Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 40 Nama Bayi


__ADS_3

 


 


Suasana di villa terasa sangat hangat dengan semua anggota keluarga Kasih yang sedang duduk berkumpul diruang keluarga. Ruangan itu cukup besar dan mereka sedang berkumpul bersama sambil menikmati beberapa cemilan yang dibuatkan sang Ibu. Ibu Kasih membuatkan kue dan beberapa cemilan untuk mereka nikmati bersama.


“Ibu mertua membuat ini semua?” tanya tuan Smith menatap satu persatu cemilan yang dibuat oleh sang Ibu mertua. Ia tampak tidak percaya Ibu mertuanya ternyata sangat mahir mahir membuat cemilan dan kue. Dan hebatnya lagi rasanya sangat enak.


Dengan tersipu malu Ibu Kasih tersenyum “ibu hanya memanfaatkan bahan yang ada, bukan hal besar”


“ini sangat lezat” komentar tuan Smith berdecak kagum


“benarkah? Ibu sangat bersyukur jika kau menyukainya, makanlah lebih banyak” kata Ibu Kasih menyodorkan yang lain pada tuan Smith


“kau akan memakan semua itu?” tanya Kasih pada tuan Smith yang tampak sedang asyik menyantap berbagai cemilan dan kue dengan lahapnya.


“ya. Ini enak” jawab tuan Smith sambil terus makan


“kau sungguh rakus!” kata Kasih menyindir tuan Smith yang terlihat tidak peduli


“biarkan tuan Smith makan sampai puas. Ibu akan membuatkan sebanyak yang ia ingin makan” kata Ibu Kasih  membela tuan Smith


Kasih bersungut kesal sambil memasukkan satu kue kedalam mulutnya.


“silahkan makan yang ini juga, Nak” kata Ayah Kasih menawarkan tuan Smith memberikan satu piring kue


Kasih semakin terlihat kesal melihat kedua orangtuanya yang sangat memanjakan pria yang membuatnya harus berpisah dengan cinta pertamanya itu.


‘jika kalian tau apa yang telah diperbuat pria gila ini padaku. Kalian tidak akan memanjakannya seperti sekarang’


“ah ya, apa kalian sudah menentukan nama sang bayi?” tanya Ibu Kasih kemudian


Kasih tampak kebingungan tidak tau harus berkata apa. Namun tuan Smith tiba-tiba menyahut dan membuat semua yang ada disitu tercengang sesaat.


“aku sudah menyiapkan sebuah nama untuknya” semua mata tertuju pada pria yang akan segera menjadi seorang ayah sebentar lagi.


“benarkah? Pasti namanya sangat bagus” balas Ayah Kasih dengan yakin yang lain juga ikut membenarkan


“ED” ucap tuan Smith dengan nada santai “nama putraku adalah... Ed Alexander”


Seketika semuanya menjadi cengo ditempat sambil menatap tuan Smtih heran


“...E..D???” Ayah Kasih mengangkat alisnya heran “kenapa aku merasa namanya sangat singkat” Ayah Kasih tertawa hambar sembari melemparkan pandangannya pada istrinya yang dibalas dengan deathglare dari istrinya itu.


“Kau sungguh akan memberi nama singkat dan aneh itu? Pada bayiku?” tanya Kasih dengan nada kesal


“tentu saja. Nama yang kuberikan tentu sangat bagus, bukan?”


“apa kau tidak bisa memilihkan nama yang lebih sedikit panjang untuknya? Nama itu sangat singkat”


“aku tidak suka nama yang terlalu panjang. Aku akan kesusahan jika memanggilnya nanti” ungkap tuan Smith santai


“astaga! Kau benar-benar...!!!” kata Kasih menahan amarah menatap tuan Smith kesal. Ia tidak percaya pria gila ini memberikan nama asal-asalan bagi anaknya.


“aku suka nama bayi Ed. Namanya terdengar sangat lucu” tutur Jenny tiba-tiba yang menarik perhatian semua orang terutama Kasih yang langsung menatap garang ke adiknya.

__ADS_1


“nama jelek itu kau bilang lucu?!” Kasih menaikkan nada suaranya dengan penuh emosi


“kakak... Nama itu adalah sebuah doa tidak peduli namanya panjang atau pendek” jelas Jenny dengan polosnya


“itu benar sayang” Ibu Kasih ikut berbicara membenarkan perkataan sang putri kecil


“kalian semua adalah keluargaku, kenapa kalian semua malah membelanya?” kata Kasih marah


Semua tampak terkejut dengan Kasih yang tiba-tiba menjadi sangat marah. Dengan emosi Kasih meninggalkan tempat itu.


“apa yang terjadi dengan anak itu?” tanya Ibu Kasih kebingungan


“aku akan menyusulnya” ucap tuan Smith berlalu menyusul Kasih


Tanpa sadar Kasih sudah berjalan sampai ke kamarnya. Membanting pintu dengan kuat dan langsung menghempaskan dirinya di tempat tidurnya. Untunglah tempat tidurnya sangat empuk hingga tubuhnya yang sedang berbadan dua itu tidak mendapat benturan dan hanya terpental sedikit. Ia merasa sangat kesal sekarang. Ia tidak menyukai nama yang diberikan tuan Smith untuk anaknya. Menurutnya nama itu terlalu sederhana dan tidak memiliki arti khusus.


“apa dia pikir anak ini tidak penting?! Memberi nama asal-asalan untuk anakku. Aku tidak bisa membiarkannya melakukan hal itu” Kasih mengelus perutnya yang sudah sangat besar bahkan beberapa bagian tubuhnya juga sudah mulai ikut membengkak disebabkan efek kehamilannya.


“walau kau hadir dihidup ibu secara tiba-tiba, dan ibu sangat tidak siap untuk menjadi seorang ibu, ibu akan berusaha memberikan yang terbaik untukmu, sayang” rasa sayang pada sang bayi yang sedang ada di dalam kandungannya secara tiba-tiba muncul dan membuatnya sangat sensitif.


Tidak lama kemudian sebuah ketukan pintu menginterupsi kegiatannya itu. Tuan Smith yang menyusul Kasih tadi sedang berdiri mengetuk pintu kamar dari luar.


Setelah mengetuk pintu, tanpa menunggu lagi tuan Smith segera memasuki kamar dan menemui Kasih yang sedang duduk diatas tempat tidurnya dengan memasang wajah masamnya. Tuan Smith sebagai orang yang jauh lebih dewasa dari Kasih tentu saja merasa maklum dengan sikap istrinya itu. Perlahan tuan Smith melangkah mendekati Kasih.


“apa kau masih marah?” tanya tuan Smith sambil mendaratkan tubuhnya duduk tepat didepan Kasih yang hanya diam mengacuhkan sang suami


“sepertinya kau masih marah” ucap tuan Smith menarik kesimpulan atas istrinya itu “aku ingin bercerita sebuah cerita...” tuan Smith melirik Kasih yang memilih tidak menatapnya.


“dulu aku punya seorang sahabat yang sangat aku sayangi. Seperti yang kau lihat aku bukanlah orang yang pandai menjalin hubungan dengan orang lain. Adanya seorang sahabat yang begitu baik padaku tentu merupakan sebuah anugerah yang sangat berharga bagiku. Namun, karena sebuah kecelakaan, sahabat baikku itu harus pergi untuk selamanya. Aku begitu terpukul dan merasa sangat kehilangan. Sahabat yang sangat berharga bagiku itu bernama Ed Morgan” tutur tuan Smith menceritakan sekaligus menjelaskan mengapa ia memilih nama yang tidak disukai oleh sang istri. Kasih yang diam-diam menatap wajah tuan Smith yang sekarang sudah sangat sendu. Kesedihan terpancar dari kedua bola matanya. Kasih merasa terhenyak untuk sesaat karena ia tidak menyangka jika pria dingin yang begitu kejam dihadapannya ini memilik sisi lain yang baru saja ia ketahui.


Setelah berkata-kata tuan Smith lalu pergi meninggalkan Kasih seorang diri di kamar. Kasih merasa tersentuh dengan cerita yang dikatakan tuan Smith tadi. Ia tidak menyangka sorang pria seperti tuan Smith Alexander bisa memiliki cerita sedih sedemikian rupa.


Saat berjalan setelah keluar dari kamar tuan Smith berpapasan dengan sang ibu mertua dan ayah mertuanya.


“apa anda sudah berbicara dengan Kasih?” tanya Ayah Kasih saat melihat tuan Smith


“aku sudah berbicara dengannya, Ayah mertua” jawab tuan Smith


“anak itu memang sedikit keras kepala, semoga saja ia tidak membuat anda kesulitan” cetus Ibu Kasih merasa tidak enak hati pada anak menantunya.


“aku baik-baik saja, anda tidak perlu merasa khawatir. Aku mengerti dan bisa mengatasi sifat Kasih” kata tuan Smith yakin


“kami berterima kasih pada anda. Kami bisa merasa lega jika anda berkata seperti itu” Ayah Kasih tersenyum lembut “kami tidak bisa memberikan apapun untuk anda, kami hanya bisa memberikan doa kami sebagai orang tua untuk kebahagiaan rumah tangga kalian”


“Ayah dan Ibu mertua tidak usah merasa terlalu sungkan padaku. Bukankah aku adalah anggota keluarga sekarang? Kurasa tidak ada anggota keluarga yang bersikap sungkan satu sama lain” ungkap tuan Smith penuh wibawa


Ayah dan Ibu Kasih merasa sangat senang dan bangga dengan jawaban yang diberikan tuan Smith. Mereka merasa tidak salah memilih tuan Smith sebagai menantu mereka.


“benar. Benar. Anda adalah anggota keluarga sekarang. Jika begitu, kami tidak akan merasa khawatir lagi” kata Ayah Kasih tersenyum lega


FLASHBACK ON


“Kasih, kau sekarang sudah dewasa, Nak. Ayah dan ibu bukan ingin ikut campur dengan urusan rumah tangga kalian, hanya saja...bukankah kau sebagai istri tidak terlalu kejam pada suamimu?” kata Ayah Kasih menasehati putrinya dengan bijak


“itu benar, Nak. Tidak baik jika orang lain membicarkan sikapmu yang keterlaluan pada suamimu sendiri” Ibu Kasih ikut menimpali perkataan sang suami

__ADS_1


“kau harus bersikap baik pada tuan Smith. Ia adalah pria baik yang harus kau hormati sebagai suamimu”


Kasih menampilkan wajah cemberutnya di hadapan kedua orangtuanya “aku... aku hanya tidak biasa dengan semua ini. aku..bukankah aku masih terlalu muda untuk menjadi seorang ibu? Maafkan aku sudah membuat Ayah dan Ibu khawatir” kedua orangtua Kasih hanya terdiam. Sebenarnya mereka juga sependapat dengan sang putri namun mereka tidak setuju dengan sikap Kasih yang terlihat Kasar dan kenak-kanakan.


“kau harus bicarakan baik-baik dengan suamimu. Tidak boleh bersikap kekanak-kanakan” kata Ibunya lembut


“baiklah. Aku akan bersikap lebih dewasa lain kali” kata Kasih menahan perasaannya


‘aku tidak pernah meyuruhnya untuk menikahi gadis kecil sepertiku, jika ia ingin seorang istri yang lain aku juga tidak keberatan...’


“Kasih, kau tahu sendiri seperti apa keadaan keluarga Avisha saat ini. Ayah tidak memiliki apapun untuk diandalkan. Ayah hanya ingin melihat anak-anak Ayah hidup dengan baik dan bahagia. Jika bukan karena kau menikah dan sedang mengandung putra pewaris keluarga Alexander, Ayah sudah tidak memiliki apapun lagi untuk Ayah banggakan, Nak. Ayah hanya berharap kau dan tuan Smith bisa hidup dengan rukun sebagai suami dan istri. Kelak, Ayah dan Ibu tidak akan memiliki kecemasan lagi dan bisa hidup dengan tenang” Ayah Kasih berbicara dengan nada sedih “kau harus baik-baik melayani suamimu, bagaimana jika suatu saat nanti, tuan Smtih meninggalkanmu demi wanita lain?”


‘maka aku akan sangat menantikan hari itu tiba, Ayah’


“itu tidak akan terjadi, Ayah” Kata Kasih berbohong “Ayah tidak perlu mencemaskan apapun. Semuanya akan baik-baik saja. Bukankah Ayah dan Ibu melihat? Kami berdua saling mencintai. Kami mungkin  bertengkar sedikit, namun, setelah itu, hubungan kami akan menjadi semakin lebih baik. Bukankah tidak ada rumah tangga yang tanpa sebuah pertengkaran?” Kasih terpaksa mengarang semua cerita ini agar Ayah dan Ibunya tidak lagi mencemasakan dirinya. Ayah dan Ibu Kasih seperti tersentak dengan pernyataan putrinya itu. Mereka seperti tersentil dengan pribahasa sang putri. Bukankah merekapun sangat sering bertengkar? Mereka agaknya sedikit merasa malu untuk menasehati anaknya itu.


“Ayah dan Ibu sungguh tidak perlu mencemaskan diriku, aku akan baik-baik saja” ucap Kasih meyakinkan


‘saling mencintai? Astaga! Kurasa aku harus mengutuk diriku sendiri karena mengatakan hal bodoh itu’


“benarkah begitu?” tanya Ibu Kasih memastikan


Kasih mengangguk dengan pasti sembari menampilkan senyum cerianya “tentu saja, kami tidak mungkin memiliki bayi jika kami tidak saling mencintai, bukan?”


‘harus segera mengakhiri pembicaraan ini sebelum aku semakin berbicara yang tidak-tidak’


“lalu jika memang begitu kami tidak akan merasa cemas lagi”


“Ayah dan Ibu memang tidak perlu cemas aku dan tuan Smtih akan segera menyesuaikan diri dengan peran kami sebagai suami dan istri dan juga sebagai orangtua nantinya”


“baguslah jika begitu” kata Ibu Kasih merasa tenang


‘aku tidak bisa menampilkan kebencianku di depan kedua orangtuaku seperti ini, jika tidak, mereka akan berpikir macam-macam. mau bagaimana lagi, aku terpaksa harus sungguh-sungguh memainkan peranku bersandiwara sebagai istri pria gila itu’


FLASHBACK OFF


“bukankah menantu kita seorang pria yang sangat baik, istriku? Putri kita sangat beruntung mendapatkan pria seperti tuan Smith itu. Dia dewasa, tampan dan sangat kaya” tutur Ayah Kasih bangga akan menantunya yang sangat mengesankan dimatanya.


“kau benar sekali, suamiku. Kini, aku tidak akan merasa khawatir lagi”


Kedua orang tua itu akhirnya bisa tersenyum lega sekarang.


 


 


BERSAMBUNG...


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2