
Dihadapan Kasih tersaji makan malam dengan lilin yang menyala ditengah meja makan. Di seberang meja Tuan Smith duduk tegak sembari menatap lurus kearah Kasih. Restoran terbaik di kota itu dipilih Tuan Smith untuk makan malam romantis dengan Kasih malam ini. Tidak ada pengunjung lain selain mereka, karena Tuan Smith sudah memerintahkan untuk mengosongkan tempat itu. Seorang pelayan berdiri disamping meja mereka berdua siap untuk melayani keduanya.
‘Ini ... Bukankah ini adalah makan malam romantis untuk sepasang kekasih? Buat apa si pria gila ini mengajakku kesini? Apa ingin mengolok-ngolok perasaanku pada Rey?’ pikir Kasih menatap tajam Tuan Smith yang berada dihadapannya.
“Apa yang kau lihat?” tanya Tuan Smith tiba-tiba membuat Kasih tersadar dari lamunannya. “Jangan bilang kau merasa terharu setelah melihat semua ini?” Kasih mendecih. “Ini bukanlah apa-apa aku akan memperlihatkanmu apa yang tidak pernah kau lihat sebelumnya. Bersiaplah untuk menangis terharu.”
Kasih mengeluarkan lidahnya sedikit berpose seolah ia hendak muntah. ‘Pria gila sampai kapanpun aku tidak akan pernah bisa terharu padamu. Apapun yang kau lakukan sekarang tidak akan bisa menghapus kesalahan yang kau perbuat padaku. Seumur hidup ini, aku hanya bisa membencimu tanpa batas.’
“Baiklah. Tampaknya kau sudah mulai tidak sabaran untuk mulai makan, mari kita mulai memesan saja,” kata Tuan Smith sembari menjentikkan jarinya tanda ia sudah siap untuk memesan sekarang. seorang pelayan yang sudah sejak tadi berdiri disamping meja mereka bergerak maju lalu memberikan buku menu masing-masing pada Kasih dan Tuan Smith.
“Keluarkan daging terbaik yang kalian punya. Dan juga aku ingin segelas anggur,” kata Tuan Smith memberi instruksi pada sang pelayan.
“Baik, Tuan.”
Saat giliran Kasih, ia tampak sedikit bingung memilih makanan yang hendak ia pesan. Alis gadis itu tampak mengkerut. ‘Semua makanan dimenu sangat mahal. Tapi kenapa tidak menyediakan minuman selain anggur. Aku tidak ingin mabuk di depan pria gila ini, aku harus memesan yang lain. Tapi ....’
‘Apa yang sedang dipikirkan gadis bodoh ini?’ Tuan Smith menatap wajah Kasih yang sedang berpikir.
“Aku ... aku ingin makan steik dan ... jus?” ucap Kasih bernada seperti sedang beratanya. Karena ia tahu tidak ada jus di dalam menu restoran.
Pelayan restoran tampak bingung. Dialihkannya tatapannya pada Tuan Smith seakan meminta penjelasan. ‘Nona ini pasti bukan sembarang orang. Ia datang makan malam ke restoran mahal bersama dengan Tuan Smith Alexander yang dengan sengaja memesan seluruh restoran. Sungguh harus berhati-hati melayaninya.’
“Nona, itu ....”
“Buatkan saja apapun yang diinginkannya,” potong Tuan Smith.
Sang pelayan yang tadinya ingin menjelaskan pada Kasih akhirnya mengurungkan niatnya.
“Baik. Silahkan tunggu beberapa saat. Saya akan pergi menyiapkan pesanan anda.”
Pelayan itu kemudian pergi untuk menyiapkan pesanan dari Tuan Smith dan Kasih.
“Tempat yang begitu berkelas, kau pasti punya sebuah niat untuk membawaku kesini,” tanya Kasih kemudian setelah pelayan telah pergi.
“Tentu saja untuk makan. Kau berharap apa?” jawab Tuan Smith santai.
“Jika ingin makan, bukankah bisa dilakukan di rumah seperti biasa? Untuk apa menghabiskan uang makan di tempat mahal seperti ini?”
“Aku butuh suasana baru,” Katanya singkat
“Hah?!”
‘Pria gila menyebalkan ini apa sedang ingin menguji perasaanku?! Sungguh mengesalkan.’
Saat Kasih sedang ingin membalas perkataan Tuan Smith, pelayan yang tadi membawa pesanan mereka telah datang dengan pelayan lain yang membawa kereta dorong berisi makanan pesanan mereka.
Kasih dan Tuan Smith memakan makanan mereka dengan diiringi dentingan lembut dari piano yang sedang dimainkan oleh seorang profesional.
“Kau terlihat cantik.” Puji Tuan Smith sambil meminum anggur digelasnya kemudian menggoyangkan anggur dalam gelas itu perlahan. Mendengar pujian yang tiba-tiba itu Kasih seketika menghentikan menyuap potongan steik yang sedang dimakannya. ‘Apa ini? apa aku sedang mendengar pujian dari mulut pria gila ini? semoga saja telingaku tidak sedang bermasalah.’
__ADS_1
“Jika kau memujiku, aku tidak ingin mengucapkan terima kasih,” ucap Kasih acuh sembari melanjutkan menyuap makanannya lalu meminum jusnya.
Tuan Smith tersenyum kecil lalu akhirnya mereka melanjutkan acara makan mereka hingga selesai. Lalu setelah selesai makan, Tuan Smith tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak yang kemudian ia serahkan pada Kasih.
“Apa ini?” tanya Kasih menatap kotak itu.
“Bukalah.”
“Apakah ini adalah hadiah? Untuk apa memberiku hadiah? Bukankah aku sudah menerima banyak hadiah saat merayakan ulang tahunku?” Kasih bingung namun ia tetap membuka kotak yang ternyata berisi sebuah gelang cantik bermodel sederhana dengan beberapa mutiara cantik sebagai hiasannya.
“Ini ... untuk apa?” tanya Kasih bertanya pad Tuan Smith.
“Aku hanya ingin memberikanmu sesuatu yang bisa menghiasi dirimu. Bukankah kau sebagai istri dari seorang Tuan Smith Alexander terlihat sangat tidak layak?”
Kasih ternganga mendengar perkataan pria tampan dihadapannya itu. ‘Tidak layak?!’
“Jika anda kurang puas padaku, anda bisa memilih seorang gadis lain untuk menjadi istri anda, Tuan,” kata Kasih judes dengan menggunakan kalimat yang sopan dengan maksud menyinggung Tuan Smith.
Tuan Smith tersenyum kecil membalas sindiran Kasih itu. “Tidak taukah kau apa arti kalung yang pernah kuberikan padamu?”
“Ah! Kalung yang sangat berat itu?”
“Kalung itu kuberikan padamu untuk menegaskan siapa kau sebenarnya.”
“Apa sih yang sedang kau bicarakan? Aku tidak mengerti,” kata Kasih bingung.
“Kau adalah istriku. Apapun ucapanmu sama dengan ucapanku, dengan statusmu itu apa kau masih bisa berpenampilan biasa seperti sekarang ini?”
Tuan Smith akhirnya membawa Kasih ke berbagai orang ahli dibidang fashion dan designer untuk merubah penampilan Kasih secara keseluruhan. Kasih yang muda, polos dan sederhana diubah oleh tangan para ahli menjadi sosok seorang Nyonya muda yang sangat elegan.
“Nyonya, anda terlihat luar biasa!” seru salah seorang yang sedang memoles wajah Kasih. senyum puas akan hasil karyanya sendiri terlihat jelas diwajahnya.
‘Apanya yang luar biasa? Aku sangat tidak nyaman dengan semua ini.’ keluh Kasih dalam hati.
***
“Berpenampilan begitu mewah seperti ini, apa tidak tidak terlalu berlebihan? Aku sungguh tidak terbiasa” gumam Kasih risih. Saat ini ia diajak oleh Tuan Smith menemaninya menghadiri sebuah pesta.
“Perkenalkan, ini adalah istriku. Kasih Aulia Avisha,” ucap Tuan Smith memperkenalkan istrinya itu pada koleganya. Kasih tersenyum sedikit canggung.
“Tuan, anda sungguh pintar dalam memilih seorang Nyonya Alexander. Gadis ini, tidak hanya muda tapi juga sangat cantik,” puji kolega Tuan Smith.
__ADS_1
“Tentu saja. aku tidak akan sembarangan memilih seseorang untuk bergabung menjadi keluarga Alexander.”
‘Dasar pria gila yang narsis.’
Kasih mengutuki Tuan Smith berkali-kali dalam hatinya karena menyuruhnya memakai heels yang sangat tidak nyaman bagi kakinya.
“Aduh! Sepatu ini malah membuatku hampir jatuh. Aku ingin sekali bertelanjang kaki saja. Aku sudah tidak sanggup menggunakan sepatu menyebalkan ini.” Kasih berjalan menjauh setelah berjam-jam ia menemani Tuan Smith menyapa para kolega bisnisnya dengan sepatu berhak tinggi yang dipakainya. Ia kemudian berjalan menuju sebuah meja penuh makanan dan minuman diatasnya. Mengambil sebuah minuman dan segera meneguknya hingga tandas. “Aku sungguh kehausan,” ucapnya setelah meneguk minumannya hingga gelasnya telah kosong.
“Minuman apa ini? kenapa aku merasa rasanya sangat aneh,” kata Kasih bingung sembari menatap gelas kosong ditangannya. “Kepalaku terasa pusing. Dan ... kenapa semuanya tampak berputar-putar begini?” Kasih merasa dirinya mulai oleng. Tangannya memegang ujung meja untuk menopang berat tubuhnya yang mulai bergerak kesana kemari.
“Nyonya? Apa anda baik-baik saja?” tanya Dan datang menghampiri Kasih.
Kasih menatap Dan yang tampak berbayang dimatanya. “Dan ...? kenapa kau ada banyak sekali?” tangan Kasih mengibas-ngibas keudara berusaha menggapai bayangan Dan yang ia lihat.
“Nyonya? Apa anda sedang mabuk?” tebak Dan saat melihat wajah Kasih yang terlihat merah.
“Apa yang kau bicarakan? Aku tidak mungkin mabuk. Aku tidak pernah menyentuh minuman keras hik! selama ini mana mungkin aku hik! Ma ... buk!” Kasih berbicara tidak jelas terlihat jelas sekali ia mulai mabuk. Tubuhnya yang oleng segera ditangkap oleh Dan agar tak terjatuh.
“Dan ...?” tanya Kasih menatap wajah Dan sembari tangannya menyentuh lembut rahang pemuda itu.
“Iya, Nyonya?” balas Dan sembari menstabilkan tubuh Nyonyanya yang oleng.
“Apa kau dan aku pernah bertemu sebelumnya? kenapa aku merasa kau sangat hik! Akrab bagiku. Kau sangat mirip dengan ... Rey ....” Kasih terkulai tertidur lemas didekapan Dan.
Dan menatap wajah Kasih dalam diam. ‘Kasih ....’
“Apa yang telah terjadi dengannya?” tanya Tuan Smith yang secara tiba-tiba telah berada dibelakang Dan.
“Tuan, Nyonya sedang mabuk,” jelas Dan pada Tuan Smith yang sedang menatap Dan dengan tatapan mematikan. Tatapan Tuan Smith beralih pada gelas kosong yang tergeletak diatas meja.
“Berikan ia padaku,” titah Tuan Smith dingin.
Dan tertegun menatap wajah Tuan Smith.
“Apa yang kau tunggu?!” sergah Tuan Smith pada Dan. “Kemarikan dia,” titahnya lagi.
Perlahan Dan memindahkan tubuh Kasih yang berada dilengannya kepada Tuan Smith.
“Kembali ke mansion sekarang!” perintahnya melangkah pergi dengan menggendong tubuh Kasih yang sudah tertidur karena mabuk. Dan berjalan mengikuti dari belakang sambil terus menatap wajah lelap Kasih. Gadis itu terus saja bergumam tidak jelas.
BERSAMBUNG...
__ADS_1