
“Apa maksudmu dengan mengajakku menikah? Apakah aku harus membayar guci mahalmu itu dengan menikahimu? Oh, Tuhan! Ada apa dengan orang-orang ini. Tiba-tiba membawaku kemari mengatakan ini itu soal hal-hal yang membuat kepalaku pusing dan sekarang kau malah berkata ayo menikah dengan santai begitu. Apa kau bercanda?!”
Kasih merasa sangat geram. “Aku tidak punya waktu untuk mengurusi hal-hal yang tidak penting ini aku akan mengganti semua kerugianmu dan cepat tolong bebaskan aku!”
“Apa kamu sungguh tidak mengingat apapun?” tanya Tuan Smith dengan nada suara pelan membuat Kasih tercengang.
“Sudah berapa kali aku katakan aku tidak mengenal siapapun dari kalian!”
“Jika begitu, maukah kau memulai kembali denganku, Kasih?”
Kasih terperangah menatap tidak percaya dengan pria di hadapannya saat ini. ‘Ada apa dengan pria gila ini kenapa begitu bersikeras untuk menikah denganku?’
“Maafkan aku. Aku sama sekali tidak mengenal dirimu. Bukankah akan sangat aneh jika tiba-tiba aku menikahi orang asing.”
“Ah! Kau benar. Lalu bagaimana jika kita mulai dengan berpacaran terlebih dahulu?”
‘Apa pria gila ini sedang mengajak untuk berpacaran? Benar-benar gila!’
Kasih menarik sudut bibirnya berusaha untuk tersenyum sebisa mungkin namun yang muncul malah senyum kikuk.
“Baiklah,” tandasnya. “Aku akan memikirkannya jadi tolong bebaskan aku sekarang juga.”
“Kau ingin pergi kemana?”
“Tentu saja aku akan pergi .... ”
“Tidak punya tujuan, bukan?” potong Tuan Smith dengan cepat membuat Kasih yang tidak mengingat apapun dan siapapun sama sekali itu seketika bungkam.
“Tinggallah disini,” kata Tuan Smith tiba-tiba.
Kasih terlihat terkejut sebelum ia sempat berbicara Tuan Smith melanjutkan perkataannya. “Tentu saja kau tinggal di sini tidak gratis. Kau harus mengerjakan sesuatu untuk dapat tinggal dan makan gratis di sini. Aku juga bisa membayar guci itu dengan gaji yang akan kuberikan padamu”
“Apa ... yang harus kulakukan?” tanya Kasih ragu-ragu.
“Aku memiliki seorang anak laki-laki dan kau bertugas untuk mengurusnya, kau juga bertanggungjawab untuk mengurus seluruh keperluanku.”
“Hanya itu saja?”
Tuan Smith mengangguk membenarkan.
“Pikirkanlah aku akan memberikanmu waktu,” ucap Tuan Smith melihat Kasih yang tampak sedang menimbang-nimbang.
‘Kau harus menerimanya Kasih, kau harus tinggal di sini dan membiasakan dirimu menjadi istriku perlahan aku akan membuatmu menyadari statusmu itu.’
“Baiklah aku menyetujuinya dengan syarat kau tidak boleh berbuat macam-macam padaku!”
Tuan Smith mendengus tertawa mendengar ucapan Kasih tersebut. Lalu mengulurkan tangannya mengajak Kasih untuk berjabat tangan.
__ADS_1
“Deal!”
Keduanyapun berjabat tangan menyetujui persyaratan masing-masing. Tuan Smith ingin menggunakan cara halus untuk mendekati Kasih kembali alih-alih untuk mengembalikan ingatannya ia berpikir untuk membuat kenangan baru yang lebih manis bersama dengan Kasih.
‘Aku sudah pernah kehilangan dirimu sekali Kasih, kali ini aku tidak akan pernah melepaskanmu.’
***
Di perpustakaan di dalam Mansion terlihat Ed Alexander sedang membaca sebuah buku lalu Wendy datang membawa segelas susu dan sepiring cemilan untuk anak itu.
“Nikmatilah cemilan dan minuman anda tuan muda kecil.”
Merengut kesal Alexander menutup buku yang sedang dibacanya dengan Sedikit keras. “Bibi Wendy, sudah berapa kali kukatakan jangan menganggapku sebagai anak kecil. Tidak bisakah memanggilku tanpa embel-embel Tuan muda kecil?” gerutunya kesal.
Wendy tersenyum kecil merasa sangat lucu dengan tingkah Tuan mudanya ini. “Baiklah Tuan Muda apapun yang dapat membuat anda senang saya akan menurutnya.”
“Ah! kau mengatakan hal itu tiap kali kau memanggilku dengan sebutan Tuan Muda kecil, sangat menyebalkan!”
“Kau tidak boleh mengingkari janjimu, ingat?!” kata Ed Alexander dengan raut wajah mengancam.
“Saya berjanji Tuan Ed Alexander.”
“Baguslah,” ucap Ed Alexander akhirnya. “Tapi, ngomong-ngomong Bibi Wendy, siapa wanita yang dibawa oleh Ayahku itu?” tanya Ed Alexander kemudian.
Wendy tertegun ia menyadari sesuatu hal. ‘Betapa mirisnya anak kecil ini tidak mengenali ibu kandungnya sendiri.’
“Bibi! Bibi Wendy! Apa kau mendengarkanku?” ucap Ed Alexander sembari melambaikan tangan dihadapan wajah Wendy yang terlihat sedang termenung.
“Itu, itu anda bisa menanyakannya sendiri nanti pada Tuan Smith, Tuan Muda.”
“Oh, baiklah.” Bocah cerdas itu kemudian melanjutkan membaca bukunya ditemani Wendy yang dengan setia duduk di sampingnya.
***
__ADS_1
“Aneh sekali kenapa aku tidak mengingat siapapun? Hanya cincin yang bertuliskan namaku saja yang menjadi identitasku.” Kasih melihat ke arah jari manisnya yang terlihat sebuah cincin melingkar di sana. Sejak ia tersadar dari komanya ia tidak mengingat siapapun dan hanya menemukan sebuah cincin itu saja dijari manisnya. Sejak saat itu ia menyadari bahwa namanya adalah Kasih Aulia Avisha namun ia tidak mengingat sedikitpun tentang dirinya atau apapun.
“Apa yang sedang kau lamunkan?” suara Tuan Smith secara mendadak membuat Kasih tersontak kaget. Kasih menoleh dan mendapati pria itu kini sudah berada tepat dibelakangnya.
“Kau ini tidak punya pekerjaan? Kau terus saja membuat orang terkejut. Bagaimana jika aku sampai meninggal diusia muda? Aku bahkan belum menikah, ingatanku saja tidak punya. Apa kau akan bertanggung jawab?”
“Dengan senang hati aku akan melakukannya,” ujar Tuan Smith dengan enteng.
“Oh?!” mata Kasih melotot jengkel. “Dasar gila. Kau sungguh adalah pria gila.”
Tuan Smith hanya tersenyum senang kemudian tanpa aba-aba menarik satu tangan Kasih membawanya pergi entah kemana.
“Apa yang kau lakukan?! Kau akan membawaku kemana?! Hei! Pria gila sialan aku sedang berbicara denganmu!!!”
Tidak peduli dengan teriakan Kasih itu, Tuan Smith tetap melangkah dengan tenang sembari membawa Kasih ikut dengannya. Membuat wanita itu sangat kesal. Hingga sampai disebuah tempat yang adalah ruang makan barulah Tuan Smith melepaskan cengkraman tangannya pada tangan Kasih.
Sambil mengelus pelan tangannya yang ditarik paksa oleh Tuhan Smith Kasih merengut kesal menatap wajah pria angkuh di hadapannya.
“Aduh tanganku sangat sakit dasar pria tak berperasaan!” gumam Kasih sebal.
“Tuan, selamat pagi. Sarapan sudah siap. Apa perlu saya .... “ ucapan John seketika terpotong.
“Tidak perlu. Mulai sekarang Kasih yang akan melayaniku dan mengurus Ed Alexander.” Tuan Smith mengambil tempat duduk dan berbicara dengan santai. Kasih hanya tersenyum canggung karena sedang ditatap oleh John.
“Aku merasa sangat aneh tapi aku tidak punya pilihan disini,” ucap Kasih dengan suara berbisik.
“Apa?” tanya Kasih membalas tatapan Tuan Smith yang sedang menatap dirinya.
“Ambilkan makanan untukku,” ucapnya dengan santai.
Menghela nafas kesal Kasih bangkit mengambil piring milik Tuan Smith menyendok nasi beserta berbagai lauk untuk pria itu. Tuan Smith memperhatikan dengan tenang setiap gerakan Kasih, istrinya yang telah lama menghilang dan kini tiba-tiba kembali.
Selesai melakukan pekerjaannya Kasih kemudian kembali ke tempat duduknya hendak ikut sarapan.
“Duduk disampingku.” Kasih menekuk wajahnya kesal namun akhirnya menurut pindah tempat duduk disebelah pria itu.
“Selamat pagi, Ayah.” Ed Alexander datang menghampiri meja makan sesaat ia tercengang melihat Kasih ada disana dan sedang duduk disamping sang Ayah. Mendadak sekelebat perasaan marah menghampiri hatinya. ‘Apa yang dilakukan wanita itu disamping Ayahku? Seharusnya yang duduk disitu adalah Ibuku. Aku tidak boleh membiarkan wanita itu merebut Ayah dari Ibu.’
BERSAMBUNG...
__ADS_1