
“Ah! aku bosan sekali.” Dengus wanita yang sedang duduk sendirian di dalam ruang kerja Tuan Smith. selain bermain ponsel dan membaca buku komik kesukaannya tidak ada hal lain lagi yang bisa dilakukannya membuat wanita itu diserang perasaan bosan yang teramat sangat. “Bekerja di kantor begitu membosankan! Aku bingung bagaimana orang lain bertahan setiap hari harus menjalani hari yang membosankan seperti ini. Si pria gila itu juga selalu sibuk pergi kesana kesini meninggalkanku sendirian di tempat ini. Pasti menyenangkan sekali jika aku bisa ikut … Aha! Aku punya sebuah ide.” Mendadak sebuah ide muncul diotaknya buru-buru ia mengambil ponselnya.
“Untuk apa kau mengikutiku?” tanya Tuan Smith dari sambungan ponselnya dengan Kasih.
“Dasar kepedean! Aku tidak pernah bilang aku ingin mengikutimu. Aku hanya merasa begitu bosan di ruangan itu setiap hari jadi aku ingin ikut denganmu menemui para klien.”
“Tetap saja ....”
“Ayolah, Tuan pria gila aku akan bersikap baik. aku berjanji.” Kasih memasang tampang manis sambil memohon pada Tuan Smith tangannya terlipat didepan dadanya dan matanya sengaja dikedip-kedipkannya untuk melancarkan aksinya.
‘Gadis bodoh ini. Bagaimana bisa aku membawamu melihat kekejamanku? Kau pasti akan ketakutan dan makin menjauh dariku.’
“Aku mohon, kau tentu tidak ingin aku mati karena kebosanan, kan?” kata Kasih dengan wajah memelas.
“Siapa yang mengijinkanmu mati?”
Kasih mengangkat bahunya acuh. “Ayolah … kumohon ….” Menatap Tuan Smith dengan tatapan puppy eyes andalannya.
‘Tentu saja. Siapa yang akan tahan dengan jurus puppy ayes milikku. Jurus pamungkasku yang tidak akan pernah gagal dalam membujuk seseorang. Haha!’ batin Kasih percaya diri seraya tertawa girang didalam hati dialihkannya sedikit pandangannya pada sosok pria yang hampir setiap hari mengenakan setelan jas rapi duduk disampingnya sambil memainkan tabletnya santai. Tampaknya pria itu sedang sibuk memeriksa pekerjaan yang dikirimkan para bawahannya. ‘Dia terlihat lumayan juga jika sedang serius. Tampangnya tidak terlihat seperti seorang pria beranak satu. Hihi.’ Tanpa sadar Kasih tertawa cekikikan saat memandangi Tuan Smith.
“Apa ada yang terlihat lucu?” tanya Tuan Smith tanpa mengalihkan pandangannya dari layar tablet ditangannya.
Kasih tersentak. “Tidak ada. Aku hanya sedang memikirkan sesuatu saja.”
“Hm,” balas Tuan Smith singkat lalu kembali melanjutkan kesibukannya.
“Oh ya, ngomong-ngomong. Pria yang mencarimu waktu itu ….”
Tuan Smith tercengang mendengar Kasih tiba-tiba membahas tentang pria itu jari jemarinya yang tadi sangat sibuk berkutat dengan tablet miliknya seketika terhenti. Meski begitu, Tuan Smith tetap berusaha bersikap biasa saja tidak ingin membuat Kasih menaruh curiga.
“Ada apa? kenapa tiba-tiba bertanya?” tanya Tuan Smith bernada tenang meski sesungguhnya ia sangat tidak ingin membahasnya.
Kasih tersenyum kecil. “Tidak ada. Aku hanya sekedar bertanya saja. Apa mungkin kau mengenalnya?”
“Aku tidak mengenal pria itu ….”
“Pria?” ulang Kasih menatap wajah Tuan Smith lekat. “Darimana kau tahu bahwa dia adalah seorang pria? Seingatku aku tidak pernah mengatakan padamu bahwa itu adalah seorang pria.”
Tuan Smith tersadar dengan perkataannya. “Aku tentu tahu. Kau lupa seluruh isi kantor adalah bawahanku?”
“Ah! benar juga. Aku lupa.”
“Aku akan pergi menemui seorang klien, kau tunggu aku disini jangan kemana-mana. Mengerti?” ucap Tuan Smith sebelum beranjak keluar dari mobil.
“Mengerti,” ucap Kasih patuh.
Tuan Smith mengijinkan Kasih untuk ikut dengannya tapi ia tidak boleh keluar dari mobil. “Sayang sekali nona Wendy tidak ikut denganku, aku sangat bosan menunggu sendirian,” gerutunya setelah menunggu selama beberapa waktu. Kasih menatap si supir yang duduk dikursi kemudi. “Pak supir, boleh aku bertanya sesuatu?”
“Ya, Nona.” Si supir melirik Kasih dari kaca spion kecil didepannya.
“Apakah anda sudah lama bekerja dengan orang itu?”
__ADS_1
“Maksud Nona, tuan Smith?” tanya si supir memastikan. Kasih hanya mengangguk sebagai jawaban. “Saya sudah bekerja sekitar 5 tahun, Nona.”
“5 tahun?! Lama sekali,” seru Kasih takjub.
“Benar, Nona.” Si supir membenarkan. “Ngomong-ngomong, anda terlihat sangat mirip dengan Nyonya ….”
DOR!
Kasih masih ingin mendengar kelanjutan ucapan dari si supir akan tetapi sebuah suara tembakan tiba-tiba terdengar membuat keduanya terkesiap kaget. ‘Suara itu? Bukankah suara itu suara tembakan?’ Kasih tampak mulai khawatir ia melihat melalui jendela mobil kearah rumah mewah tempat Tuan Smith mengadakan pertemuan.
“Pak supir, apa yang sedang terjadi? kenapa ada suara tembakan? Apa Tuan Smith baik-baik saja?” tanya Kasih cemas.
“Anda tenanglah, Nona. Tuan pasti baik-baik saja,” ujar si supir menenangkan.
Masih dalam keadaan sangat cemas tiba-tiba sebuah suara tembakan kembali terdengar oleh keduanya membuat Kasih memberanikan diri keluar dari mobil dan menyusul Tuan Smith memasuki rumah mewah sendirian.
“Nona, apa yang anda lakukan?! Tuan menyuruh anda menunggu!” Teriakan dari si sopir diabaikan oleh Kasih. Ia tetap berlari masuk ke dalam rumah tersebut.
Saat membuka pintu besar rumah itu Kasih terkesiap di tempat melihat begitu banyak pria bersetelan hitam yang mengerubungi Tuan Smith. Seketika semua orang termasuk Tuan Smith terdiam menatap lurus kearah Kasih yang hanya bisa tersenyum kikuk dan merasa gugup. “Oh, maafkan aku, sepertinya aku salah masuk pintu. Kalau begitu aku permisi.” Dengan cepat Kasih berbalik hendak pergi namun segera dicegat oleh salah seorang dari para pria bersetelan hitam. ‘Gawat! Sepertinya aku akan segera menemui ajalku. O!, ibu, ayah, aku takut sekali.’
“Hehe … Tuan penjahat aku sama sekali tidak ada urusan disini, bisakah membiarkan aku pergi saja?” kata Kasih dengan sengaja bersuara imut sambil memasang puppy eyes jurus andalannya sama seperti yang dilakukannya pada Tuan Smith sebelumnya.
Namun, hasilnya tampak berbeda ketika ia menggunakan jurusnya itu tadi dan sekarang. ‘Sialan! Kenapa tuan penjahat tidak terpengaruh dengan jurusku? Padahal saat aku menggunakannya pada tuan Smith ia langsung terperdaya. Sepertinya jurusku ini sudah kehilangan kekuatannya. Hiks!’
Tuan Smith menatap Kasih dengan pandangan seolah bertanya apa yang sedang dilakukannya disini kenapa tidak menuruti perintah pria itu untuk menunggu dimobil. ‘Haish! Mungkin sebaiknya aku membiarkan saja pria gila ini tadi.’
“Menyerahlah, Tuan Smith. Atau Nona ini akan meregang nyawa!” ancam si penjahat.
“Diam!” bentak si penjahat membuat wanita itu tersentak diam tak berani lagi untuk berbicara.
“Lepaskan dia dan hadapilah aku,” tegas Tuan Smith kemudian.
“Heh! Jika kau memberi apa yang kami mau maka kalian berdua akan selamat.”
“Aku sudah mengatakannya. Kalung warisan itu sudah kumusnahkan jika kalian menginginkannya carilah ditempat sampah.”
“Brengsek! Kau tidak sayang nyawa rupanya!” seru si penjahat seketika menodongkan sebilah pisau kebatang leher Kasih hingga pisau itu sedikit menggores kulitnya.
“Astaga! Pria gila tolong aku. Aku tidak mau mati. Aku belum menikah! Huwee,” tutur Kasih kalut.
“Daripada itu, aku menawarkanmu sesuatu yang lebih menguntungkan.”
“Kalung keluarga Alexander sangat berharga dan pasti memberikan keuntungan yang bagus untukku, sesuatu apa yang akan kau tawarkan padaku sebagai gantinya.”
Tuan Smith tersenyum sinis. “Sesuatu seperti …” kalimatnya menggantung diudara lalu sedetik kemudian pria yang tadi menyandera Kasih kini sudah terlempar jauh kebelakang menyisakan Kasih yang menyaksikan kejadian itu dengan kedua mata melotot tidak percaya dengan apa yang ia lihat barusan. Sekarang posisi pria yang tadi menodongkan pisau kearah Kasih digantikan oleh Tuan Smith. ‘Cepat sekali. Apa dia seorang ninja atau sejenisnya?’ Kasih menatap kagum kearah Tuan Smith perasaan kagum dan terpesona sekilas muncul sebelum akhirnya para anggota penjahat itu mulai menyerbu mereka dengan brutal.
“Tetap berada dibelakangku,” ujar Tuan Smith singkat. Belum sempat Kasih menyahut tubuhnya segera ditarik kesana kemari karena menghindari serangan musuh.
“Astaga! Bisakah menarikku dengan pelan? Aku merasa mual sekarang.”
“Tunggulah sebentar aku akan menyelesaikannya dengan cepat.”
__ADS_1
“Sungguh? Mereka ada banyak sekali. Apa kau sanggup jika hanya sendirian saja melawan mereka semua?” Kasih menatap khawatir melihat para penjahat.
“Kau mencemaskanku?” tanya Tuan Smith percaya diri.
“Kau gila?! Aku tidak mungkin seperti itu!” Tiba-tiba Tuan Smith menarik tubuh Kasih merapat dengan tubuhnya bahkan saat ini wanita itu dapat merasakan hembusan nafas pria yang sedang mendekapnya erat. Tubuh Kasih menegang dirinya tak berani bergerak sama sekali.
“Apa yang kau lakukan?!” tanyanya sambil memelototi si pria gila yang hanya membalas dengan senyuman yang sialnya malah terlihat sangat seksi dimata Kasih. Lirikan mata Tuan Smith tertuju pada goresan dikulit bagian leher Kasih, goresan kecil itu tampak mengeluarkan sedikit darah segar dengan segera memacu kemarahan di dada Tuan Smith. Pria itu kemudian mempererat dekapannya pada tubuh Kasih membuat wanita itu sekali lagi membulatkan matanya seketika. ‘Sedang apa pria gila ini?! aku jadi tidak bisa bergerak.’
Saat pertarungan sengit terjadi, Kasih melihat seseorang hampir menusuk Tuan Smith dengan sebilah senjata tajam dan tanpa berpikir panjang dirinya segera menghadangnya dengan tubuhnya sendiri.
“Awas!” seru Kasih berlari seraya mendorong tubuh Tuan Smith menjauh dan membiarkan tubuhnya sendiri yang menerima tusukan itu. Akan tetapi, sebelum hal itu sempat terjadi dengan sigap Tuan Smith menarik tangan Kasih dan kembali memeluknya erat membuat dirinyalah yang akhirnya mendapat tusukan menggantikan Kasih.
Bibir Kasih bergetar tak sanggup mengucapkan sepatah katapun ia terlalu kaget dan takut terlebih lagi darah mulai mengucur deras dari bekas tusukan itu. Anehnya Tuan Smith sama sekali tidak bereaksi apapun dan tetap melanjutkan berkelahi mengalahkan semua musuh yang ada.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Tuan Smith bernada cemas sambil memeriksa keadaan Kasih. Sementara itu Kasih sama sekali tidak bicara apapun ia hanya diam membisu dengan tubuh bergetar hebat. Melihat wanitanya tampak sangat ketakutan Tuan Smith segera memeluknya lebih erat membawa wanita yang telah memberinya perasaan jatuh cinta itu kedalam dekapan hangat tubuhnya.
“Tenanglah, Kasih. Aku disini. Kau akan baik-baik saja.”
Kasih menangis dalam diam sembari menenggelamkan wajahnya lebih dalam ke tubuh Tuan Smith. Kalimat Tuan Smith barusan terdengar begitu menenangkan baginya. “Kau terluka karenaku, bagaimana bisa aku baik-baik saja?” ucap Kasih dengan suaranya yang lemah serta agak sedikit serak airmata tumpah membasahi kedua belah pipi merah mudanya.
“Hanya luka sedikit, jangan khawatir,” ucap Tuan Smith menenangkan Kasih yang masih menangis sesenggukan.
Merasa kesal karena sepertinya Tuan Smith malah menyepelekan keselamatan diri sendiri, Kasih melepaskan dekapannya lalu memukul dada bidang pria itu dengan sedikit kuat.
Aw!
Tuan Smith mengerang kesakitan setelahnya membuat Kasih menjadi sangat panik.
“Kau tidak apa-apa? Apakah terasa sakit sekali? Maafkan aku. Aku sungguh tidak …” Kasih menahan nafasnya sejenak menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya kemudian menggigit pelan bibir bagian bawahnya. “Ugh! Aku harusnya tidak melakukan itu. Maafkan aku. Aku … a-aaku ….”
“Tidak apa-apa.” Tiba-tiba Tuan Smith menarik tubuh Kasih memeluknya membuat Kasih menarik nafasnya dalam dan menahannya . ‘Sial! Kenapa setiap kali pria gila ini memelukku aku tidak bisa bergerak. Ada apa denganku?’
“A-aku tidak bisa bernafas!” kata Kasih memukul pelan punggung Tuan Smith agar melepaskan pelukannya.
“Kasih …” suara Tuan Smith terdengar pelan menyapa indra pendengaran Kasih membuatnya gugup seketika. Wanita itu tampak memerah dan salah tingkah saat menatap kedua mata pria yang lebih dewasa darinya itu dengan jarak yang sangat dekat. Dibuangnya pandangannya kelain arah menghindari tatapan pria itu karena tak kuasa menahan gejolak yang bergemuruh di dalam dadanya. ‘Ah! ya Tuhan kurasa dadaku akan meledak!’
“Kasih …” Sekali lagi Tuan Smith memanggil namanya.
“Ya!” Seru Kasih memalingkan wajahnya dengan marah. “Apa?! kenapa terus saja Hmph~” Kasih tidak sempat meneruskan kalimatnya karena dalam sekejap bibirnya telah dikunci oleh bibir Tuan Smith.
“TUAN!” suara si sopir membuyarkan suasana romantis yang baru saja tercipta. Kedua insan yang sedang ketahuan berciuman atau lebih tepatnya Kasih yang sedang dicium oleh Tuan Smith secara sepihak dengan cepat melepaskan diri perasaan canggung meliputi hati Kasih sedangkan Tuan Smith melayangkan tatapan mematikannya pada si sopir yang hanya bisa menundukkan wajahnya takut.
‘Dasar pengganggu sialan!’
“Bereskan tempat ini, john!” titah Tuan Smith kemudian pada John yang baru saja tiba.
“Ya, Tuan.” John membungkuk hormat mempersilahkan sang Tuan melewatinya sedangkan Kasih mengekori dari belakang berjalan sambil menundukkan wajahnya malu.
BERSAMBUNG…
Author mohon maaf karena begitu lama mengabaikan kalian. Selama ini author sedang sakit dan baru bisa kembali lagi setelah sembuh. Mulai sekarang author akan berusaha sering update dan terus memberikan yang terbaik kepada pembaca sekalian. Terima kasih. Salam, Sherly Lie.
__ADS_1