
Tengah malam Kasih belum juga memasuki kamarnya untuk pergi tidur. Ia merasa enggan untuk memasuki kamar utama yang biasa ditempati oleh tuan Smith.
Kasih membelai kemudian memberikan ciuman selamat malam pada kedua adiknya yang telah tertidur lalu beranjak keluar dari kamar.
“mansion ini punya kamar yang sangat banyak, mungkin aku bisa tidur disalah satu kamar lalu buru-buru pindah ke kamar pria gila itu saat pagi-pagi sekali. Tidak akan ada yang mengetahuinya. Dengan begitu, aku tidak perlu tidur sekamar dengannya. Wah! Aku benar-benar cerdas” tutur Kasih girang memuji dirinya sendiri.
Kasih sudah berkeliling mencari kamar yang bisa digunakannya untuk tidur malam ini, namun tidak satupun dari kamar-kamar itu yang tidak terkunci.
“apa yang terjadi, kenapa semua kamar ini tiba-tiba terkunci!” ujar Kasih kesal sembari terus mencoba memutar kenop pintu agar terbuka.
“aku tidak mungkin memanggil pelayan atau siapapun sekarang. Ini sudah tengah malam dan semua orang sudah tertidur. Apa yang harus aku lakukan? Aku sudah sangat lelah berjalan kesana kemari dengan perut besar ini, aku ingin sekali tidur” Kasih tampak menguap merasa sangat lelah dengan usahanya yang gagal untuk menghindari tuan Smith.
Pada akhirnya Kasihpun kini sudah berada di depan kamar utama, berdiri mematung di depan pintu sambil terus menimbang, akan masuk atau tidak.
“Ah! Masa bodoh! Aku sudah sangat mengantuk” Kasih masuk tanpa banyak pikir panjang lagi dikarenakan rasa kantuknya yang sudah tak tertahankan.
Di dalam kamar yang sudah tampak gelap itu Kasih berjalan dengan mengendap-endap berharap langkah kakinya tidak akan membangunkan tuan Smith yang sedang tidur diatas kasur.
“lihatlah dia tertidur sangat pulas, dia benar-benar seorang babi saat sedang tidur. Yah! Walau ia punya paras yang tampan, tapi tetap saja sifatnya itu sangat menyebalkan!” rutuk Kasih pada tuan Smith yang sedang tertidur dan pastinya tidak akan bisa mendengar apapun yang ditujukan padanya.
“apa yang harus aku lakukan? Apakah aku harus tidur bersebelahan dengan pria gila ini?” Kasih berpikir sejenak sembari menatap tempat kosong disamping tuan Smith.
“tidak! tidak!” Kasih menggelengkan kepalanya kuat-kuat “aku tidak mau tidur bersamanya di ranjang itu, aku..aku akan tidur di sofa itu saja” Kasih lalu mengambil bantal dan merebahkan tubuhnya ke atas sofa.
“Ahh...akhirnya aku bisa tidur juga”
Tidak berapa lama kemudian Kasih sudah terbawa dalam mimpinya.
***
Di dalam pesawat yang ditumpangi Rey dan keluarganya tampak Rey yang berwajah sedih sedang menatap kearah luar kaca jendela sembari mengusap pelan jendela itu.
“Kasih...” kata Rey lirih
Flashback On
“Rey, lupakanlah Kasih. Ia sudah tidak mungkin kau gapai. Apa kau ingin menjadi perusak keluarga orang? Terlebih dia adalah istri dari tuan Smith. Kau akan mencelakai seluruh keluarga jika kau berani mengusiknya” ujar Ayah Rey saat membawa Rey yang sudah membuat kegaduhan kembali ke rumah.
“tapi aku sangat mencintai Kasih, Ayah!” sanggah Rey tegas
“Ayah tidak masalah jika yang kau cintai adalah gadis lain, Nak. Tapi ini adalah istri tuan Smith. Apa kau ingin menghancurkan keluarga ini?” balas Ayah Rey marah
“aku yang lebih dulu mencintainya, Ayah. Aku tumbuh besar bersamanya. Aku tidak rela jika ia dimiliki oleh orang lain” kata Rey lirih dan mulai meneteskan airmata. Ia menangisi ketidakmampuannya melawan tuan Smith dan menyelamatkan cintanya, Kasih.
“aku harusnya mengatakan padanya tentang perasaanku ini sejak dulu, aku harusnya ada disisinya saat keluarganya mengalami musibah sehingga peristiwa memilukan dalam hidupnya tidak perlu terjadi. Aku harusnya bisa mencegah semua itu, Ayah. Dan aku tidak perlu kehilangan orang yang kucintai. Aku benar-benar seorang pecundang yang tidak berguna!” ujar Rey bernada pilu diiringi tangisnya yang pecah. Melihat anaknya yang tampak putus asa membuat amarah sang Ayah seketika mereda lalu menarik sang anak kedalam dekapannya.
“tenanglah, Nak! Ini semua adalah takdir. Kau tidak salah apapun dan jangan menyalahkan dirimu sendiri”
Flashback off
Dari kedua mata Rey mengalir airmata dengan derasnya, ia sedang menangis dalam diam sembari memandangi gumpalan awan yang berada di luar pesawat melalui jendelanya. Pesawat yang ditumpanginya adalah pesawat pribadi, jadi tidak ada siapapun disampingnya saat ini dan ia bisa dengan leluasa meluapkan kesedihannya tanpa ada satupun yang akan menyela “aku sungguh mencintaimu, Kasih! aku sangat menyesal tidak memiliki keberanian terhadap perasaanku sendiri, aku terlalu pengecut untuk mempertahankanmu. Maafkan aku... maafkan aku, Kasih. aku mencintaimu”
***
Ditengah malam tuan Smith terbangun karena suara Kasih yang sedang mengigau. Tuan Smith bangkit dari tidurnya dan mencari keberadaan gadis yang sudah menjadi istrinya itu.
“kamana gadis bodoh itu?” guman tuan Smith merasa heran tak mendapati istrinya disebelahnya.
Diliputi rasa penasaran ia pun mengedarkan pandangannya kepenjuru kamar. Samar-samar ia melihat sang istri yang sedang tertidur diatas sofa.
“apa yang dilakukan bocah bodoh ini disini? Apa dia tidak ingin tidur seranjang denganku?” ucap tuan Smith mendengus sembari menatap wajah Kasih yang sedang menangis dalam tidurnya.
__ADS_1
Kasih terlihat sangat menderita dalam tidurnya. Ia menangis tersedu-sedu sembari terus mengumamkan nama Rey
“ternyata ia sangat menyukai bocah tengik itu” Tuan Smith duduk disamping Kasih sembari terus menatap wajah Kasih yang kini sudah bercucuran keringat.
“aku tidak peduli siapapun orang yang kau cintai. Selama kau adalah ibu dari anakku, aku tidak akan pernah melepaskanmu, Kasih” ucap tuan Smith sembari jarinya menelusuri wajah Kasih lalu diam-diam mengecup bibir mungil itu.
Tuan Smith lalu mengangkat tubuh Kasih perlahan dan memindahkannya keatas kasur tepat disebelahnya.
“tidurlah, istriku” tuan Smith lalu memakaikan selimut pada tubuh Kasih dan ikut tidur disampingnya.
***
Pagi hari Kasih terbangun dengan keheranan karena ia sudah berada di atas kasur dan bukan diatas sofa. Dialihkannya pandangannya kesebelahnya dan mendapati tuan Smith yang sedang tertidur pulas disampingnya. ‘astaga! Apa aku dan pria gila ini sudah tidur seranjang...lagi???’ seru Kasih dalam hati.”Ah! bodohnya aku kenapa hal ini bisa terulang lagi. Tunggu sebentar, semalam aku ingat aku tidur disofa, lalu siapa yang memindahkan aku kesini?” Kasih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi padanya, mencari jawaban mengapa ia bisa terbangun diatas kasur dan bukan di sofa” apa pria gila ini yang melakukannya?” pikir Kasih sembari menatap wajah tuan Smith yang masih tertidur.
“aku tidak ingin memikirkannya, Hah! Bisa gila aku!” desah Kasih tidak mau ambil pusing lalu beranjak keluar dari kamar itu.
Dengan masih menggunakan piayama tidurnya Kasih terlihat keluar dari kamar tidur utama dan tidak sengaja berpapasan dengan John yang hendak melakukan tugasnya membantu menyiapkan keperluan tuan Smith dipagi hari.
“selamat pagi, Nyonya” sapa John sembari membungkuk hormat
“selamat pagi, bisa tolong jangan memanggilku dengan sebutan itu?” tanya Kasih kemudian
“maafkan saya Nyonya, saya tidak bisa. Itu adalah..”
“perintah tuan Smith” potong Kasih malas “Yah! Terserah kalian saja, aku pusing. Aku ingin segera mandi” kata Kasih bergegas pergi meninggalkan John yang menatapnya bingung dan hanya bisa mengangkat kedua bahunya lalu pergi melakukan tugasnya.
***
Dimeja makan tampak keluarga Kasih dan juga Karina yang semalam ikut menginap sudah tampak rapi dan bersiap untuk menikmati sarapan. Para pelayan terlihat berjalan bolak-balik mengantarkan makanan yang akan disajikan sebagai sarapan pagi itu.
“selamat pagi” ucap Kasih sembari menarik kursi makan dan bersiap untuk ikut sarapan
“selamat pagi, kau terlihat kacau” kata Karina yang melihat lingkaran hitam yang ada di mata Kasih
“hmm.. begitulah” kata Kasih asal lalu membalik piringnya ‘aku sangat lelah semalaman mencari kamar kosong yang sialnya malah semuanya terkunci, menyebalkan!’
Ayah dan Ibu saling tatap dan tersenyum penuh arti pada Kasih.
“kau pasti lelah setelah tidur bersama dengan suamimu semalam. Terlebih kau sedang hamil besar” ucap Ayah Kasih seakan mengerti namun sebenarnya ia telah salah paham mengenai apa yang sebenarnya sedang dialami putrinya itu.
“Kasih, kemana suamimu? Bukankah seharusnya kalian turun bersama?” tanya Ibu mencari keberadaan tuan Smith yang belum juga turun untuk makan.
“entahlah Bu, aku tidak tahu.” Ucap Kasih tidak peduli
“apa-apaan sikapmu itu. Kau harus memanggilnya untuk sarapan, bukannya malah acuh tak acuh begitu, Kasih” Ujar Ayah Kasih memarahi Kasih
“Haaahhhh!!! Baiklah! Baiklah! Aku akan memanggilnya kemari supaya Ayah dan Ibu puas” ujar Kasih kesal lalu kembali ke lantai atas untuk memanggil suaminya.
Ayah dan Ibu menggelengkan kepala melihat tingkah putrinya itu “dasar anak itu masih belum bisa bersikap dewasa juga” ucap Ibu Kasih lalu melanjutkan aktivitasnya mengambilkan makanan untuk suami dan anak-anaknya.
Sementara itu...
“apa-apaan pria gila itu, dia tidak hanya menyebalkan tapi juga sangat manja. Hanya untuk makan saja aku harus menjemputnya. Benar-benar menyebalkan!” omel Kasih berjalan kearah kamar utama
Dengan perasaan kesal Kasih membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu
“Hei! Kau harus...” seketika Kasih terhenyak karena pintu yang ia buka tiba-tiba menabrak seseorang dibaliknya dan itu adalah tuan Smith yang akhirnya mengerang kesakitan sembari memegang hidungnya yang tertabrak pintu yang dibuka secara tiba-tiba.
“Aw! Apa yang kau lakukan?!” tanya tuan Smith sembari memegang hidungnya kesakitan
“Astaga! Maafkan aku! Aku tidak melihatmu” ujar Kasih panik dan langsung mendapat tatapan tajam dari tuan Smith “aku tidak sengaja” cicitnya menunduk takut
“apa kau sedang kesetanan? Kau membuka pintu seperti seorang monster” ucap tuan Smith kemudian
“maaf. Tadi aku hanya sedang kesal saja. Aku tidak bermaksud membuatmu terluka, sungguh!” ujar Kasih merasa bersalah sambil menunjukkan jarinya yang membentuk dua jari pada tuan Smith.
“ada apa?” tanya tuan Smith kemudian
“apanya?” tanya Kasih balik dengan tatapan bingung
__ADS_1
Memutar bola matanya bosan “aku bertanya apa yang kau inginkan terburu-buru memasuki kamarku?”
“ah! Aku disuruh memanggilmu untuk sarapan dibawah. Semua orang sudah menunggumu” pungkas Kasih
Tuan Smith dan Kasih lalu berjalan ke ruang makan yang terletak di lantai bawah bersama-sama. Kasih tidak berhenti merasa bersalah dan terus meminta maaf karena tidak sengaja membuat hidung tuan Smith mengeluarkan darah yang cukup banyak.
“selamat pagi tuan Smith” sapa Ayah dan yang lainnya saat tuan Smith dan Kasih terlihat sedang menuju kearah meja makan
“selamat pagi semuanya” balas tuan Smtih sambil menutupi hidungnya
“apa yang terjadi dengan hidung anda, tuan” tanya Ayah Kasih yang terheran melihat tuan Smtih yang terus menutupi hidungnya
“terbentur pintu” sahut Kasih cepat
“Hm! Seseorang membuka pintu dengan ganas dan membuatku menabrak pintu hingga hidungku berdarah” sindir tuan Smith melirik Kasih yang memasang wajah bersalahnya.
Kasih tertunduk merasa bersalah mendengar sindiran tuan Smith itu semua mata menatapnya seakan paham siapa orang yang dimaksud oleh tuan Smith.
“aduh! Hidung anda mengeluarkan banyak darah begitu, pasti terasa sangat sakit” komentar Ibu memberi selembar tissue pada tuan Smith.
“Kasih kau harus merawat suamimu dengan baik” kata Ayah pada Kasih yang hanya diam tertunduk
“maafkan kelakuan putri kami, tuan ia memang sesekali bersikap arogan seperti itu”
“tidak masalah, Ayah mertua” kata tuan Smith “ayo kita mulai sarapannya” ajak tuan Smith kemudian mempersilahkan semuanya untuk makan.
Tuan Smith lalu mengambilkan segelas susu lalu menyodorkannya di depan Kasih yang tengah tertunduk merasa bersalah. “makanlah” ujar Tuan Smith saat Kasih menatapnya heran
“kau juga harus makan istriku, aku tidak ingin anakku kelaparan” katanya kemudian
‘yang ia pedulikan hanya anaknya saja. Menyebalkan!’ Kasih mengambil gelas susu yang disodorkan tuan Smith itu dengan bersungut kesal lalu segera meminumnya
“bagaimana tidur anda semalam, tuan?” tanya Ayah tiba-tiba
“nyenyak sekali, sampai aku tidak sadar tertidur disofa karena terlalu mengantuk” jawab tuan Smith datar
Mendengar itu membuat Kasih yang sedang minum susu seketika terbatuk-batuk tersedak oleh susu yang sedang diminumnya.
“ada apa denganmu, Nak? Kau tersedak? ” ujar Ibu bingung sembari menyodorkan segelas air putih dan mengambil serbet hendak mengelap susu yang berceceran diwajah Kasih.
Tuan Smith tersenyum simpul melihat wajah Kasih yang terlihat malu.
“anda pasti sangat lelah sampai tertidur di sofa, Nak” lanjut Ayah Kasih lagi
“begitulah. Kasih bahkan tertidur pulas setelahnya ” tuan Smith sengaja mengarahkan pembicaraan ini agar orangtua Kasih berpikir bahwa mereka telah melakukan sesuatu sebagai suami istri semalam
“Hei! Apa yang sedang kau bicarakan?!” Sahut Kasih marah dengan nada ditekan
Tuan Smith menarik Kasih kedalam dekapannya dengan paksa sembari terus menampilkan senyumal manisnya pada kedua orangtua Kasih.
“sebaiknya kau bekerja sama jika kau tidak ingin sandiwaramu terbongkar” ancam tuan Smith dengan nada berbisik ke telinga Kasih
Mau tidak mau Kasih hanya bisa memasang wajah tersenyum malu-malu dihadapan orangtuanya dan mengikuti rencana tuan Smith.
“kalian benar-benar sangat romantis” ucap Karina yang tiba-tiba memberi komentar.
“Haha” Kasih tertawa garing sambil menepuk kasar punggung tuan Smith ‘aku benar-benar sudah gila!’
BERSAMBUNG...
__ADS_1