
Sesampainya di rumah neneknya, Kasih menyuruh Dan untuk menunggunya dimobil.
“Aku hanya sebentar, kau tunggu disini.”
“Baiklah.”
Kasih lalu pergi meninggalkan bayi Ed bersama Dan dimobil. Melangkah dengan pasti memasuki kediaman sang Nenek yang kemudian ia langsung disambut oleh beberapa pelayan kediaman itu sembari menatapnya heran. Pasalnya Kasih memang hampir tidak pernah muncul di kediaman sang nenek sama sekali. Maka dari itu, mereka yang bekerja di rumah itu pasti tampak asing dengan kehadiran Kasih.
Di dalam rumah sang nenek sudah menantikan kedatangan Kasih setelah sebelumnya cucunya itu telah menghubunginya dan meminta untuk bertemu.
“Kau akhirnya datang, cucuku tersayang,” ujar sang Nenek berbasa-basi menyambut kedatangan Kasih. “Oh! Kau tidak bersama bayimu? Sayang sekali, padahal Nenek ingin melihat wajahnya,” kata Nenek Kasih setelah menyadari Kasih sedang tidak membawa bayinya.
“Tidak perlu berbasa-basi, Nenek. Aku datang kesini bukan ingin mendengar ocehanmu yang memuakkan itu,” ujar Kasih bernada dingin.
Nenek Kasih tertawa meremehkan lalu berkata dengan nada ramah yang dibuat-buat, “Jika begitu, duduklah dulu. Apakah kau ingin meminum sesuatu?”
Kasih menatap tajam kearah Neneknya seakan memberi penekanan jika ia sedang tidak ingin banyak berbicara.
“Heh! Baiklah. Langsung saja pada intinya. Kau pasti datang kesini karena mendengar keluh kesah Ibu bodohmu itu, bukan?”
“Nenek! Dia adalah Ibuku, orang yang telah melahirkanku ke dunia. Tidak bisakah Nenek sedikit saja menghargainya? Jika tidak bisa menyayanginya mengapa harus membencinya seperti itu. Ibu sangat baik, selalu berusaha menyenangkan hati Nenek. Tapi, Apa yang ia dapat? Disayangi saja tidak, tapi kini Nenek malah berusaha menghancurkannya. Apa Nenek tidak punya hati nurani?!” tutur Kasih meluapkan kekesalan dihatinya.
“Hati nurani, katamu?” Nenek Kasih berkata dengan nada sarkas. “Apa kau lupa status ibumu itu sangat memalukan bagi keluarga ini? pernikahan ibumu dan ayahmu adalah noda yang sudah mencoreng wajah kami!”
Hati Kasih sangat sakit mendengar perkataan dari Neneknya. Airmatanya tak kuasa lagi ia bendung.
“Nenek, apakah Nenek ada sedikit saja menyanyangi kami cucu-cucu Nenek? Kami adalah darah daging ayah. Kami tidak minta untuk dilahirkan, kami juga tidak bisa memilih untuk dilahirkan dimana. Jika bisa, aku tidak ingin dilahirkan dikeluarga nenek yang begitu Nenek banggakan ini.” Cecar Kasih dengan pernuh emosi yang membuncah hingga membuat napasanya terengah-engah.
“Apa Nenek pernah sekali saja memikirkan bagaimana perasaanku dan adik-adikku? Apa Nenek pernah sekali saja memikirkan perasaan ibuku? Nenek sungguh keterlaluan, bertindak terlalu jauh dengan mengirim ayah jauh dari kami. Apa Nenek tidak kasihan dengan kami? Kami sekarang sudah hidup sangat menderita, Nek! Kami tidak mendapat bantuan sedikitpun dari Nenek, kami tidak masalah, tapi tolong jangan mencoba untuk mengganggu kehidupan kami lagi. Berhentilah! Tolong!”
Kasih menangis sedih sambil berbicara mengungkapkan kekesalan dari dalam hatinya yang telah ia bendung selama ini dikarenakan sang Ibu yang selalu menghalanginya untuk berbicara langsung dengan Neneknya. Ibu Kasih yang baik hati tentu saja tidak ingin sampai membuat sang ibu mertua semakin membenci dirinya. Ia terpaksa suka tidak suka menerima saja semua perlakuan apapun dari ibu mertuanya itu.
“Sungguhkah begitu? Mengapa Nenek merasa kau berkata begitu seperti sedang merendah dihadapaku? Bukankah sekarang kau adalah Nyonya Alexander yang terhormat? Kau bahkan bisa membeli negara ini jika kau ingin dan sekarang kau malah berkata kau dan keluargamu hidup menderita. Tidak bisa dipercaya!” tutur Nenek Kasih dengan nada sarkas. “Katakan padaku, bagaimana kau meraih posisi Nyonya Alexander? apa kau sengaja merangkak ke atas tempat tidur tuan Smith? Cepat ceritakan padaku. Kau pasti melakukan hal yang menjijikkan sama seperti ibumu itu, benar?”
__ADS_1
Mendengar perkataan dari Neneknya itu membuat Kasih seketika tertohok. Ia sungguh tidak menyangka akan mendengar perkataan yang sangat menyakitkan itu dari Neneknya sendiri. Terlebih Sang Nenek menyinggung pernikahannya yang memanglah hanya sebuah insiden kesalahpahaman belaka.
Melihat Kasih yang hanya diam saja sambil menangis, Nenek Kasih semakin gencar melancarkan perkataan yang sungguh membuat hati Kasih seolah mendidih.
“Ibu dan anak memang sama saja. Sama-sama menjijikkan dan tidak tahu malu. Tapi, tidak apa-apa. Kali ini kau melakukannya pada orang yang tepat. Meskipun aku tidak menyangka kau akhirnya berhasil menjebak seseorang seperti tuan Smith yang luar biasa kaya itu.” lanjut wanita tua dengan pakaian mahal serta perhiasan berlebihan diseluruh tubuhnya itu sembari berjalan memprovokasi cucunya sendiri dengan perkataannya yang merendahkan.
“Ckck! Sebenarnya aku merasa kasihan denganmu, kau diasuh oleh wanita yang .... “
“Hentikan!” Kasih sudah tidak bisa menahan dirinya lagi. Airmatanya sudah sepenuhnya membasahi seluruh pipinya bahkan kini ia sudah mulai sesunggukan karena terus saja menangis. Secara tiba-tiba Dan sudah berdiri disana dan menghampiri Kasih yang kemudian terkejut dengan kehadiran pemuda itu.
“Dan? Apa yang kau lakukan disini?” tanya Kasih terkejut.
“Maafkan saya Nyonya, tapi bayi Ed sudah mulai menangis,” ungkap Dan sembari memberikan bayi Ed pada Kasih.
Kasih mengusap airmatanya cepat lalu mengambil bayi Ed dari tangan Dan. “Aku sudah selesai disini. Mari kita pergi.”
“Kau harus bersiap untuk mengantar kepergian Ayahmu,” sahut Nenek Kasih sebelum Kasih beranjak pergi.
Seketika Nenek Kasih terdiam dan tak mampu membalas lagi. Kasih tidak ingin berlama-lama disana maka ia berjalan cepat meninggalkan rumah itu.
Di dalam mobil sesaat kemudian ia kembali mendapat pesan dari tuan Smith yang menanyakan jam berapa ia akan tiba di mansion. Kasih sama sekali tidak punya mood untuk membalas pesan darinya dan hanya menyimpan kembali ponsel miliknya itu kedalam tas setelah hanya melihat sekilas.
“Apakah kita kembali ke mansion?” tanya Dan dari kursi kemudi melihat wajah Kasih yang sedang menangis sedih.
“Kembali ke mansion.”
***
“kemana gadis bodoh ini pergi? Berani sekali dia membuatku menunggu lama, tidak hanya itu ia bahkan mengabaikan pesanku. Sungguh keterlaluan! Awas saja jika dia sudah kembali aku akan ....”
“Tuan! Nyonya barus saja tiba,” potong John yang bau saja mendapat pemberitahuan dari penjaga gerbang.
Secara cepat wajah Tuan Smith dari yang kesal setengah mati, bak seekor serigala yang siap menerkam siapa saja itu berubah tenang dan menyunggingkan senyum cerianya.
__ADS_1
“Benarkah? Dimana dia sekarang?” tanya Tuan Smith senang.
“Baru saja memasuki gerbang utama, Tuan.” Jelas John.
Tanpa menunggu lama lagi Tuan Smith segera turun ke lantai bawah untuk kemudian bersiap memberi kejutan istimewa untuk Kasih.
Di sisi lain Kasih yang baru saja tiba seketika dibuat terkejut saat ia melihat mansion yang tiba-tiba sudah terlihat sangat ramai dengan berbagai hiasan dan ada banyak orang yang berdatangan.
‘Apa tuan Smith sedang mengadakan sebuah pesta?’ raut keheranan terpatri jelas diwajah Kasih.
Dan yang memperhatikan raut wajah Kasih itu kemudian bertanya padanya, “Apa anda merasa tidak nyaman untuk masuk, Nyonya? Perlukah saya mengantar anda masuk?”
“Tidak perlu. Kau boleh pergi, Dan. Aku bisa masuk kedalam sendiri.”
Setelah berkata begitu, Kasih melangkah masuk sambil menggendong bayi Ed. Dan sejenak menatap Kasih lalu kemudian ia masuk ke dalam mobil dan pergi.
“Selamat ulang tahun, Kasih!” sorak semuanya saat Kasih baru saja masuk.
Kasih yang lupa akan hari lahirnya sendiri sontak dibuat terkejut. Menatap heran pada semua orang yang telah berada di ruangan itu. ‘Apa ini? Apa aku berulang tahun hari ini? Astaga! Aku sudah melupakan hari lahirku sendiri.’
“Selamat ulang tahun,” Tuan Smith menyodorkan sebuket besar bunga mawar merah pada Kasih yang terdiam bengong menatapnya.
“Apa kau sengaja melakukan semua ini?” tanya Kasih pada tuan Smith.
“Apa kau menyukainya?” tanya Tuan Smith balik dengan senyum manis dibibirnya.
Kasih menatap orang-orang disekitarnya dan ia mulai merasa malu. “Apa yang sedang kau lakukan ini? apa kau sedang membuat pesta pernikahan? Begitu banyak orang yang datang dan aku sedang tidak siap untuk ini semua,” Kasih memperlihatkan dirinya yang bahkan hanya berpakaian seadanya dengan mata sembab sehabis menangis.
Tuan Smith kemudian tersadar akan hal itu, ia lalu melirik John dengan tatapan tajam seolah bertanya apa dia tidak mendengar perintahnya tadi. ‘Dasar kau John! Bukankah aku sudah menyuruhmu untuk membuatnya tampil sempurna?!’
John hanya bisa menelan ludah menyadari dirinya sedang ditatap begitu oleh tuannya yang pasti akan membuat perhitungannya dengan dirinya nanti. Sebulir keringat membasahi dahi pria tua itu. ‘Astaga! Dan ... kau sudah membuat masalah besar untukku.’
BERSAMBUNG...
__ADS_1