Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 106 Bukan Orang Asing


__ADS_3

Pagi hari saat sarapan semua orang sedang menikmati sarapan paginya dan tiba-tiba saja Tuan Smith melakukan hal yang membuat semua orang tercengang dibuatnya.


“Kau mau sarapan? Biar kuambilkan untukmu,” ujar Tuan Smith seraya bangkit dari duduknya dan mengambil lauk kepiring Kasih. Sedangkan Kasih yang terlambat bangun hari ini sedang terburu-buru turun ke ruang makan dan merasa sangat bingung mendapati tingkah aneh Tuan Smith yang tidak biasa itu.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Kasih dengan ekspresi herannya menatap bingung kearah Tuan Smith.


“Yeah! Aku baik-baik saja. Kau bisa lihat sendiri aku sangat sehat.”


Kasih melempar pandangannya pada John dan yang lainnya berharap mendapat penjelasan tentang sikap Tuan Smith yang mulai membuatnya sangat bingung.


“Maafkan aku karena terlambat bangun aku tidak sempat menyiapkan keperluanmu pagi ini …” ujar Kasih sambil duduk dituntun oleh Tuan Smith.


“Tidak masalah. Semuanya sudah dikerjakan oleh para pelayan tidak perlu mengkhawatirkan hal itu.”


Kasih merasa sangat aneh. ‘Ada apa dengannya pagi ini? apa mungkin dia telah salah makan sesuatu atau salah minum obat hingga membuat otaknya terganggu? Pergi kemana omelannya yang biasa kudengar itu. Dia selalu mengomel tentang ini dan itu sampai membuat kupingku sakit. Entahlah pria gila ini semakin membuatku merinding saja. Hiiii ….’


“Makanlah. Nanti makananmu jadi dingin,” ujar Tuan Smith pada Kasih yang terlihat sedang bengong.


Kasih menjawab dengan tersenyum kikuk seraya mulai menyantap hidangan dihadapannya. ‘Apapun itu asal jangan kerasukan hantu saja, oh! Aku mulai merasa seluruh bulu ditubuhku berdiri disini apa mungkin sungguhan kerasukan?’


Keanehan itu tidak berhenti disitu saja saat  mereka berada dikantor keanehan itu semakin menjadi. Kasih tiba-tiba saja dikejutkan dengan Tuan Smith yang menempel padanya seperti seekor anak anjing kecil yang lucu yah seharusnya anak anjing lucu, bukan? Sayangnya sikap Tuan Smith yang seperti itu dimata Kasih malah terlihat seperti seekor anak anjing yang menyebalkan baginya.


“Yang benar saja, apa kau akan terus seperti ini?” ucap Kasih sambil memutar bola matanya bosan.


“Seperti apa?” tanya Tuan Smith seolah tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Kasih.


Menghela nafasnya dengan kuat Kasih kemudian mendorong tubuh Tuan Smith agar bisa menjauh darinya hanya saja usahanya itu tidak begitu membuahkan hasil yang berarti karena tubuh Tuan Smith lebih besar dan bobot tubuhnya juga berbanding jauh darinya sehingga dorongan itu tidak terlalu berarti. “Ayolah! Apa kau seekor anak anjing? Berhentilah menempel padaku!”


“Aku tidak melakukan apapun.”


“Aku harus bekerja, kau mengerti?” Tuan Smith mengangguk tanda  mengerti akan tetapi ia masih mengikuti Kasih kemanapun wanita itu melangkah.


“Tuan Smith, kumohon. Orang-orang memperhatikan kita. Bisakah kau berhenti melakukan hal konyol ini?” ujar Kasih berbisik pelan pada Tuan Smith yang berada disampingnya.


“Jangan pedulikan mereka. Anggap saja mereka tak ada,” jawab Tuan Smith acuh.


‘Menganggap mereka tak ada? Yang benar saja. Kau pasti sedang bercanda denganku?’


Dada kasih kembang kempis menahan amarahnya bak gunung merapi yang hendak meletus. Cukup sudah Kasih merasa ia sudah tidak tahan lagi dengan tingkah konyol Tuan Smith. Kasih menarik Tuan Smith lalu menyeretnya ketempat yang agak sunyi untuk berbicara dengan leluasa.


Setelah mendorong tubuh Tuan Smith ketembok dan menaruh tangannya tepat disamping tubuh pria itu, ia berlagak bak seorang preman yang sedang memalak seseorang. “Dengarkan aku! Apapun yang ingin kau lakukan, terserah! Aku tidak peduli sama sekali. Tapi …” Menarik nafas panjang sejenak. “Bisakah kau tidak membuatku terlibat apapun denganmu?! Aku sudah merasa sangat muak dengan semua kekonyolan ini. Hidupku sudah terasa sangat kacau karena aku tidak bisa mengingat siapapun dan apapun di masa lalu aku tidak ingat siapa aku dan hal itu sangat mengesalkan! Aku hanya ingin hidup dengan tenang, bisakah kau menolongku kali ini? kumohon.”


Tuan Smith tersenyum lembut menatap Kasih dengan tatapan penuh kasih.


“Oh, tidak! Kau mulai lagi. Bisakah kita hentikan semua ini? Aku mengerti kau pasti sangat merindukan istrimu dan wajah ini, yah wajahku ini kuakui memang sangat mirip dengannya wajar jika kau menjadi bingung membedakan kami. Tapi tetap saja aku dan istrimu adalah orang yang berbeda. Kami adalah dua orang yang sangat! Sangat! berbeda. Tolong pahami itu.”


Tuan Smith tidak bergeming tatapan matanya hanya terus tertuju menatap kedua mata Kasih lekat membuat wanita itu merasa sedikit risih.


“Ada apa? Ada apa dengan tatapan itu?” tanya Kasih sembari menggaruk belakang lehernya yang tak terasa gatal. ‘Ada apa dengannya apa mungkin perkataanku tadi melukai perasaannya? Haah! Semua ini sungguh membuatku sesak.’


“Kasih.”


“Oh?”

__ADS_1


“Ayo, pergi berlibur.”


“Hah?”


Suara gesekan roda koper yang bergesekan dengan lantai bandara menggema menambah kebisingan suasana di bandara kota. Tampak keluarga Alexander sedang berjalan menuju pesawat pribadi untuk memulai liburan mereka.


“Yang benar saja, ada hal bagus apa sampai liburan mendadak begini aku sampai harus meninggalkan sekolahku padahal sebentar lagi akan ada ujian. Bagaimana bila aku tak sempat mengikuti ujian?” keluh Ed Alexander merasa kesal karena tiba-tiba sang Ayah memaksa mereka semua untuk pergi berlibur.


“Kau? Mengkhawatirkan apa? Kau pasti bercanda,”  tutur Kasih mengomentari Ed yang ia yakin tidak benar-benar mencemaskan ujiannya. “Kau tidak pernah sekalipun mendapat nilai dibawah 100 dalam pelajaran apapun dan kau masih mencemaskan ujian? Yang benar saja, jika aku guru sekolahmu aku pasti akan langsung meluluskanmu tanpa membuatmu ikut ujian segala.”


“Ck! Memang ada yang seperti itu?”


“Tidak ada sih, hanya saja ....”


“Dasar pembual.”


“Eh??? Kau bilang apa tadi? Kau sedang mengataiku? Apa kau tidak tau aku jauh lebih tua darimu? Aku memang terlihat muda tapi aku ini orang dewasa kau harus bersikap hormat pada orang yang lebih tua darimu,” omel Kasih kesal pada Ed Alexander. John dan Wendy yang melihat keduanya hanya bisa melerai perdebatan itu agar tidak semakin menjadi.


“Untuk apa aku harus menghormatimu, kau kan bukan siapa-siapa bagiku.”


“Wah! Bocah ini sungguh menatangku?”


“Aku tidak punya kewajiban menghormatimu jadi aku tidak akan melakukannya,” tegas Ed keras kepala.


“Dasar bocah ini harus diberi pelajaran, kemari kau dasar bocah nakal!” Kasih mulai marah dan berniat untuk memberi pelajaran pada Ed namun segera ditahan oleh Nona Wendy dan Paman John.


“Nona, mohon tenangkan diri Anda.” Wendy memeluk Kasih dari belakang mencoba menenangkan wanita yang sudah akan mengamuk itu.


“Lepaskan aku, biar kuberi pelajaran anak nakal itu!” Kasih berontak berusaha melepaskan diri.


“Biarkan saja! Apa peduliku dia bukanlah anggota keluarga atau orang penting disini ....”


Belum selesai Ed berbicara ucapannya terpotong akan kehadiran Tuan Smith yang mendadak sudah berdiri tepat dihadapannya.


“Ayah?”


“Kasih adalah orang yang sangat penting, Ed. Ayah tidak ingin kau mengatakan hal buruk lagi tentangnya. Mulai sekarang belajarlah untuk menghormati Kasih selayaknya kau menghormati ibumu,” ujar Tuan Smith bernada dingin.


“Apa?!” Ed merasa sang Ayah lebih membela Kasih daripada dirinya dan hal itu membuat ia merasa sangat marah tidak terima jika sang Ayah direbut oleh orang lain. “Kenapa aku harus melakukan hal itu? Dia hanyalah orang asing!”


“Ed!” Tanpa sadar Tuan Smith berteriak pada Ed hal itu membuat bocah kecil itu semakin marah hatinya terasa sakit ketika sang Ayah memarahinya demi orang lain. Kasih yang melihat hal itu seketika merasa Tuan Smith telah bersikap keterlaluan pada anaknya sendiri. Walau bagaimanapun yang diucapkan oleh Ed ada benarnya dia bukanlah siapa-siapa dalam keluarga itu.


“Ayah jahat! Andai Ibu masih ada aku tidak akan mau tinggal bersama dengan Ayah. Aku benci Ayah!” setelah mengucapkan itu Ed berlari pergi. Dengan cepat John bergegas menyusulnya setelah membungkuk hormat pada Tuan Smith.


“Itu ... Kurasa kau telah bersikap keterlaluan padanya. Biar bagaimanapun yang diucapkannya itu juga tidak salah. Dan lagi dia masih kecil hatinya pasti terluka karena kau membentaknya tadi,” ujar Kasih dengan hati-hati karena ia sendiri merasa pertengkaran keduanya disebabkan oleh dirinya dan ia merasa tidak enak hati akan hal itu. Setelah mengucapkan pemikirannya Kasih berlalu menyusul Ed.


“Tidak, Kasih. Kau adalah segalanya bagiku. Kau bukan orang asing kau itu istriku, ibu dari Ed Alexander!” ucap Tuan Smith seraya memandang punggung Kasih yang perlahan mulai pergi menjauh. Hatinya sangat pedih melihat anaknya sendiri tak mengenali ibu kandungnya bahkan menaruh rasa tak suka padanya. Ia ingin sekali memberitahu kenyataannya pada sang anak akan tetapi hal itu tidak mungkin dilakukannya jika Kasih mulai mengingat semuanya maka kesempatan untuk memulai lagi dengan wanita itu akan sirna dan ia harus bersiap dengan kemungkinan terburuk yaitu kehilangan wanita yang sangat ia cintai, Kasih.


Suasana didalam ruang pesawat terasa begitu hening terlebih setelah pertengkaran barusan membuat suasana semakin canggung. Ed yang masih marah memilih bersikap acuh dan memasang earphone ditelinganya lalu menyetel musik dengan kencang. Sementara Tuan Smith hanya duduk manis dikursi miliknya sambil memasang wajah dingin andalannya.


Perang dingin masih belum usai Ed dan Tuan Smith masih terus bersikap acuh satu sama lain bahkan saat mereka akan masuk kedalam kamar hotel.


“Astaga! Ayah dan anak ini apa mereka pikir ini lucu? Dua-duanya tidak ada yang mau mengalah,” ujar Kasih mengomentari sikap Ayah dan anak itu.

__ADS_1


“Aku lelah ingin beristirahat, sampai jumpa.” Ed segera berlalu tanpa basa basi pergi menuju ke kamar hotel mewah tempat mereka menginap.


“Saya akan membawakan barang milik tuan muda kecil, saya permisi,” ucap John membungkuk lalu mengekori Ed.


Kasih berjalan mendahului Tuan Smith lalu menghadang pria itu. “Apa yang sedang kau lakukan?”


Tanpa aba-aba dengan sekali tarikan Kasih menyeret Tuan Smith ikut dengannya.


“Apa yang kau lakukan? Menarikku seperti ini apa ini sisi dirimu? Kau ternyata sangat agresif juga,” ucapan Tuan Smith membuat Kasih menghentikan langkahnya seketika lalu menatap tajam pria gila itu begitu sebutan Kasih untuknya.


“Kau bodoh?” ucap Kasih dengan nada marah. “Benar-benar! Aku tau kau memang gila tapi ternyata tidak hanya itu kau juga bodoh.”


“Apa maksudmu bicaralah dengan jelas, dan lagi kau mungkin belum tahu sifatku yang lain. Apa kau tertarik untuk mengenalku lebih jauh?” ucap Tuan Smith tidak mengerti dan malah menggoda Kasih dengan ucapannya.


“Ck! Menyebalkan kau benar-benar tidak punya perasaan!” Kasih segera menarik Tuan Smith hingga masuk ke dalam kamar Ed Alexander tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.


“Sedang apa kalian? Menerobos masuk kamar orang lain seperti ini bukankah tindakan kalian ini termasuk ilegal?” ujar Ed dengan nada sarkasnya.


“Ed, Hai.” Kasih melambaikan tangan berusaha bersikap lembut pada Ed. “Ada seseorang yang ingin berbicara denganmu.”


Dengan paksaan dari Kasih meski harus dengan sedikit perasaan ogah-ogah Tuan Smith hanya bisa patuh.


“Cepatlah aku tidak punya banyak waktu. Aku sangat lelah ....”


“Maaf.”


Ed seketika tecengang dibuatnya Baru kali ini ia melihat ayahnya seperti itu. Ia tidak menyangka betapa hebatnya seorang Kasih bisa membuat ayahnya meminta maaf padanya dan berusaha memperbaiki hubungan mereka berdua. Ayahnya yang sangat keras kepala itu begitu patuh pada Kasih.


“Ed, tolong Maafkan aku juga,” ujar Kasih berjalan mendekat.


***


Melinda tampak sedang santai menikmati secangkir teh sembari duduk manis disofa ruang tamu rumahnya yang nyaman. Ia kembali teringat saat Tuan Smith menyuruhnya mengurus tiket penerbangan keluarga Alexander dan mengetahui bahwa Kasih juga ikut serta berlibur bersama keluarga berkuasa itu. Hatinya sangat panas hingga tanpa sadar cangkir yang berada ditangannya tiba-tiba ia lempar hingga hancur berkeping-keping saat menyentuh lantai mewah hunian miliknya.


“Kurang ajar! Bisa-bisanya tuan Smith mengajak wanita itu pergi berlibur bersama. Apa istimewanya wanita tanpa ingatan itu dibanding aku. Setelah semua yang kulakukan untuknya tak sedikitpun tuan Smith melirikku. Aku sungguh tidak mengerti wanita itu tidak pernah mencintainya tapi tuan Smith rela melakukan apa saja untuknya.” Melinda merasa sangat marah lalu memukul dengan keras sofa empuk yang seda didudukinya. “Sialan! Dia bahkan sengaja memanggilkan wanita bodoh itu guru untuk mengajarnya agar aku tidak bisa ke mansion dengan leluasa. Benar-benar menjengkelkan! Rencanaku rusak begitu saja. Lihat saja aku tidak akan membiarkannya begitu berlaku seenaknya.”


***


“Wah! Saya kalah lagi, Nona. Anda benar-benar hebat bermain permainan ini.” Suara lantang paman John terdengar ada juga suara dari Wendy dan Kasih. Suara mereka begitu riuh hingga menarik perhatian Ed yang kala itu sedang lewat.


Karena merasa penasaran Ed berjalan mendekat ingin melihat apa yang sedang mereka lakukan terlihat sangat menyenangkan. Permainan menyusun kayu hingga tinggi menjulang keatas itu adalah permainan kesukaan Kasih dan kedua adiknya waktu mereka kecil tentu saja Kasih sangat mahir memainkannya.


“Nona, saya sungguh tidak bisa melawan Anda. Saya mengaku kalah. Anda hebat sekali. Bisakah Anda mengajari saya?” tutur Wendy kagum pada Kasih.


“Tuan muda kecil,” ucap John menyadari keberadaan Ed Alexander disitu. Segera semua orang menatap kearah Ed.


“Apa yang sedang kalian kerjakan itu? Berisik sekali.” Ed Alexander memberi alasan tidak ingin semua orang mengetahui ia sebenarnya penasaran dengan keseruan mereka.


“Kemarilah, Ed. Bergabunglah bersama kami,” ajak Kasih mengayunkan tangannya memanggil Ed untuk mendekat.


Bukannya segera bergabung Ed malah menunjukkan sikap ogah-ogahan karena gengsinya meski sesungguhnya ia sangat ingin bergabung.


“Ayolah. Aku jamin kau pasti tidak akan menyesal.” Kasih menghampiri Ed lalu menuntunnya ke salah satu bangku disitu. “Semuanya, ayo kita lanjutkan lagi bermainnya kita telah ketambahan satu orang lagi.”

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2