Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 75 Bunuh Diri


__ADS_3

Menjelang pagi hari Tuan Smith yang masih terlelap merasa terusik dengan suara Kasih yang sedang terisak. Pria yang tidak mengenakan sehelai benangpun dibalik selimut tebal yang membungkus tubuhnya itu kemudian menggeliat kecil merasa terganggu dengan suara tangis yang dihasilkan gadis yang semalam telah dipaksanya melayani dirinya. Memang hal itu merupakan hak seorang suami dari istrinya namun tidak benar jika meminta hal seperti itu dengan cara memaksa terlebih semalam Tuan Smith bermain dengan sangat kasar karena hatinya panas terbakar api cemburu.


Rambut dan wajah Kasih tampak sangat berantakan entah sudah berapa kali Tuan Smith melakukan hal itu padanya selama sepanjang malam barulah menjelang pagi pria itu menghentikan perbuatannya yang sangat membuat Kasih sangat jijik dengan dirinya sendiri.


“Ayolah, untuk apa juga kau menangis. Kau melayani suamimu sendiri jadi hal itu bukan masalah,” ucap Tuan Smith masih enggan untuk membuka mata dikarenakan rasa kantuknya.


Kasih tidak berniat untuk menggubris pria yang telah menyakiti hatinya dengan sangat, airmata dikedua pipinya masih mengalir deras kelopak matanya juga tampak membengkak sebab ia tidak tertidur dan hanya menangis sepanjang malam.


“Cepatlah membersihkan dirimu jika kau tidak ingin aku mengulang hal yang semalam dan membuatmu berjalan dengan menggunakan kursi roda.” Tuan Smith berkata dengan nada datar.


Kasih hanya menurut saja menyibak selimut yang membungkus tubuhnya lalu menggerakkan kaki jenjangnya untuk menuruni kasur empuk saksi perbuatan brutal Tuan Smith semalam pada dirinya. Kasih meringis kesakitan di daerah kewanitaannya terasa sangat perih. Kasih tidak mengeluarkan sepatah katapun dan hanya airmatanya yang menganak sungai.


“Minta tolong padaku jika kau membutuhkan bantuan, bukankah kau punya mulut.”


Tiba-tiba Tuan Smith sudah berdiri dihadapannya sedikit membungkuk lalu menggendong tubuh Kasih dengan gaya bridal style. Kasih tidak menolak dan hanya pasrah saja menerima semua perlakuan pria itu. Ia sudah merasa sangat sakit hati hingga tidak lagi merasakan apapun dihatinya. Hanya kehampaan.


Hati-hati Tuan Smith meletakkan tubuh Kasih kedalam bath up lalu menyalakan air hangat dari keran. Kasih diam saja tidak bergerak dan berkata apapun. Pandangan matanya kosong.


Tuan Smith melirik sedikit wajah istrinya itu perasaan bersalah menyusup masuk kedalam hatinya.


‘Maafkan aku, tampaknya aku sudah sangat keterlaluan semalam.’ Ingin sekali Tuan Smith mengutarakan perkataan itu namun tertahan ditenggorokannya lidahnya terasa sangat kelu untuk mengakui kesalahannya sendiri.


Pintu ditutup oleh Tuan Smith membiarkan gadisnya membersihkan dirinya dengan leluasa.


Sementara itu, Kasih yang bengong tiba-tiba berbaring menenggelamkan dirinya sendir ke dalam bath up yang sudah terisi air setengahnya tepat setelah pintu kamar mandi tertutup. Seluruh tubuh polosnya terendam lalu ia menutup kedua matanya membiarkan gelembung udara dari lubang hidung Kasih keluar selama beberapa saat lalu terhenti.


“Apa yang dilakukan gadis bodoh itu di dalam sana? Kenapa dia lama sekali,” Tuan smith melirik jam dinding yang tergantung di dalam kamar sembari menutup laptopnya. Pandangannya beralih pada pintu kamar mandi dimana tadi ia mengantarkan Kasih untuk mandi.


Berjalan perlahan Tuan Smith mendekat lalu mengetuk pintu. “Kasih! cepat sedikit, semua orang sudah menunggu dibawah,” kata Tuan Smith dari balik pintu akan tetapi tidak ada jawaban sama sekali dari dalam membuat Tuan Smith merasa penasaran dan tanpa aba-aba membuka pintu yang tidak terkunci. Tuan Smith sangat kaget melihat Kasih yang sudah tenggelam di dalam bath up. Air keran yang terus mengalir menyeruak keluar dari dalam bath up yang telah terisi penuh. Tuan Smith melangkah cepat menghampiri Kasih lalu mengangkat tubuhnya keatas mengeluarkannya dari dalam air. Gadis itu lunglai tidak berdaya.


Berlari keluar kamar Tuan smith menggendong tubuh Kasih yang lemah menuju keluar. Di lantai bawah ada lobi dimana teman-teman lain yang sedang menunggu mereka terkejut melihat Tuan Smith yang berlari seperti orang gila sambil menggendong Kasih ditangannya. Mereka semua sontak langsung berdiri menghampiri Tuan Smith berusaha mencari tau apa yang telah terjadi.


“Cepat bawakan mobil menuju ke rumah sakit sekarang!” perintah Tuan Smith gusar.


Mereka semua tampak terbengong tak terkecuali Dan yang terpaku melihat Kasih dalam gendongan Tuan Smith dengan wajah pucat.


“Dan!!!” teriak Tuan Smith dengan suara keras seketika menyadarkan pemuda itu dan langsung pergi mengambil mobil seperti perintah Tuan Smith.


Tak satupun dari mereka yang berani membuka suara dan hanya bisa duduk diam sambil memasang wajah gusar.


“Kecepatan penuh! Nadinya semakin melemah!” teriak Tuan Smith pada Dan yang kemudian memacu kendaraan semakin kencang. Dan melirik dari kaca mobil yang menghadap ke bagian belakang dan melihat Tuan Smith yang berkali-kali memberikan nafas buatan pada Kasih sambil sesekali memompa dada gadis itu. Dan merasa ingin marah namun disituasi genting seperti sekarang ini Dan lebih memilih mengesampingkan perasaannya dan mendahulukan keselamatan gadis itu.


Mobil berhenti di depan rumah sakit terdekat dari hotel. Tuan Smith segera turun dan disusul dengan yang lain.


“Dokter! Dokter! Cepat selamatkan istriku!” teriak Tuan Smith memanggil dokter dengan bahasa asing yang sangat fasih. Para petugas medis kemudian segera berlari datang menghampirinya dengan membawa ranjang dorong. Setelah Kasih dibaringkan diatas ranjang dorong, para petugas meminta Tuan Smith untuk menunggu di luar tidak boleh ikut masuk meski Tuan Smith sempat memaksa namun akhirnya ia dapat mengendalikan diri dan menurut.


Tuan Adam menghampiri kakak tirinya yang terlihat sedang sangat kalut, menepuk pundaknya dan berkata, “Duduklah dulu, Kak. Tenangkan dirimu.”


 


 


***

__ADS_1


 


 


Berjam-jam lamanya mereka telah menunggu Kasih yang sedang dalam penanganan dokter di ruang gawat darurat. Karina sampai tertidur dikedua paha Tuan Adam saking lamanya menunggu. Melinda baru saja datang dengan membawakan kopi dan makanan untuk mereka semua. Sedangkan, Dan dan Tuan Smith hanya duduk dengan perasaan campur aduk mereka masing-masing.


“Tuan, makanlah dulu. Anda sejak tadi belum makan atau minum apapun,” ucap Melinda menawarkan segelas kopi yang baru saja dibelinya pada Tuan Smith. Namun pria dingin itu tidak menggubris Melinda dan hanya mengusap pelipisnya kuat.


Pintu tempat Kasih ditangani tiba-tiba terbuka dan keluarlah seorang dokter. Tuan Smith segera bangkit berdiri menghampiri sang dokter. “Bagaimana keadaannya, Dok?” tanya Tuan Smith cepat.


“Nona Kasih sudah terendam air cukup lama dan paru-parunya sempat terisi air. Hal itu membuatnya tidak dalam kondisi baik .... “


“Katakan intinya!” potong Tuan Smith tidak sabaran dengan nada membentak.


“Nona Kasih sedang koma,” ucap Dokter akhirnya. Mereka semua terkejut bukan main mendengar penuturan sang dokter. “Kami sudah melakukan sebisa kami, semoga saja Nona Kasih bisa segera bangun dari komanya setelah melewati masa kritis.”


Tuan Smith yang merasa sangat marah mengepalkan tinjunya dan memukul tembok disampingnya dengan kuat hingga membuat tangannya mengeluarkan darah segar. Mereka semua dibuat terkejut dengan aksi Tuan Smith tersebut.


“Adam! Segera hubungi John untuk mengurus semua hal agar bisa memindahkan Kasih ke mansion segera, katakan padanya untuk mencarikan dokter terbaik untuk merawat Kasih,” titah Tuan Smith berjalan pergi.


“Baik, akan segera kuurus.” Tuan Adam mengambil ponsel dari saku celananya setelah sebelumnya membangunkan Karina terlebih dulu lalu menjalankan perintah dari Tuan Smith.


 


 


***


 


 


Cahaya lembut dari sinar mentari pagi berusaha masuk ke dalam ruang khusus tempat Kasih dirawat. Bunga lily putih tertata di sebuah vas bunga di atas meja nakas dekat ranjang tempat Kasih terbaring tak sadarkan diri dengan berbagai alat bantu penyambung kehidupan yang terpasang pada tubuhnya. Sudah setahun lamanya Kasih terbaring koma tanpa dapat dipastikan kapan ia akan membuka matanya dan menyudahi tidurnya yang panjang.


Tuan Smith duduk disamping ranjang Kasih sembari mendekap tangan Kasih lembut.


“Maafkan aku, kau pasti sangat marah padaku hingga kau enggan untuk bangun dan membuka kedua matamu. Benar juga, kau sangat membenciku. Aku tidak pantas mendapatkan cintamu, Kasih. Tak apa jika kau ingin memarahiku, aku janji tidak akan membuatmu kesal lagi. Aku akan menuruti semua keinginanmu. Kau benar, aku sangat tamak dan angkuh. Aku bilang padamu tidak ada yang dapat mengambilmu dariku, meski itu adalah Tuhan. Kau tau, aku membuat kesalahan besar untuk itu, dan untuk pertama kalinya aku mengakui kesalahanku. Aku sangat merindukanmu, gadis bodoh.” Mata Tuan Smith terllihat meneteskan setetes airmata ia menangis sembari mencium tangan milik Kasih yang tertancap infus.


“Kumohon maafkan aku. Aku sangat mencintaimu, Kasih.” Tuan Smith berkata dengan sungguh-sungguh sembari menangis pilu menatap wajah Kasih sedih.


“Berikan aku kesempatan kedua, kumohon.”


FLASHBACK ON


Dokter spesialis yang menangani Kasih memegang buku laporan atas perkembangan Kasih dan menjelaskannya pada Tuan Smith yang sedang duduk disebelah Kasih sembari tatapannya tak kunjung lepas dari wajah cantik yang entah kapan akan membuka kedua matanya yang biasanya bersinar indah.


“Kondisi Nyonya saat ini berada diantara hidup tapi seperti mati, Tuan,” tutur sang Dokter memberi penjelasan sembari menatap takut kearah Tuan Smith yang sempat menoleh dengan tatapan marah padanya.


“Kasih masih hidup. Lanjutkan analisismu dengan benar. Aku tidak ingin mendengar kau mengatakan bahwa dia sudah mati. Aku tidak peduli apapun kau harus bisa menyelamatkannya,” ucap Tuan Smith mengalihkan pandangannya kembali pada Kasih. “Dia pasti akan segera sadar, pasti.” Tuan Smith mengenggam jemari mengelusnya sayang.


“Baik, Tuan. Maafkan saya,” ucap Dokter itu membungkuk hormat. “Tapi, Tuan ada satu hal lagi yang perlu saya sampaikan pada anda .... “Sang Dokter agak ragu-ragu melanjutkan ucapannya.


“Katakan!” perintah Tuhan Smith saat melihat dokter itu tidak berani untuk melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


“Begini Tuan, menurut hasil pemeriksaan Nyonya muda saat ini sedang mengandung.” Tuan Smith tersentak kaget mendengarkan penjelasan sang Dokter. Ingatannya kembali saat ia memaksa Kasih melakukannya dengannya malam itu. Malam itu, Tuan Smith yang terbakar api cemburu benar-benar tidak melepaskan Kasih dan terus melakukannya hingga ia sendiri merasa kelelahan dan jatuh tertidur disamping Kasih yang tidak berdaya melawannya.


“Tapi, dikarenakan kondisi Nyonya yang koma kami terpaksa harus mengeluarkan janinnya,” lanjut Dokter menjelaskan.


FLASHBACK OFF


Tuan Smith tidak berkata apapun hanya diam menatap wajah Kasih. pria itu tidak pernah ke kantor selama Kasih jatuh koma. Setiap hari ia hanya duduk di samping Kasih dan memperhatikan wajah istrinya sembari membacakan buku novel romantis kesukaan istrinya. Segala upaya telah ia lakukan untuk membuat sang istri kembali sadar dari komanya, akan tetapi hal itu tidak membuahkan hasil apapun. Kasih masih terbaring diatas tempat tidur selama satu tahun dan tidak ada satupun yang dapat menyadarkan sang Nyonya muda dari tidur panjangnya.


Keluarga Kasih yang datang berkunjung sedang duduk diruang tamu bercengkrama dengan Tuan Adam dan Karina.


“Bagaimana perkembangan Kasih?” tanya Ayah Kasih pada Karina dan juga Tuan Adam. Keduanya tidak berkata apapun dan hanya menduduk sedih terdiam. Sudah kesekian kalinya sejak Kasih pulang dari liburan mereka dengan keadaan koma, Ayah dan Ibu Kasih selalu datang berkunjung untuk melihat keadaan putri mereka berharap Kasih sudah akan sadar.


Ibu Kasih hampir menangis memikirkan putrinya yang tak kunjung sadar sang suami hanya bisa memeluk menenangkan perasaan istrinya.


“Baiklah. Tolong kabari kami jika ada perkembangan sekecil apapun.” Ayah dan ibu Kasih berdiri dari duduknya. “Satu hal lagi, tolong katakan pada Tuan Smith untuk jangan menghukum dirinya sendiri. Ini semua sudah menjadi takdir Kasih. Kami permisi dulu, tolong titip anak kami,” lanjut Ayah Kasih pamit pulang.


Karina dan Tuan Adam hanya bisa membungkuk hormat menanggapi ucapan Ayah Kasih.


“John, antarkan paman dan bibi,” kata Tuan Adam pada John.


“Baik. Silahkan Tuan, Nyonya.”


Setelah kedua orang tua Kasih pergi, Karina menghempaskan tubuhnya diatas sofa sembari menangis sedih. Tuan Adam mendekat dan mengelus pelan punggung kekasihnya itu mencoba menenangkan.


“Kau dengar apa kata paman tadi, jangan menyalahkan siapapun dan berhentilah menangis, sayang. Mungkin ini semua adalah memang takdir Kasih dan Kakak bodohku itu. jangan bersedih lagi dan mari kita ajak bayi Ed jalan-jalan. Tersenyumlah! Jangan menampakkan wajah sedihmu itu didepan anak kecil.” Tuan Adam menghapus aliran airmata dipipi Karina dan mengajaknya pergi bermain bersama bayi Ed yang sudah semakin besar. Karina hanya menurut mengikuti arah langkah kekasihnya.


Tuan Adam berbicara dengan bijak memberi pengertian pada kekasihnya itu tidak ingin jika kejadian saat Kasih pertama kali dibawa ke rumah sakit dan sahabat baiknya itu mengamuk marah pada Tuan Smith. Untung saja, Tuan Adam dapat segera menarik Karina pergi dan menenangkan gadis itu, jika tidak, mungkin saja Karina sudah mengambil pisau dan menikam Kakak tirinya. Terlihat sekali jika Karina sangat menyayangi Kasih seperti saudara kandung sendiri. Dirinya merasa sangat marah saat mengetahui fakta bahwa Kasih berusaha mengakhiri hidupnya dengan menenggelamkan diri di dalam bath up berisi penuh dengan air hingga membuatnya jatuh koma tak sadarkan diri selama setahun ini. Karina benar-benar tidak mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh Kasih sehingga melakukan hal itu, setahunya Kasih merupakan gadis yang kuat dan tidak mungkin ia akan mengambil tindakan sebodoh itu. Hanya saja, Karina tidak mengetahui fakta sebenarnya bahwa Kasih telah mengalami hal yang membangkitkan trauma masa lalunya selama ini. Tuan Smith telah membuat gadis itu ketakutan dan mengguncang psikologisnya secara tidak sengaja hanya karena rasa cemburu.


Samsak di hadapannya menjadi tempat pelampiasan amarahnya selama ini. Sejak Kasih jatuh koma dan tak sadarkan diri, Dan selalu datang menyendiri dan mengahajar samsak sebagai alat melampiaskan amarah yang terpendam didalam hatinya.


Nafas Dan terengah-engah menatap datar samsak dihadapannya. Keringat mengucur deras di seluruh wajah dan tubuh berotot miliknya.


Satu pukulan keras terakhir dilayangkan Dan kearah samsak lalu bangkit berdiri meninggalkan tempat itu.


 


 


BERSAMBUNG...


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2