Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 12 Memberitahu Karina


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam.


Kasih dan Karina sedang bersantai di dalam kamar Kasih. Karina duduk bersantai


di kursi belajar milik Kasih sembari memainkan ponselnya, sedangkan Kasih tampak


baru saja masuk ke dalam kamar menghampiri Karina dengan membawa nampan berisi


beberapa buah kue dan minuman ditangannya.


“nih, kue-kue buatan Ibuku” kata Kasih


memberikan Karina nampan yang ia bawa. Karina dengan semangat menerima nampan


itu.


“asyik… kue buatan Ibumu memang yang terbaik.”


Seru Karina senang sembari menyomot kue-kue itu mencicipinya dengan lahap.


Kasih hanya terus menatapnya dalam diam.


“ada apa? kau mau?” tanya Karina sambil


menyodorkan kue yang sudah sebagian dimakannya pada Kasih. Kasih menggeleng


pelan. “lalu? Kenapa kau menatapku begitu? bikin merinding saja, aku ini memang


cantik dan manis asal kau tau” Karina mulai


narsis dengan dirinya sendiri. Kasih yang mengahadapi kenarsisan sahabatnya


satu ini memutar bola matanya bosan. “…kulitku juga bagus kan itu semua karena


aku rajin sekali merawatnya, jika kau ingin kulit sepertiku nanti deh aku akan


mengajakmu mencoba salon langgananku… ” Karina terus saja cerocos dengan


pedenya karena terus berbicara tak henti sembari memakan kue iapun akhirnya


tersedak


“uhuk! Uhuk! Kasih tolong aku..aku


tersedak!” kata Karina terbatuk-batuk karena tersedak


Kasih lalu memberikan segelas air padanya.


“nih, minum! Makanya jangan makan sambil berbicara tidak jelas begitu” omel


Kasih


Karina lalu langsung menyambar air dari


tangan Kasih lalu segera meminumnya.


“astaga! Hampir mati aku!” seru Karina


setelah meminum airnya


“aku ingin mengatakan sesuatu Rin.” Ujar


Kasih dengan suara pelan


“apa?” tanya Karina sibuk melap mulutnya


yang penuh remahan kue dibibirnya.


“aku…aku…aku sebenarnya…”


“kau ingin bicara apa sih?” desak Karina


tidak sabaran


“kumohon jangan menjauhiku atau membenciku


setelah ini aku mohon Rin, hanya kau temanku satu-satunya”kata Kasih mulai


menangis. Karina seketika terhenyak dari tempat duduknya melihat sahabatnya


yang tiba-tiba menangis kencang dan berbicara aneh. Ditatapnya sahabatnya itu


dengan bingung “astaga! Anak ini sedang kesurupan ya?! Membuatku kaget saja!


Apa yang kau bicarakan sih? Kenapa juga kau sampai menangis begitu. Aku tidak


akan pernah meninggalkanmu. Aku akan terus berada disisimu dasar bodoh”


Karina lalu menenangkan Kasih meski sambil


mengomel. Ia tak habis pikir kenapa sahabatanya ini bisa begitu bodoh berpikir


seperti itu.


“apa yang kau pikirkan Sih? Kau bisa


menceritakan apapun masalahmu padaku dan tolong jangan menganggapku orang lain


disini, aku ini sahabatmu Sih. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Paham?”


ujar Karina menenangkan Kasih yang menangis.


“baik. Terima kasih Rin” kata Kasih


tersenyum


Lalu Kasih perlahan mulai menceritakan hal


yang menimpa dirinya selama ia menghilang.


“maafkan aku Sih. Aku tidak berdaya sebagai


sahabatmu. Tapi aku sudah berusaha untuk menemukanmu. Maafkan aku yang tidak


menemanimu disaat semua hal buruk itu menimpamu. Aku janji jika menangkap pria


keji itu aku akan menggantungnya di pohon dan menelanjanginya. Dasar pria cabul


berengsek itu. Hah! Membuatku naik darah saja!” ujar Karina emosi sendiri


setelah mendengar cerita pilu sang sahabat.


“aku membenci diriku sendiri Rin, aku benci


semua hal yang terjadi malam itu.aku ingin saja menyakiti diriku sendiri bila


ia tak mengancam akan membunuh seluruh keluargaku sebelum aku bisa mengungkap


ketidakbersalahan diriku. Aku tentu tidak sanggup bila mereka harus menanggung


kesalahanku..Hiks..Hiks!” ujar Kasih setelah selesai menceritakan semua


kejadian itu.


“astaga! Anak ini benar-benar deh!” seru Karina


menepuk jidatnya keras. “kau tidak usah khawatir. aku akan meminta Ayahku untuk


menolongmu Ok? Masih ada aku Sih, kau tidak usah cemas begitu aku tidak akan


membiarkan pria cabul itu menyakitimu lagi. Jadi, tenanglah ya?”

__ADS_1


Kasih menatap Karina dengan air mata yang


berurai dipipinya. “terima kasih Rin, terima kasih. Aku tidak tau bagaiamana


jadinya jika aku benar-benar seorang diri yang menghadapi semua ini. Saat semua


orang berpura-pura didepanku dan meninggalkanku, hanya kau orang yang mau tetap


menjadi sahabatku bahkan setelah kau mendengar hal menjijikkan yang sudah


menimpa diriku.”


“jangan menangis lagi, masalah ini akan


kita pikirkan sama-sama ya.. tenangkanlah dulu dirimu”


“aku takut, aku takut dangan ancaman pria


itu…Huhuuu” Kasih kembali menangis.


“aku memang merasa aneh mengapa aku tidak


bisa menemukanmu dimana-mana. Padahal aku sudah mengerahkan kepolisian dan


orang-orang Ayah. Tapi masih saja tidak bisa menemukanmu. Sepertinya orang yang


kau sebutkan itu bukan orang sembarangan. Dia bahkan bisa membungkam orang-orang


yang melihatmu saat itu di bar. Bahkan tidak ada satupun yang berani berbicara


saat ditanya,mereka hanya terus berkata mereka tidak tau apa-apa. Aneh sekali


kan?.” Karina tampak berpikir keras. Sedangkan Kasih masih menangis.


“aku akan membantumu Sih, aku tidak akan


membiarkanmu menghadapi orang ini sendirian.”kata Karina menepuk pundak Kasih.


“terima kasih Rin, kau sahabatku yang


terbaik” ucap Kasih tulus lalu memeluk Karina


“tentu saja.” Ujar Karina bangga “mulai


sekarang kau tidak boleh menganggap aku hanya sekedar sahabatmu saja, tapi


anggap aku sebagai Kakak perempuanmu. Ok?”


Kasih


mengangguk setuju. Karina melepaskan pelukannya dan menatap Kasih dengan


lembut.


“apapun yang terjadi padamu kau harus


ceritakan padaku. Kau tidak boleh memendamnya seorang diri saja. Bicaralah


padaku, aku pasti akan membantumu.” Kata Karina kemudian


“terima Kasih Rin, sungguh” ucap Kasih


dengan mata yang berbinar. “terima Kasih sudah banyak membantuku. Kau bahkan


sudah membayar tagihan ruamh sakit Ayahku secara diam-diam.. aku s…”


“sebantar, “imbuh Karina memotong perkataan


Kasih “apa barusan kau bilang membayar tagihan apa?” tanya Karina memastikan


apa yang barusan ia dengar.


“aku sama sekali tidak membayar apapun itu


Sih, aku bahkan baru akan menanyakan padamu darimana kau bisa mendapatkan uang


untuk membayar tagihan itu.”


 


 


Kasih terdiam berusaha memikirkan siapakah


orang yang sudah membantunya.


“jika bukan kau orangnya… lalu siapa???” Karina hanya mengangkat bahu. Pikiran


Kasih kembali menerka-nerka siapa sebenarnya orang yang sudah  menjadi malaikat baik hati bagi dirinya dan


keluarganya.


“jadi kau akan kembali ke rumah itu Sih?”


tanya Karina pada Kasih


“itu salah satu syaratnya mengijinkan aku


bisa bertemu keluargaku dan aku juga harus segera mengungkap kebenarannya


secepat mungkin agar aku bisa segera bebas darinya.” Kata Kasih membereskan


barang-barang yang akan dibawanya untuk untuk tinggal di mansion nanti.


“apa kau serius?” tanya Karina “jika kau


tidak ingin pergi aku bisa…”


“aku harus pergi”imbuh Kasih serius “untuk


sementara aku hanya bisa menurutinya”


“tapi…kau yakin? Kau seperti masuk ke


sarang singa dan itu sangat berbahaya!”


“aku tidak punya pilihan lain Rin, tenang


saja aku akan baik-baik saja.” kata Kasih menenangkan Karina. Pada akhirnya


Karina mengalah dan mengijinkan Kasih untuk pergi tinggal dirumah tuan Smith.


Akhirnya dengan alasan bekerja ditempat


yang jauh dari rumahnya Kasih akhirnya mendapat ijin dari Ayah dan Ibunya untuk


pergi dan tinggal di rumah tuannya. Kasih beralasan ia akan bekerja sebagai pelayan


oleh karena itu ia harus tinggal dirumah majikannya.


“sungguh malang anakku, kau tidak pernah


bekerja samasekali sebelumnya dan sekarang kau malah bekerja sebagai seorang


pelayan Nak,”


“aku tidak masalah Bu. Aku bisa beradaptasi


dengan baik.pokoknya Ibu tidak usah khawatir aku bisa mengatasinya.” Kata Kasih


sambil tersenyum

__ADS_1


“anak Ibu sudah dewasa rupanya” ucap Ibu mengelus


kepala Kasih dengan sayang.


“jika ada sesuatu jangan lupa beritahu pada


kami. Hm ?” ujar Ayah pada Kasih.


“baik” Kasih mengangguk “Jenny, Alysa jaga


Ayah dan Ibu dengan baik, Ok?” ucap Kasih pada kedua adiknya. Setelah


berpelukan Kasih melangkah meninggalkan keluarganya.


Dengan naik kendaraan umum lalu berjalan


kaki menuju ke mansion Kasih menyeret koper yang besarnya. Mansion itu terletak


di pinggiur kota dengan halamannya yang luas mansion itu terlihat begitu megah.


Kasih terus bertanya-tanya siapa sebenarnya tuan Smith ini dan apa yang


didinginkannya dari Kasih yang notabene sudah tak punya apa-apa. Ia bahkan


sudah kehilangan harga dirinya sekarang apa lagi yang tersisa selain nafas hidup


dan… keluarganya tercinta. ‘aku harus melindungi keluargaku dari pria gila ini.


Harus!’


Kasih sama sekali tidak menemui kesulitan


memasuki mansion megah yang terdapat banyak sekali penjaga disetiap sudutnya. Dengan


mudah Kasih melangkahkan kakinya sembari menyeret kopernya melewati para


penjaga.Kasih membuka pintu perlahan berharap ia tidak usah bertemu dengan pria


gila itu. Seluruh lampu sudah dimatikan menandakan seluruh pelayan sudah


tertidur. Tentu saja karena perjalanan yang  jauh dan Kasih harus mengandalkan kakinya untuk berjalan menuju mansion


alhasil Kasih sampai di mansion sangat larut yaitu pukul 3 pagi. ‘sepertinya ia


tidak sedang berada di rumah. syukurlah’ dengan hati-hati Kasih menutup pintu


dan berjalan mengendap-endap berharap tidak akan ada yang menyadari


kehadirannya. Lalu Kasih menaiki tangga sambil tangannya mengangkat kopernya.


‘ugh! Berat juga, sekarang aku tau rasanya mengangkat koper sendiri sangat


melelahkan. Apalagi sambil menaiki tangga’


Akhirnya dengan sekuat tenaga Kasih sudah


berhasil menaiki tangga yang menuju kearah kamarnya  berada. Kasih mengusap dahinya dan mengatur


napasnya yang tersenggal-senggal.


Kasih ingin sekali mengutuki dirinya


sendiri yang dengan cerobohnya tidak bertanya dengan jelas dimana letak


kamarnya. Berkat itu ia hanya bisa terbengong tak tau kamarnya yang mana sedang


matany sudah sangat berat.


Kasih POV


Pria setengah baya bernama John yang


bekerja di mansion tuan Smith memberikan sebuah kunci yang adalah kunci mansion


pada Kasih. “ini kunci mansion Nona.” Kata  John menyerahkan kunci


“baik. Terima kasih…”Kasih bingung harus


memanggil apa pada orang yang ada dihadapannya saat ini.


John segera mengerti lalu bekata” panggil


saja saya John Nona” “kamar anda ada di lantai 3…”


“baik paman. Terima kasih” imbuh Kasih


cepat mengambil kunci yang diberikan” Aku panggil anda paman saja. usia anda


dan saya terapaut begitu jauh. Tidak pantas bagi saya menyebut nama anda secara


langsung” Kasih lalu segera berlalu. Jika bisa memilih ia tidak ingin tinggal


di mansion yang seperti penjara emas pikir Kasih.


“baik. Terserah anda saja Nona” kata pria


kepercayaan tuan Smith tak ingin membantah.


Kasih END POV


“astaga aku sudah sangat mengantuk. Sebenarnya


rumah ini punya berapa kamar sih? Kenapa disini ada banyak sekali pintu. Menyebalkan!”


Umpat Kasih mengedarkan pandangannya kesekeliling. “aku sangat lelah. Aku ingin


tidur… kakiku juga pegal sekali. Besok aku masih harus pergi kesekolah… aku


benar-benar menyesal tidak menanyakan letak kamarku pada paman John. Itu semua karena


aku terburu-buru ingin pulang ke rumah. Aish! Terserahlah aku pilih saja salah


satu.”


Kasih lalu membuka salah satu ruangan yang remang-remang


hanya ada cahaya dari arah luar jendela yang masuk kedalam. Ia begitu lelah dan


sangat malas untuk menata pakaiannya ‘besok saja, aku sangat mengantuk’ setelah


meletakkan koper dan melepas jaket Kasih lalu segera merebahkan tubuhnya


ditempat tidur. Tak butuh waktu lama Kasih sudah terelelap. Ia benar-benar


kelelahan setelah berjalan dari halte sampai ke mansion dan jangan lupakan


koper Kasih yang berisi pakaian serta seragam sekolah dan juga buku-buku


pelajarannya. Jika kau bertanya kenapa Kasih tidak memilih naik taksi atau


meminta diantar Karina? Pertama Kasih sudah tidak punya uang untuk membayar


ongkos taksi, kedua, ia tidak ingin merepotkan sahabatnya itu. Jika mengantar


dirinya pasti Karina akan pulang larut malam seorang diri dan itu pasti


berbahaya bagi seorang gadis berkendara sendirian di larut malam begitu pikir


Kasih.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2