
Suara burung mencicit dipagi hari menyambut pagi bersama dengan seorang gadis muda yang sedang asyik membawa bayi kecilnya berjalan-jalan di taman belakang mansion. Sembari terus mengajak si bayi lucu itu berbicara, Kasih mendorong kereta bayinya menyusuri taman.
Taman luas itu banyak ditanami bunga-bunga karena sebelumnya ibu tuan Smith sangat menyukai tanaman. Ia suka mengoleksi berbagai jenis bunga dari seluruh dunia untuk ditaruh di taman itu. Alhasil, taman itu terlihat sudah seperti pameran bunga yang sangat indah dengan kupu-kupu yang beterbangan menghisap madu dari bunga-bunga cantik berwarna-warni.
Tuan Smith yang terbangun pagi-pagi menyadari sang istri tidak berada disampingnya, ia segera pergi mencari keberadaannya. Dan ia tidak sengaja melihat sang istri yang sedang mendorong kereta bayinya di taman belakang dari jendela lantai dua mansion.
Melihat itu ia segera pergi menghampiri istri dan anaknya dari belakang.
“Hey!” kata Tuan Smith memanggil Kasih yang sontak terkejut mendapati Tuan Smith sudah berada dibelakangnya.
“Kau mengejutkanku!” ucap Kasih mengelus dada terkejut.
“Apa yang sedang kau lakukan di sini?” tanya Kasih kemudian pada pria yang masih mengenakan piyama tidurnya itu.
“Mengapa bertanya padaku? Harusnya aku yang bertanya begitu padamu. Setiap pagi kau selalu menghilang. Aku takut kau akan pergi berselingkuh dariku.”
Kasih mendengus kesal. ‘Hah! pria gila ini! Entah apa yang sedang ia pikirkan.’
“Berselingkuh? Apa kau gila? Aku tidak mungkin melakukan hal itu. Dan lagi sekalipun aku ingin melakukannya, hal itu bukanlah urusanmu.” ungkap Kasih dengan nada kesal.
“Bukan urusanku?” ulang Tuan Smith menatap sinis Kasih. “Aku adalah suamimu, Nona. Kau harus ingat itu.” Sambung tuan Smith menegaskan.
Mendengar hal itu Kasih tersenyum sinis. “Heh! Apa kau lupa, Tuan? Status ini hanyalah sementara. Kau dan aku akan segera berpisah. Secepatnya!”
Kasih hendak mendorong kereta bayinya meninggalkan Tuan Smith sendirian namun segera saja tangannya dicekal. Dengan marah Kasih menatap tajam kearah Tuan Smith.
“Apa kau segitunya ingin berpisah dariku? Kau pasti sudah tidak sabar untuk menemui selingkuhanmu itu, bukan?” celetuk Tuan Smith yang membuat Kasih menatap tak percaya.
“Pria gila ini! Apa yang sedang kau bicarakan? Selingkuhan? Yang mana? Kau selalu membuntutiku kemanapun aku pergi. Memang darimana aku bisa punya kesempatan untuk melakukan hal itu?” teriak Kasih frustasi.
“Jadi kau berniat untuk melakukannya? Berselingkuh?”
Dada Kasih yang terisi penuh dengan oksigen seakan-akan ingin meledak menghadapi tuduhan tak berdasar Tuan Smith tersebut. ‘Selingkuh? Apa dia gila?!’
“Dengarkan aku. Aku tidak ingin ribut denganmu. Biar kuperjelas masalahnya aku tidak pernah berselingkuh. Jadi, singkirkan pikiran burukmu itu dari kepalamu.”
“Kau tidak ingin mengakuinya? Kau tidak ingin mengakui bahwa kau ingin bertemu dengan pria idamanmu itu? Siapa namanya?” Tuan Smith memasang pose berpikir. “Ah benar. Rey! Apa kau ingin menemuinya?”
Kedua telapak tangan Kasih mengepal erat disamping tubuhnya. Bahkan ia dapat merasakan seluruh tubuhnya bergetar hebat menahan perasaannya sendiri. Air matanya yang tertahan dipelupuk mata sudah menumpuk dan akan segera mengalir jatuh membasahi kedua pipi gadis muda itu.
“Hentikan. Aku tidak ingin membahas hal ini lagi.” pungkas Kasih dengan nafas tertahan ditenggorokannya.
“Kenapa? Apa kau tidak ingin mencari tau bagaimana kabar pangeranmu itu?” tanya Tuan Smith sombong.
“Aku bilang hentikan. Cukup! Apa kau tidak puas setelah menghancurkan hidupku? Kau sudah mengambil segalanya dariku. Tidak hanya itu, kau juga telah menghancurkan hidup satu-satunya pria yang kucintai. Mengirimnya ke luar negeri hanya untuk menjauhkannya dariku. Kau sungguh bukan manusia. Kau seorang iblis berdarah dingin. Tidak. kau seorang Raja Iblis! Aku membencimu!” Air mata Kasih yang sudah tidak tertahankan berderai mengucapkan segala yang tersimpan dihatinya. Ia membenci pria itu dengan segenap jiwanya. Bahkan jika membunuh bayi tidak berdosa bukanlah sebuah tindakan keji, maka Kasih tidak ingin melahirkan bayi yang notabene adalah milik pria yang sangat amat dibencinya itu dan memilih untuk menggugurkannya saja.
__ADS_1
Setelah mengatakan kekesalan dihatinya ia segera bergegas mendorong kereta bayinya dengan perasaan marah. Meninggalkan Tuan Smith yang menatap kepergiannya dari belakang.
“Haish! Sial! Apa yang sudah aku lakukan?! Mengapa aku begitu marah dan mengatakan perkataan yang tidak perlu? Gadis bodoh itu, apa dia masih terus mencintai pemuda yang sudah kukirim keluar negeri? Sungguh tidak bisa dipercaya!”
Tuan Smith mendumel kesal karena sudah mengatakan perkataan yang membuat gadis itu marah. Sesungguhnya ia sama sekali tidak bermaksud untuk mengatakan perkataan itu, namun entah mengapa ketika ia melihat ekspresi Kasih yang begitu memedulikan pemuda yang ia sendiri tahu bahwa pemuda itu adalah cinta pertama Kasih, ia merasa sangat marah. Perkataan menyakitkanpun meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa ia sadari.
Dari kejauhan Dan secara diam-diam mengawasi pembicaraan antar Kasih dan Tuan Smith. Ia dapat mendengarkan apapun yang sedang dibicarakan dan bergegas meninggalkan tempat itu saat Kasih sudah pergi meninggalkan Tuan Smith seorang diri.
***
“Se ... la ...mat? pagi.” John terbengong menatap sang nyonya yang berjalan tanpa memedulikan dirinya. Ia melihat wajah Kasih yang beruarai air mata dan bertanya-tanya apa kiranya yang sedang terjadi.
Sebelum Kasih benar-benar pergi ia berhenti dan berbalik menghampiri John yang masih terbengong.
“Paman John.” Panggilnya.
“Eh? Iya, Nyonya?”
“Siapkan mobil untukku. Aku akan pergi ke rumah orangtuaku.” ujar Kasih singkat sambil lalu.
“Tapi ....” Belum sempat John menyelesaikan ucapannya sang nyonya sudah berlalu pergi. “sebenarnya apa yang terjadi dengan nyonya muda? Mengapa matanya sembab? Apakah nyonya habis menangis? Aku sungguh tidak mengerti.”
“Apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya Wendy sambil menatap John heran.
“Apa kau melihatnya?” ucap Jhon balik bertanya. Wendy menatap heran john dengan kedua alisnya tertaut mencoba memahami apa yang dimaksud oleh John.
“Itu....” John mengarahkan pandangannya kearah sang nyonya berlalu pergi tadi, lalu diikuti oleh pandangan penuh tanya oleh Wendy.
“Apa?”
__ADS_1
“Aku sepertinya melihat Nyonya sedang menangis.”
“Benarkah? Apa yang terjadi?” tanya Wendy penasaran.
“Entahlah,” ucap John mengangkat kedua bahunya acuh sembari berjalan pergi.
Wendy yang ditinggal sendiri menatap dengan raut wajah bingung sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Menangis? Semoga saja Nyonya tidak apa-apa.” Ujar Wendy berharap. Ia takut jika tuannya yang berhati dingin dan kejam itu akan membuat sang nyonya terluka.
***
Di dalam mobil kasih memasang wajah kesalnya sambil menggendong bayi Ed ditangannya. Bersama dengan Dan sang pengawal pribadinya yang juga sedang menyetir mobil untuk pergi ke rumah keluarga Kasih. Mobil itu melaju meninggalkan mansion megah milik tuan Smith. Sedangkan tuan Smith sendiri sedang memperhatikan mobil yang melaju pergi itu dari balik jendela mansion.
“Apa dia menangis?” tanya tuan Smith pada John yang dengan setia berdiri tak jauh dari belakangnya.
“Iya, Tuan. Saya melihatnya sendiri.” ungkap John menjelaskan.
Tuan Smith terdiam. Ia tampak berpikir sejenak lalu berjalan menuju meja kerjanya melipat tangannya sambil bertopang dagu.
‘Apakah dia masih memikirkan pemuda itu?’ pikir Tuan Smith bersikap tenang. Seketika perasaan marah mulai melecut dihatinya. Ia merasa sangat amat tidak nyaman dengan perasaan asing itu. Dan perasaan asing itu seringkali muncul jika ia melihat Kasih memikirkan pria lain.
‘jika begitu, aku akan membuatmu melupakan pemuda itu.’
Tuan Smith menyiapkan sebuah rencana untuk membuat Kasih jatuh cinta padanya agar Kasih dapat melupakan Rey dan menjadi miliknya selamanya. Ia menyadari bahwa ia tidak ingin Kasih pergi ataupun memikirkan pria lain selain dirinya. Saat memikirkan hal itu perasaan cemburu seketika menyelimuti hatinya hingga membuat perasaannya tidak menentu.
“aku ingin kau melakukan sesuatu untukku,” ucap Tuan Smith memberi perintah pada John yang dengan sigap segera mengangguk patuh. Dengan seksama ia mendengarkan apa yang menjadi perintah Tuannya itu. John sang asisten, pengasuh dan juga sekaligus menjadi orang kepercayaan Tuan Smith sangat tau bahwa Tuan Smith orang yang tidak suka pada kesalahan maka ia selalu berusaha bekerja menyelesaikan apapun tugas yang diberikan padanya tanpa kesalahan sedikitpun.
BERSAMBUNG...
__ADS_1