
FLASHBACK ON
Karina menatap lekat wajah Tuan Smith mencari kebohongan di wajah itu namun tidak menemukannya.
“A, apa maksud anda dengan hampir kehilangan Kasih?”
“Malam itu... “ Tuan Smith kemudian mulai menceritakan detail kejadian malam dimana ia telah membuat Kasih menjadi seperti sekarang ini. Karina berang merasa murka tanpa ia sadari tangannya terayun menampar pipi Tuan Smith. Pria yang biasanya angkuh dan sombong itu hanya diam saja menerima tamparan keras dari Karina.
“Apa kau gila?! Aku tidak menyangka bahwa kau adalah orang yang serendah itu. Kau Adalah suaminya tapi kau malah memperlakukannya seperti seorang budak!” kata Karina dengan suara yang meninggi. “Aku sungguh bodoh telah mempercayaimu, seharusnya aku membawa Kasih pergi jauh darimu agar kau tidak lagi bisa menyakiti dirinya.”
Karina begitu emosi dan meluapkannya saat itu juga di hadapan Tuan Smith. Pria yang baru saja menerima tamparan keras di pipinya itu tertawa hambar lalu kemudian meneteskan air mata. Karina terkesiap melihat Tuan Smith menangis dihadapannya. ‘Apa ini yang sedang kulihat? Apakah benar ini adalah Tuan Smith yang selama ini aku lihat? Benar-benar tidak dapat dipercaya!’ Karina terpaku menatap wajah Tuan Smith seakan tidak percaya seorang Tuan keluarga Alexander hanya demi seorang Kasih rela membuang harga dirinya dan menangis dihadapannya.
“Ia tidak mengingatku sama sekali, bahkan ia malah membenciku, sangat membenci ku! Aku mengerti mengapa ia sangat membenci diriku semua itu karena akulah sumber dari segala penderitaannya selama ini dan aku tentu tidak pantas untuk mendapat cintanya.” Karina tidak dapat berbicara apapun tak sepatah kata keluar dari bibirnya ia hanya terdiam dan menatap wajah Tuan Smith yang berurai air mata. Sungguh ia sangat tidak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi sejak kapan Tuan Smith yang terlihat sangat tidak mungkin untuk jatuh cinta pada Kasih saat ini malah sedang menangisi dirinya.
“Tadinya aku ingin bersikap egois tidak memedulikan perasaannya dan membiarkannya tetap berada disisiku, Akan tetapi, entah mengapa aku merasa sangat tidak tega melihatnya kian menderita. Itu sama seperti mencekikku semakin kuat setiap harinya. Aku akan memberinya satu kesempatan untuk berbahagia bersama dengan orang yang sangat dicintainya.”
Tuan Smith berjalan mendekat kearah Karina lalu memberikan sesuatu dari tangannya pada Karina.
“Tolong jaga dia untukku,” ucapkan Smith sembari berlalu pergi. Karina diam membeku di tempat pandangannya tertuju pada sesuatu yang ada di tangannya yang sempat diletakkannya ketangan Karina. Sebuah kalung ciri khas keluarga Alexander berada di tangannya saat ini. Batu-batu berharga yang menempel pada kalung itu bersinar berkilauan membuat siapa pun yang melihat pasti ingin memiliki kalung berharga warisan turun-temurun Keluarga Alexander itu. Kalung itu adalah kalung yang diberikan oleh Tuan Smith pada kasih sebagai lambang bahwa ia adalah seorang Nyonya Alexander.
‘Aku sungguh tidak mengerti denganmu, oh, Tuhan. Cerita seperti apa yang sedang Engkau tulis untuk sahabatku, Kasih? aku sungguh tidak mengerti kenapa tiba-tiba semuanya menjadi sangat pelik begini. Ketika Tuan Smith melepaskan Kasih, bukankah aku harusnya merasa lega? Entahlah! Semua ini membuatku bingung.’
FLASHBACK OFF
Keheningan malam menyapa mansion megah kediaman keluarga Alexander. Seorang pria yang adalah pemilik mansion megah itu sedang duduk sendirian di balkon lantai atas kamarnya. Tidak ada John yang biasanya selalu setia menemani dirinya. Setelah memutuskan akan membiarkan Kasih Pergi mencari Rey, pemuda yang sangat dicintai oleh gadis itu. Tuan Smith nama pria itu. Ia seketika berubah menjadi seperti bukan dirinya. Tuan Smith menjadi lebih banyak diam dan semakin bersikap dingin.
“Kau, benar akan melepaskannya? Begitu saja?” sebuah suara yang tidak asing menyapa indra pendengaran Tuan Smith. Suara itu adalah milik Tuan Adam, adik tiri dari Tuan Smith.
Tak menerima tanggapan dari Tuan Smith yang hanya diam dan menatap kosong kedepan, Tuan Adam berjalan mendekat mensejajarkan dirinya dengan Tuan Smith sang kakak yang sedang berdiri sembari tangannya memegang pagar balkon.
“Ayolah! Kak, aku sangat mengenal dirimu. Jika kau sangat menyukai sesuatu kau pasti tidak akan pernah melepaskannya, terlebih lagi aku tahu kau sangat mencintai Kasih.”
Tuan Smith menoleh memandang kearah Tuhan Adam.
“Kenapa? kau ingin bertanya sejak kapan aku mengetahuinya?” tanya Tuan Adam menerka isi kepala Tuan Smith dengan tepat sasaran.
Sekali lagi Tuan Smith tidak membalas perkataan dari adiknya, dialihkannya kembali pandangannya ke arah depan menatap pemandangan malam di mansion megah dengan halaman luas dan tanpa satupun rumah yang bertetangga dengannya.
“Kasih, Gadis itu hanya tidak mengenalmu lebih baik andaikan Ia bertemu denganmu lebih dulu aku yakin ia akan mencintaimu. Percayalah tidak ada yang dapat menolak pesona dari Tuan Smith Alexander, bukankah begitu, Kakak?”
“Melepaskannya adalah hal yang terbaik yang pernah aku lakukan untuk dirinya.” Tiba-tiba Tuan Smith membuka suara tatapannya masih tertuju ke arah depan tak menoleh sedikitpun pada saudara tirinya yang menatap penuh tanya pada dirinya.
__ADS_1
“ Aku masih tidak bisa mempercayai semua ini. Sungguh tidak masuk akal, semua hal terjadi begitu saja, kau menikahi gadis ingusan, memiliki anak dengannya dan sekarang, setelah kini kau benar-benar mencintainya kau malah mau melepaskannya. Aku benar-benar tidak mengerti. Tolong, jangan mengambil keputusan yang hanya akan menyakiti dirimu sendiri, Kak. Kau tau aku hanya memilikimu .... “
“Aku tidak ingin berbahagia sendirian. Cinta itu tidak seperti itu, Adam,” Potong Tuan Smith cepat. Ketenangan tergambar jelas diwajahnya, akan tetapi tidak dengan sinar matanya yang sarat akan rasa kesepian dan kesedihan yang mendalam. Tuan Smith yang terkenal sangat kejam tak kenal ampun sedang dipermainkan oleh takdir bernama cinta.
“Jika kau mencintainya, maka yang terpenting bagimu hanyalah kebahagiaannya, jika dia bersedih saat sedang bersama denganmu, maka semuanya hanya sia-sia. Anehnya aku baru menyadari cinta itu adalah dirinya, cinta itu Kasih. Aku hanya berharap dirinya berbahagia, meski tidak bersamaku, asalkan aku tau ia bahagia, aku merasa dadaku terasa sangat lega. Begitu saja sudah cukup bagiku.”
Tuan Adam menggelengkan pelan kepalanya memperhatikan dengan seksama setiap kata yang terucap dari bibir kakaknya yang ia kenal tidak mungkin akan mengeluarkan kata sebijak itu. Kakaknya yang egois dan tidak memedulikan apapun, Kakaknya yang kejam dan suka menghukum siapapun yang melanggar aturannya, ia sontak menjadi sangat merasa Aneh dan bingung dengan perubahan mendadak yang dialami oleh Kakaknya itu. ‘Apakah sebegitu hebatnyakah gadis bodohmu itu hingga mampu merubahmu sampai seperti ini, Kakak? Aku berterima kasih kepada Tuhan karena mengirimkan Kasih padamu tapi aku juga harus menyesalinya jika itu malah membuatmu jatuh terpuruk dalam kesedihan.’
Secara tiba-tiba sebelah tangan Tuan Smith mendarat dipundak Tuan Adam, seketika hal itu membuatnya tersentak kaget menatap Sang kakak dengan tatapan penuh tanya.
“Tenanglah! Aku tidak akan terpuruk.” Tuan Smith seakan bisa membaca isi kepala adik tirinya ini. “Aku akan berusaha mengambilnya lagi ketika Tuhan sungguh mengizinkannya kembali padaku. Aku akan dengan sabar menunggu. Tidak masalah bagiku. Saat waktu itu tiba, aku tidak akan melepaskannya apapun yang terjadi,” tutur Tuan Smith mengedipkan sebelah matanya menghibur kegundahan hati sang adik tiri.
“Sungguh aneh! Disini bukankah kau yang sedang bersedih akan ditinggal oleh istrimu, Kak. Tapi, lihatlah kau malah menghiburku. Entah mengapa aku merasa kau malah seperti ayahku dan bukan kakakku.”
“Itu karena kau sudah terlalu tua, makanya kau sudah harus menikah sekarang. Jadi, kapan kau akan melamar Karina?” tanya Tuan Smith sengaja menggoda adiknya yang seketika menampilkan raut malu-malu.
“Kau bahkan mengetahui hubungan asmaraku dengan jelas dan masih berpura-pura memasang wajah tidak tau apa-apa. Benar-benar licik. Tidak heran kau bisa menikahi seorang gadis kecil seperti Kasih. Atau jangan-jangan kau sungguh menipunya untuk menikahimu, ya?!”
Tuan Smith mengangkat kedua bahunya acuh.
“Kau sungguh licik! Kenapa jadi membahas diriku,” sungut Tuan Adam tidak terima. Tangan Tuan Smith merangkul bahunya lalu mengoyangkannya sedikit kuat. “Apa kalian sudah pernah melakukannya?” goda Tuan Smith lagi.
***
Mata Kasih menatap takut kearah Tuan Smith sembari sesekali ia menyembunyikan dirinya dibalik tubuh Karina dan Dan. Mereka bertiga sedang bersiap untuk berpamitan. Tuan Smith hanya memasang ekspresi datar seperti biasanya tidak ada kesedihan nampak diwajah tampannya.
Kasih tidak mengenali siapa anak yang digendong oleh kedua pengasuh Namira dan Dita. Ia bahkan tidak mengenali Tuan Smith sebagai suaminya dan hanya merasakan refleks tubuhnya sangat merasa ketakutan bahkan jika hanya melihat wajah Tuan Smith.
“Kalian pergilah lebih dulu ke dalam mobil, ada yang ingin kubicarakan dengan Tuan Smith,” ucap Dan pada Kasih dan Karina.
“Kau akan kemana, Rey? jangan pergi,” Kasih menjulurkan tangannya pada Rey melarang.
“Aku hanya sebentar, Kasih. tunggulah aku dimobil. Hanya sebentar tidak akan lama, aku janji.”
__ADS_1
“Ayo, Kasih,” Ajak Karina menarik pelan lengan Kasih. gadis itu melangkah dengan berat hati meninggalkan pemuda yang ia panggil Rey dengan pria yang sangat ia takuti. Tatapannya seakan tidak rela namun Rey mengangguk meyakinkan.
“Pergilah,” katanya dengan gerakan bibir seraya menganyunkan tangan menyuruh Kasih ikut dengan Karina memasuki mobil.
“Rey Dinata Wijaya.” Tuan Smith menyebutkan nama lengkapnya seketika membuat dirinya tersentak kaget. “Itu namamu, bukan?” tanya Tuan Smith dengan nada menyindir.
Dan menatap lekat wajah pria yang telah mengetahui identitasnya itu. Sejak kapan? Entahlah. Ia sendiri tidak dapat memperkirakan.
Di sisi lain Kasih merasa tidak sabaran menunggu Rey yang masih belum juga menyusul dirinya ke mobil. Ia mulai terlihat sangat gelisah.
“Rin? Bolehkah aku menyusul, Rey?” tanya Kasih pada Karina.
“Tunggulah disini saja, Sih. Rey akan segera kembali.”
“Ta, Tapi, Rin .... “
Tiba-tiba pintu mobil tepat disamping Kasih diketuk dan itu adalah Rey yang sedang mengetuk pintu. Seketika wajah Kasih berseri bahagia.
“Rey?! kau sudah kembali?”
“Lama menunggu?” tanya Rey tersenyum lembut. Kasih menggeleng cepat sembari membalas senyuman Rey dengan senyuman manisnya.
Dan sudah memasuki mobil dan duduk disamping Kasih yang langsung bergelayut dilengan Rey yang merasa nyaman saja dengan tindakan Kasih yang selalu melengket padanya. Justru diam-diam ia tersenyum senang di dalam hati.
“Kita pergi?” tanya Karina.
“Ya.”
“Um!”
Mobil yang mereka tumpangi bergerak meninggalkan kediaman keluarga Alexander secara perlahan namun pasti. Sementara sesosok pria berdiri didekat jendela besar masion memperhatikan mobil itu yang perlahan menjauh pergi.
BERSAMBUNG...
__ADS_1