
Kamar bayi yang telah disiapkan oleh tuan Smith dan Kasih terlihat begitu indah dengan dominasi warna biru dongker yang mendominasi. Ruangan kamar bayi itu terlihat penuh dengan berbagai model boneka dan mainan anak lelaki. Kamar bayi itu cukup luas untuk ukuran seorang bayi, Kasih sempat komplain pada tuan Smith akan hal itu, namun tuan Smith tidak peduli. Ia tetap memilih kamar yang berada tidak jauh dengan kamarnya itu sebagai kamar untuk bayi kecilnya.
“Anakku adalah pewarisku, tentu saja ia harus mendapat yang terbaik,” ucap Tuan Smith setiap kali Kasih tidak sepakat dengan pilihan suaminya yang seringkali suka berlebihan.
Dari kursi sofa yang terletak tidak jauh dari ranjang bayi di kamar bayi itu, Kasih memperhatikan para perawat yang terlihat sangat lihai mengganti popok dan memasangkan pakaian si bayi. Dua orang perawat yang dipekerjakan tuan Smith untuk merawat dan menjaga bayinya itu adalah perawat dari rumah sakit keluarga. ia tahu jika Kasih tidak bisa mengurus bayinya sendirian maka ia berinisiatif untuk memanggil para perawat itu ke mansion untuk membantu Kasih.
Membungkuk hormat setelah menyelesaikan pekerjaannya kedua perawat itu berkata, “Nyonya, kami sudah selesai disini. Kami akan membawa Bayi Ed ke luar untuk dijemur.”
Kasih tercengang. Merasa tidak mengerti iapun bertanya, “D-dijemur?”
Perawat itu mengangguk membenarkan. “Benar, nyonya.” Kata salah satu perawat membenarkan.
“Apakah bayiku ini pakaian? Kenapa kalian ingin menjemurnya? Bukankah nantinya ia akan merasa kepanasan?” Kasih berkata dengan suara meninggi.
Kedua perawat itu tersenyum lucu sambil saling berpandangan satu sama lain.
“Apa kalian ingin membuat bayiku kepanasan dan mati? Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!” ucap Kasih marah.
“Bukan begitu, Nyonya. Kami tidak mungkin berani melakukan hal itu_”
“Aku tidak ingin kalian datang lagi kesini besok, aku tidak butuh kalian,” potong Kasih cepat dengan kemarahan. Kedua perawat itu terlihat terkejut dan ketakutan.
“Nyonya ... bukan itu maksud kami ....”
Wendy yang baru saja memasuki ruangan melihat pemandangan itu dengan tatapan heran dan kemudian ia bertanya, “Apa yang sedang terjadi?” tanya Wendy meminta penjelasan pada dua perawat itu.
Setelah menjelaskan duduk perkaranya pada Wendy, kedua perawat itu kemudian disuruh Wendy untuk pergi dahulu setelah sebelumnya membungkuk hormat pada sang nyonya.
“Nyonya, anda tidak perlu khawatir. Kedua perawat itu adalah perawat terbaik yang tidak mungkin melakukan sesuatu yang buruk pada bayi Ed,” jelas Wendy dengan lembut. “Anda hanya perlu mempercayai mereka.”
“Tapi ... mereka akan menjemur bayiku. Apanya yang melakukan yang terbaik,” ujar Kasih bersungut kesal. Lalu dengan lembut Wendy meluruskan kesalahpahaman yang sedang terjadi.
Kasih tertawa menertawakan dirinya yang terlihat bodoh. “Aku minta maaf pada kalian semua. Aku sudah salah sangka pada kalian.”
Kedua perawat dan Wendy hanya tersenyum maklum pada Kasih. Mereka mengerti bahwa Kasih masihlah terlalu muda dan harus belajar banyak hal. Gadis polos yang tidak mengenal dunia luar itu lalu meminta kedua perawat itu untuk mengajarinya cara untuk mengurus bayi Ed secara mandiri.
Dari layar monitor Tuan Smith sedang menatap wajah Kasih yang sedang tersenyum bahagia sambil belajar mengurusi bayi mereka dari kedua perawat yang ia pekerjakan.
“Gadis bodoh ini, setelah kehadiran bayi Ed dia berani mulai mengabaikan aku. Berani sekali dia melupakan tugasnya sebagai istriku,” gumam Tuan Smith sambil menatap layar monitor.
Pagi ini Tuan Smith bangun dengan tidak menemukan sosok gadis yang telah menjadi wanitanya itu disampingnya. Ia juga tidak menemukan secangkir kopi kesukaannya yang biasanya sudah tersedia diatas meja di dalam kamar. Pakaiannya juga tidak disiapkan oleh istrinya yang bersepakat dengannya untuk bekerja sebagai istrinya itu. Tuan Smith bertanya-tanya mengapa Kasih melalaikan tugasnya dan akhirnya tahulah ia bahwa sang istri telah melupakan dirinya karena sibuk dengan bayi mereka yang baru saja lahir. Seketika rasa cemburu menguasai hati tuan Smith. Ia merasa seperti sedang bersaing dengan bayi mungilnya untuk mendapatkan perhatian dari Kasih.
“Tuan, anda akan ke kantor hari ini?” tanya John pada Tuannya yang tampak sedang kesal.
“Berangkat.” titahnya singkat.
Kasih sangat senang setelah ia belajar dari kedua perawat, akhirnya ia kini bisa mengganti popok dan juga menyusui bayinya. Ia tidak berhenti berterima kasih sambil terus menampilkan senyuman ceria diwajah cantiknya.
“aku sangat beruntung kalian mau mengajariku. Lihatlah! Sekarang aku bahkan bisa menyusui bayi Ed.” ungkap Kasih senang.
__ADS_1
Kedua perawat dan Wendy ikut merasa senang akan hal itu. “Apakah kami akan diberhentikan setelah anda sudah bisa melakukan semuanya sendiri, Nyonya?” tanya salah seorang perawat itu dengan nada bercanda. “Kami takut kami akan kehilangan pekerjaan kami jika anda belajar begitu cepat.”
“Apa yang kau katakan? Tentu saja aku tidak akan melakukan hal itu. Aku masih harus mengambil banyak ilmu dari kalian berdua.” balas Kasih sambil tertawa gembira.
Sepanjang hari Kasih merasa sangat terhibur dengan keberadaan dua orang perawat bayinya. Tanpa sadar ia sudah menghabiskan banyak waktu dan ternyata waktu sudah mulai malam. Para perawat itupun pamit untuk pulang.
“Berjanjilah untuk datang tepat waktu besok.”kata Kasih sambil memegang tangan kedua perawat yang bernama Namira dan Dita sebelum keduanya hendak pulang.
“Baik, Nyonya. Kami pamit dulu.”
“Ya. Hati-hati di jalan.” Ibu muda itu melambaikan tangannya mengantar kedua perawat itu pergi meninggalkan kediaman keluarga Alexander dengan diantar oleh Wendy. Berbalik sembari menghela nafas lega ia berjalan dengan riang gembira memasuki kediaman keluarga Alexander.
***
Ayah Kasih POV
“Aku tidak akan memaksamu untuk menikah lagi” Kata Nenek Kasih pada Ayah Kasih. Ayah dan Ibu Kasih menatap sang Nenek terheran.
Sambil tersenyum manis Nenek Kasih melanjutkan, “Tapi kau harus melakukan sesuatu untuk Ibu.”
Hari ini Ibuku berkata ia tidak akan mengangguku dan istriku dengan menyuruhku untuk menikah lagi. Aku harusnya senang mendengar hal itu, namun aku sangat mengetahui tabiat dari wanita yang telah membesarkan diriku selama itu, aku tau jika ia tidak akan pernah memberi dengan cuma-cuma tanpa mengharapkan sesuatu kembali sebagai balasan. Benar saja. Beberapa waktu kemudian aku menerima panggilan darinya yang mengatakan jika aku ingin terbebas dari paksaan untuk menikah lagi dan meinggalkan istriku, maka aku harus pergi keluar negeri untuk mengurus bisnis milik ibuku disana.
Aku sempat menolak karena tentu saja aku sangat berat untuk meninggalkan keluargaku. Kehidupan kami tidak seperti dahulu, segalanya telah berubah dan kami harus berusaha mulai dari nol lagi. Istriku yang kucintai harus bersusah payah membuat kue untuk kemudian dijualnya agar bisa menghidupi kami. Sedangkan aku sendiri masih belum bekerja.
Akan tetapi, sekeras apapun aku menolak istriku yang baik hati malah mendorongku untuk melakukan hal yang bisa membuat ibuku bahagia meski mengorbankan perasaannya sendiri.
“Kita tidak harus seperti ini istriku,” ujar Ayah Kasih dengan nada sedih. “Aku tidak bisa meninggalkanmu dan anak-anak kita. Aku akan sangat lama disana, tidak tau kapan baru bisa kembali.”
Istriku memegang kedua tanganku dengan lembut. Wajahnya yang sudah mengkeriput menatapku dengan tatapan tanpa perasaan sedih.
“Aku percaya padamu. Kau tidak perlu mencemaskan apapun. Kami akan baik-baik saja. Lakukan saja yang terbaik untuk menyenangkan Ibu.” Suara istriku terdengar sangat lembut dan merdu. Aku paham ia memiliki hati yang sangat lembut ia tidak akan menyimpan dendam pada siapapun.
Mendesah pasrah pada akhirnya aku tidak dapat menolak ataupun menang berdebat dengannya. Akupun memutuskan untuk berangkat.
“Halo, Ibu. Aku sudah memutuskan untuk pergi.” Kataku ditelepon. Ibuku terdengar sangat senang dan menyuruhku untuk segera berangkat.
“Baiklah. Aku akan segera berangkat dalam minggu ini, tolong tepati janji Ibu. Aku tutup dulu.” Panggilan berakhir. Aku tidak bisa mengerti mengapa ibuku sangat membenci istriku hanya karena status rendahnya. Bukankah yang terpenting adalah aku hidup bahagia bersamanya dan kami saling mencintai satu sama lain.
Ayah Kasih End POV
Tuan Smith memasuki kamar dan mendapati kamar itu kosong. Tidak ada istrinya disana. Melenguh kesal Tuan Smith menutup pintu dan bergegas mencari sang istri ke dalam kamar putra kecilnya. Dan benar saja, di kamar itu terlihat Kasih sedang tertidur tepat disamping ranjang bayi. Wajah Kasih terlihat tertidur pulas sekali hingga tidak menyadari Tuan Smith yang masuk kedalam kamar lalu menganggkat tubuh Kasih membawanya kembali ke kamarnya sendiri.
__ADS_1
‘Ringan sekali, apa gadis bodoh ini tidak makan?’ pikir tuan Smith sembari membaringkan tubuh Kasih keatas ranjang. Ia tidak langsung pergi, ia diam menatap wajah Kasih yang sedang tertidur dengan lelapnya.
“Gadis ini ... sudah menjadi nyonya pemilik mansion besar milikku tapi masih saja bersikap seolah ia hanyalah gadis biasa.” Tuan Smith meraih tangan Kasih lalu mengelusnya pelan. “Kau tidak perlu susah-susah untuk melakukan pekerjaan apapun selain melayaniku, asal kau bersedia tetap berada disisiku, maka semua milikku adalah milikmu juga.”
Kasih melenguh. Perlahan kedua mata indah miliknya terbuka, samar-samar ia melihat Tuan Smith setelah matanya jernih. Ia sempat terkejut dangan pandangan heran.
“Pria gila?” ucap Kasih spontan.
Kedua alis Tuan Smith tertaut menatap tajam istrinya yang sedang terbaring dibawahnya itu. “Kau sedang mengataiku ... apa? Pria gila?”
“Apa kau tuli? Aku bertanya padamu apa yang sedang kau lakukan disini?” tanya Kasih dengan nada acuh. Ia mengalihkan pandangannya kearah sekitar dan menyadari bahwa ia kini telah berada di dalam kamar Tuan Smith.
“Aku berada dikamarku sendiri, apa ada yang salah dengan itu?” balas Tuan Smith santai.
Tidak ingin terlibat pertengkaran dengan pria yang sangat menyebalkan menurutnya, ia pun segera bersiap untuk bangkit namun belum sempat hal itu ia lakukan tangan kokoh nan kuat langsung menahan tubuh kecil milik Kasih. Alhasil seketika itu juga Kasih terbanting kembali ketempat tidur dengan posisi Tuan Smith berada tepat berada diatasnya.
“Apa yang kau lakukan?! Lepaskan aku!” ucap Kasih setengah berteriak sembari berontak berusaha melepaskan diri namun hal itu tidak berarti apa-apa bagi Tuan Smith.
“Kau ingin kupecat?” kata pria yang masih mengenakan pakaian kerjanya itu menatap Kasih dengan pandangan serius.
Sontak perkataan itu membuat Kasih membulatkan matanya sembari menatap Tuan Smith kebingungan. Kedua pasang mata saling bertatapan lama hingga masing-masing tersadar dan saling membuka muka kearah belakang secara bersamaan. Perasaan canggung seketika tercipta karena posisi mereka yang saling bertindihan dengan Tuan Smith yang berada diatas tubuh Kasih sembari memegang kedua tangan Kasih diatas kepalanya.
“Aku tidak melakukan kesalahan apapun ... mengapa kau ingin memecatku?”
“Benarkah? Kau berpikir begitu?” tanya Tuan Smith bernada menantang.
Kasih mengangguk yakin.
“Kau tidak melalaikan tugasmu hari ini, apa itu bukan sebuah kesalahan?”
Seketika gadis muda itu tersadar ia sangat sibuk dengan bayinya hingga lupa akan tugasnya untuk melayani Tuan Smith. Ia tersenyum canggung sambil menatap Tuan Smith.
“Kau sungguh berani. Menurutmu hukuman apa yang pantas diberikan bagi seseorang yang melalaikan tugasnya?” Tuan Smith memainkan anak rambut Kasih sambil membuat jarak wajahnya dan Kasih semakin dekat. Bahkan Kasih dapat merasakan deru nafas Tuan Smith yang menerpa kulit wajahnya. Kasih yang masih sangat polos itu merasakan dadanya berdebar. ‘Astaga! Apa yang telah terjadi dengan dadaku? Aku bisa merasakan dadaku bergetar sangat hebat! Apa aku sudah terkena sakit jantung? Oh! ibu... Anakmu ini sudah terkena penyakit parah diusianya yang sangat muda. Sungguh menyedihkan.’
BERSAMBUNG...
__ADS_1