
Kamar milik Tuan muda Ed Alexander tidak terlihat sebuah kamar yang menunjukkan bahwa sang pemilik adalah seorang bocah. Kamar luas itu begitu rapi dan bersih. Ada banyak buku tertata diatas rak dan juga mainan di rak yang lain. Maianan mahal itu sangat banyak dan mahal menghiasi kamar mewah sang tuan muda kecil. Cat dinding berwarna biru gelap menambah kesan maskulin seorang pria, padahal pemilik kamar merupakan seorang bocah akan tetapi seleranya begitu dewasa melebihi umur.
“Ck!ck!ck! kamar ini mengagumkan! Aku tidak pernah melihat kamar anak kecil yang seperti ini. apa dia sungguh seorang bocah? Aku hampir tidak percaya dengan apa yang kulihat ini.” Kasih terkesima ketika memasuki kamar itu. Perlahan kakinya membawanya kearah meja belajar mata Kasih tertuju pada foto-foto yang terpajang diatasnya.
Buku pelajaran milik Ed Alexander yang tadi dibawa Kasih diletakkannya diatas meja lalu meraih salah satu bingkai foto yang menampilkan tuan Smith dan Ed Alexander yang masih bayi. “Bahkan saat Ed Alexander masih bayi sekalipun tidak berfoto bersama ibunya. Sebenarnya Nyonya Alexander ini ada atau tidak sih? Aku jadi sangat penasaran,” gumam Kasih rasa ingin tahunya semakin lama semakin meluap.
“Apa yang sedang kau lakukan disini?”
“Astaga! Kaget aku.” Bingkai foto ditangannya hampir saja terlepas beruntung ia masih sempat menangkapnya kembali sebelum bingkai tersebut jatuh membentur lantai.
“Aku tanya sedang apa kau disini?!” tanya Ed Alexander dengan suara yang lantang terlihat jelas dari nada suaranya bocah itu merasa sangat terganggu dengan kehadiran Kasih dikamarnya.
Suara Kasih mendadak menjadi terbata-bata karena merasa gugup. Ia sadar ia telah berbuat tak sopan dengan memasuki kamar seseorang dan dengan lancang menyentuh barang-barangnya. Tapi ia sungguh merasa sangat penasaran, maka ia hanya bisa memberanikan diri menghadapi segala resiko yang ada. Kemarahan si pemilik kamar. ‘Kenapa aura bocah ini begitu menyeramkan sekali. Benar-benar tak kalah menakutkannya dengan ayahnya. Mereka memanglah ayah dan anak.’
“Apa kau tuli?!” kini suara Ed Alexander semakin berang karena Kasih yang hanya diam saja terlebih ia melihat wanita itu sedang memegang bingkai foto dirinya dan sang ayah. Hal itu semakin membuatnya marah pada Kasih. “Lancang sekali kau!“ Ed Alexander melangkah cepat dan merebut dengan kasar bingkai foto yang berada ditangan Kasih membuat wanita itu tersentak kaget.
“Ma-maafkan aku! Aku hanya melihat-lihat saja, tidak ada maksud lain…. “
“Enyah dari sini!” ucap Ed Alexander acuh.
“Sekali lagi maafkan aku, aku tidak bermaksud…. “ Kasih merasa sangat berasalah dan tak enak hati atas perbuatannya. ‘Tampaknya aku telah membuat bocah ini marah besar.’
“Baiklah. Aku akan pergi.” Hati Kasih entah mengapa merasa sedih mendapat perlakuan dingin dari si bocah menyebalkan. Melihat tatapan marah bocah itu seolah mengiris hati dan Kasih merasa sangat tidak nyaman dengan hal itu.
Saat hendak pergi beberapa pelayan lewat dan Kasih tidak sengaja mendengar pembicaraan salah seorang pelayan itu.
“Ayo cepat! Kita harus segera membersihkan ruangan penyimpanan Nyonya, Nona Wendy akan datang mengecek pekerjaan kita,” ungkap si pelayan.
Para pelayan itu kemudian mempercepat langkah mereka kearah tempat yang dituju. Sementara dari belakang secara sembunyi-sembunyi Kasih melangkah pelan mengikuti mereka tanpa ketahuan. ‘ jika aku tidak bisa mendapatkan informasi dari siapapun maka aku akan mencarinya sendiri.’
Pelayan-pelayan itu terlihat memasuki sebuah ruangan, tanpa ketahuan kasih menyelinap masuk ke dalam.
Isi dalam ruangan bak sebuah museum itu membuat kasih tersentak takjub. ‘Gila! Apakah ini sebuah museum di dalam rumah? Orang kaya memang sangat aneh. Lihatlah dia menyimpan barang peninggalan istrinya hingga seperti ini. Aku benar-benar tidak habis pikir dengan pria gila itu. Oh! Apa itu sebuah kalung?!` pandangan kasih tertuju pada sebuah benda di dalam kotak kaca, segera ia menghampiri benda itu dan melihatnya lebih dekat.
“ Apakah batu di kalung ini semuanya asli? Luar biasa menyilaukan mata!“ mata kasih berbinar memandangi kalung di dalam kotak kaca itu, bebatuan yang menghiasi kalung berkilauan seolah menyihir kedua manik Kasih. Perlahan tangan wanita itu terulur menyentuh kotak persegi yang terbuat dari kaca lalu sekelebat bayangan mulai bermunculan di dalam kepala Kasih seperti sebuah slide yang diputar secara acak. Bersamaan dengan itu rasa sakit dikepala kasih menghantamnya dengan hebat hingga membuat wanita itu mengerang menahan sakit.
“Sakit! Ugh! Sakit sekali! Apa yang terjadi padaku? Kenapa kepalaku sakit sekali.” Kedua tangan kasih meremas kuat rambutnya seakan berharap sedikit mengurangi rasa sakit yang mendera. Sekujur tubuhnya mulai terasa lemas dan pandangannya mulai buram, beberapa kali ia berusaha mengerjapkan matanya bersamaan dengan tubuhnya yang oleng karena kedua kakinya sudah tidak sanggup untuk menopang tubuhnya.
“Nona Kasih?!” salah seorang pelayan menyadari kehadiran kasih di situ terkejut melihat keadaan kasih yang hampir Kehilangan kesadarannya. Mendengar teriakan dari pelayan itu, para pelayan yang lain pun ikut menghampiri kasih.
“Sakit! T-tolong aku!” erang Kasih ditengah kesakitannya.
__ADS_1
Para pelayan yang kebingungan tidak tahu harus berbuat apa, beruntung saat itu nona Wendy tiba-tiba datang.
“Apa yang terjadi? Kenapa kalian berkerum- Astaga! Nona Kasih?!“ Nona Wendy terlonjak kaget ketika menyadari sosok kasih ada di situ. Secepat kilat dihampirinya wanita yang sedang kesakitan itu merengkuhnya dengan penuh rasa khawatir. “ apa yang terjadi dengan anda? Kenapa Anda bisa ada di ruangan ini?“
“ nona Wendy tolong aku. “ suara kasih ini terdengar seperti sebuah lenguhan hingga akhirnya wanita itu kehilangan kesadarannya.
***
Berlari dengan terengah-engah di antara para pekerja kantor yang sedang berkutat dengan kesibukannya, Tuan Adam seolah tidak mempedulikan dirinya yang sedang diperhatikan oleh beribu-ribu pasang mata dirinya tetap berlari kencang menuju arah ruang kerja sang bos.
“Kakak!” pintu ruang kerja itu terbuka dengan tiba-tiba menampilkan Tuan Adam dengan nafasnya yang tersengal.
Tuan Smith yang terkejut tanpa sengaja menjauhkan dokumen yang sedang dipegangnya berkat itu Tuan Adam mendapat lirikan mematikan darinya. Seketika Tuan Adam merasa ciut hampir saja ia melupakan maksud dan tujuannya menemui sang kakak. “Ah! Iya. Aku hampir melupakannya. Kakak! Maksudku Tuan Smith,” ralatnya kemudian. “ Ini gawat!“ katanya dengan mimik wajah serius.
“Apa?!“ Betapa marahnya Tuan Smith ketika mengetahui kabar tentang Kasih yang memasuki ruangan penyimpanan terlebih sekarang kondisinya ia tiba-tiba saja jatuh pingsan. Amarah terlihat jelas di wajahnya namun ia berusaha menahan emosinya dan berfokus pada keselamatan Kasih terlebih dahulu.
Tatapan Tuan Smith terus tertuju pada wajah Kasih yang sedang terbaring dihadapannya. Kedua mata wanitanya itu tertutup rapat menyembunyikan cahaya kehidupan yang selalu dikagumi oleh Tuan Smith. perasaan khawatir dan gelisah tengah menyelimuti hati Tuan Smith saat ini, ia takut jika sesuatu yang buruk akan kembali menimpa wanita yang ia cintai seperti bertahun-tahun yang lalu. Ketika mengingat saat itu, saat dimana ia harus melihat wanita yang dihadapannya ini dibawa pergi tanpa ia sanggup untuk merebutnya kembali hatinya terasa pedih. ‘Aku mengijinkanmu menikahi pria yang kau anggap pangeranmu itu karena aku ingin kau bahagia. Maafkan aku tidak sanggup melindungi kebahagiaanmu, Kasih.’ Diremasnya pelan salah satu tangan Kasih.
Selang beberapa saat kemudian, Kasih akhirnya sadar dari pingsannya. Pemandangan buram menyambutnya saat perlahan ia membuka kedua matanya. Samar-samar sosok Tuan Smith dihadapannya perlahan tampak jelas dimatanya. Sebuah lenguhan lolos begitu saja dari bibir wanita yang telah lama dirindukan oleh Tuan Smith ini, sontak Tuan Smith bergegas bertanya dengan nada cemasnya, “Kau sudah sadar? Apa yang terasa sakit? Jhon! Cepat panggilkan dokter kemari!” Jhon yang berada diluar ruangan segera melakukan perintah sang Tuan.
Dokter kemudian datang dan memeriksa keadaan Kasih setelah ia siuman.
“Dokter, apa penyakitku-?” tanya Kasih dengan raut wajah takut.
“Jika ada yang perlu dikatakan, katakanlah padaku di ruang kerjaku!” Tiba-tiba Tuan Smith menyela pembicaraan hingga membuat keduanya mengalihkan pandangan mereka pada sosok Tuan Smith.
“Kenapa begitu? Bukankah ini tentang tubuhku sendiri? Kenapa aku tidak boleh mendengar penjelasan dokter tentang sakitku? Dan, kau itu bukan siapa-siapa bagiku kenapa Dokter malah harus berbicara padamu?!”
Berbalik pergi seolah acuh tak acuh dengan keberatan yang disuarakan oleh Kasih, membuat wanita itu semakin geram karena kesal setengah mati. “Hey! Aku sedang berbicara denganmu,tau!”
“Argh! Pria gila itu sungguh seenaknya! Awas saja nanti aku akan memberimu pelajaran.” Kasih memasang wajah kesal sembari mengerucutkan bibirnya lucu. Dengusan kesal berkali-kali terdengar dari bibir wanita cantik itu.
Tuan Smith yang masih berada didepan pintu menghentikan langkahnya sebentar. “Pantas?” gumam Tuan Smith dengan suara pelan namun masih bisa terdengar oleh sang dokter yang mengikuti langkah sang Tuan dari belakang.
“Eh?” tanya sang Dokter tidak mengerti dengan maksud ucapan sang Tuan. Sebelum sang Dokter sempat bertanya lebih jauh, Tuan Smith melanjutkan perkataannya, “Tentu saja aku pantas.” Karena aku masih adalah suamimu, Kasih!’ Setelah berkata begitu, Tuan Smith kemudian melanjutkan langkahnya meninggalkan sang Dokter yang masih kebingungan.
“Kondisi nona Kasih tidak dalam keadaan yang baik, jika ingatan yang memicu rasa sakit itu muncul terus menerus, efeknya tidak hanya pingsan. Bisa saja berakibat kematian, Tuan. Saya menyarankan agar menjauhkan segala benda atau sesuatu yang dapat memicu ingatan masa lalu itu muncul.”
Tuan Smith mendengarkan dengan seksama dari tempat ia duduk,sementara sang Dokter berdiri dengan sopan sembari menjelaskan keadaan Kasih saat ini. “Bisakah menyembuhkannya?” tanya Tuan Smith kemudian.
“Maafkan saya, Tuan. Penyakit ini belum ada obatnya,” kata sang Dokter.
__ADS_1
“Hn. Terima Kasih. Kau boleh pergi,” ucap Tuan Smith mempersilahkan sang Dokter pergi.
John kemudian mengantar sang Dokter hingga ke pintu depan. “Terima kasih atas bantuan anda, Dokter.”
Sang Dokter membalas dengan mengangguk sopan lalu pergi.
***
Kasih memainkan tangannya asal serta mengerucutkan bibirnya saat ia harus mendengarkan omelan dari Tuan Smith yang terasa sangat menyebalkan baginya.
“Sekarang jelaskan padaku, apa yang kau lakukan hingga berakhir di ruang penyimpanan itu?” tanya Tuan Smith dengan nada tegas.
Wanita yang ditangannya masih tertancap jarum infus itu merasa nafasnya sedikit tercekat. Otakknya berpikir keras mencari alasan untuk dikatakan pada pria dihadapannya. Menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal ia kemudian berkata, “A-aku tidak melakukan apapun, aku hanya merasa sedikit penasaran.”
“Apa yang membuatmu demikian penasaran?” tanya Tuan Smith mengintrogasi.
“Aku ….” Kalimat Kasih menggantung. Ia bingung harus berkata apa.
“Mulai saat ini kau tidak boleh kemanapun tanpa sepengetahuanku,” putus Tuan Smith kemudian.
Mata Kasih membelalak tidak percaya dengan yang ia dengar. “Apa?!”
“Kau tidak akan kemana-kemana tanpa ijin dariku. Wendy akan menjagamu 24 jam,” ungkap Tuan Smith lagi.
“Apa maksudmu?! Kau tidak bisa melakukan itu padaku! Aku punya kebebasanku sendiri. Kau bukan siapapun hingga bisa melakukan semaumu seperti itu!”
“Aku akan menikahimu jika kau ingin status yang jelas,’ ujar Tuan Smith enteng.
“Ya, Tuhan! Betapa narsisnya orang ini! apa kau pikir aku sudi?!”
“Kau tidak punya pilihan, lakukan seperti yang kuperintahkan,” ujar Tuan Smith memutuskan.
“Melakukan apa?!” tanya Kasih polos.
“lakukan keduanya,” ucap Tuan Smith singkat sembari berlalu pergi. Meninggalkan Kasih yang terbengong masih berusaha mencerna perkataan pria gila itu.
“Dasar pria gila! Aku tidak akan pernah menurutimu, kau tidak akan pernah bisa melakukan apapun sesukamu padaku.” Dada Kasih naik turun menahan emosinya yang hendak meledak, jantungnya kini sedang memompa dengan cepat aliran darahnya hingga mencapai puncak ubun-ubun. Berusaha mengekangku? Huh! Dalam mimpimu!”
Kehabisan kata Kasih yang merasa sangat marah hanya bisa menghembuskan nafas dengan kuat hingga rambut bagian depan yang menjuntai diwajahnya terbang terangkat keatas. “Tidak boleh kemana-mana?! Dijaga 24 jam?! Menikahiku?! Heh! Pria gila ini sungguh gila! Dia sudah gila hingga membuatku hampir ikut gila! Dia pikir dirinya itu siapa? Benar-benar keterlaluan. Sampai kapan aku akan ditindas pria gila ini. Tidak bisa! Aku akan memikirkan cara untuk pergi dari sini.”
BERSAMBUNG…
__ADS_1