Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 107 Aku Akan Pergi


__ADS_3

“Aku menang!” seru Kasih girang sembari bertepuk tangan.


Ed yang melihat tingkah Kasih itu memutar bola matanya tidak suka. ‘Apa hebatnya jika bisa menang permainan bodoh ini. Sama sekali tidak sulit apa istimewanya.’ Batin Ed meremehkan. Namun, setelah ia sendiri mencoba permainan itu ia sendiri merasa tak percaya bahwa ia tidak bisa mengalahkan Kasih.


“Ugh! Menyebalkan! Permainan bodoh ini!” Sergah Ed merasa frustasi sendiri karena tidak berhasil menyusun balok-balok itu dengan waktu yang telah ditentukan.


“Tidak apa-apa. Kau bisa belajar memainkannya perlahan aku akan menemanimu hingga kau mahir bermain ....”


“Cih! Aku tidak butuh bantuanmu,” ucap Ed bernada sarkas seraya menepis kasar tangan Kasih yang menyentuh bahunya. Kasih sempat tercengang untuk beberapa saat namun segera kembali menguasai perasaannya yang entah mengapa merasa sangat sedih akan sikap Ed yang seperti itu. Ia paham bahwa dirinya telah menyebabkan kesalahpahaman antara Ed dan sang Ayah akan tetapi ia tidak pernah mengira bocah ini akan membenci dirinya sedemikian rupa.


“Tuan Muda kecil ...” John berusaha mencegah terjadi keributan lagi.


“Aku merasa bosan tidak ingin bermain lagi!” ucap Ed lantang. “Kalian jangan berisik aku mau istirahat.”


Ed berjalan pergi dengan kesal. Ia merasa kesal karena tidak bisa memainkan permainan itu dan terlebih ia tidak bisa mengalahkan Kasih.


Kasih hanya bisa menatap bocah itu dengan tatapan sedih.


“Nona, ayo lanjut bermain,” ajak Wendy pada Kasih.


“Oh, Baiklah.”


Di dalam kamarnya diatas ranjang besar itu tepatnya Tuan Smith sedang berbaring dengan gelisah sembari menatap langit-langit kamar.


“Kasih ...” Pikiran Tuan Smith sedang dipenuhi oleh wanita itu. Segala upaya yang dilakukannya untuk mendekati Kasih malah membuat wanita itu semakin kesal padanya.


Karena terlalu memikirkan Kasih, tiba-tiba saja bayangan Kasih yang lebih muda persis seperti pertama kali ia mengenal wanita itu muncul di dalam kamar dan hal itu membuat Tuan Smith tersentak kaget.


“Astaga! Kurasa aku mulai tidak waras. Memikirkannya membuatku hampir gila,” ujar Tuan Smith mengacak rambutnya asal.


Karena merasa tidak kuat lagi dibayangi Kasih yang menggodanya terus menerus membuat Tuan Smith akhirnya memutuskan keluar dari kamarnya bermaksud untuk berjalan-jalan. Akan tetapi, ia seketika dibuat tak berkutik saat tak sengaja berpapasan dengan Kasih yang asli.


“Aish! Berhentilah menggangguku jika tidak ....”


“Jika tidak apa yang ingin kau lakukan padaku?”


Sontak Tuan Smith tersadar bahwa yang dihadapannya saat ini bukanlah bayangan melainkan Kasih yang asli.


“Huh?! Kau tidak menjawab pertanyaanku. Apa yang akan kau lakukan padaku? Mengganggumu? Heh! Yang benar saja! Harusnya aku yang berkata begitu. Aku heran ada apa dengan kalian berdua. Yang satu terus saja membuatku kesal sedangkan yang satu lagi malah membenciku tanpa alasan. Apa sebaiknya aku pergi mencari tempat tinggal sendiri daripada tinggal di mansion megah kalian sepertinya lebih baik aku mencari tempat tinggal lain,” cecar Kasih kesal.


“Siapa yang mengijinkanmu pergi?” ujar Tuan Smith.


“Ck! Aku sudah tidak tahan dengan sikap kalian ini. Benar-benar membuatku kesal. Jika tidak menyukai keberadaanku bicara saja dengan berterus terang. Aku tetap akan membayar hutangku padamu dan bekerja, kau tenang saja.”


“Apa yang kau katakan ini? Siapa yang bilang begitu padamu?”


“Tidak ada. Aku hanya menebaknya saja.”


“Dasar. Wanita ini ... Jangan berpikir sembarangan kau tidak akan kemana-mana. Titik!”


“Ada apa denganmu? Cepat atau lambat setelah hutangku lunas aku juga akan segera pergi.”


Tuan Smith terlihat mulai gelisah setelah mendengar Kasih punya niatan untuk pergi darinya.


“Tidak. Tidak. Kau tidak boleh melakukan itu. Dengarkan aku baik-baik tidak ada yang ingin kau pergi jadi kau harus tetap tinggal.”


Kasih mengangkat sebelah alisnya seraya memasang wajah bingung. ‘Apa sih yang dikatakan pria gila ini?’


“Ah, ya! Kau harus memperbaiki hubunganmu dengan putramu. Dan sebaiknya kau menjelaskan hubunganmu denganku. Katakan padanya dengan jelas bahwa kita tidak memiliki hubungan apapun.”


“Kenapa?”


“Apanya?”


“Kenapa aku harus bilang pada putraku bahwa kita tidak memiliki hubungan? Kita kan sedang menjalin hubungan.”


“Ehh???”


“Bukankah kau juga begitu?” tanya Tuan Smith seraya berjalan mempersempit jarak antara dirinya dan Kasih.


“Hei. Hei. Apa yang sedang kau lakukan? Menjauh dariku!” ujar Kasih salah tingkah.


“Kau, tidakkah kau menyukaiku walau hanya sedikit?” Kini jarak antara keduanya hampir tidak bersisa Kasih telah terpojok diantara tembok dan tubuh Tuan Smith. Saking dekatnya Kasih dapat mencium samar-samar bau alkohol dari mulut Tuan Smith.


“Astaga, kau pasti sedang mabuk jadi berbicara melantur begini. Sebaiknya kembalilah ke kamarmu dan beristirahat.”


“Kasih.” Tuan Smith meraih wajah Kasih dengan kedua tangannya membuat tatapan keduanya bertemu. “Aku mencintaimu.”


“Eh? Kau sedang mabuk. Jangan mengira aku adalah istrimu-“


“Kasih Aulia Avisha.”


Kasih terdiam. Pria itu menyebutkan nama lengkapnya. Nama yang terukir pada cincin dijari manisnya, Tuan Smith mengucapkan nama itu dengan tegas seolah ia tidak sedang mabuk sama sekali.


“Aku sangat mencintaimu, tidakkah kau melihat seberapa besar cintaku? “


“Tidak. Tidak. Kau sedang mabuk-“ ucapan Kasih terpotong bibirnya telah dikunci oleh bibir Tuan Smith. Tubuh Kasih seketika menegang otaknya tak dapat berpikir jernih. ‘Sadarlah, Kasih! Apa yang sedang kau lakukan?! Kau lagi-lagi membiarkan pria itu menciummu sesuka hatinya.’


Tanpa disadari oleh keduanya tak jauh dari sana Ed melihat semua kejadian itu dengan mata kepalanya. Perasaan marahnya pada Kasih semakin menjadi-jadi.


Flashback ON


“Maaf.”


Ed seketika tecengang dibuatnya Baru kali ini ia melihat ayahnya seperti itu. Ia tidak menyangka betapa hebatnya seorang Kasih bisa membuat ayahnya meminta maaf padanya dan berusaha memperbaiki hubungan mereka berdua. Ayahnya yang sangat keras kepala itu begitu patuh pada Kasih hal itu terbukti akan sikap sang Ayah yang terlihat sangat patuh pada wanita itu.


“Ed, tolong Maafkan aku juga,” ujar Kasih berjalan mendekat.


Ed yang masih merasa marah memasang wajah masamnya sambil melipat kedua tangannya di dada lalu membuang wajah ke arah lain.


‘Tampaknya Ed masih marah padaku.’

__ADS_1


“Ed-“


Kasih segera memberi isyarat pada tuan Smith untuk membiarkannya ia ingin agar Tuan Smith memberikan kesempatan baginya untuk berbicara dari hati ke hati dengan Ed.


“Ed, maafkan aku sepertinya kau tidak terlalu menyukaiku. Aku bisa memahami itu hanya saja bisakah kau mengatakan padaku kesalahan apa yang telah kuperbuat aku bisa memperbaikinya-“


“Tidak perlu,” ketus Ed memotong perkataan Kasih. “Jika kau memang merasa bersalah kau bisa pergi dari keluargaku.”


Tuan Smith hampir tidak dapat menahan emosinya namun segera dicegah oleh Kasih. Melalui isyarat matanya Kasih seolah mengatakan pada Tuan Smith bahwa ia dapat mengatasinya.


“Baiklah jika itu maumu akan kulakukan,” ujar Kasih tanpa ragu. Mata Tuan Smith seketika membulat menatap tajam kearah Kasih. “Aku akan pergi dari sini tentu saja setelah hutangku lunas,” lanjutnya.


‘Yang kumaksud bukanlah hutang. Tapi ... hutang, ya? Akan kupastikan itu tidak akan pernah lunas jadi kau tidak akan bisa pergi kemana-mana.’ Batin Tuan Smith seraya tersenyum licik.


“Baik. Jika setelah seluruh hutangmu lunas dan kau belum juga pergi, lihat saja! Aku akan membuat perhitungan denganmu.”


“Setuju.”


Flashback off


“Dasar pembohong! Dia bilang akan pergi setelah hutangnya lunas, lalu apa yang barusan itu? Dia sudah bersiap untuk merayu ayahku. Tidak bisa aku tidak akan membiarkannya begitu saja.” Ed berbalik pergi darisana dan kembali masuk kedalam kamar miliknya.


Tepat setelah itu Kasih tersadar dan segera mendorong tubuh Tuan Smith menjauh darinya dengan sekuat tenaga.


Plak!


“Kau keterlaluan! Apa kau pikir aku wanita murahan yang setiap ada kesempatan bisa kau cium seenaknya?! Menyebalkan!” Kasih berlari pergi sambil menangis setelah sebelumnya melayangkan tamparan keras dipipi mulus Tuan Smith Alexander. Pria itu hanya menerima saja tamparan dari Kasih tanpa melakukan perlawanan sedikitpun.


Kasih menutup pintu kamarnya lalu bersandar pada pintu hingga perlahan merosot kebawah sambil menangis. “Bodoh sekali. Aku tidak melakukan kesalahan apapun pria gila itulah yang seharusnya merasa bersalah. Dia sudah berkali-kali mencuri kesempatan padaku dan aku tidak punya daya untuk melawannya. Menyedihkan sekali aku ini. Entah sampai kapan aku bisa keluar dari sini.”


Tring! Tring!


“Halo,” suara Kasih terdengar sedikit parau karena baru saja habis menangis.


“Kasih? Apa kau sedang menangis?” tanya si penelpon yang adalah Rey.


Kasih terperanjat kaget diusapnya jejak airmata yang tadi mengalir dipipinya lalu berdehem sejenak untuk mengubah suaranya yang parau. “R-rey? Ah, maafkan aku sepertinya aku sedikit flu udara disini sangat dingin. Aku tidak sedang menangis, sungguh!”


“Oh, benarkah? Apa kau baik-baik saja? Kau harus menjaga dirimu dengan baik. Jika kau sedang sakit segeralah minum obat.” Rey terdengar mengkhawatirkan Kasih dan hal itu membuat wanita itu merasa senang.


“Baik nanti aku akan meminum obatnya.”


“Kasih?”


“Ya.”


“Bisakah kita bertemu?”


“Kapan? Jangan sekarang, ya. Aku sedang tidak bisa.”


“Oh, tidak bisa, ya. Baiklah.” Suara Rey terdengar sedih.


“Bukan. Bukan begitu. Aku sekarang sedang berada di luar negeri jadi tidak mungkin untuk bertemu,” jelas Kasih cepat tidak ingin Rey salah paham padanya.


“Ya. Begitulah. Keluarga Alexander sedang berlibur dan membawa semua orang di mansion ikut serta. Aku mau menemuimu setelah pulang dari sini kita akan bertemu di kafe tempat biasa, bagaimana?”


“Baiklah. Aku akan menunggumu, Kasih. Sampai jumpa.”


“Ya, sampai jumpa, Rey.”


Panggilan berakhir Kasih merasa sangat senang karena Rey mengajak bertemu kesedihan yang sempat dirasakannya menguap begitu saja.


“Aku setuju ikut kesini karena Tuan Smith berjanji tidak akan bersikap menyebalkan lagi, tidak kusangka keputusanku ini malah membuatku harus menunda bertemu dengan Rey. Menyebalkan sekali tapi mau bagaimana lagi aku harus melakukan ini demi hidup yang tenang tanpa gangguan dari si pria gila itu, semangat Kasih! Fighting!”


***


Di sisi lain Rey yang baru saja berbicara dengan Kasih melalui panggilan telepon itu rupanya sedang berada disebuah hotel bersama dengan seorang wanita yang ia sewa untuk menemaninya.


“Manis sekali kau masih menghubungi wanita lain padahal sedang bersamaku, aku jadi cemburu, loh.” Wanita itu berbicara dengan suaranya yang indah dari balik selimut yang menutupi tubuhnya dan Rey. Jemarinya yang lentik meraba dada bidang Rey dari arah belakang dan pria itu membiarkannya.


“Wanita itu hanya targetku, kau tentu jauh lebih baik darinya tidak bisa dibandingkan,” ujar Rey lalu ******* bibir wanita itu dalam sekejap.


***


Pagi harinya dihotel keluarga Alexander menginap tampak Kasih yang baru saja selesai menyiapkankan kebutuhan Ed keluar dari kamar dan hendak menuju kamar Tuan Smith untuk membangunkan pria itu.


“Tuan Smith, ini Aku.” Beberapa kali ketukan namun sama sekali tidak ada jawaban dari dalam akhirnya Kasih memutuskan untuk masuk. “Aku masuk, ya.”


Baru saja membuka pintu Kasih segera dibuat jantungan dengan adegan yang ada di depan matanya.


“Akh!”


Mendengar suara Kasih membuat Tuan Smith yang hendak mengenakan pakaiannya segera berbalik kebetulan handuk yang terlilit dipinggangnya longgar dan seketika jatuh kelantai.


“Aaaaahhhh!!!”


Pekikan Kasih membahana memenuhi seluruh isi ruangan. Buru-buru Tuan Smith memungut dan memakai lagi handuk yang telah terongok dilantai itu.


“Kau bisa berhenti berteriak sekarang aku sudah memakai handuknya,” ucap Tuan Smith dengan nada tenang.


“Kau, kau, kau! Mesum!” ujar Kasih tergagap sambil mengarahkan jari telunjuknya pada Tuan Smith.


“Salah sendiri kau masuk tanpa mengetuk.”


“Apa?! Bisa-bisanya kau berkata begitu sedangkan tanganku sampai memerah karena terus mengetuk pintu dan kau tidak menjawab sama sekali.”


“Benarkah? Mungkin aku tidak mendengarnya karena sedang berada di kamar mandi.”


“Kau!” Kasih sangat kesal namun tidak tau harus berkata apa. “Ah, sudahlah. Lupakan saja! Karena kau sudah selesai bersiap aku akan keluar saja.” Tanpa menunggu jawaban Kasih segera berbalik dan menutup pintu dengan cepat. Dada Kasih terasa berdebar kencang dipegangnya dadanya dengan kedua tangannya lalu mengatur ritme nafas yang mulai tak beraturan.


“Astaga! Aku melihatnya dengan kedua mataku. Ya, Tuhan. Apa melihat keindahan salah satu ciptaanmu barusan adalah sebuah dosa? Jika iya maka aku pasti sangatlah berdosa karena aku melihat semuanya!”

__ADS_1


“Nona, apa Anda baik-baik saja? Wajah anda tampak memerah.” John yang hendak menemui Tuan Smith dikamarnya berhenti sejenak karena melihat Kasih yang sedang berdiri di depan pintu.


“Oh, aku tidak apa-apa. Aku pergi dulu.” Kasih pergi dengan buru-buru dengan perasaannya yang kacau. John yang dibuat bingung dengan sikap Kasih itu hanya bisa mengangkat bahu tidak mengerti.


“Apa perlu dia seheboh itu hanya karena melihatku tanpa busana. Bukankah dia sudah merasakannya bahkan mendapatkan keturunananku karenanya. Benar-benar dari dulu dia sama saja.”


“Tuan, ini saya.” Terdengar suara John dari arah luar mengetuk pintu.


“Masuklah.”


“Selamat pagi, Tuan.” Sapa John membungkuk hormat.


“Hn. Selamat pagi.”


“Tuan, tadi saya bertemu dengan nona Kasih sepertinya dia sedang kurang sehat wajahnya tampak memerah,” ungkap John pada Tuan Smith yang sedang merapikan dasinya.


“Dia bukan lagi gadis polos bertahun-tahun lalu apa perlu sampai sebegitunya setelah melihat tubuhku?”


“Maksud Anda apa, Tuan?” tanya John tidak mengerti.


“Wanita itu tidak pernah berubah rupanya. Masih sama hebohnya saat malam pertama kami.”


“Apa mungkin ...”


“Benar. Dia melihat seluruh tubuhku tanpa busana. Tapi apa perlu bersikap begitu heboh? Bukankah kita sudah suami istri dan lagi sudah pernah melakukannya.”


Gluk!


‘Pembicaraan ini sepertinya tidak cocok denganku, Tuan. Aku ini masih perjaka hingga sekarang dan belum pernah  menikah.’


“Apa mungkin Kasih hanya bersikap malu-malu saja di depanku, bukan begitu, John?” tanya Tuan Smith pada John yang hanya bisa berusaha mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Tuannya.


“Benar. Tentu saja, Tuan.”


“Sudah kuduga. Pasti begitu. Astaga padahal kita berdua sudah memiliki Ed masih haruskah merasa malu satu sama lain? Aku sungguh tidak percaya dia bisa bersikap malu-malu begitu.” Ujar Tuan Smith mengutarakan pemikirannya tentang sikap Kasih yang ia anggap malu-malu bila sedang berada dihadapannya.


“Wah! Pria gila ini semakin hari sepertinya semakin melunjak saja. Apa aku tampak mudah baginya? Jadi dia bersikap seenaknya begitu padaku? Benar-benar tidak bisa dipercaya dia menciumku lagi. Bibirku ini menjadi korban kejahatan pria itu untuk kesekian kalinya. Ayolah, Kasih! Lain kali jika ada kesempatan kau harus melawan. Apa kau mengerti?!” Menghela nafas kesal Kasih membasuh wajahnya dengan air yang mengalir dari keran wastafel kamar mandi. “Aku tidak percaya aku mengatakan lain kali. Seharusnya tidak ada lain kali karena itu sama saja seperti aku mengharapkan kesempatan ia menciumku lagi. Argh! Aku bisa gila dibuatnya.”


Setelah kejadian pagi itu Kasih merasa sangat canggung bila bertemu dengan tuan Smith. Kasih akan berusaha menghindar sebisanya bila tak sengaja berpapasan dengannya. Sikap Kasih yang begitu disangka oleh Tuan Smith sebagai sikap malu-malu pada dirinya.


‘Astaga lihatlah wanita ini dengan sikap malu-malunya itu sungguh menggemaskan sekali.’


‘Ck! Pria gila ini apa yang sedang dipikirkannya mengapa menatapku seperti itu.’


“Hari ini cuacanya sangat dingin meski tidak sedang turun salju memakai pakaian hangat akan membuat tubuh menjadi tetap hangat. Selain itu silahkan gunakan syal ini juga, Nona.” Wendy memberikan sebuah syal berwarna merah muda pada Kasih dan wanita itu segera mengalungkannya di lehernya. “Ya, benar begitu. Anda harus memakainya agar tubuh Anda tetap hangat.”


“Ya, terima kasih. Wendy.”


“Ya, Nona,” ujar Wendy sambil tersenyum pada Kasih. “Ah! Saya lupa harus memberikan satu juga pada tuan muda kecil, saya harus segera pergi mencarinya. Saya pamit, Nona.”


“Apa yang ... Mau kemana kau, Nona Wendy!” ujar Kasih terbata-bata sedangkan Wendy sudah pergi menjauh menghiraukan Kasih yang terus memanggilnya. ‘Apa-apaan nona Wendy meninggalkanku dengan pria gila ini, apa yang harus kulakukan? Rasanya benar-benar canggung. Ah! Sudahlah berpura-pura tidak melihatnya saja.’


Kasih mengeluarkan ponselnya dan berpura-pura asyik memainkan benda elektronik tersebut mengacuhkan Tuan Smith yang berdiri sambil menatap dirinya. ‘Tenanglah, Kasih. Kau harus tenangkan dirimu. Jangan berikan kesempatan pria gila itu menindasmu lagi.’


Tring!


Rey: Selamat pagi, Kasih.


‘Wah! Ada pesan dari Rey.’


Kasih: Selamat pagi, Rey.


Rey: Apa tidurmu nyenyak? Sudah sarapan?


‘Dia pasti merasa sangat malu dan berpura-pura bermain ponsel, oh! Ponselnya berdering sepertinya ada pesan yang masuk dan dia terlihat senang sekali setelah membacanya. Dengan siapa dia berkirim pesan.’ Tuan Smith sangat penasaran dengan siapa Kasih sedang berkirim pesan dan berusaha mengintip. ‘Aish! Kenapa tidak terlihat sama sekali. Aku tidak bisa melihat apapun dari sini.’ Tanpa sadar Tuan Smith telah melangkah hingga mendekat pada Kasih.


“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Kasih pada Tuan Smith yang tak sengaja menyenggol dirinya karena dorongan rasa penasaran yang teramat sangat.


“I-itu ... Syalmu!” Tuan Smith berusaha mencari alasan yang tepat seraya menatap Kasih dari ujung kaki hingga kepala.


“Syalku?” ulang Kasih bingung. “Memang kenapa dengan-“ Kata Kasih seraya tangannya menyentuh rajutan yang melingkar dileherya itu. “Syalmu tidak terpasang dengan benar. Apa kau mau terkena flu? Jika kau sakit aku harus mengeluarkan biaya dokter untuk itu,” ujar Tuan Smith memberi alasan seraya berpura-pura memperbaiki syal Kasih yang sesungguhnya tidak ada masalah sama sekali.


“Ck! Perhitungan sekali dasar pria pelit!” umpat Kasih sambil menyentuh syal yang melingkar dileharnya. “Aneh sekali, rasanya nona Wendy sudah memasangnya dengan benar mana mung-“


“Kau tidak percaya padaku? Lihatlah dengan baik jelas-jelas tidak terpasang dengan benar.”


“Baiklah. Baiklah. Aku percaya tidak perlu membahasnya lagi,” ucap Kasih mengalah.


“Berikan ponselmu.” Tuan Smith mengulurkan tangannya pada Kasih.


“Eh? Buat apa? Kau punya ponselmu sendiri dan lebih canggih dari punyaku untuk apa memakai ponselku?”


“Berikan saja.”


“Tidak. Aku tidak mau.” Kasih bersikeras.


“Keras kepala. Aku hanya meminjamnya sebentar.”


“Sudah kubilang aku tidak mau.”


“Kau-“


“Nona!” Wendy datang karena melihat keberadaan Tuan Smith dihadapannya ia segera membungkuk hormat pada pria itu.


“Semua sudah siap, Nona. Sudah bisa berangkat sekarang.”


“Benarkah? Ayo!”


“Kami permisi, Tuan.” Wendy lalu menggandeng tangan Kasih pergi. Sedangkan Kasih memasang wajah konyolnya mengejek Tuan Smith sebelum beranjak dari sana.


“Ck! Dasar wanita bodoh ini. Benar-benar!” Tuan Smith merasa kesal karena Kasih tidak mengijinkannya melihat ponsel milik wanita itu. Tuan Smith semakin merasa penasaran dengan siapa gerangan Kasih berkirim pesan.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2