Cinta Itu Kasih

Cinta Itu Kasih
Episode 66 Mabuk


__ADS_3

Mobil yang dikemudikan oleh Dan tampak melaju menuju ke arah mansion. Dan yang menyetir mobil itu sesekali mencuri pandang kearah Kasih dan Tuan Smith yang berada dikursi belakang. Ia merasa khawatir dengan Kasih yang telah sepenuhnya mabuk sambil tidak berhenti meracau.


“Pria gila itu sungguh membuatku kesal setengah mati!” racau Kasih kesal dengan mata setengah tertutup. Tuan Smith menatap Kasih yang sedang mengatai dirinya.


‘Gadis kecil bodoh ini entah sudah berapa gelas yang diminumnya hingga bisa semabuk ini.’


“Aku ingin memukul wajah jeleknya itu hingga tidak berbentuk! Membuatnya babak belur hingga hatiku puas!” kata Kasih dengan suara keras lalu tertawa senang dengan matanya masih terpejam.


Dan melirik wajah Tuan Smith dari kaca spion. Tuan Smith tampak biasa saja menatap wajah Kasih tanpa berkata apapun.


“Pria Gila bodoh! Berani menganiaya anak kecil dan suka seenaknya! Aku tidak berbuat dosa apapun, tapi aku akhirnya malah terjebak dengan pria gila sepertinya. Aku sungguh sial!” lanjut Kasih masih mengeluarkan semua keluh kesah didalam hatinya. “Aku masih kecil dan ingin melanjutkan sekolahku. Disaat semua anak seusiaku bersekolah dengan gembira, aku ...hik! aku malah harus menanggung sakitnya semua hal yang kupunya direbut dengan paksa. Pria gila tak berperasaan itu telah merebut semuanya dariku. Aku benci padanya. Aku ingin dia mati mengenaskan!”


Tidak ada satu katapun yang terlontar dari mulut Tuan Smith. Pria itu hanya menatap wajah Kasih dalam diam. Sedangkan gadis yang sedang meracau itu tiba-tiba bangun dan menghadap Tuan Smith. Jemarinya menarik jas milik Tuan Smith sembari berkata dengan galak.


“Aku sungguh menyedihkan sekali. Hidupku ini sudah tidak berguna. Orang yang sangat aku cintai sudah tidak ada. Aku tidak bisa melanjutkan sekolahku dan aku juga terjebak dengan seorang pria gila yang sangat membuatku muak dengannya. Setiap hari pria gila itu akan membuatku sangat kesal. Aku ... aku sangat tidak bahagia tapi aku juga tidak berbuat apapun. Demi orangtuaku aku bersedia menanggung segalanya.”


Kasih tersenyum kecut seiring airmatanya mengalir membasahi pipi gadis muda yang tengah mabuk itu. Tuan Smith tercengang melihat Kasih yang tiba-tiba menangis setelah sebelumnya ia tampak galak sekali memarahi Tuan Smith dalam keadaan mabuknya.


“Rey ... aku sangat merindukanmu. Hiks! Aku merindukanmu setiap saat sampai aku tidak bisa berkata-kata. Aku hanya bisa menangisimu setiap malam. Hiks! Hiks!” Kasih menangis pilu lalu setelah ia lelah menangis ia pun jatuh tertidur di samping Tuan Smith yang hanya diam memperhatikan Kasih sejak tadi.


Mobil berhenti tepat di halaman mansion. Dan bergegas segera turun dari mobil dan membukakan pintu mobil untuk majikannnya.


“Berhenti,” ucap Tuan Smith menghentikan gerakan tangan Dan saat hendak menyentuh tubuh Kasih untuk dibawa ke dalam mansion. Dan tercengang menatap Tuan Smith yang lalu bergerak menggendong tubuh Kasih dan membawanya masuk ke dalam.


Para pelayan rumah termasuk John dan Wendy yang hendak menyambut kedatangan sang tuan tampak tercengang tidak percaya menatap kejadian langka itu.


“Apakah aku tidak sedang salah lihat?” tanya Wendy pada John dengan nada setengah berbisik sembari terus menatap tuannya yang sedang menggendong Nyonyanya hingga menaiki tangga memasuki kamar utama.


John tersenyum penuh arti. “Sepertinya tuan kita sungguh telah menemukan seseorang yang telah berhasil menerobos masuk ke dalam hatinya,” ucapnya senang.


Wendy menatap John dengan memasang wajah serius. “Apa yang tidak kuketahui? Cepat ceritakan padaku.”


“Cerita apa? Kau sudah melihatnya sendiri.”


“Apa maksud ...mu?” kata Wendy membeo dengan tatapan tidak mengerti.


Dengan hati-hati Tuan Smith meletakkan tubuh Kasih ke atas tempat tidur. Saat Tuan Smtih hendak beranjak pergi tangannya tiba-tiba dicekal oleh Kasih. Tuan Smith menatap wajah Kasih yang matanya masih tertutup dengan pandangan heran. Lalu sejurus kemudian Kasih mendengungkan sebuah nama dengan nada pelan namun masih terdengar jelas oleh Tuan Smith.


“Rey ....”


“Gadis bodoh! Bisa-bisanya menyebut nama pria lain dihadapan suamimu. Apa kau tidak takut padaku?” kata Tuan Smith kesal sembari mencoba melepaskan pegangan tangan Kasih dari lengannya. Lalu Tuan Smith seketika dibuat tercengang saat ia melihat bulir air mata mulai membasahi pipi gadis yang telah menjadi istri dan ibu dari anaknya itu.


“Apalagi sekarang? kau sungguh berani, Kasih. Kau bahkan lancang menangisi pria lain dihadapan suamimu ini. Kau harus kuberi pelajaran.”


“Aku mencintaimu ... Rey.” perkataan itu sempat terucap dari bibir Kasih sesaat sebelum Tuan Smith mengecup bibir merah muda milik gadisnya itu.


“Cintailah aku ... Kasih, aku suamimu bukan pria lain,” kata Tuan Smith melepaskan ciumannya lalu pergi meninggalkan Kasih seorang diri di kamar besarnya.

__ADS_1


Esoknya Kasih terbangun dengan kepalanya terasa sangat berat dan pusing. Ia terbangun karena bunyi suara ponselnya. Masih dengan kedua mata tertutup Kasih meraba-raba mencari keberadaan ponselnya.


“Ibu,” kata Kasih menjawab panggilannya yang ternyata dari sang Ibu.


 


 


***


 


 


“Baiklah. Ibu akan datang menemuimu di mansion.” Panggilan di tutup.


Ayah Kasih berjalan menghampiri sang istri yang baru saja menyelesaikan percakapannya dengan putri tertuanya. Kasih.


“Kau tidak perlu melakukan hal ini, sayang.”


Ibu Kasih menoleh menatap suaminya yang berada dibelakangnya. “Aku tidak peduli dengan tanggapanmu. Aku akan tetap menolong Ibu,” ucap Ibu Kasih teguh.


“Tapi kau akan membuat putri kita dalam kesulitan. Kau tidak boleh berbuat begitu. Apa kau ingin Tuan Smith mengganggap putri kita sebagai beban, hanya karena kita mencampuradukkan masalah keluarga kita pada keluarga Alexander?!” tutur Ayah Kasih. “Aku masih punya harga diri. Aku tidak ingin dicap sebagai kepala keluarga yang gagal karena melibatkan menantuku untuk urusan keluarga.” tegas Ayah Kasih lagi.


“Lalu? Apa kau ingin membuat Ibumu sendiri menderita?” tanya Ibu Kasih dengan nada naik satu oktaf. “Ibumu akan kehilangan segalanya. Apa kau ingin melihat Ibumu hidup menggelandang di jalan?”


Ayah Kasih terdiam. Genggaman tangannya mengepal kuat. “Aku mengerti. Tapi sayang ....”


 


 


***


 


 


Kasih melangkah menuruni tangga lalu berjalan menghampiri meja makan. Meja itu telah tersaji bermacam makanan untuk sarapan Kasih.


“Selamat siang, Nyonya,” sapa Wendy yang berdiri di dekat meja makan untuk melayani Kasih sarapan.


“Siang, Nona Wendy,” balas Kasih sembari menarik kursi lalu duduk bersiap menikmati sarapannya. Wendy bergegas mengambilkan makanan untuk Nyonyanya.


“Ah, ya! Bagaimana kabar bayiku? Apa dia rewel?” tanya Kasih kemudian.


“Bayi Ed baik-baik saja, Nyonya. Sekarang sedang diasuh oleh Namira dan Dita.”

__ADS_1


Kasih mengangguk mengerti lalu mulai melahap sarapannya dengan tenang.


“Aku tidak melihat si pria gi ... Ah! maksudku tuan Smith! Kemana dia?” Kasih segera meralat perkataannya saat hendak menyebut tuan Smith sebagai pria gila dihadapan Wendy. ‘Hampir saja aku keceplosan. Beruntung aku masih bisa segera berkelit. Jika tidak, Wendy pasti akan melaporkanku pada si pria gila itu dan akan membuatku kesal lagi.’


“Tuan sudah berangkat sejak pagi, Nyonya,” jelas Wendy.


“Hmm ... benar juga aku yang bangun kesiangan.” Kasih tersenyum malu.


“Nona Wendy, bisakah menyiapkan cemilan kecil untukku? Ibuku akan datang berkunjung sebentar lagi.”


“Baiklah. Tidak masalah, Nyonya. Saya akan menyuruh Chef membuatkannya untuk anda.”


“Terima kasih. Kau yang terbaik, Nona Wendy.” Kasih tersenyum senang.


 


 


Beberapa waktu kemudian Ibu Kasih sudah berada di mansion.


“Ibu?” kata Kasih saat melihat kehadiran sang Ibu dihadapannya. Wanita paruh baya itu segera berdiri melihat kearah putrinya.


“Mengapa Ibu datang sendirian? Kemana Ayah?” tanya Kasih saat ia mencari keberadaan sang Ayah.


“Ayahmu sedang sibuk. Ibu tidak apa-apa datang sendirian.”


Kasih mengangguk mengerti.


“Kasih ....”


“Ya?” bersamaan dengan itu Wendy dan para pelayan datang membawa cemilan yang diminta oleh Kasih sebelumnya.


“Ini adalah beberapa cemilan yang telah dibuatkan oleh Chef keluarga Alexander untuk anda nikmati bersama Ibu anda, Nyonya.” Wendy menjelaskan pada Kasih.


“Baiklah. Terima kasih, Nona Wendy.” Kasih menyunggingkan senyumnya kearah Wendy. Setelah para pelayan selesai meletakkan semua cemilan. Wendy dan para pelayan sedikit membungkuk hormat lalu pergi meninggalkan Kasih dan ibunya.


“Ibu, ciciplah!” ujar Kasih pada sang Ibu.


“Baik. Baik. Ibu akan mencicipinya,” kata Ibu Kasih mengangguk mengerti. “Tapi, Kasih. Ibu punya sesuatu yang penting untuk dibicarakan denganmu.”


“Sesuatu yang penting? Apa itu?” tanya Kasih penasaran.


 


 


BERSAMBUNG...

__ADS_1


 


 


__ADS_2