubunya terasa sangat dingin dan bergetar hebat.
“Tolong pergi! Jangan ganggu aku!” Kasih memukul-mukulkan tas kecilnya keudara berharap para pria itu mengurungkan niatnya untuk menganggu dirinya, tapi hal itu hanya sia-sia belaka karena para pria itu malah semakin berani berjalan mendekat.
“Argh! Tolong aku!!!” Kasih beringsut ketakutan menutup kedua matanya sembari melingkarkan tangan pada lututnya. Ia pasrah menerima apapun yang akan terjadi pada dirinya. ‘Kumohon, tolong aku. Hiks!’ Kasih menangis ditengah ketakutannya sambil berharap dalam hati akan ada yang menolong dirinya.
__ADS_1
Buk! Bak! Buk!
Sebelah mata Kasih menyipit berusaha mengintip apa yang terjadi. Telinganya menangkap suara gaduh tapi tidak ada yang terjadi pada dirinya. Kedua matanya sontak terbuka lebar menatap Dan yang sedang menghajar para pria asing yang tadi hendak mengganggu dirinya.
“Dan?!” Girang Kasih merasa sangat bersyukur setelah melihat Dan sudah datang untuk menolong dirinya. Dari tempatnya ia menatap cemas Dan yang sesekali terkena pukulan dari pria asing yang berbadan jauh lebih besar dari tubuh Dan.
“Awas! Dan!” teriak Kasih cemas.
Beberapa saat kemudian Tuan Smith datang membantu Dan menghajar orang-orang asing itu saat mereka mulai mengeroyok Dan dan membuatnya terpojok. Tuan Smith menghajar pria asing dengan ganas hingga membuat mereka semua babak belur. Merasa tidak akan menang, para pria asing itu menarik diri dan kabur.
“Apa kau tidak apa?” tanya Kasih memeriksa keadaan Dan. Tatapannya terlihat sangat cemas.
“Saya tidak apa-apa, Nyonya.”
“Dasar gadis bodoh! Aku yang menghajar orang-orang itu. Kenapa kau malah mengkhawatirkan orang lain? suamimu aku atau dia?!” sahut Tuan Smith kesal.
Kasih tidak membalas perkataan Tuan Smith dan hanya fokus memperhatikan wajah Dan yang terlihat sedikit bengkak terkena pukulan.
“Wajahmu bengkak, pasti terasa sakit,” ucap Kasih sembari mengelus lebam diwajah Dan, pemuda itu terlihat sedikit meringis.
‘Gadis bodoh ini!!!’ Tuan Smith semakin merasa geram melihat Kasih yang sangat perhatian pada pemuda lain dihadapannya terlebih sejak tadi dirinya terus diabaikan oleh istrinya sendiri.
***
Karina dan yang lainnya dibuat terkejut dengan kedatangan Tuan Smith, dan Juga Dan yang sedang dipapah oleh Kasih.
“Simpan saja pertanyaanmu itu, Rin. Aku akan menceritakannya nanti.” Kasih memapah Dan memasuki mobil.
“Ayo kembali ke hotel!” semua orang hanya bisa terbengong melihat Kasih yang terlihat tidak mempedulikan yang lain selain Dan.
***
Sedari tadi Kasih hanya sibuk dengan Dan. Mengobati pemuda itu dan merawatnya dengan baik. Tuan Smith yang melihat hal itu terus saja berdecak kesal namun tak dapat berbuat apa-apa karena Kasih akan sangat galak jika diganggu olehnya. Tidak berbeda jauh dengan Tuan Smith, Karina dan yang lainnya juga menatap aneh dengan sikap Kasih yang demikian khawatir dan peduli pada Dan.
“Jangan lupa untuk istirahat dengan baik. Jika butuh sesuatu kau harus mengatakannya padaku, mengerti?” kata Kasih pada Dan yang tersenyum tipis merasa bahagia dengan sikap perhatian Kasih pada dirinya. Jika dulu ia hanya bisa memperhatikan dari jauh gadis yang menjadi pemilik hatinya ini, sekarang walau harus dengan identitas berbeda ia sudah cukup merasa bersyukur bisa berada dekat dan menikmati perhatian dari Kasih.
Kasih berjalan keluar meninggalkan kamar Dan dan tangannya seketika dicengkram oleh Tuan Smtih menariknya pergi dengan cepat.
“Apa-apaan kau! Tanganku sakit!” teriak Kasih memberontak namun nihil. Tangannya malah memerah saking eratnya cengkraman tangan Tuan Smith dipergelangan tangannya.
“Sepertinya aku sudah terlalu lunak padamu, berani sekali kau bersikap manis begitu pada pria lain. Sedangkan padaku, kau bersikap seperti seekor singa kelaparan!”
“Itu bukan urusanmu!” Kasih membuang mukanya kearah lain menghindari tatapan marah Tuan Smith.
__ADS_1
Melihat sikap Kasih yang demikian, membuat Tuan Smith semakin terbakar emosi. Tangannya mengeratkan cengkraman tangannya membuat Kasih meringis kesakitan.
“Argh! Sakit sekali, apa yang kau lakukan?! Lepaskan tanganku! Kau menyakitiku.”
Pria yang sedang tersulut amarah itu tidak menghiraukan teriakan Kasih sama sekali. Kakinya melangkah lebar menuju kamar mereka berdua sambil menyeret Kasih ikut, membuka pintu kamar dengan kasar lalu menghempaskan Kasih ke dalam dengan kuat hingga membuat tubuh Kasih terhuyung.
Kasih mengelus pergelangan tangannya yang memerah sembari menatap marah kearah Tuan Smith. “Aku membencimu! Cepat ceraikan aku!” teriak Kasih marah.
Aura disekeliling Tuan Smith seketika berubah dingin membuat Kasih beringsut ketakutan. ‘Apa yang terjadi dengan pria gila ini.’
Kasih berjalan mundur saat langkah kaki Tuan Smith berjalan mendekati dirinya. “Ap, apa-apaan kau! Sana pergi! Bikin orang kesal saja,” ujar Kasih mengusir Tuan Smith agar menjauh darinya. Namun, Tuan Smith samasekali tidak menggubris dan tetap melangkah hingga Kasih terhenti karena tubuh bagian belakangnya menabrak tembok.
‘Gawat!’
Tuan Smith mendekatkan bibirnya lalu berbisik dengan suara yang sangat seksi namun malah terdengar menyeramkan ditelinga Kasih.
“Ingin bercerai?”
Kasih menelan saliva dengan susah payah. “Te, tentu saja.” Tiba-tiba Kasih berbicara gagap. “Bukankah kau sudah mendapatkan semua yang kau inginkan? Kini, aku sudah tidak berguna bagimu, ceraikan saja aku.... “
Perkataan terhenti seketika saat bibir Tuan Smith menabrak bibirnya lalu ********** paksa. Kasih berusaha memberontak dengan sekuat tenaga. Akan tetapi, dikarenakan perbedaan kekuatan yang besar membuat usaha Kasih tidak berarti apapun bagi Tuan Smith dan ia masih bisa melanjutkan aksi cium paksanya dengan mudah.
Saat tangan Tuan Smith hendak mengerayang masuk kedalam baju Kasih, seketika membuat Nyonya muda itu mendelik kaget berusaha mendorong tubuh besar milik Tuan Smith dengan segenap kekuatannya hingga tubuh pria itu terdorong sedikit. Setelah ada kesempatan, tanpa sadar tangan Kasih melayang dan mendaratkan telapak tangannya di sebelah pipi Tuan Smith dengan sebuah suara nyaring memenuhi ruang kamar mewah itu.
Kedua tangan Kasih menutupi tubuhnya dan mengelap bibirnya yang tadi dicium paksa oleh pria yang baru saja ditampar olehnya. Pipi Tuan Smith memerah dengan bibirnya mengeluarkan sedikit darah segar disana. Tuan Smith menghapus darah disudut bibirnya dengan ujung jari lalu meludah kesamping.
“Aku sudah muak dengan sikapmu! Kau pikir karena kau kuat dan berkuasa lalu kau bisa seenaknya melakukan apapun pada diriku?! Kau sangat menjijikkan! Aku sudah tidak tahan lagi, sekarang aku ingin kau menceraikanku saat ini juga!!!” teriak Kasih marah.
Tuan Smith tertawa sinis lalu menatap wajah Kasih. “Kau ingin aku menceraikanmu agar kau bisa dengan mudah kembali kepada cinta pertamamu itu?!” tebaknya tepat sasaran.
“Aku memang akan mencarinya, itu karena aku mencintainya. Sedangkan kau, sebaiknya kau melepaskanku karena aku sama sekali tidak sudi berlama-lama hidup denganmu, aku membencimu, sangat benci!!! ” ujar Kasih berteriak marah dadanya kembang kempis mengatur nafas yang memburu karena marah.
Secara cepat Tuan Smith meraih tangan Kasih menariknya masuk ke dalam kamar mandi. Meski sekuat tenaga Kasih berusaha memberontak untuk yang kesekian kali namun selalu saja ia tidak bisa menang melawan Tuan Smith.
“Bajingan brengsek kau! Singkirkan tangan kotormu dariku! Sialan!” ucap Kasih memaki sembari memukul-mukul tangan Tuan Smith yang mencengkram kuat lengannya.
Sesampainya di kamar mandi Tuan Smith mengambil shower air menghidupkannya lalu kemudian mengguyur tubuh Kasih hingga dirinya sendiri juga ikut basah kuyup. Kasih masih terus berusaha memberontak dengan kekuatannya.
“Aku sudah terlalu baik padamu, Huh?! Itu membuatmu lupa diri. Kali ini aku akan mengajarimu sekaligus mengingatkan akan statusmu. Ingatlah bahwa kau adalah wanitaku, kau istriku. Tidak ada yang bisa mengambilmu dariku bahkan jika itu adalah Tuhan sekalipun.”
“Persetan denganmu! Pergi menjauh dariku!” kata Kasih pedas.
Pria itu sekarang sedang diliputi kemarahan di hatinya matanya tertutupi oleh kabut cemburu. Dengan sekali tarikan Tuan Smith menarik baju yang menutupi tubuh Kasih hingga robek dan menampilkan pakaian dalam milik Kasih terekspos keluar. Kasih menganga tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.
‘Pria gila sialan!’
Kasih hendak menampar wajah Tuan Smith sekali lagi, namun tangannya dicegat oleh pria itu lalu kemudian dengan cepat mendorong Kasih ke tembok kamar mandi dengan posisi mengunci. Kasih tidak dapat bergerak samasekali tubuhnya sudah sepenuhnya dikunci oleh pria itu.
“Lepaskan! Brengsek!”
Tuan Smith menutup pintu kamar mandi dengan sebelah kakinya sembari menyeringai jahat.
“Biar kuperlihatkan padamu seperti apa itu brengsek yang sesungguhnya, istriku.”
ARRGGGHHHARRGGGHHH!!!!!!!
Terikan Kasih menggelegar memenuhi seisi ruangan kamar namun suaranya tidak sampai menyeruak keluar karena kamarnya menggunakan peredam suara. Sedangkan Dan yang berada di dalam kamarnya tersenyum senang membayangkan betapa Kasih sangat mencemaskan dirinya tadi tanpa menyadari apa yang sedang dilakukan oleh Tuan Smith saat ini pada gadis itu. Dirinya menatap potret Kasih yang sedang tersenyum manis mendekap erat potret gadis itu lalu merebahkan diri sembari memejamkan matanya.
BERSAMBUNG...
__ADS_1