Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 23 Rahasia Kasih Terbongkar


__ADS_3

Tes


Tes


Airmata kasih tak terasa jatuh membasahi pipinya. Hatinya sakit jika mengingat semua yang telah terjadi pada dirinya. Ingin sekali rasanya ia menghabisi nyawanya saat ini juga, namun ia urungkan niat itu karena ia tidak ingin keluarganya merasa sedih. 'sudah cukup mereka hidup menderita karena ulah tuan Darma. Aku tidak boleh menambah kesusahan mereka dengan membuat Ayah syok dengan kehamilanku ini'


Beberepa Bulan Kemudian...


Diusapnya lembut perutnya sembari memandang ke langit. Cuaca cerah dengan mentari yang bersinar terang. Kasih selalu menghabiskan waktunya di taman jika ia tidak sedang ada kegiatan lain. Seperti sekarang ini, Kasih sangat betah berlama-lama di taman. Taman milik keluarga Alexander sangat luas dan terdapat banyak sekali bunga dan tanaman yang lainnya. Tidak hanya berbagai jenis bunga, di taman itupun terdapat berbagai jenis buah dan sayuran. Kasih sangat suka berada di tempat yang indah dan sunyi ini sendirian.


"aku ingin sekali segera bebas dari sini dan bertemu dengan keluargaku kembali. Aku merindukan mereka semua. Ayah... Ibu... Alysa dan Jenny apa kabar kalian semua" Gumam Kasih dengan airmata yang semakin deras mengalir di pipinya.


"kenapa menangis?" suara itu mengejutkan Kasih.


Buru-buru ia mengusap air matanya dan menoleh keasal suara. Tampak tuan Smith sedang menatap Kasih dengan tatapan dingin.


"kenapa tidak menjawab?" tanya tuan Smith lagi


"bukan urusanmu"jawab Kasih asal" aku lelah. Aku akan pergi beristirahat"kata Kasih kemudian sembari hendak pergi


"kau benar-benar tidak sopan padaku" Kasih menghentikan langkahnya "bukankah sebelumnya kau masih sangat formal kepadaku? Kemana sikap penuh sopan santun dari seorang nona Kasih keluarga Avisha?"


"aku tidak memerlukan sopan santun untuk berbicara dengan orang yang sudah menghancurkan hidupku. Dan aku bukan lagi dari keluarga terhormat. Aku hanya wanita kotor yang harus mengandung anak dari penjahat sepertimu" ucap Kasih penuh sarkastik


"woah! Luar biasa!" sindir tuan Smith sambil bertepuk tangannya seperti seseorang yang sedang memberi selamat "kau sudah banyak sekali kemajuan. Kau bahkan sudah berani bersikap kurang ajar padaku"


Tuan Smith mendekatkan wajahnya pada wajah Kasih yang lebih pendek darinya dan menatap kedua mata Kasih lekat.


'apa yang akan dilakukan pria gila ini' Gumam Kasih dalam hati


Kasih mendorong tubuh tuan Smith sehingga membuat tubuh tuan Smith terdorong sedikit kebelakang.


Tuan Smith tersenyum simpul


"kenapa? Segitu bencinya kau padaku? Jangan lupa kau sudah menjadi ibu dari anakku"


"menjauh dariku. Berbicara tidak perlu sedekat itu, bukan?" kata Kasih salah tingkah


"hei! Apa kau lupa? Kita bahkan jauh lebih dari itu. Kita itu sangaaat dekat" goda tuan Smith pada Kasih. Setelah mengatakan itu tuan Smith pergi meninggalkan Kasih dengan wajahnya yang sudah sangat merah karena malu.

__ADS_1


"dasar pria gila otak mesum!!! Aish! Aku kesal sekali dengannya. Kenapa juga aku selalu kalah jika berdebat dengan pria gila itu. Sepertinya aku harus belajar cara berdebat dengan Karina nanti"gumam Kasih setelah tuan Smith menghilang di ambang pintu.


***


Di sebuah gang sempit Nirmala sedang bertemu dengan seorang detektif sewaan. Secara diam-diam Nirmala menyewa seorang detektif untuk menyelidiki keberadaan Kasih. Ia ingin melancarkan balas dendamnya pada Kasih.


"bagaimana?" tanya Nirmala pada sang detektif sembari menengok kanan kiri takut akan ada yang melihat


Detektif sewaan itu menyerahkan sebuah berkas pada Nirmala


"sangat susah untuk menyelidiki gadis ini, nona. Ia seperti punya perisai yang kuat. Tapi kau tenang saja nona, aku sudah mendapatkan informasi yang kau inginkan” ujar detektif itu menjelaskan


Nirmala kemudian mengeluarkan amplop dari tasnya dan memberikannya pada detektif


“ingat untuk menjaga mulutmu. jika tidak, kau tau sendiri akibatnya” ancam Nirmala


Detektif tersenyum sambil jemarinya bergerak seperti sedang menutup resleting.


Setelah detektif itu pergi. Nirmala lalu membuka amplop yang tadi diberikan oleh detektif yang ia sewa. Didalam amplop itu ada foto Kasih yang sedang duduk sendirian di taman. Alangkah terkejutnya Nirmala saat ia menyadari perut Kasih yang besar.


“apa ini?! astaga ini adalah berita besar! Kasih kau benar-benar jalang!” gumam Nirmala tercengang dengan apa yang baru saja dilihatnya “dirimu yang menjijikkan seperti ini bahkan berani merebut Rey dariku. sangat tidak tau malu! lihat saja, aku akan memberimu pelajaran” matanya menyiratkan kebencian yang teramat sangat tehadap Kasih.


***


“Kak..kenapa Ayah dan Ibu suka sekali bertengkar?” tanya Jenny pada sang Kakak


“tidak apa-apa. abaikan saja mereka” kata Alysa menenangkan adiknya. Lalu mereka berdua kembali melanjutkan belajar mereka.


Di ruang tamu Ayah dan Ibu yang sedang bertengkar saling beradu mulut satu dengan yang lain. Kedua orangtua Kasih memang sering sekali bertengkar, semenit mereka akan bertengkar walau hanya untuk masalah sepele namun sedetik kemudian mereka akan berbaikan lagi. Begitu terus-menerus berulang, bahkan tidak jarang saat mereka belum jatuh bangkrut Ibu Kasih sering pergi dari rumah karena bertengkar dengan suaminya. Hal itu seringkali membuat anak-anak mereka merasa sedih melihat kedua orangtuanya yang jarang sekali akur. Merupakan sebuah anugerah bagi mereka jika bisa melihat kedua orangtuanya bisa akur tanpa bertengkar walau hanya sehari saja.


“ini semua salahmu. Kalau saja kau tidak mempercayakan semuanya pada tuan Darma, kita tidak akan dalam kesulitan seperti sekarang. Harusnya kau mendengar nasihat putrimu Kasih yang selalu melarangmu untuk mendengarkan hasutan dari tuan Darma. Tapi kau malah mengacuhkan Kasih dan memilih mempercayai si penipu itu”ujar Ibu dengan nada marah”lihatlah sekarang apa yang terjadi pada kita semua akibat keputusanmu itu”


Ayahnya Kasih yang saat ini sedang duduk di kursi roda merasa bersalah, namun ia juga tidak ingin disalahkan oleh istrinya. Ia merasa ini bukan kesalahannya sepenuhnya, ada andil istrinya juga dalam keputusan yang ia ambil.


“harusnya kau juga melarangku waktu itu, tapi kau tidak!” ucap Ayah bernada tinggi tidak mau kalah berargumen dengan istrinya


“astaga kau ini.... Kau malah menyalahkan sekarang. Kau.... “ucapan Ibu terpotong dengan suara ketukan pintu rumah dari luar


Ayah dan Ibu saling tatap seperti bertanya siapa kira-kira yang datang mengetuk pintu rumah mereka. Ibu lalu pergi membuka pintu rumah dan mendapati seorang kurir mengantarkan sebuah paket untuk keluarga mereka. Namun tidak ada nama pengirim dipaket tersebut.

__ADS_1


Ibu lalu membuka Paket itu setelah membawanya masuk.


“Apa ini?! “ Pekik Ibu terkejut. Sebuah foto Kasih dengan perutnya yang besar diambil Ibu dari dalam paket yang baru saja dibuka. Ibu menutup mulutnya tidak percaya. Tangan Ibu bergetar dan foto yang ia pegang terjatuh kelantai.


“ada apa? Apa yang kau lihat? “tanya Ayah penasaran. Lalu ia mendekat dan meraih foto yang dijatuhkan istrinya.


“apa-apaan ini?! Apa ini sebuah lelucon?! Siapa yang melakukan ini? Tidak mungkin...Putriku... Purtiku Kasih... Tidak mungkin” tiba-tiba Ayah merasa dadanya sangat sakit hingga membuatnya pingsan tak sadarkan diri.


Ibu yang melihat suaminya seperti itu segera mendekat dan memeriksa keadaan suaminya


“suamiku apa yang terjadi padamu? Kau tidak apa-apa, suamiku? “tanya Ibu pada suaminya”Alysa, Jenny tolong Ayah!!! “


Mendengar suara teriakan Ibunya Alysa muncul dengan tergesa-gesa dari kamarnya dan berlari menghampiri.


“Ibu? Ayah kenapa? “ tanya Alysa


“cepat hubungi Ambulance sekarang Nak!”


“ba...baik Bu”


***


Di mansion saat ini tuan Smith dan Kasih sedang menikmati makan bersama.


“kau harus makan dengan baik untuk kesehatan anakku” kata tuan Smith pada Kasih sembari memberi memasukkan beberapa potong daging dan sayur ke atas piring Kasih. Kasih menerima saja tidak menolak. Ia tahu jika membantah si tuan Raja Iblis menyebalkan ini tidak akan mudah dan ia malas sekali meladeninya sekarang.


Sekarang piring Kasih sudah tampak menggunung karena ulah tuan Smith yang terus saja menambahkan makanan ke dalam piring milik Kasih.


“kau harus makan semua ini. ayo cepat habiskan!” kata tuan Smith yang terdengar seperti sebuah perintah


Kasih menatap piringnya yang tampak sangat penuh dengan berbagai macam makanan. ‘bagaimana aku akan menghabiskan semua makanan ini?’ Kasih mencoba menyendok makanannya namun ia tidak yakin ia akan bisa menghabiskan semuanya. Sejak tinggal bersama dengan tuan Smith Kasih selalu diberi makanan yang sangat banyak oleh tuan Smtih seperti saat ini. Tuan Smith juga jadi sering pulang ke mansion, selalu pulang lebih awal dari perusahaan bahkan sering sekali mengambil cuti hanya untuk menemani Kasih berjalan-jalan, atau menemani Kasih memeriksakan kandungannya. Tuan Smith selalu beralasan jika ia melakukan semua itu hanya untuk anaknya dan bukan untuk Kasih.


Saat sedang berusaha menghabiskan makanannya, ponsel Kasih berdering menampilkan nama Alysa dilayar ponsel. Kasih lalu menghentikan aktivitas makannya dan menjawab telepon dari adiknya.


“halo”


“Kakak..Ayah jatuh pingsan. sekarang Ayah dan Ibu ada di rumah sakit sekarang Huhuhuuu” ujar Alysa yang menangis tersedu-sedu


Kasih tidak sanggup berkata-kata. Seluruh tubuhnya bergetar hebat air mata seketika membanjiri pelupuk matanya. Ponsel yang dipegangnya melorot dan terjatuh begitu saja. Tuan Smith yang melihat Kasih yang terlihat sangat syok datang mendekat berusaha mencari tahu apa yang sedang terjadi.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


__ADS_2