
Kasih diikuti oleh Karina dan Dan yang dengan setia mengawal mereka berbelanja memasuki sebuah toko pakaian pria. Toko itu menjual berbagai macam setelan jas, sepatu, dan berbagai aksesoris untuk seorang pria. Mall ini terkenal dengan harga dan kualitas barang-barang yang dijualnya maka jelas saja semua barang yang dipajang dietalase toko adalah barang yang memiliki brand ternama.
“Apa yang ingin kau cari, Kasih?” tanya Karina sambil matanya menerawang melihat-lihat etalase. Seorang pegawai toko kemudian datang menghampiri mereka dan bertanya, “Selamat datang di toko kami, ada yang bisa kami bantu?”
“Aku ingin melihat koleksi dasi kalian,” jawab Kasih singkat.
Pegawai wanita itu kemudian mengiring mereka ke etalase koleksi dasi di toko itu.
“Ini semua adalah koleksi terbaik kami. Silahkan,” ujar pegawai wanita itu mempersilahkan Kasih untuk melihat-lihat.
“Begitu banyak kepalaku malah menjadi pusing,” gumam Kasih dengan nada pelan saat melihat ada begitu banyak model dan warna dasi dan ia tidak tau harus memilih yang mana.
“Karina!” panggilnya pada Karina yang sedang berada tak jauh darinya.
“Ada apa?” tanya Karina sembari berjalan mendekati Kasih.
“Bantu aku pilih satu untuk si pria gila.”
Alis Karina seketika tertaut menatap bingung ke arah Kasih. ‘Membeli dasi untuk Tuan Smith? Apa sesuatu terjadi antara mereka berdua?’
“Apa yang kau lihat? Cepat bantu aku pilih satu,” sentak Kasih menyadarkan Karina yang tampak termenung.
“Ah! Baiklah. Kau ingin model seperti apa?” tanyanya kemudian.
“Mana aku tau.” Ucap Kasih acuh. “Pilihkan saja sesuai dengan karakter pria gila itu. aku tidak tau apa yang ia sukai.”
“Dasar gadis ini, sengaja membuatku berada dipilihan yang sulit, ya? Tuan Smith memintamu untuk memilihkan untuknya kenapa malah menyuruhku? Sungguh menyebalkan.”
“Lakukan saja jika tidak aku akan mengambil kembali semua belanjaanmu barusan,” ancam Kasih memasang wajah serius.
Karina seketika terkesiap kemudian buru-buru mulai memilih dasi. ‘Kejam sekali. bagaimana cara aku memilihkan dasi yang tepat untuk suaminya? Jelas-jelas yang istrinya bukanlah aku.’ Karina hanya bisa meratapi dirinya sambil sesekali memandang wajah Kasih dari kejauhan. Kasih terlihat senang karena tidak perlu sibuk memilihkan dasi pesanan dari suami menyebalkannya.
“Apa yang kau tunggu? Cepatlah pilih satu,” sahut Kasih dengan nada setengah berteriak.
“Baiklah. Baiklah. Sungguh menyebalkan.”
Kasih tersenyum senang. “Akhirnya aku tidak perlu pusing memikirkan dasi mana yang harus kubeli untuk pria gila itu,” ucapnya merasa lega.
“Oh, Ya! Dan kau pilihlah sesuatu. Aku juga akan membayar untukmu,” kata Kasih pada Dan.
Dan tercengang sembari menatap sang Nyonya dihadapannya. Gadis yang dulu begitu ia dambakan kini telah menjadi majikannya. Sungguh ironis.
“Dan! Apa kau mendengarku?” tanya Kasih melambaikan tangannya pada Dan yang tampak sedang melamun.
__ADS_1
“Ah! Iya, Nyonya. Sepertinya itu tidak perlu,” ujar Dan menolak.
“Tidak bisa begitu. Aku ingin membelikanmu sesuatu. Dan lagi, bukankah aku berhutang budi padamu? Aku tentu harus membalas kebaikanmu itu.” Kasih tersenyum lembut pada Dan. Hati Dan mencelos seketika. Senyum itu, andai saja semua ini tidak pernah terjadi mungkin saja Dan akan sangat bersyukur bisa melihat senyum cantik milik gadis yang sangat ia cintai. Menyakitkan rasanya melihat Kasih menyandang status sebagai istri dari orang yang telah menghancurkan hidupnya dan gadisnya tanpa bisa berbuat apapun.
“Bagaimana dengan yang ini?” tanya Kasih mengambil salah satu dasi yang kemudian diperlihatkannya pada Dan.
“Anda sungguh tidak perlu melakukan hal ini, Nyonya.” Dan merasa enggan dan terus menolak. Namun Kasih dengan gigih terus saja mengambil beberapa model dasi lalu kemudian mencocokkannya pada tubuh Dan.
“Aku rasa yang ini juga terlihat bagus,” ucap Kasih sembari memasang pose berpikir. “bagaimana menurutmu, Dan?” tanya Kasih meminta pendapat Dan.
Dan tersenyum menanggapi. “Apapun yang anda pilihkan saya akan memakainya.”
“Benarkah? Kalau begitu aku ambil yang ini saja,” kata Kasih tersenyum senang.
“Hei aku sudah selesai, aku yakin tuan Smith pasti akan menyukai dasi pilihanku,” ujar Karina dengan percaya diri saat menghampiri Kasih dan Dan dengan sebuah dasi pilihannya ditangannya.
“Baiklah. Ayo kita pergi ke kasir.”
Mereka telah selesai berbelanja dan hendak pulang namun secara tidak sengaja Kasih melihat seseorang yang paling tidak ingin ia lihat. Seketika itu juga Kasih hanya bisa mematung di tempat ia berdiri. Sekelilingnya terasa hampa dan kosong. Tubuhya bergetar hebat dengan nafas yang tercekat.
FLASHBACK ON
Saat itu Kasih masih berstatus sebagai pelajar tingkat menengah. Bel berbunyi menandakan waktu istirahat pelajaran telah dimulai dan seluruh siswa banyak yang bergegas menuju kantin sekolah untuk membeli makanan tak terkecuali gadis manis bernama Kasih. ia berjalan diantara para murid lain yang juga ingin pergi ke kantin. Belum sampai di kantin dirinya telah mulai digoda oleh beberapa seniornya yang terkenal playboy dan suka menjahili juniornya. Kasih berjalan tanpa menghiraukan para seniornya itu.
Langkah kaki Kasih seketika terhenti saat sebuah lengan dari salah seorang seniornya menghadang dirinya.
“Apa ... yang kalian inginkan? Minggir!” kata Kasih tegas.
Para seniornya itu tidak bergeming dan hanya tertawa-tawa.
‘Ya Tuhan aku merasa sangat takut. Apa yang harus aku lakukan? Tenang Kasih kau harus tenang.’
Kasih mulai merasa takut namun ia berusaha tampak kuat di depan para seniornya itu.
“Kasih, Gadis cantik dan pintar dari keluarga Avisha. Apa kau mau jadi pacarku?” tanya seniornya yang bernama Brandon.
“Aku tidak ingin berpacaran. Aku ....”
Seniornya yang bernama Brandon itu kemudian dengan cepat meraih pipi Kasih dan menariknya mendekat pada wajahnya sendiri. Kasih terkejut . Ia dapat merasakan tubuhnya terasa dingin karena takut namun ia tidak dapat berbuat apapun karena para seniornya yang semua adalah laki-laki itu berdiri mengelilingi dirinya. Diliriknya para murid yang berjalan melaluinya dengan cueknya tanpa mau peduli pada dirinya apalagi menolongnya.
“Bukankah aku sangat tampan, Kasih? semua gadis menyukaiku dan ingin menjadi pacarku. Ada apa denganmu tidak ingin menerima pernyataan cintaku. Huh? Katakan padaku.”
“A ... aku. Aku sungguh tidak ingin berpacaran. Aku akan memberi kalian uang dan biarkan aku pergi, okay?” ujar Kasih dengan suara bergetar takut. Digenggamnya dengan erat cemilan yang tadi ia beli dari kantin.
__ADS_1
Para seniornya itu tertawa keras. Kemudian Brandon mengeraskan cengkramannya pada pipi Kasih hingga membuat Kasih hampir menangis ketakutan. Ia berusaha menahan tangisnya dihadapan semua orang yang membully dirinya. Tidak hanya sekali dua kali Kasih menerima tindakan bully dari orang-orang disekitarnya. Seniornya yang bernama Brandon ini, ia mengetahui jika Brandon menyukai dirinya namun ia sama sekali tidak tertarik pada Brandon yang notabene adalah seorang playboy dan berandalan yang suka membuat masalah di sekolah. Maka dari itu Kasih selalu menolak pernyataan cinta Brandon dan berusaha menghindar darinya.
“Apa kau pikir aku butuh uangmu?” tanya Brandon dengan nada mengintimidasi. Lalu selanjutnya yang terjadi adalah para seniornya itu melakukan pelecehan pada diri Kasih. Mereka memegang daerah intim Kasih secara bergantian. Kasih yang tadinya tidak ingin menangis akhirnya menangis juga memohon mereka untuk melepaskan dirinya namun para pemuda kurang ajar itu mengacuhkannya dan terus melakukan aksi keji mereka. Kasih sempat memohon bantuan dari para murid yang lewat, namun tidak ada satupun yang berniat untuk menolongnya.
Hingga akhirnya setelah puas mempermainkan Kasih para pemuda bajingan itu kemudian pergi meninggalkan Kasih yang hanya bisa menangis sembari merosot ke lantai dengan semua cemilan yang tadi ia pegang kini telah berserakan di lantai karena ia melakukan perlawanan dengan memukul para pemuda itu dengan kresek cemilannya. Ia menyesali dirinya yang tidak dapat berbuat apa-apa.
FLASHBACK OFF
“Kasih?! apa yang terjadi padamu?” tanya Karina khawatir melihat raut wajah Kasih yang terlihat pucat dan tubuhnya yang gemetaran.
Kasih diam tidak merespon secara tiba-tiba airmatanya mulai membasahi kedua pipi gadis berparas cantik dan manis itu. Melihat hal itu Dan bergegas mendekati Kasih untuk memeriksa keadaannya.
“Nyonya? Apa yang terjadi?” tanya Dan pada Kasih yang diam mematung pandangannya lurus menatap penyebab ia bertingkah seperti itu.
“Nyonya, jawablah!” Dan mulai terlihat gelisah. “Nyonya!”
Tanpa berkata apapun Kasih berbalik berlari pergi meninggalkan Karina dan Dan yang kebingungan dengan sikap Kasih yang tiba-tiba berubah menjadi aneh.
“Kasih!” panggil Dan spontan meneriaki Kasih yang telah berlari menjauh.
“Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia bersikap seperti itu?” tanya Karina pada Dan.
“Aku juga tidak tau. Kau tunggulah aku di mobil. Ini kuncinya. Aku akan pergi menyusulnya dulu,” ucap Dan tampak sangat khawatir sembari memberikan kunci mobil pada Karina. Ia belum sempat berkata apapun Dan sudah berlalu pergi menyusul Kasih.
“Apa yang terjadi padanya? Jika tuan Smith mengetahui ia kabur tiba-tiba begini bisa gawat nantinya!” gumam Karina cemas.
BERSAMBUNG....
__ADS_1