
Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Di dalam mobil Kasih sedang menatap wajah bayinya yang berada di dalam car seat dengan tatapan sedih.
‘Maafkan Ibu, Nak. Ibu tidak bermaksud memanfaatkanmu. Ibu hanya bisa menggunakanmu sebagai alasan bagi ibu untuk keluar dari mansion. Jika tidak begitu, Ayahmu itu pasti akan melarang ibu untuk pergi. Maafkan Ibu, okay?’ batin Kasih merasa bersalah pada bayinya. Tuan Smith yang overprotektif namun malah sangat cerewet dan menyebalkan baginya.
“Berhenti.”
Dan menatap Kasih dari kaca spion dengan tatapan bingung.
“Apa yang kau lakukan? Kubilang hentikan mobilnya,”ucap Kasih dengan nada lebih keras. Mobil berhenti lalu kemudian Namira dan Dita muncul menghampiri mobil. Buru-buru Kasih membuka pintu mobil Dan yang tidak mengerti hanya bisa terbengong memperhatikan.
“Terima kasih telah datang,” ucap Kasih senang.
“Tidak masalah, Nyonya.”
Kedua pengasuh itu tersenyum dan memberikan sebuah tas pada Nyonyanya.
“Terima Kasih. Kalian luar biasa,” puji Kasih dengan mata berbinar sembari mendekap tas yang tadi diserahkan oleh pengasuh padanya.
Mobil yang dikendarai Kasih melaju pergi meninggalkan kedua pengasuh Namira dan Dita yang membungkuk hormat mengantar kepergian sang majikan.
Baru saja Namira dan Dita hendak berjalan pergi, kedua pria berpakaian serba hitam menghampiri kedua gadis itu.
Melenguh sedih Kasih baru saja menghitung jumlah uang yang tadi diberikan pengasuh padanya. Kasih harus menelan pil pahit menerima kenyataan bahwa uang yang dipinjami bank pada kedua pengasuh tidaklah cukup untuk membantunya mengenapi uang 50 milyar yang diminta oleh Brandon darinya.
FLASHBACK ON
“Aku membutuhkan kalian melakukan sesuatu untukku. Maukah kalian membantuku?” tanya Kasih menatap penuh harap pada Namira dan beralih pada Dita. Kedua pengasuh itu saling bersitatap.
“Apa yang perlu kami lakukan, Nyonya?” tanya Dita.
“Aku butuh uang.” Namira dan Dita tertegun berpandangan satu sama lain tidak mengerti dengan pernyataan sang majikan. Bagaimana mungkin seorang Nyonya Alexander kekurangan uang?
“Kalian jangan salah paham dulu. Aku tidak seperti yang kalian bayangkan ....” Kasih lalu menjelaskan permasalahannya pada dua gadis yang sudah dianggapnya seperti sahabat. ‘Mana mungkin aku menggunakan uang pria gila itu? uang 50 milyar dipakai dalam sekejap pasti akan menimbulkan kecurigaan. Aku hanya bisa mengandalkan diri sendiri untuk mengumpulkan uang sebanyak itu.’
“Bukankah lebih baik jika anda menceritakan masalah ini kepada tuan, Nyonya? Semuanya pasti akan lebih mudah.”
“Tidak. Jangan sampai ia mengetahuinya,” kata Kasih cepat. “Aku tidak ingin ia mengetahuinya.”
“Tapi Nyonya ....”
“Kumohon ... bisakah kalian tidak usah menyuruhku meminta bantuannya. Aku hanya butuh bantuan dari kalian berdua untuk memijamkan uang di bank untukku. Aku yang akan melunasi semuanya. Aku juga akan membayar jasa kalian berdua.” Kasih berusaha meyakinkan.
“Nyonya jangan berkata begitu. Anda sudah sangat baik pada kami. Apapun yang terjadi kami akan tetap membantu anda, tidak perlu memberi kami apapun kami pasti akan tetap membantu anda,” ucap Namira tulus sembari tersenyum lembut pada Kasih.
“Terima kasih.” Kasih tersenyum hangat seiring hatinya yang dialiri kebahagiaan karena merasa benar-benar menemukan sahabat yang baik selain Karina.
FLASHBACK OFF
‘Ada apa denganmu, Kasih? kau tampak sedang berada dalam kesulitan.’ Dan memperhatikan raut wajah Kasih yang terlihat sangat kebingungan sambil memegang tas ditangannya. ‘Apa yang diberikan kedua pengasuh itu padamu? Apa kecemasanmu itu berasal darinya?’
‘Dimana aku bisa mencari kekurangan uang yang begitu banyak?’ Kasih mendesah lemas pikirannya melayang mencari cara untuk mendapatkan uang secepat yang ia bisa.
“Nyonya?!” seru Dan dengan suara agak meninggi. Hasilnya membuat Kasih terkesiap tersadar dari pikirannya.
“Ada apa, Dan? Kau mengagetkanku.”
“Maafkan saya, Nyonya. Sejak tadi saya berusaha memanggil anda. Tapi sepertinya anda sedang banyak pikiran.”
“Aku baik-baik saja. Tidak seperti yang kau pikirkan,” kilah Kasih menatap kearah lain saat matanya dan mata milik Dan bertemu dari pantulan spion yang digunakan Dan untuk memperhatikan Kasih.
Ting!
BAWA KASIH KEMBALI KE MANSION SEKARANG!
__ADS_1
Begitulah bunyi pesan singkat yang dikirmkan keponsel Dan dari sang Bos.
“Kita harus kembali ke mansion sekarang, Nyonya.” Dan memutar kemudi mobil bersiap untuk kembali menuju ke arah mansion. Kasih terkejut keherenan.
“Apa yang kau lakukan? Aku masih ingin pergi ke suatu tempat kenapa kau malah berputar arah?” pekik Kasih pada Dan.
“Ini adalah perintah dari Tuan, Nyonya.”
“Apa?” Bola mata Kasih membulat tidak percaya.
***
Seorang pria menduduki ujung meja kerjanya sambil melipat kedua tangannya didepan dada tepat disaat bersamaan Kasih yang baru saja sampai di mansion masuk membuka pintu. Suasana tegang seketika membuat Kasih merasa kebingungan.
“Apa yang dilakukannya?” tanya Kasih dengan suara pelan sambil menatap Tuan Smith yang tampak memasang ekspresi serius padanya.
Dengan isyarat telunjuknya menyuruh Kasih untuk berjalan mendekat kearahnya. Kasih menatap kebingungan lalu John datang mengambil kereta bayi Ed dari tangannya.
“Ada apa ini?” tanya Kasih meminta penjelasan pada Tuan Smith.
“Kau benar-benar sangat berani,” ucap Tuan Smith penuh tekanan dengan suara yang dingin. Sebelah alis Kasih terangkat naik ia semakin bingung dibuatnya.
“Jika tidak ada urusan lagi aku naik dulu, aku sangat lelah ....” Belum juga Kasih menyelesaikan ucapannya dirinya dikejutkan dengan kemunculan Namira dan Dita dihadapannya. Lidahnya kelu tak dapat berkata-kata. Dengan cepat Kasih membalik tubuhnya menghadap Tuan Smith.
“Aku bisa menjelaskan ... ”
Beberapa berkas terongok diatas lantai setelah dilempar oleh Tuan Smith kehadapan Kasih. Kasih dibuat tidak percaya dengan isi berkas itu.
‘Apa-apaan ini?! dia memata-mataiku?! Sungguh mengerikan!’
“Apa kau bisa menjelaskan apa maksud dari semua itu, sekarang? Kasih?!”
“Itu, itu bukan urusanmu,” balas Kasih memberanikan diri.
Mendengar perkataan kasih yang seolah menantang dirinya membuat amarah Tuan Smith tersulut. Bangkit berdiri lalu dengan langkah lebar berjalan cepat kearah Kasih menarik istrinya itu mengikutinya.
“Lepaskan! Ada apa denganmu?” tanya Kasih tidak mengerti sambil berusaha melepaskan cengkraman kuat jemari Tuan Smith dari tangannya.
Tuan Smith yang sedang marah tidak menjawab pertanyaan sang istri. Langkah kakinya berhenti di depan kamar mereka membuka pintu kamar lalu melempar Kasih ke dalam hingga membuat Kasih Jatuh terjerembab di atas lantai yang dingin.
“Apa yang kau lakukan?! Sudah gila, ya?!” geram Kasih mengusap lengan dan lututnya yang terasa sakit membentur lantai. Dilengannya tercetak bekas jemari Tuan Smith yang memerah.
“Cepat jelaskan, kenapa kau berbohong padaku! jelaskan sekarang selagi aku masih memberimu kesempatan untuk berbicara.”
‘Dasar pria gila sialan! Selain membuatku kesal dan menyakitiku, aku penasaran apalagi yang bisa pria ini lakukan.’
“Katakan!” desak pria yang sedang terbakar amarah itu.
Diam sejenak Kasih berusaha memutar otaknya untuk memberi alasan yang tepat. ‘Aku sudah ketahuan begini, berbohongpun sudah tidak berguna lagi. Tapi, tidak mungkin juga aku mengatakan yang sebenarnya padanya, kan? Haish! Benar-benar membuatku gila.’
“John!”
“Iya, Tuan.” John datang menghampiri Tuan Smith sembari membungkuk memberi hormat.
“Berikan hukuman pada kedua pengasuh itu karena sudah berani menentangku,” kata Tuan Smith dengan nada datar. Mata Kasih membulat seketika berjalan cepat lalu menarik tangan Tuan Smith. “Apa yang kau lakukan. Aku yang telah berbohong padamu. Mereka sama sekali tidak bersalah.”
__ADS_1
Tuan Smith menepis tangan Kasih. “Mereka membantumu untuk menentangku, tentu saja mereka harus mendapat hukuman untuk itu. Dan untukmu ... “ Telunjuk Tuan Smith terarah pada Kasih. “Kaupun akan menerima hukumanmu.”
“Jelaskan padaku kenapa kau sampai melakukan hal kejam ini padaku? jika ingin menghukum, hukumlah aku. Untuk apa kau melibatkan orang lain dengan kesalahan yang kubuat?! Kau benar-benar membuatku muak!!!” teriak Kasih marah.
“Bersiaplah menerima hukuman dariku. Selama 3 hari ini kau tidak boleh keluar dari kamar tanpa ijin dariku. Jika kau berani melanggar maka aku tidak hanya akan menghukummu, tapi semua pelayan yang berada di mansion ini juga. Camkan itu!”
“Dasar gila! Kau tidak bisa melakukan itu padaku. Aku bukan hewan peliharaan yang bisa kau kurung sesuka hatimu. Aku punya hak untuk kemanapun aku ingin pergi! Cepat tarik hukumanmu untuk Namira dan juga Dita kau tidak boleh melakukan itu pada mereka berdua.” Kasih berteriak kencang namun diacuhkan oleh Tuan Smith yang melangkah keluar lalu mengunci Kasih dari luar.
“Hei! Aku berbicara padamu apa kau mendengarku?! Dasar pria gila menyebalkan! Sial! Argh!” Kasih berteriak frustasi sembari menendang pintu yang terkunci.
Tuan Smith melempar kunci sembari melewati Wendy yang dengan sigap langsung menangkap kunci kamar Kasih.
“Jangan biarkan dia keluar dari kamarnya,” ucap Tuan Smith sambil lalu tampaknya kemarahan masih menguasai hatinya.
“Baik, Tuan.” Wendy membungkuk hormat. ‘Nyonya, apa yang telah anda lakukan hingga membuat Tuan murka?’
***
Dengan kesal Tuan Smith menyapu semua benda yang berada diatas meja kerja miliknya menggunakan tangannya. Hanya butuh sekali sapuan saja maka semua benda itu berjatuhan kelantai dan hancur berserakan.
“Berengsek! Sialan! Berani sekali gadis bodoh itu padaku!” erangnya marah. Kepalan tangannya ia banting ke atas meja hingga berdarah.
Tok! Tok!
Suara ketukan pintu terdengar. “Tuan, ini saya.” Kata orang yang mengetuk dari balik pintu.
“Masuk!”
Membungkuk hormat lalu berkata, “Saya sudah mendisiplinkan kedua pengasuh itu sesuai dengan perintah anda, Tuan.” Lapor John.
“Hm.”
“Saya juga menemukan orang yang bertemu dengan Nyonya di kafe, Tuan. Dia adalah senior Nyonya saat masih sekolah. Pemuda itu bernama Brandon. Ayahnya punya sebuah perusahaan otomotif. Dari data yang saya temukan, pemuda itu telah meminta sejumlah uang pada Nyonya.”
Alis Tuan Smith mengernyit. “Hm?!”
John menyerahkan berkas berisi data lengkap yang telah ia kumpulkan pada majikannya. “Pemuda itu pernah membully dan melecehkan Nyonya, Tuan.” John berusaha berkata dengan hati-hati sembari memperhatikan raut muka Tuan Smith yang kini telah berubah menjadi sangat menakutkan. Berkas yang berada ditangannya sudah tak lagi mempunyai bentuk utuh karena diremas sekuat tenaga oleh Tuan Smith.
“Apa barusan kau bilang ayahnya punya sebuah perusahaan?” tanya Tuan Smith penuh penekanan.
“Ya, Tuan.”
“Hancurkan! Jangan sisakan apapun bahkan seluruh keluarganya,” ujar Tuan Smith dengan ekspresi wajahnya yang dingin.
John yang mengerti dengan keinginan Tuannya membungkuk hormat lalu pamit undur diri dari hadapannya untuk melaksanakan perintah.
BERSAMBUNG...
__ADS_1